Master Cheng Yen

Master Cheng Yen lahir dengan nama Wang Chin-yun (Awan Cerah) pada 14 Mei 1937, di sebuah kota kecil di Taiwan tengah. Di usianya yang baru 11 bulan, ia diadopsi oleh paman dan bibinya. Chin-yun adalah gadis yang cerdas dan rajin yang sangat disayang oleh orang tua angkatnya. Menjadi anak perempuan tertua dalam keluarga, dia mulai membantu menjaga adik-adiknya ketika dia sendiri masih kecil.

Ketika Chin-yun berusia sekitar tujuh tahun, dia mengalami serangan udara yang dibawa Perang Dunia Kedua ke Taiwan yang saat itu diduduki Jepang, dan kekejaman perang sangat tertanam di dalam benak mudanya. Sepanjang masa pertumbuhannya, ia memiliki banyak pertanyaan tentang kehidupan dan artinya.


Menjadi Seorang Biksuni

Pada tahun 1952, ketika Chin-yun berusia 15, ibunya menderita sakit maag yang memerlukan pembedahan, yang merupakan prosedur operasi yang berpotensi mengancam jiwa pada masa itu. Sangat prihatin dengan kesehatan ibunya, anak perempuan berbakti itu mulai berdoa kepada Buddha Avalokitesvara (Guan Yin Bodhisattva) untuk kesembuhan ibunya. Chin-yun berjanji untuk menjadi vegetarian selama sisa hidupnya jika ibunya pulih. Ibunya akhirnya pulih tanpa menjalani operasi, dan Chin-yun dengan setia memenuhi sumpahnya.

Di masa remajanya, Chin-yun mulai membantu ayahnya mengelola bisnisnya. Pada tahun 1960, sebuah peristiwa terjadi yang akan mengubah arah hidupnya. Ayahnya tiba-tiba mengalami pendarahan otak di kantornya, dan meninggal dunia pada hari berikutnya. Duka mendalam dan trauma akibat kematian ayah tercinta menandai titik balik dalam hidupnya. Dia mulai mencari kebenaran di balik makna kehidupan dan kematian, dan sering mengunjungi kuil Buddha di kota kelahirannya untuk mempelajari Sutra-Sutra Buddha dan untuk mencari jawaban atas pertanyaannya.

Terinspirasi dan tersentuh oleh ajaran Buddha, Chin-yun menyadari bahwa dia hanya bisa menemukan kebahagiaan sejati dalam hidup ketika dia memperluas cinta yang dia miliki untuk keluarganya kepada seluruh umat manusia. Dia merasa yakin bahwa dia harus bekerja untuk kebaikan semua orang, bukan hanya merawat keluarga kecilnya saja.

Pada usia 24, Chin-yun meninggalkan rumahnya yang relatif nyaman untuk memulai perjalanan dengan tujuan yang lebih besar - untuk mengejar kehidupan monastik (spiritual). Pada tahun 1962, ia tiba di Hualien, sebuah pedesaan yang miskin di pantai timur Taiwan, dan tinggal di Kuil Pu Ming, menjalani kehidupan sederhana ketika ia mengabdikan dirinya untuk mempelajari agama Buddha. Pada musim gugur tahun itu, dia mencukur kepalanya sendiri, bertekad untuk menjadi Biksuni.


Pada bulan Februari 1963, Chin-yun melakukan perjalanan ke sebuah kuil di Taipei untuk menghadiri upacara inisiasi bagi mereka yang ingin menjalani kehidupan sebagai seorang biksuni. Chin-yun kemudian diberitahu bahwa dia tidak dapat ditahbiskan karena tidak memiliki seorang Guru Dharma. Kemudian, secara kebetulan, Chin-yun bertemu dengan Master Yin Sun, seorang Mahabiksu dan cendekiawan terkemuka dalam Buddhisme Tiongkok. Chin-yun kemudian berguru kepada beliau. Master Yin Sun berkata kepadanya, �Jalinan jodoh telah mempertemukan dan menyatukan kita. Sekarang setelah Anda menjadi biksuni, Anda harus selalu ingat untuk bekerja demi kebaikan agama Buddha dan semua makhluk hidup. Beliau memberi nama Dharma Cheng Yen, dan dengan demikian Chin-yun dapat menjalani penahbisannya.

Setelah kembali ke Wihara Pu Ming di Hualien, Master Cheng Yen mulai membaca dan mempelajari Sutra Bunga Teratai di gubuk kayu kecil yang terletak di belakang kuil. Karena dia menolak untuk menerima persembahan dari orang awam, kehidupannya menjadi sangat sulit.

Pada Oktober 1963, Sang Guru pindah ke Kuil Tzu Shan di Hualien, di mana ia mengajar Sutra Ksitigarbha selama sekitar delapan bulan. Ajarannya sangat populer di kalangan penduduk setempat dan beberapa wanita muda terinspirasi untuk menjadi muridnya. Kemudian, dia pindah kembali ke gubuk kayu kecil di belakang Wihara Pu Ming bersama murid-muridnya.


Master Cheng Yen secara pribadi menetapkan aturan untuk kehidupan sehari-hari bagi para biksuni yang menjadi muridnya, salah satunya adalah untuk mandiri. Karena tidak mau menerima persembahan dari kaum awam (masyarakat), para biksuni ini memperoleh sedikit penghasilan dari bertani, merajut sweater, membuat dan menjahit sepatu bayi, tas, dan barang-barang kerajinan lainnya untuk dijual. Bahkan sampai hari ini, peraturan ini dipatuhi secara ketat di Griya Jing Si, tempat tinggal Master Cheng Yen dan murid-muridnya.


Awal Mula Berdirinya Tzu Chi

Suatu hari pada tahun 1966, Master Cheng Yen pergi mengunjungi seorang pasien di sebuah klinik. Ketika beliau pergi, Master melihat genangan darah di lantai. Setelah mendengar seseorang mengatakan kepadanya bahwa darah itu berasal dari seorang wanita penduduk asli setempat yang mengalami kesulitan persalinan, tetapi harus dibawa pulang kembali karena keluarganya tidak mampu membayar biaya yang diperlukan, Master Cheng Yen pun diliputi dengan kesedihan. Merasa sangat sedih atas penderitaan wanita itu, Master bertanya pada dirinya sendiri apa yang bisa dia lakukan untuk membantu orang miskin dan yang membutuhkan. Tidak lama setelah kejadian itu, tiga biarawati Katolik dari sebuah gereja Katolik setempat mengunjunginya. Selama percakapan mereka, para biarawati berbicara tentang kegiatan kemanusiaan yang telah dilakukan umat Katolik untuk membantu masyarakat miskin dan kurang mampu. Para biarawati ini juga bertanya kepada Master Cheng Yen apa saja yang sudah dilakukan umat Buddha dalam membantu masyarakat kurang mampu. Pertanyaan dari para biarawati ini menyentuh hati Master Cheng Yen secara mendalam.

Dua peristiwa yang berdekatan ini memotivasi Master Cheng Yen untuk mendirikan sebuah badan amal untuk membantu orang miskin dan orang sakit. Maka pada Mei 1966, beliau mendirikan Tzu Chi di Hualien, dengan dukungan dan bantuan murid-muridnya, dan 30 pengikutnya, yang mayoritas merupakan ibu rumah tangga setempat.


Dimulai dengan Kesederhanaan

Meskipun hidup dengan sederhana dan keras, Master Cheng Yen dan murid-muridnya bertekad untuk membantu orang miskin. Untuk mengumpulkan dana bagi misi amal mereka, ia meminta 30 pengikutnya (para ibu rumah tangga) untuk menyisihkan 50 sen NT (S $ 0,02) dari uang belanjaan mereka setiap hari dan menyimpannya di celengan bambu. Ada seorang muridnya yang berpikir bahwa bukankah lebih mudah untuk menyumbangkan NT $ 15 setiap bulan. Toh jumlahnya sama. Tetapi Master Cheng Yen berkata meskipun jumlahnya sama, makna di baliknya sangat berbeda. Beliau berharap dengan setiap hari menyisihkan uang dan memasukkannya ke celengan bambu maka dapat membuat setiap orang memiliki niat dan pikiran yang baik, dan bukan hanya satu kali dalam sebulan. Jika semua orang bisa melakukan ini, itu akan bermanfaat bagi banyak orang di dunia. Berita ini segera menyebar dari pasar ke warga Hualien lainnya, dan semakin banyak orang yang ikut berpartisipasi.

Pada saat itu, banyak orang yang ingin menjadi pengikut Master Cheng Yen. Agar Tzu Chi tumbuh dan berkembang, Master Cheng Yen menetapkan aturan bahwa mereka yang menjadi pengikutnya harus menjadi anggota yang menyumbang dan juga berfungsi sebagai relawan untuk bekerja membantu meringankan beban orang miskin dan menderita. Secara bertahap, para relawan yang berkomitmen bergabung dengan jajaran Komite Tzu Chi, yang akan menggalang hati dan kepedulian (donasi) dengan mendatangi satu per satu para donatur. Suatu ketika, seorang anggota Komite Tzu Chi mengeluh bahwa ada seorang donatur yang tempat tinggalnya sangat jauh sehingga biaya perjalanan ke rumahnya lebih tinggi daripada jumlah uang yang disumbangkan. Namun, Master Cheng Yen menjawab bahwa memberi orang kesempatan untuk berpartisipasi dalam tujuan yang baik sama pentingnya dengan sumbangan itu sendiri. Dengan secara pribadi mengumpulkan sumbangan dari orang-orang, para Komite Tzu Chi ini sebenarnya telah memelihara benih cinta kasih di hati setiap donatur. Cinta yang dapat menginspirasi orang lain untuk tergerak melakukan kebajikan, itulah tujuan utama Master Cheng Yen.

Pada akhir tahun 1967, jumlah anggota yang menyumbang telah meningkat menjadi 300, dan badan amal itu membutuhkan tempat yang lebih besar sebagai tempat berkumpul dan merencanakan kegiatan. Ibu Master Cheng Yen menyumbangkan NT $ 200.000 (sekitar 90 juta rupiah), yang memungkinkan Tzu Chi membangun gedung pertama Griya Jing Si. Griya Jing di Hualien telah berkembang dan menjadi rumah spiritual bagi anggota Tzu Chi di seluruh dunia.

Master Cheng Yen percaya bahwa setiap orang memiliki cinta kasih yang setara dengan Buddha. Namun, welas asih yang sejati bukan hanya tentang merasa bersimpati terhadap penderitaan orang lain, meringankan penderitaan itu melalui tindakan. Dalam mendirikan Tzu Chi, Master Cheng Yen ingin memberi semua orang kesempatan untuk menjalani belas kasih ini, sehingga dapat menciptakan siklus cinta kasih dan kebaikan di seluruh dunia.

Menghadapi kata-kata buruk yang ditujukan pada diri kita, juga merupakan pelatihan diri.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -