Tanggal : 04 - 03 - 2010
Kisah Humanis

Kelak Papa Akan Ceritakan Kisahmu
Jurnalis : Apriyanto
Fotografer : Apriyanto
 
 

fotoKehidupan buruh tani yang tidak menjanjikan membuat Sumanto berharap agar kela anak-anaknya dapat memiliki pekerjaan yang layak di kota.

Siang itu, tanggal 23 Februari 2010, Susanti masih tertidur lelap dengan wajahnya yang polos dan bibir mungilnya yang tidak terkatup rapat. Meski sedikit bising dengan suara derap langkah dan obrolan, Susanti seolah tidak menghiraukannya. Ia masih tetap terlelap dengan dunia mimpinya.

 

Susanti, bayi berusia 2 bulan ini adalah gambaran kesulitan hidup dari pasangan Sumanto dan Nurmayati. Setelah 19 tahun membina rumah tangga dan memiliki 5 orang anak, pada tangal 23 Desember 2009 lalu Nurmayati melahirkan anak kembar, yang mereka beri nama Susi dan Susanti.

Susi lahir terlebih dahulu, beberapa menit berselang barulah Susanti menyusul lahir dari rahim ibunya. Kegembiraan memiliki dua putri kembar yang cantik seolah terhenti ketika Sumanto menyaksikan adanya kelainan di kepala belakang Susanti. Sebuah benjolan sebesar telur ayam menempel di kepala belakang Susanti. “Sejak lahir kepalanya sudah ada benjolan,” kata Sumanto dengan logat Melayu.

Beberapa hari berikutnya dengan hati yang kalut Sumanto mencoba memeriksakan Susanti ke Rumah Sakit Umum Abdul Azis, Singkawang. Berhubung di rumah sakit ini tidak memiliki peralatan yang komplet, maka seorang dokter menyarankan Sumanto agar membawa Susanti ke Pontianak untuk menjalani CT Scan. Namun, kondisi keuangan yang tidak memadai membuat ia berpikir ulang untuk membawa putrinya ke Pontianak.

Sebagai Petani Kopra
Sumanto adalah seorang petani kopra yang tidak memiliki lahan sendiri. Ia tinggal di Dusun Paley, Kecamatan Sebawi, Sambas, Kalimantan Barat. Dusun tempat ia tinggal berada dekat dengan laut dan hutan. Jika dikategorikan, daerahnya termasuk daerah pedalaman yang mayoritas penduduknya berpenghidupan sebagai petani.

Sumanto sendiri bekerja pada seorang pengusaha perkebunan yang mempercayakan 2000 batang kelapanya untuk diolah oleh Sumanto. Namun, harga kopra yang murah dan hanya dipanen 2 bulan sekali membuat pendapatan Sumanto menjadi kembang kempis. “Beruntung kalau 2 bulan ada hasilnya. Terkadang hasilnya sedikit sebab setiap hari bunganya disadap untuk membuat gula,” jelasnya.

foto  foto

Ket : - Sejak lahir, Susanti memang sudah tidak menyusu kepada ibunya. Karenanya ia pun mudah dibawa ke             Jakarta tanpa didampingi sang ibu. (kiri)
       - Dari hasil CT Scan pertama, gambarnya menunjukan kalau Susanti harus segera di operasi. (kanan)

 

Kehadiran usaha gula kelapa yang bahan bakunya berasal dari tuak kelapa juga membuat produksi buah kelapa menjadi menurun. Imbasnya petani kopra semakin terjepit oleh keadaan.

Pendapatannya yang tak seberapa dari hasil bertani kopra membuat Sumanto harus berpikir keras untuk mencari bantuan pengobatan bagi putri bungsunya. Di tengah kegundahannya itu, tiba-tiba seorang dokter menyarankan kepada Sumanto agar ia mengajukan permohonan bantuan ke Yayasan Buddha Tzu Chi perwakilan Singkawang. Berbekal informasi ini, Sumanto segera mendatangi kantor Tzu Chi dan bertemu dengan salah satu relawan Tzu Chi di sana.

Dengan penuh harap Sumanto menceritakan keadaan putrinya yang memiliki benjolan di kepala belakangnya, rumah tangganya, dan pendapatannya yang tak seberapa dari bertani kopra.

Permohonan yang Disetujui
Beberapa hari setelah permohonan pengobatan diajukan oleh Sumanto, relawan Tzu Chi mendatangi rumah Sumanto untuk menindaklanjuti pengajuan itu. Keadaannya yang pas-pasan dan tinggal di rumah kayu di atas tanah milik bosnya membuat relawan Tzu Chi tak memiliki banyak alasan untuk menolak permohonannya. Maka secepatnya pula Susanti dibawa ke rumah sakit St Antonius Pontianak untuk menjalani CT Scan.

Hasil CT Scan menjelaskan bahwa ada pembesaran dan lubang di tengkorak kepala bagian belakang Susanti. Hasil CT Scan itu juga menyimpulkan bahwa Susanti harus menjalani operasi di Rumah Sakit Rujukan RSCM Jakarta. Mengetahui hal itu, relawan Tzu Chi segera mengantar Sumanto dan Susanti berobat ke Jakarta.

foto  foto

Ket : - Susanti memang bayi yang tidak mudah menangis. Sejak lahir ia telah memiliki sifat bawaan yang               tenang. (kiri).
         - Satu bingkai foto diberikan relawan Tzu Chi kepada Susanti sebagai kenang-kenangan baginya saat             dirawat di Jakarta.   (kanan)

Mereka tiba di Jakarta pada tanggal 30 Januari 2010. Di sana, Sumanto dan Susanti langsung mendapat pendampingan dari relawan Tzu Chi, di antaranya dari Neneng, Sofia, dan Hok Chun. Menurut Hok Chun, saat pertama kalinya Susanti tiba di Jakarta tubuhnya terlihat sangat kurus dan lemah. “Pertama datang terlihat kurus, tetapi anaknya tidak rewel,” ungkap Hok Chun. Berhubung kondisinya perlu penanganan segera maka setelah menjalani serangkaian pemeriksaan. Akhirnya pada Kamis, 18 Februari 2010, Susanti berhasil dioperasi. Sebuah operasi yang membutuhkan waktu kurang lebih 3 jam.

Sekarang, setelah seminggu dioperasi, kondisi Susanti terlihat lebih baik. kepalanya sudah nampak normal dan tubuhnya pun nampak lebih gemuk dari semula. Menurut Sumanto, proses pengobatan di Jakarta berjalan dengan sangat cepat karena Tzu Chi telah memberikan perhatian dan prioritas kepada putrinya. “Kondisinya perlu segera ditangani, maka harus menggunakan jalur umum agar cepat dioperasi,” jelas Neneng Sofia.

Kini, setelah Susanti terlihat lebih baik, berbagai harapan pun tumbuh dibenak Sumanto. Ia berharap kelak Susanti bisa menjalani kehidupan dengan normal, bersekolah, dan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari dirinya. “Mudah-mudahan ia bisa bersekolah dan dapat pekerjaan di kota, tidak seperti saya yang hanya petani kopra,” katanya penuh harap.

Sumanto juga merasa cinta kasih yang dicurahkan oleh relawan Tzu Chi kepadanya telah menyentuh perasaannya yang terdalam. Ia bahkan akan terus mengingat kebaikan ini dan akan menceritakannya sebagai sebuah kisah kepada Susanti bila ia besar nanti. “Akan saya ceritakan nanti kisahnya dia sakit, sampai mendapat bantuan dan sembuh,” ujar Sumanto dalam logat Melayu.

  
 
 
 
    Komentar untuk Artikel ini
effendi @ Minggu, 7 Maret 2010 | 18:30 WIB
NAMMO BUDDHAYA.... OM MI TO HUT...... Seperti Tiada Kabut Yang Tak Kan Menghilang.... Seperti Hujan Yang Pasti Kan Berhenti...Dan Sinar Mentari Kan Menyinari Seisi Alam ini.... Berkat Kasih Nan Tulus Dan Suci.... Tiada Kata Penderitaan Bila Bersama Kita Tanggulangi.... Bersama Tzu Chi Yayasan Yang Manusiawi... Berikut Semua Anggotanya Nan Pengasih.... Sedalam Hati Tiada Lagi Peri... Melihat Saudaraku Sekalian Telah Dikasihi..... Tetes Airmata Tak Ter tahankan.... Di lubuk Hati Penuh Dosa ini.... Di bibir Ini Sudah Penuh Janji.... Di Mata Ini Sudah Banyak Melihat... Di Dada Ini Penuh Doa Setiap Hari... Di Tangan Ini Gemetar Untuk Menggapai Kasih.... Di Tubuh Ini Hanya Bisa Menangisi..... Bilakah Diri Selalu Mencaci... Bilakah Sorot Mata Memandang Keji... Bilakah Hati Telah Terkunci.... Ya..... NAMMO OM MI TO HUT ..... Di Hari Ini.... Ku Merenungi.... Dustai Diri Tak Kan Bertepi.... Derai Air Mata Tiada Henti.... Mengalun Indah Doa Dari Surgawi.... Akhirnya Datang Manusia Sejati.... Membantu Mereka Yang Perlu Di KASIHI.... NAMMO OM MI TO HUT.... Hanya Kalimat Ini Yang Hanya Dapat Kuberikan Kepada Semua RELAWAN DARI YAYASAN TZU CHI..... SEMOGA KELAK KARMA BAHAGIA NAN SUCI, AKAN DI DAPAT UNTUK SEMUA KETURUNAN KALIAN... NAMMO OM MI TO HUT..... NAMMO OM MI TO HUT..... NAMMO OM MI TO HUT.
yuvita @ Jumat, 5 Maret 2010 | 10:54 WIB
Setelah saya membaca kisah yang di alami susanti tsb saya merasa terharu yayasan buddha tzu chi..bisa kah saya di beri alamat bayi susanti... saya mau menengok bayi tersebut dan berniat menyalurkan bantuan untuk keluarga mereka. terima kasih
Redaksi @ Jumat, 5 Maret 2010 | 04:04 WIB
Terima kasih shixiong Winardi atas niat tulusnya untuk membantu. Bila shixiong berminat untuk menyalurkan bantuan dalam bentuk uang shixiong dapat disalurkan pada rekening : 335-302-7979 (untuk Rupiah),335-500-6969 (untuk USD). Atau kalau mau mendonasikan barang bekas daur ulang shixiong dapat langsung datang ke depo daur ulang Tzu Chi yang berada di Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi, Jl Kamal Raya, outer ring road Cengkareng Timur. Tlp 70636783. Posko daur ulang Kelapa Gading Jl Pegangsaan Dua, Jakut (depan pool taxi cendrawasih) Tlp 46825844. Atau posko daur ulang Muara Karang: Jl Muara Karang Blok A9 selatan No 84-85, Pluit, Jakut. Untuk lebih jelasnya shixiong dapat menghubungi Yayasan Tzu Chi di 6016332. Terima kasih
winardi weynata Liu @ Kamis, 4 Maret 2010 | 15:17 WIB
terkadang saya ingin membantu kondisi-kondisi seperti ini tapi sy kesulitan utk menyalurkannya , saya hanya bisa membantu dana sebisa saya, apakah buddha Tzu Chi ada rekening yg dpt saya salurkan keinginan saya berdana, atau saya dapat memgirimkan brg yg bisa dijual/di daur ulang kembali. Mohon infonya Trims Winardi
IIN SANJAYA @ Kamis, 4 Maret 2010 | 08:42 WIB
kita hrs bs bergandeng tangan terus utk memberi bantuan pd orang yg membutuhkannya. coba bayangkan andainya derita itu terjadi pd diri kita. Pasti sedih & sangat menderita...
Henry Shelu Wijaya @ Kamis, 4 Maret 2010 | 08:33 WIB
Smoga Susanti ini dpt sgra sembuh n sehat kembali, sehingga bs menjalani kehidupan spt anak2 lainnya. Saluuut yg se besar2nya sy berikan kpd insan Tzu Chi, smoga Yayasan Buddha Tzu Chi dpt trus berkembang dgn pesat dan pr relawan nya diberikan kesehatan, kekuatan, keselamatan dan kebahagiaan sehingga dpt trus mengemban tugas2 berat di masa2 yad...(BBU)
 
Posting komentar anda
 
Nama
Email
Komentar
 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
 
Misi Tzu Chi
 Misi Amal 
 Misi Kesehatan 
 Misi Pendidikan 
 Misi Budaya 
 Kemanusiaan 
 Pelestarian Lingkungan
 Donor Sumsum 
 Relawan Komunitas 
 Bantuan Internasional 
 Kisah Humanis 
Tzu Chi
   Aceh 
   Bandung 
   Bali 
   Batam 
   Makassar 
   Medan 
   Lampung 
   Padang 
   Pati 
   Pekanbaru 
   Singkawang 
   Surabaya 
   Tangerang 
   Yogyakarta