Jumat, 13 Desember 2019
Indonesia | English

Pementasan My Dream di Jakarta

24 Juli 2019

China Disabled People’s Art Troupe (CDPPAT) atau My Dream pada 20-21 Juli 2019 kembali menampilkan pertunjukkan yang memukau di Jakarta. Dalam penampilan mereka pada DAAI Night dengan tajuk Satu Harmoni  yang berlokasi di Grand Ballroom Swissotel, PIK Avenue, Jakarta Utara, grup seni difabel asal Tiongkok ini pun berhasil mencuri perhatian 3.753 penonton dalam 3 sesi acara.

Fotografer : Arimami Suryo A.

Pementasan My Dream di Jakarta kembali memukau para penonton dengan unjuk kebolehan dai para penyandang disabilitas asal Tiongkok.

Fotografer : Arimami Suryo A.

Para penonton memberikan tiket My Dream untuk diperiksa dan akan diarahkan posisi tempat duduk oleh para karyawan DAAI TV Indonesia.

Fotografer : Anand Yahya
sambutan hangat serta pemberian bingkisan juga dilakukan para relawan komite Tzu Chi Indonesia kepada para penonton yang hadir di Grand Ballroom Swissotel, PIK Avenue, Jakarta Utara
Fotografer : Henry Tando

CEO DAAI TV Indonesia Hong Tjhin memberikan sambutan dan ucapan terima kasih kepada para penonton yang mendukung pementasan My Dream.

Fotografer : James Yip (He Qi Utara 1)

The Other Shore, salah satu tarian baru dari My Dream yang dipentaskan oleh 10 penari tunarungu.

Fotografer : Basno (He Qi Barat 2)

Sebanyak 20 penari tunarungu mementaskan tarian I Want to Fly. Tarian baru ini mengisahkan tentang para difabel yang memiliki cita-cita setinggi langit.

Fotografer : Basno (He Qi Barat 2)

Selain tarian, para difabel yang tergabung dalam My Dream juga membawakan aransemen music. Lagu Bengawan Solo dan Ayo Mama pun dimainkan dengan ciamik oleh para musisi diabel tersebut.

Fotografer : James Yip (He Qi Utara 1)
Tarian Sampek Engtay (Romeo and Juliet versi Mandarin) juga dipentaskan oleh My Dream.
Fotografer : Basno (He Qi Barat 2)

Tarian Kupu-kupu yang dibawakan oleh dua penari difabel merupakan lanjutan dari kisah Sampek Engtay yang meninggal dan berenkarnasi menjadi kupu-kupu sehingga bisa hidup bersama.

Fotografer : Basno (He Qi Barat 2)

Tari Merak juga menjadi bagian yang menarik para penonton My Dream dengan kelincahan gerakannya.

Fotografer : Basno (He Qi Barat 2)

Bukan hanya tarian dan musik, kebolehan tarik suara juga di pertunjukkan oleh para seniman difabel My Dream dengan membawakan lagu DAAI Mencerahkan Dunia yang berbahasa Indonesia.

Fotografer : Basno (He Qi Barat 2)

Never Stop Dancing yang menjadi salah satu tarian baru juga mengisahkan tentang para tunadaksa akibat perang dan bencana. Tarian ini juga mewakili para tunadaksa untuk menyerukan perdamaian serta mengajak orang untuk pantang menyerah.

Fotografer : Basno (He Qi Barat 2)

Ribuan penonton menyalakan senter HP dan ikut dalam alunan lagu yang dinyanyikan oleh seniman difabel My Dream.

Fotografer : Basno (He Qi Barat 2)

Tarian Bodhisatwa Seribu Tangan menjadi tarian yang ditunggu-tunggu para penonton dalam pementasan My Dream.

Fotografer : Arimami Suryo A.
Pihak My Dream juga memberikan penghargaan kepada Tzu Chi Indonesia dan DAAI TV Indonesia atas penyelenggaraan dan pementasan My Dream.
Fotografer : Arimami Suryo A.

Selain masyarakat umum, pementasan My Dream juga dihadiri oleh para pejabat pemerintahan dan pemimpin ormas keagamaan yang ikut mendukung dan menyemangati para kaum disabilitas.

Fotografer : Arimami Suryo A.
Para penonton juga berfoto pada miniature penari My Dream yang disediakan oleh DAAI TV Indonesia.
Artikel dibaca sebanyak : 731 kali


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha