Tanggal : 08 - 02 - 2010
Sanggar Roda

Bermusik dan Berkarya
Jurnalis : Hadi Pranoto
Fotografer : Hadi Pranoto
 
foto

AJANG KREASI DAN KEMANDIRIAN. Nano (kanan) dan Refni (kiri), istrinya mendirikan Sanggar Anak Roda untuk menumbuhkan rasa seni, kemandirian, dan kepekaan sosial terhadap masyarakat. Kegiatan ini juga bisa membentengi anak-anak dari pengaruh negatif lingkungan.

 

Melalui sanggar ini, diharapkan anak-anak bisa mandiri dan memiliki olah rasa seni yang tinggi. ”Dengan jiwa seni yang tinggi, mereka bisa peka terhadap berbagai situasi, termasuk persoalan sosial dan kemasyarakatan. Diharapkan juga tumbuh sifat-sifat kerelawanan dan kepekaan terhadap masyarakat,” kata Sugio Prayitno.

Anak-anak usia belasan tahun menabuh rebana dan gendang jimbe. Permainan bas, gitar, drum “ala kadarnya”, serta tiupan suling menambah keindahan alunan musik. Seorang anak perempuan dengan suara yang tinggi melantunkan lagu dengan lantang. Di sebuah rumah tingkat yang terapit bangunan-bangunan rumah penduduk, kegiatan bermusik itu pun menjadi sebuah pemandangan unik. Anak-anak itu tergabung dalam Sanggar Anak Roda yang giat bermusik di permukiman sekitar Terminal Pulogadung, Jakarta Timur. Di lokasi yang padat penduduk, tak heran jika waktu latihan mereka pun sangat terbatas. “Seringkali kegiatan latihan diprotes tetangga karena merasa kebisingan, terlebih aliran musiknya yang dianggap aneh (etnik tradisional –red). Anak-anak juga tidak bisa latihan kalau ada tetangga yang sakit ataupun meninggal dunia,” kata Sugio Prayitno atau yang akrab dipanggil Nano, pencetus sekaligus pembina Sanggar Roda.


Membentengi Lingkungan
Berlokasi di Jl. Swadaya, Kelurahan Rawaterate, Cakung, Jakarta Timur, tempat sanggar Roda bermarkas ini memang cukup unik. Selain berbatasan dengan sebuah kawasan perumahan elite di Jakarta Utara. Daerah yang dibelah jalan yang dibangun Belanda dari Anyer sampai Panarukan ini juga berbatasan langsung dengan kawasan industri dan Terminal Pulogadung. Tak heran jika kampung ini juga menyandang stigma kampung rawan karena berhadapan langsung dengan Terminal Pulogadung. Bahkan pada tahun 1980-an, kampung ini terkenal dengan tingginya tingkat kriminalitas. Kemudahan transportasi dan dekat dengan tempat bekerja membuat kampung ini padat penduduk. Warganya yang mayoritas berstatus pendatang kebanyakan menjadi buruh pabrik, pedagang keliling, karyawan perusahaan bus dan pengasong di Terminal Pulogadung. Di kampung yang warganya mayoritas miskin dan cenderung permisif, anak-anak kampung ini lahir dan dibesarkan. ”Kultur sini agak ribet, diapit sama pabrik dan terminal. Kultur yang liar sama tertib dan disiplin. Efek terminal memang agak berat membentengi,” kata Nano yang pernah menjadi Ketua RW di wilayahnya selama 2 periode.

Menyadari rentannya pengaruh negatif terhadap anak-anak, Nano dan istrinya pun berinisiatif mendirikan sebuah sanggar sebagai wahana kreativitas anak-anak, sekaligus mengajarkan kemandirian kepada anak-anak. ”Awalnya ketika ”krismon” (krisis moneter-red) tahun 1997, teman-teman dari Santa Ursula setiap hari Sabtu dan Minggu datang untuk ngajar belajar kelompok sambil main game-game sedikit, terus juga ada dari Kanisius. Sampai kemudian Yayasan Andalas Selaras melihat ada kegiatan seperti ini dan membantu mendirikan perpustakaan, yang diberi nama ”Kata Hati”,” terang Nano.  

Setahun kemudian, anak-anak mulai belajar musik di Bella Studio di Rawamangun. Awalnya musik dan teater, karena Bella Studio ini dulu terafiliasi dengan Bengkel Teater (Rendra). Tak heran jika anak-anak ini setiap Sabtu dan Minggu juga berlatih vokal dan gerak di Bengkel Teater milik Rendra di kawasan Depok, Jawa Barat. Mereka berlatih hampir 2 tahun lebih. Pada tanggal 11 Maret 2000, akhirnya mereka pun memutuskan untuk mendirikan sanggar sendiri yang diberi nama ”Roda”.

foto   foto

Merekrut Anak-anak Terminal
Selain anak-anak dari kampung sekitar, sebelumnya Sanggar Roda juga sempat merangkul anak-anak dari dalam Terminal Pulogadung untuk berlatih bersama. ”Awalnya pernah ada anak terminal, tapi kemudian mereka nggak betah dan keluar,” kata Refni, istri Nano yang juga pengasuh Sanggar Roda. Menurut ibu 2 orang anak – Regindo Satrio Villy dan Regina Gandes Mutiary – yang juga anggota Sanggar Roda ini, kultur dan kebiasaan anak-anak terminal sulit untuk diubah. ”Awalnya pernah dicoba, gabungkan, tapi nggak ketemu. Kultur anak jalanan yang agak ”bebas” agak sulit dikendalikan,” ungkapnya. Akhirnya Nano dan Refni pun sepakat untuk merekrut anak-anak dengan berbasis komunitas, bukan lagi anak jalanan.  Itulah sebabnya kini Reni hanya berfokus pada 15 anak yang berasal dari lingkungan tempat tinggalnya. ”Sekarang dah solid ya udah anak sini aja,” tegas Reni mantap.

Mayoritas anak-anak Sanggar Roda pun bukan berasal dari keluarga yang mampu. Keberadaan Sanggar Roda bisa menjadi obat kerinduan mereka untuk bermusik dan berkreativitas. Sanggar Roda memang menjadi wadah untuk anak-anak yang mencintai dan ingin belajar musik. Tak terbatas pada jenis kelamin ataupun pekerjaan orangtuanya. Seminggu dua kali mereka berlatih musik, di mana sekali latihan bisa memakan waktu berjam-jam. ”Bisa latihan sampai 4 jam,” ucap Bagas, salah satu anggota Roda yang masih duduk di kelas 5 SD. Walaupun bermain musik di sanggar memakan waktu lama, Bagas tetap mendapat dukungan dari orangtuanya. ”Daripada nongkrong di tempat yang nggak bener, mendingan main musik,” kata Bagas yang bercita-cita menjadi arsitek.

Awalnya Bagas sendiri diajak main oleh temannya di sanggar dan melihat anak-anak berlatih musik. Bagas pun akhirnya bergabung dan berlatih musik. ”Semua alat musik dipelajari di sini, kakak-kakak di sanggar yang ngajar musik,” katanya. Aliran musik Sanggar Roda memang cukup unik, bukan seperti band kebanyakan pada umumnya (rock atau pop), tapi lebih ke musik etnik, yang memanfaatkan perpaduan suara alat-alat musik tradisional hingga tercipta harmonisasi yang selaras dan indah. ”Semua alat musik dipelajari di sini, kakak-kakak di sanggar yang ngajar musik,” katanya. Di sini Bagas mempelajari berbagai alat musik, seperti rebana, jimbe, angklung, gitar, drum, dan bas.

Ayah Bagas sendiri adalah tukang ojek di Terminal Pulogadung. Bermain berbagai alat musik di sanggar Anak Roda, kata Bagas, membantu pelajaran musik di sekolahnya. ”Di sekolah belajar musik, tapi nggak ada alatnya,” tuturnya polos. Hal senada diakui Ikhsan (14) yang memanfaatkan waktu senggangnya dengan bermusik di Roda. Ia kini mahir memainkan bas dan gitar. Tak heran, di setiap penampilan Roda, Ikhsan selalu kebagian memainkan bas. Ayah Ikhsan sendiri bekerja di salah satu Perusahaan Otobus (PO Bus), sehingga tanpa ikut sanggar sangat sulit bagi Ikhsan untuk bisa mahir memainkan berbagai alat musik ini.

Awalnya lima tahun lalu, Ikhsan hanya senang membaca buku-buku bacaan dan kursus bahasa Inggris di sanggar. ”Waktu ada acara tujuh belasan, kami berlatih angklung. Nggak tahu, kemudian jadi keterusan berlatih musik,” tuturnya. Ikhsan dan Bagas bersama Sanggar Anak Roda kini sudah sering tampil di berbagai tempat, mulai dari pusat budaya, kantor, mal, hingga hotel-hotel berbintang. Seusai tampil, anak-anak tersebut bisa mengantongi uang yang cukup lumayan untuk ukuran mereka. ”Kalau dulu sih nggak dibayar, tapi dua tahun terakhir ini ada honornya,” ungkap Ikhsan.

Prioritas Utama Sekolah
Meski setiap pentas kini bisa mengantongi uang, tapi Sanggar Anak Roda punya peraturan yang sangat ”keras” untuk urusan sekolah. ”Kita ultimatum mereka, kalau macam-macam (membolos atau tidak naik kelas) kita ”tendang” dari Roda. Kita ada senjata, di kampung ini nggak ada sanggar lagi kan,” tegas Refni. ”Bagi kita pendidikan tetap prioritas utama,” tambah Nano. Bahkan, menurut keduanya, andaikan mereka mulai masuk ke dapur rekaman, mereka punya syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh pihak produser, ”Konsepnya kita yang tentukan dan prinsipnya jangan ganggu sekolah kami (anak-anak -red).” Harapannya ke depan, selain memiliki sifat kemandirian, memiliki olah rasa seni yang tinggi, diharapkan juga anak-anak Sanggar Roda memiliki kepekaan dan kepedulian sosial kepada lingkungannya. ”Jadi nggak semata-mata hanya mencari uang saja, tapi juga memiliki sifat kerelawanan,” kata Nano, yang berharap nantinya akan ada anak-anak Sanggar Roda yang meneruskan perjuangannya.

 

 
 
    Komentar untuk Artikel ini
duddy @ Senin, 16 Agustus 2010 | 13:51 WIB
Sy jg bangga,rafi staff sy yg jg arranger di RODA,jg karyawan teladan di tempat kerjanya.sukses RODA.
ucox‘s @ Senin, 2 Agustus 2010 | 02:45 WIB
sukses selalu buat adek2 sanggar roda....,palagi vokal si gandes TOP ABIS....buat mbak eni dan mas nano semangat terus ya!!! GBU
nano @ Kamis, 8 April 2010 | 17:21 WIB
@pai-hemo: makasih. @mangasi: Tekadnya sih, RODA hadir, mengalir dan abadi. @zozo-melisa: main aja ke sanggar, bisa SMS Ibu Heni, nomer di komentar bawah, atau via FB vokalis, regina gandes mutiary. Salam.
Melisa @ Rabu, 7 April 2010 | 06:54 WIB
Pengen gabung neh . Carany gmn ? Ad nomer yg bsa d'hubngin ga ?
zozo @ Senin, 5 April 2010 | 09:07 WIB
sebenarnya saya tak bisa bermain musik & untuk vokal apalagi .tapi saya sangad tertarik dengan musik sejenis musik dapur.apalagi ketika saya melihat sanggar roda tampil pada acara di salah satu televisi swasta . hmm.lima jempol dech !!! :) saya sangad tertarik .tp apa saya bsa ikud bergabung dan memainkannya ?? :'(
Mangasi Tua Purba @ Senin, 5 April 2010 | 05:37 WIB
Udah kalah Krontjong Tugu mas....hehehehehehe
hemo @ Kamis, 1 April 2010 | 04:38 WIB
sanggar roda seeep keren baget musiknya apalgi suara nya mabk gandes mantab,,,,,szukses bat sanggar roda
Pai @ Rabu, 31 Maret 2010 | 11:29 WIB
Roda Memang Top Markotop
nano @ Rabu, 31 Maret 2010 | 11:27 WIB
Halo lia, makasih apresiasinya, jadwal latihan sanggar RODA malam Kamis dan Minggu, tapi sering situasional, lebih baik kontak mbak Heni aja di 081514470053, salam buat anak2 yang kamu dampingi, sukses juga ya..
lia @ Senin, 22 Maret 2010 | 11:22 WIB
hallo ibu Refni dan pak Nano, saya lia pengajar anak2 jalanan d karet. tapi kami belum ada musik, saya tertarik ingin mengajarkan mereka musik tapi harus dimulai dari saya sendiri. boleh kah saya bergabung? dmn latihannya dan hari/jam brp? thx. sukses selalu
 
Posting komentar anda
 
Nama
Email
Komentar
 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
 
Misi Tzu Chi
 Misi Amal 
 Misi Kesehatan 
 Misi Pendidikan 
 Misi Budaya 
 Kemanusiaan 
 Pelestarian Lingkungan
 Donor Sumsum 
 Relawan Komunitas 
 Bantuan Internasional 
 Kisah Humanis 
Tzu Chi
   Aceh 
   Bandung 
   Bali 
   Batam 
   Makassar 
   Medan 
   Lampung 
   Padang 
   Pati 
   Pekanbaru 
   Singkawang 
   Surabaya 
   Tangerang 
   Yogyakarta