Tanggal : 20 - 11 - 2009
Yayasan Kasih Mandiri

Kasih untuk Anak Jalanan
Jurnalis : Hadi Pranoto
Fotografer : Anand Yahya
 
foto

Yayasan Kasih Mandiri, selain menampung dan mendidik anak-anak jalanan juga menampung anak-anak balita yang dititipkan oleh kedua orangtua mereka. Umumnya anak-anak ini lahir dari kedua orangtua yang belum siap secara mental maupun ekonomi.

 

Prihatin melihat kehidupan anak-anak jalanan, Yustine pun terpanggil untuk menyelamatkan dan memberikan harapan bagi masa depan mereka.

Tak banyak yang terpikir dalam benak Wendy kecil kala itu (5) saat memutuskan untuk meninggalkan kota kelahirannya, Sukabumi, Jawa Barat. Ketidakharmonisan keluarga dan kondisi ekonomilah yang membuat Wendy sampai ke Jakarta. Di usia yang masih sangat belia, Wendy sudah bertarung dengan kerasnya kehidupan kota metropolitan. “Makan seketemunya, ketemu makan ya makan, kalo nggak ya cari. Kerja ngamen, kasarnya banyak juga kerjaan yang kurang baik. Namanya di jalanan, nyolong kecil-kecilan,” aku Wendy.

Beruntung saat itu Wendy bertemu dengan Christofel Apriadi, salah seorang relawan dari Yayasan Kasih Mandiri yang peduli dan menaungi anak-anak jalanan. Kak Apri, begitu biasa Wendy memanggil Christofel Apriadi yang kemudian membawanya ke sana.

Di sini pula Wendy memperoleh pendidikan formal dan non formal, sesuatu yang menurutnya sulit didapatkan jika masih tinggal bersama orangtuanya. Wendy kini telah lulus SMA. Ia bahkan sempat bekerja di beberapa tempat, sebelum akhirnya memutuskan untuk mengabdikan diri kepada yayasan yang telah “mengangkatnya” dari kehidupan jalanan.

Berawal dari Tugas Akhir Kuliah
Bermula  dari tugas akhir kuliah calon biarawatilah yang membawa Yustine akrab dengan kehidupan anak-anak jalanan dan bahkan memutuskan untuk terus mendampingi mereka. “Setelah tahun ketiga, kita di sekolah calon pastur itu diberikan waktu setahun untuk karya nyata,” terang Yustine, atau yang akrab dipanggil Kak Yustine ini. Jika rekan-rekannya memilih praktik di gereja, Yustine memilih sesuatu yang berbeda, mendampingi anak-anak jalanan. Yustine mengaku terinspirasi dari seniornya, Romo Sandyawan yang begitu gigih memperjuangkan hak-hak dan mengangkat derajat orang-orang kurang mampu. Yustine pun lantas memilih Jakarta – Stasiun Pasar Senen – sebagai tempatnya mengabdikan diri.

Di Pasar Senen yang terkenal keras dan rawan kejahatan, Yustine bergaul dengan anak-anak jalanan. Bahkan ia pun akrab dengan para preman di sana. “Awalnya saya heran, saya yang nggak biasa lihat anak kecil keluyuran sendirian di jalan, harus menyaksikannya setiap hari. Mana bisa anak kecil itu diperlakukan keras, diperlakukan sesuka hati orangtuanya, dan dibiarkan hidup di jalanan,” katanya. Yustine juga melihat bagaimana anak-anak ini menjalani kehidupan dengan sangat tidak nyaman. “Mereka harus mengamen, mencuri, dan mencopet untuk menghidupi diri sendiri,” ungkapnya prihatin.

Selain itu, anak-anak ini juga kerap menjadi korban kekerasan para “seniornya”. Dimanfaatkan, mulai dari melakukan tindak pencurian hingga pemerasan. Dari sinilah hatinya kemudian terpanggil untuk memberikan perlindungan. Beruntung Yustine tidak sendirian, secara kebetulan ia bertemu dengan sekelompok “preman baik” yang sepaham dengannya. “Bang Rozak (kini relawan Tzu Chi –red) dan kawan-kawan itu sekelompok preman yang unik, mereka justru melindungi anak-anak jalanan,” puji Yustine.

foto  foto

Ket: -Bermodalkan semangat dan tekad untuk melindungi dan memberikan kehidupan yang lebih baik, Sr Yustine           mendirikan Yayasan Kasih Mandiri. Pendidikan menjadi fokus utamanya dalam membina anak-anak           asuhnya.(kiri)
       - Di sela-sela aktivitasnya kuliah, Ami menjadi "ibu asrama" bagi adik-adiknya di Yayasan Kasih Mandiri. Ami            juga seperti menemukan sebuah keluarga yang lengkap di yayasan ini setelah ibunya meninggal dan            ayahnya pergi. (kanan)

Mendirikan Yayasan Kasih Mandiri
Dengan bermodalkan tekad dan kepedulian untuk menyelamatkan masa depan anak-anak jalanan, pada 31 Mei 1996, Yustine mendirikan sebuah tempat untuk menampung mereka, yang diberi nama Yayasan Kasih Mandiri. Awalnya Yustine hanya merangkul anak-anak putra saja. Tetapi melihat banyaknya anak-anak putri yang juga hidup menggelandang di jalan, sejak tahun 1998 ia pun mulai menampung mereka. “Mereka sangat rentan hidup di jalanan. Terlambat ditolong, akibatnya akan sangat buruk, terutama bagi mereka yang  sudah menginjak usia remaja,” tegas Yustine yang kini bersama anak-anak asuhnya tinggal di Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Bukan hal mudah bagi Yustine saat pertama kali mendirikan yayasan ini. Selain keterbatasan dana, ia pun tak lagi memiliki hubungan hierarki dengan almamaternya (gereja). Praktis semuanya dilakukan secara mandiri. “Saya menjadi kuat saat itu karena memang saya senang berkegiatan sosial,” tandasnya. Beruntung Yustine tidak sendirian, di kala masa penuh perjuangan itu, ia menerima uluran tangan dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Meski sebelumnya tak mengenal Tzu Chi, namun Yustine merasa relawan Tzu Chi mengetahui apa yang ia lakukan untuk membantu anak-anak jalanan.

Beban Yustine semakin ringan tatkala Yayasan Buddha Tzu Chi juga bersedia menanggung seluruh biaya operasional yayasan selama setahun. Di tahun kedua, menanggung seluruh biaya pendidikan anak-anak, dan di tahun ketiga hanya menanggung biaya pendidikan anak-anak asuh yang berprestasi. “Inilah hebatnya Tzu Chi, secara tidak langsung mendidik saya untuk mandiri. Kalau nggak dibantu dengan cara itu, saya akan mengharapkan bantuan (Tzu Chi) terus,” ujar Yustine. Dalam perkembangannya, Yustine kini juga menggalang dana dari para donatur yang bersimpati.

Tak Mengharap Balas Budi
Bagi Yustine, menampung anak-anak jalanan bukan hanya sekadar memberikan tempat tinggal dan makan-minum kepada mereka. Lebih jauh lagi, ia juga memikirkan pendidikan dan masa depan anak-anak asuhnya. Itulah mengapa ia menaruh perhatian yang besar untuk pendidikan anak-anaknya. Semua anak-anak yayasan ini minimal berpendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA). Bahkan ada yang sampai ke jenjang perguruan tinggi.

Sr Yustine sendiri tak pernah berharap ‘anak-anaknya’ ini nanti akan membalas budi kepadanya ataupun yayasan yang dikelolanya. “Bahasa saya begini, mereka bekerja saya senang. Mereka bisa hidup mandiri saja saya sudah bersyukur,” ucapnya tulus. Tak ada hal lain yang membahagiakannya selain melihat anak-anak asuhnya dapat mandiri dan berhasil, karena apa yang dilakukannya semata-mata demi kemanusiaan dan membantu sesama.

 

 
 
    Komentar untuk Artikel ini
Redaksi @ Senin, 22 Februari 2010 | 07:44 WIB
Untuk menghubungi Yayasan Kasih Mandiri bisa Zr Yustine (0813-1826-4125). Terima kasih.
maria @ Senin, 22 Februari 2010 | 03:17 WIB
kalau boleh saya ingin tahu no telp yang bisa dihubungi di Yayasan Kasih Mandiri, karena saya dan tmn2 berniat membuat kunjungan kasih kesana jika memungkinkan dalam wkt dekat.. terima kasih,
udet @ Kamis, 14 Januari 2010 | 11:55 WIB
Dear Yayasan Buddha Tzu Chi, Salam kenal sebelumnya dari saya Aidil yang biasa dipanggil Udet. Saat ini saya bekerja di gedung MidPlaza I Sudirman. Setiap saya pulang kantor saya melewati tangga penyebrangan di depan kantor saya dimana tidak aneh, kita menemui anak2 jalanan bertebaran di sekitar jembatan atau pigir jalan protokol di jakarta. Namun ada yang membuat saya kesal dan ingin membantu seorang bayi. Kurang lebih belum 1 thn dijadikan obyek oleh Ibunya di jembatan penyebrangan depan kantor saya ini. Saya ingin sekali membantu namun bingung cara yg efektif guna menyelamatkan bayi ini yang setiap hari terkena angin, serpihan hujan. Mohon bantuan dan saran dari rekan2 sekalian agar bayi dapat berkembang sebagaimana mestinya. Silahkan hubungi saya untuk penjelasan lebih lanjutnya jika berkenan di nomor 021-93008095 atau 08588-378 8181, Saya siap membantu apa saja yg diperlukan. Terima kasih, Salam hangat, Aidil/Udet http://udet.web.id
ping-ping @ Jumat, 20 November 2009 | 14:48 WIB
semoga semakin banyak anak jalanan yg tertolong.cia you...
 
Posting komentar anda
 
Nama
Email
Komentar
 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
 
Misi Tzu Chi
 Misi Amal 
 Misi Kesehatan 
 Misi Pendidikan 
 Misi Budaya 
 Kemanusiaan 
 Pelestarian Lingkungan
 Donor Sumsum 
 Relawan Komunitas 
 Bantuan Internasional 
 Kisah Humanis 
Tzu Chi
   Aceh 
   Bandung 
   Bali 
   Batam 
   Makassar 
   Medan 
   Lampung 
   Padang 
   Pati 
   Pekanbaru 
   Singkawang 
   Surabaya 
   Tangerang 
   Yogyakarta