Rabu, 26 Juni 2019
Indonesia | English

Desa "Bahagia" di Atas Gunung Mashan

Li Ming-an dan putrinya Li Tianqian di toko serba ada milik keluarga. Di perumahan Tzu Chi Gaolan yang dihuni 84 keluarga, toko ini merupakan toko satu-satunya di perumahan ini. Pada saat kedua orang tuanya sedang sibuk, Li Tianqian menjaga toko keluarganya.

Di rumah baru mereka di Perumahan Tzu Chi, warga tidak perlu khawatir akan kebocoran saat hujan tiba. Beberapa dari warga juga bahkan telah memiliki usaha (dagang) yang sukses.  Kehidupan mereka menjadi lebih baik – terbukti dari kemampuan mereka untuk membeli motor,  rice cooker, dan kulkas – daripada hari-hari sebelumnya dimana mereka  harus berjuang sedari pagi hanya untuk menyediakan sebuah makanan di atas meja di rumah lama mereka di gunung. Semua ini melambangkan kehidupan warga yang berubah menjadi lebih baik. Namun kebahagiaan yang sesungguhnya adalah ketenteraman batin kepala keluarga dan  waktu luang yang lebih banyak untuk berkumpul bersama seluruh anggota keluarga.

Pada musim kemarau yang panas kami mengunjungi “pedesaan” Guizhou yang berhawa sejuk. Ketika baru turun dari pesawat langsung terlihat sebuah papan reklame bertuliskan “Guizhou yang Sejuk dan Nyaman” yang terletak persis berhadapan dengan Bandara Internasional Longdongbao.

Seiring dengan perkembangan pesat perekonomian negeri Tiongkok, jika kebijakan pemerintah menetapkan kota-kota di pesisir sebagai pusat perekonomian dan perdagangan, maka provinsi-provinsi di pedalaman bagian Barat lambat laun menjadi pilihan baru sebagai tujuan wisata untuk berlibur. Guizhou yang selama ini terhalang oleh kondisi geografis yang terhalang kendala transportasi juga mulai melangkah untuk mengejar ketinggalan. Selain panorama indah dan unik berbentuk  batu kapur, adat istiadat dan kebudayaan penuh misteri dari suku minoritas juga menjadi topik utama dalam pengembangan pariwisata.

Berlokasi di wilayah bagian Selatan Guizhou, Kabupaten Luodian sebagai daerah otonomi suku Puyi dan Suku Miao di Qiannan (Guizhou Selatan) yang terkenal karena menghasilkan “Batu Luodian”. Batu Luodian ini berasal dari pedalaman pegunungan yang sulit untuk dicapai. Perdagangan batu ini hanya terbatas bagi pedagang yang bermodal, kemasyuran dan keuntungan sama sekali tidak memberi manfaat bagi penduduk Kabupaten Luodian. Sebagian besar penduduk pegunungan menggantungkan hidup dengan bertani. Mereka masih mengandalkan kekuatan tubuh untuk berjuang melawan kondisi alam.

Gubuk-gubuk di Desa Gaolan menjadi rusak setelah bertahan dari terpaan angin dan hujan selama puluhan tahun. Namun, sebagian besar penduduk desa tidak mampu membangun gubuk baru, untuk membangunnya bahkan ada yang memerlukan waktu sampai beberapa generasi.

Sekitar 86% dari wilayah Luodian adalah  tanah pegunungan. Jenis tanah berbatu kapur membuat puncak gunung gundul tanpa ditumbuhi tanaman, seakan-akan merupakan gunung besar yang terbentuk oleh tumpukan batu. Penduduk setempat menyebut gunung batu ini sebagai “Gunung Mashan”. Berkunjung ke Gunung Mashan pada masa lalu harus kuat bertahan melalui jalan yang terbuat dari pecahan-pecahan batu. Mobil bergerak maju dengan terus bergoyang sementara para penumpang sibuk melindungi bagian kepala agar tidak terbentur ke atap mobil. Kadangkala pecahan batu yang tajam menyayat ban mobil hingga robek, mau tidak mau harus berhenti untuk mengganti ban mobil.

Saat ini, jalan pegunungan telah diratakan dan dilapisi aspal, namun sepanjang perjalanan melalui “7 tikungan tajam” dan “13 belokan” yang disebut penduduk setempat sebagai koordinat Luodian, tetap saja membuat para penumpang mabuk berat. Perjalanan dari Guiyang menuju Luodian tetap harus ditempuh selama 4 sampai 5 jam.

Pejabat pemerintah yang datang menjemput kami di bandara dengan fasih memberitahu kami: “Dalam kurun waktu 5 tahun lagi, dari Guiyang sudah ada jalan bebas hambatan menuju ke Luodian. Jadi setelah turun dari pesawat, sekitar 1 jam akan langsung bisa tiba di Luodian.” Ketika sarana transportasi mengalami perbaikan, jarak antara kedua tempat akan menjadi pendek, membuat setiap orang berharap masa depan Luodian akan menjadi lebih baik.

Bertani di Tanah Tandus, Hanya Memperoleh Semangkuk Bubur

Pagi hari di musim kemarau, Desa Pingyan, Kabupaten Luodian yang terletak di ketinggian 1.100 Meter di atas permukaan laut berhembus angin gunung yang sedikit dingin. Kepala Desa Perumahan Tzu Chi di Gaolan, Li Ming-an yang memakai baju berlengan pendek tipis sedang sibuk menghitung persediaan barang dagangan di kedainya yang menyediakan berbagai barang kebutuhan hidup ketika kami tiba. Desa ini adalah salah satu dari program relokasi di Guizhou yang dilakukan oleh Tzu Chi, dengan tujuan untuk meningkatkan taraf hidup warga, memindahkan beberapa orang dari rumah mereka di atas gunung dan memberikan mereka tempat tinggal baru di kaki gunung yang lokasinya lebih mudah dijangkau.

Ketika Li Ming-an sedang sibuk, Li Tianqian, anak perempuannya yang berusia 5 tahun, membawa sebuah ember besar dan mencuci bajunya sendiri. Setelah bersih, ia lalu menjemurnya dan selanjutnya ia membantu di toko serba ada (Toserba) ayahnya.

Dalam usia yang baru menginjak usia pra sekolah dasar, Tianqian sebenarnya tidak begitu bisa berhitung. Selama ini dia mengandalkan pembeli yang langsung memberitahu dia berapa jumlah uang kembalian belanja yang harus dia kembalikan. “Tidak pernah terjadi perselisihan jual beli,” kata Li Ming-an. Sebagian besar penduduk desa memiliki hubungan sanak keluarga, namun sifat alami mereka yang polos sederhana tidak berubah karena kepindahan mereka dari atas gunung. Akan tetapi, kepindahan mereka ke bawah gunung sungguh telah mengubah kehidupan semua orang.

Penduduk Perumahan Tzu Chi Gaolan berasal dari tiga perkampungan, yaitu Perkampungan Shangjirong,Xiajirong, dan Perkampungan Besar Gaolan yang biasa disebut oleh penduduk setempat sebagai “Perkampungan Ziran” yang dihuni suku Miao, dimana leluhur mereka bermigrasi ke wilayah pegunungan sejak ratusan tahun lalu. Mereka menetap di lembah gunung, membangun hunian berbahan kayu dan beratap genteng abu-abu hingga terbentuk sebuah komunitas. Pada masa lalu mereka hanya mengandalkan hasil pertanian untuk menghidupi seluruh keluarga dan hanya berusaha agar keluarga mereka cukup makan dan cukup pakaian. Namun seiring dengan kemajuan zaman, gunung tinggi yang pernah menjadi pelindung bagi kampung halaman untuk menahan serangan musuh dari luar ini malah menjadi penghalang bagi penduduk desa untuk bisa melepaskan diri dari jerat kemiskinan.

Kampung halaman Li Ming-an di Perkampungan Shangjirong. Sejak kecil, orang tuanya menafkahi keluarga dengan bertani, “Saat matahari masih belum terbit mereka sudah keluar dari rumah. Setelah bekerja keras sepanjang hari, sore hari menjelang malam mereka baru pulang ke rumah, dan makan semangkuk bubur jagung yang sangat encer. Hidup mereka sangat susah!” Kata Li Ming-an. Setelah berkeluarga, Li Ming-an bersama isterinya tetap tinggal dan hidup bertani di perkampungan. Ketika itu, Li Ming-an bersama-sama dengan ayah ibunya, 4 orang saudara beserta keluarga mereka masing-masing berjumlah belasan orang mengandalkan hasil panen setahun sekali untuk kelangsungan hidup mereka. Jika hasil panen berlimpah, mereka merayakan tahun baru dengan bahagia. Namun jika hasil panen tidak baik mereka hanya bisa mengencangkan ikat pinggang, melewati tahun baru dengan perut kosong.

Seiring dengan bertambah besarnya anak-anak, pengeluaran keluarga juga kian meningkat. Li Ming-an pergi ke Dongguan, Guangdong untuk bekerja di sebuah gedung perkantoran sebagai tenaga pengamanan dengan gaji 1.000 yuan. Meski sudah berhemat dengan cara apapun, tetap saja tidak bisa menyisakan uang walau sedikit. “Pada masa lalu, opa-oma di desa selalu berkata, dengan bertani pasti bisa mendapatkan sesuap nasi, untuk apa Anda bersekolah? Setelah keluar dari desa baru tahu bahwa jika tidak bersekolah, tidak berpengetahuan, dalam segala hal akan selalu kalah bersaing dengan orang lain,” kata Li Ming-an.

Maka, tanpa berpikir panjang lagi dia pulang ke kampung halaman. Pada saat itu tersiar berita baik dari dewan desa bahwa Yayasan Buddha Tzu Chi akan membangun perumahan baru bagi Desa Gaolan. Jauh sebelumnya dia sudah mendengar Tzu Chi akan membangun perumahan baru di Luodian. Apalagi setelah menyaksikan rumah hunian yang kokoh dan nyaman di Perumahan Tzu Chi Wan Xin yang berlokasi sama di Desa Pingyuan, membuat orang merasa kagum. Li Ming-an diutus untuk membantu mendorong kegiatan relokasi desa. Li Ming-an pulang ke perkampungan untuk mensosialisasikan hal ini dari satu rumah ke rumah lainnya. “Ada orang berusia lanjut yang tidak tega meninggalkan rumah tua mereka. Ada yang khawatir setelah pindah ke bawah gunung, mereka tidak bisa bertani dan tidak bisa memenuhi nafkah hidup,” kata Li Ming-an, akhirnya, dari 3 perkampungan  Ziran, seluruhnya ada 84 keluarga yang pindah ke Perumahan Tzu Chi Gaolan.

Di depan rumah barunya di Perumahan Tzu Chi Gaolan, Li Ermei yang berusia 72 tahun sedang memilah kedelai yang baru saja dipanen. Rumah tinggal ini jauh lebih kokoh, nyaman dan terang dari rumah tuanya yang berada di atas gunung.

Kedai Kecil di Perumahan Baru, Bekerja Keras Mencari Nafkah

Pada malam sehari sebelum tahun baru imlek tahun 2011, Perumahan Tzu Chi Gaolan telah rampung. Para penduduk desa memanggul buntelan berisi harta benda, dengan menggandeng tangan orang tua dan anak-anak mereka pindah ke perumahan baru dalam suasana gembira. Relawan Tzu Chi membawa serta ranjang kayu, selimut dan lainnya sebagai hadiah pindah rumah dan menyampaikan ucapan selamat.

Tahun baru di rumah yang baru adalah awal dari segalanya. Li Ming-an mulai merancang masa depan dengan memutuskan untuk membuka sebuah kedai kecil di ruangan depan rumahnya yang terletak di lantai satu. “Perumahan terletak di sisi jalan raya, melakukan apa pun sangat mudah,” kata Li Ming-an. Pada masa lalu saat masih tinggal di atas gunung jika ingin pergi ke kantor Pemerintahan Desa Pingyuan mengurus sesuatu atau ke pasar harus menempuh perjalanan selama 45 menit, namun pada saat ini dengan mengendarai sepeda motor dalam waktu 5 menit telah sampai di kantor pemerintahan desa. Kini sarana transportasi mudah dan cepat, memudahkan untuk menambah stok barang jualan, memberikan harapan untuk mengelola sebuah kedai serba ada.

Tetapi sebagai seorang kepala desa, Li Ming-an juga memikul sebuah tanggung jawab, “Berharap semua yang tinggal di perumahan baru ini, dapat bersama-sama bergerak menuju ke kehidupan yang berkecukupan.” Li Ming-an mendapatkan data tentang beberapa jenis tanaman bernilai ekonomi tinggi dan cocok dengan iklim pegunungan, di antaranya yang paling cocok adalah tembakau dan walnut.

Di lahan ladang di rumah lamanya ia menanam bibit pohon walnut yang dirawat dengan cermat dan sepenuh hati. Lima tahun kemudian sudah dapat dipanen. Jika setelah melalui penilaian termasuk kualitas kelas satu, 1 kg bisa laku dijual dengan harga 50 sampai 60 yuan. Sedangkan masa pertumbuhan tanaman tembakau agak pendek, merupakan pendapatan yang dapat lebih cepat diperoleh. Atas dorongannya, banyak sekali penduduk perumahan bersama-sama menanam kedua jenis tanaman ini, dan pendapatan rata-rata per tahunpun bertambah cukup signifikan.  

 “Pendapatan dari bekerja pada masa lalu, bisa mengenyangkan perut saja sudah lumayan baik, mana ada uang untuk membeli mobil?” ujar Li Ming-an. Satu setengah tahun setelah pindah ke bawah gunung, setiap keluarga di Perumahan Tzu Chi Gaolan telah memiliki sepeda motor, mampu membeli penanak nasi listrik, kompor  listrik, dan lemari pendingin. “Akhirnya, memasak nasi tidak perlu menyalakan api, saat hujan tidak khawatir rumah kebocoran lagi.”

Hal lain yang membuat Li Ming-an merasa sangat senang adalah tidak perlu risau lagi mengenai uang sekolah anaknya Li Tianqing. Dia mendaftarkan anaknya bersekolah di Sekolah Zhong Xin, Desa Pingyuan. Setiap hari dia dan isterinya bergantian mengantar dan menjemput anaknya pergi dan pulang sekolah. “Lebih bahagia daripada masa saat saya kecil, anak-anak di perumahan baru ini semuanya bisa bersekolah, tidak pernah mendengar ada keluarga yang tidak mampu menyekolahkan anaknya,” Li Ming-an berkata dengan wajah tersenyum riang, merasa puas atas ketenangan hidup yang sekarang ini.

Li Ming-an hilir mudik di antara kebun tembakau, kebun walnut dan toko serba adanya setiap hari. Selain itu dia juga selalu meluangkan waktu mengunjungi ayah dan ibunya yang masih tinggal di rumah lama. “Rumah lama adalah rumah yang dibangun sendiri oleh leluhur, ayah ibu merasa sayang meninggalkannya. Pada saat saya datang melihat-lihat di kebun tanaman walnut, selalu mengambil jalan memutar ke rumah lama dengan membawa sedikit makanan penambah gizi.”

Li Ming-an mengatakan bahwa saudara-saudaranya semua sudah berkeluarga. Suasana makan bersama penutup tahun dengan belasan anggota keluarga sudah tidak pernah dijumpai lagi, kadang-kadang dia merindukan suasana seperti itu. “Pada tahun baru tahun ini, saya akan mengundang saudara-saudara saya untuk datang makan bersama di malam penutup tahun,” katanya sambil tertawa.

Pulang dan Menetap di Desa, Pada Akhirnya Sekeluarga Harus Berkumpul dan Hidup Bersama Lagi

Kebahagiaan dalam Ketenangan, Mi Zhenghong Sekeluarga Juga Merasakan Manisnya.

Mi Zhenghong yang berusia 31 tahun ini, pada usia 19 tahun sudah meninggalkan kampung halaman untuk bekerja di Guiyang. Dia bekerja sambil belajar di sebuah toko roti dan kue, belajar membuat makanan ringan ala barat dan roti. Setelah menikah dia menyewa sebuah toko dengan cara kredit dan mulailah dia membuka sebuah toko kue dan roti.

Pukul 6 pagi setiap hari, Mi Zhenghong bersama seorang pembuat roti mulai membuat penganan kue. Dia juga menggaji 2 orang pekerja cilik yang bertugas mengemas dan menjual. Pada saat pembelinya ramai, tidak mungkin bisa menutup toko untuk istirahat sebelum pukul 12 malam. Namun, sekali pun begitu, usahanya hanya cukup untuk menutup ongkos saja. Mi Zhenghong berkata,”Harga barang-barang di Guiyang mahal, ditambah lagi dengan mahalnya sewa toko dan biaya menggaji pekerja, masih ada biaya rumah tangga, uang yang harus dibayarkan sangat banyak.”

Setelah anak sulungnya mulai duduk di sekolah dasar, beban Mi Zhenghong telah bertambah berat. “Karena status keluarga petani di desa tidak bisa dipindahkan secara sembarangan, makanya hanya bisa bersekolah di sekolah swasta.” Tetapi ongkos sekolah di sekolah swasta tinggi, sementara rangkingnya malah di bawah sekolah negeri. Mi Zhenghong merisaukan kondisi ekonomi keluarga, juga khawatir atas mutu pendidikan sekolah swasta. Agar anaknya bisa bersekolah  dengan lancar di kemudian hari, dia membulatkan hatinya untuk membawa isteri beserta kedua orang anaknya pulang ke kampung halamannya di Desa Pingyuan, Kabupaten Luodian, melakukan persiapan agar anaknya bersekolah di sekolah menengah negeri.

Mi Zhenghong bekerja di sebuah perusahaan kontraktor proyek sambil belajar menanam pohon, mendirikan tiang listrik, membuka lahan menjadi sawah bersusun (anak tangga), membuat ruang penyimpan air di bawah tanah dan teknik pelaksanaan proyek. Setelah pindah ke Perumahan Tzu Chi Gaolan pada tahun 2011, dia sendiri mengumpulkan modal dan mendaftarkan perusahaan kontrakornya.

Dia melepaskan perusahaan pembuat kue dan roti yang menjadi keahlian khususnya, mengubah profesi bergerak di bidang kontraktor proyek. Menurut Mi Zhenghong hal ini adalah karena dia menyaksikan pembangunan Desa Pingyuan yang mulai dilakukan secara besar-besaran, membuatnya menyadari seharusnya bisa mengembangkan perusahaannya, contohnya dengan pekerjaan yang dia terima baru-baru ini, yaitu proyek memancang tiang listrik bagi kampung halamannya: Perkampungan Shangjirong。

Dahulu, mereka 6 bersaudara tinggal bersama ayah dan ibu di rumah lama. Sering sekali mereka makan malam seadanya di bawah penerangan lampu minyak kecil dengan duduk mengelilingi sebuah periuk besar berisi nasi bercampur sayuran sederhana untuk dimakan bersama. Tidak ada fasilitas air bersih, setiap keluarga membikin sebuah kolam penampung air, menunggu saat turun hujan baru bisa menampung dan menyimpan air yang digunakan untuk kehidupan sehari-hari. Ayah adalah satu-satunya tenaga medis di desa. Di tengah malam ada orang membawa anaknya yang sedang demam datang mengetuk pintu adalah hal yang lumrah, tetapi yang bisa diobati hanyalah penyakit umum yang tidak parah. Jika pasien harus diantar ke rumah sakit besar, perjalanan ke kota Kabupaten Luodian memakan waktu lebih dari 2 jam.

“Fasilitas transportasi, air bersih dan listrik, semuanya tidak tersedia dengan baik. Anak-anak yang sudah terbiasa tinggal di Guiyang, pada saat baru pulang ke kampung, masih sangat tidak bisa menyesuaikan diri.” Mi Zhenghong sangat gembira kampung halamannya bisa berubah. Sekarang tinggal menunggu mereka selesai memancang tiang listrik, maka listrik akan segera mengalir ke rumah lama. Kemudian setelah penerangan lampu jalan selesai dibangun, perjalanan para saudara sekampung pulang pergi dari rumah ke sawah untuk bercocok tanam akan lebih aman.

Mi Zhenghong mengimbau para pemuda dari Perumahan Tzu Chi Gaolan dan desa di sekitarnya, pada saat waktu luang bersama-sama berpartisipasi bekerja di proyek. Selain mendapat bayaran   60 yuan, juga disediakan makan siang. Bagi penduduk desa ini merupakan penghasilan yang cukup lumayan.

Hari ini telah turun hujan. Tanah di lereng bukit menjadi basah dan licin hingga menyulitkan pelaksanaan pekerjaan proyek, maka Mi Zhenghong pun meliburkan semua orang selama 1 hari. Dia sendiri juga pulang ke rumah lama. Orang tuanya telah berusia 60-70 tahun, keenam anaknya berharap orang tua mereka bisa turun ke bawah gunung, tetapi orang tua yang sudah terbiasa bekerja, senang tinggal di atas gunung. Ayahnya, Mi Guoxue tetap gigih bertahan ingin menjadi tenaga medis untuk mengobati para tetangga lamanya.

 “Sekarang jalan-jalan sudah diperbaiki dan menjadi lebih baik, untuk pulang ke rumah juga sangat mudah. Seandainya terjadi sesuatu, saya dan kakak yang tinggal di bawah gunung, setiap saat bisa menjaga dan merawat ayah dan ibu. Jika seperti tinggal di Guiyang dulu, saat hari telah gelap baru tiba di rumah.” Mi Zhenghong mengatakan, jika kesempatannya tiba, dia tetap akan membujuk orang tuanya pindah ke bawah gunung, karena dengan adanya mereka, satu keluarga baru benar-benar hidup berkumpul bersama. 

Mengubah perjalanan Sejarah, dalam 13 Tahun Berhasil Membangun 9 Perumahan

Menyaksikan kehidupan penduduk desa telah berubah menjadi lebih baik, relawan Tzu Chi merasa senang luar biasa. Mengenang kembali masa belasan tahun yang lalu ketika memasuki perkampungan pegunungan ini, melihat untuk dapat membangun sebuah rumah, sebagai orang tua di dalam keluarga harus membuat sendiri batu bata dengan tangan tanpa menggunakan alat bantu apa pun dan meletakkan bayi mereka yang masih kecil di bawah payung di samping mereka. Gao Mingshan seorang relawan Tzu Chi berkata, “Warga desa menggunakan seluruh uang yang berhasil mereka tabung dari hasil bekerja di Guizhou selama beberapa tahun untuk membangun rumah. Simpanan tahun lalu digunakan untuk membeli semen, simpanan tahun ini untuk membeli batu bata, tidak ada lagi uang yang tersisa untuk menggaji tukang bangunan, hanya bisa mengandalkan diri sendiri dan saling bantu antara beberapa teman dan famili. Meskipun sudah berusaha begitu keras, untuk membangun sebuah rumah tetap saja sangat sulit. Ada yang memerlukan waktu puluhan tahun dan malah ada yang sampai beberapa generasi.”

Penduduk desa tidak tahu sampai kapan kerja keras mereka baru bisa membuahkan hasil. Dalam hati mereka selalu merasa tidak tenang, sampai setelah mereka pindah ke perumahan baru, mereka bisa memiliki rumah tinggal yang nyaman dan kokoh, transportasi juga sangat mudah, dan uang hasil bekerja mereka bisa digunakan agar anak-anak mereka bisa bersekolah. Penghasilan inipun  masih tersisa untuk modal membuka usaha kecil-kecilan, hingga akhirnya mereka bisa berjuang meraih kebahagiaan yang terlihat di depan mata untuk diri sendiri beserta keluarga.

Jalinan jodoh Tzu Chi  dengan Kabupaten Luodian berawal sejak tahun 1997.  Ketika itu, Kabupaten Panxian dan Xingyi di Guizhou dilanda banjir dan hujan es. Kedua kabupaten yang biasanya memang sudah kekurangan pangan, setelah terjadi bencana  semakin menghadapi kondisi sulit karena gagal panen. Setelah melalui survei oleh tim relawan Tzu Chi, dilakukan pembagian selimut dan bahan makanan untuk masa 3 bulan. Tetapi yang paling mencemaskan Master Cheng Yen adalah: “Dengan cara apa untuk bisa mengubah total kehidupan mereka, agar bisa mengatasi kemiskinan yang berlangsung sepanjang tahun?”

Struktur tanah unik yang terdiri dari batu kapur membuat gunung batu di Guizhou bertebaran hampir di seluruh wilayah, oleh karenanya mendapat julukan “Mashan”. Lahan yang dapat ditanami sangat sedikit, sulit mencari nafkah untuk hidup. Dengan menghela napas penduduk setempat berkata, “Pada saat Tuhan menciptakan dunia, seluruh bahan-bahan yang baik telah digunakan di tempat lain, yang tersisa adalah sekumpulan batu yang dibuang ke Mashan.” Seperlima dari orang miskin di seluruh Tiongkok berada di Guizhou.

Wakil Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi, Wang Tuan-cheng mengenang, pada saat itu Yan Fuming, Ketua Federasi Badan Amal Tiongkok menyarankan dirinya untuk datang melihat-lihat Mashan, di Guizhou. Ketua Yan mengatakan, di celah-celah batu selebar telapak tangan sekali pun, penduduk desa juga berusaha untuk menanam sebatang tanaman jagung. Mereka yang begitu rajin dan tekun berusaha, kehidupannya tetap saja serba kekurangan, apakah Tzu Chi bisa mencoba untuk membantu mereka pindah ke bawah gunung?

Relawan Tzu Chi memasuki Desa Luosha di Kabupaten Luodian, menyaksikan sendiri apa yang dikatakan oleh Ketua Yan yaitu wujud nyata sebuah kehidupan yang dilukiskan sebagai “Lantai disapu oleh angin dan rembulan sebagai lampu”. Gubuk mereka terbuat dari batang padi yang dirajut dengan bilahan bambu halus, terlihat reyot dan berbahaya. Pakaian yang melekat di tubuh penduduk ada yang sudah ditambal beberapa kali, malah ada yang bolong di mana-mana; di dalam rumah sangat gelap dan lembab dengan aroma tidak menyedapkan, rupanya orang dan hewan peliharaan tinggal bersama di satu ruangan. Kotoran hewan bertebaran di samping ranjang, sementara karung bekas makanan ternak dijadikan selimut.

Karena keterbatasan oleh faktor kondisi alam, manusia tidak punya kesempatan melepaskan diri dari kemiskinan turun-temurun, namun Master Cheng Yen berkata, “Sejarah merupakan akumulasi dari hubungan antar sesama manusia, antara waktu dan ruang. Asalkan punya niat, memanfaatkan waktu, ruang dan menyatukan kekuatan semua orang, yakinlah orang dapat mengubah perjalanan sejarah, dapat mengubah keadaan orang yang sedang mengalami kesusahan.”

Maka, program pengentasan kemiskinan dengan “memindahkan penduduk dan relokasi desa” Tzu Chi agar penduduk dapat hidup lebih layak telah mulai berjalan pada tahun 2000. Sampai tahun 2012, berturut-turut telah berdiri 9 perumahan di Kabupaten Luodian, wilayah Huaxi dan Kabupaten Ziyun yang terdiri dari 401 keluarga, yang berskala paling kecil seperti di Desa Luosha, Kabupaten Luodian terdiri dari 13 keluarga, sedangkan yang terbesar di Perumahan Gaolan, Desa Pingyuan, Kabupaten Luodian terdiri dari 84 keluarga.

Kesembilan perumahan baru, 6 di antaranya berada di Kabupaten Luodian. Wakil Ketua Wang mengemukakan bahwa semuanya ini karena pemerintahan setempat sangat sungguh-sungguh dalam memperbaiki kehidupan penduduk, membuat Tzu Chi mampu melaksanakan program relokasi penduduk, pengentasan kemiskinan dan pemberian beasiswa dalam kurun waktu selama belasan tahun. Sekalipun pimpinan pemerintah daerah naik jabatan dan pindah ke bagian lain, tetap menjadikan program relokasi desa sebagai proyek terpenting dalam upacara serah terima jabatan.

Selain itu, penduduk setempat juga memiliki keberanian yang tidak kenal menyerah terhadap kondisi alam juga merupakan kunci utama dalam perubahan ini. Pada saat sedang membangun Perumahan “Tzu Chi Mo Jian” dan “Shangwengjing”, pemerintah menyediakan bahan bangunan, dan penduduk berinisiatif ikut dalam pekerjaan penataan lahan dan pembuatan pondasi. Niat baik mereka dengan berpegang pada prinsip  “Rumah sendiri dibangun sendiri”, membuat hati relawan sangat terharu, juga merupakan sebuah bukti bahwa penduduk Mashan telah menggenggam kesempatan dengan baik dan mengandalkan kerja keras serta semangat juang, untuk mengubah kemiskinan yang telah berlangsung turun-temurun.

Para penduduk desa memindahkan batu-batu untuk membantu mempersiapkan lokasi guna pembangunan Perumahan Tzu Chi Zheren, salah satu perumahan pertama yang dibangun Tzu Chi di Guizhou. Sebagian besar dari mereka bahkan memindahkan tanpa menggunakan alat.

Menepati Janji, Kemiskinan Tidak Lagi Menjadi Warisan Turun-Temurun

Tzu Chi telah membantu mengentaskan kemiskinan di Luodian selama 13 tahun. Relawan Tzu Chi pergi ke Luodian untuk membantu orang miskin dan melakukan pertolongan darurat, memantau mutu proyek bantuan pembangunan, dan setiap tahun melakukan pembagian bantuan musim dingin serta beasiswa. Sudah tidak terhitung lagi berapa banyak kunjungan yang telah dilakukan. “Kami menginginkan agar orang yang membutuhkan mendapatkan bantuan, berharap dapat memberikan kesempatan kepada para penduduk miskin untuk mengubah nasib.” Wakil Ketua Wang Tuan-cheng mengatakan, awalnya sama sekali tidak terpikir bisa berjalan dalam waktu yang begitu panjang dengan jarak yang begitu jauh, semuanya ini adalah sebuah jalinan jodoh dan rasa empati yang mendalam.

Relawan Tzu Chi dari Taiwan dan Tiongkok secara berestafet menjelajah ke atas gunung batu. Mungkin di antara mereka ada yang usaha bisnisnya sudah sukses atau usianya sudah termasuk golongan opa oma, namun rela bercucuran keringat dan dengan nafas tersengal-sengal berjalan di jalan pegunungan yang tidak rata ini. Di tengah kunjungan berjarak ribuan kilometer ini, setiap langkah yang mereka tapakkan terjalin tali kasih sejati.

 “Pada masa lalu kondisi jalan sangat tidak baik. Agar kepala tidak terbentur dengan atap atau jendela mobil, tangan harus sekuat tenaga menggenggam erat-erat pegangan. Akibatnya ada yang sampai kulit telapak tangannya terkelupas,”  ujar Wang Tianwei, seorang relawan dari Guangdong. “Derita” karena kelelahan dalam perjalanan dengan menggunakan perahu dan mobil masih segar di dalam ingatan, namun wajah penuh keriput dan telapak tangan yang sangat kasar yang dia lihat pada penduduk pegunungan yang seumur dengan dirinya, merupakan gejala penuaan dini yang sulit dibayangkan oleh orang perkotaan. Rasa lelah dan susah dalam perjalanan pun hilang seketika.

Dalam pembangunan 9 desa, di setiap desa selalu ada jejak langkah dari relawan Tzu Chi Taiwan Gao Ming-shan, bahkan mulai dari pembangunan Perumahan Tzu Chi Shangwengjing, telah menggunakan cetak biru rancang bangun berdasarkan pemikiran yang profesional. “Bangunlah rumah sama seperti rumah yang ingin kita huni,” pesan Master  Cheng Yen ini bergema terus-menerus di dalam hati Gao Ming-shan, berharap mutu rumah yang dibangun Tzu Chi  bisa bertahan paling tidak sampai dua generasi. Oleh karena itu, dia mendobrak kebiasaan cara membangun masyarakat setempat dengan menambah besi beton ke dalam dinding, dan menambah ketebalan dinding dari 6 inci menjadi 8 inci. Dia juga berhasil meyakinkan Bupati untuk membentuk ulang atap rumah yang terbuat dari semen, dengan demikian baru bisa tahan terhadap hujan batu es.

Belasan tahun telah berlalu. Saat usia muda Gao Ming-san tidak gentar menghadapi jalan pegunungan yang tidak rata, sampai sekarang dia tidak pernah merasa berat berjalan untuk sampai ke desa pegunungan. Bukannya dia tidak merasa lelah, tetapi setelah menyaksikan penduduk menjalani kehidupan “primitif”, di sudut hatinya timbul perasaan tidak tega. Pada akhirnya dia juga dapat memahami pelajaran di alam kehidupan yang diberikan Master Cheng Yen, yaitu “Melihat penderitaan orang lain menjadi tahu akan keberkahan.”

Pegunungan di sini bagaikan kampung halamannya yang kedua. Penduduk di sini seperti sanak keluarganya; keluarga dimana ayah dan anak hidup saling bergantungan, keluarga dimana mereka tinggal di satu ruangan dengan hewan peliharaannya, keluarga dimana kepala keluarganya adalah anak yatim piatu sebatangkara. Semuanya dia ingat dengan sangat jelas. Kadang-kadang ketika berada di rumahnya di Taiwan dan terbangun di tengah malam, yang teringat olehnya adalah hal-hal yang telah dia janjikan kepada penduduk di Guizhou yang belum dia selesaikan dengan baik.

Pernah suatu kali, ketika dia sedang mendiskusikan rencana relokasi desa dengan pimpinan pemerintahan Luodian, Xu Wenlong relawan yang datang bersamanya di Luodian memberitahukan padanya, “Ada telepon dari Taiwan yang menyampaikan bahwa ibu Anda telah meninggal dunia.” Pada saat itu Gao Ming-shan tidak mampu berkata-kata, masih terbayang suasana menemani sang ibu berjalan-jalan sebelum dia pergi meninggalkan rumah, “Tetapi saya tetap memutuskan untuk melanjutkan perjalanan hingga selesai.”

 “Saya pulang kembali ke Taiwan dengan pesawat paling cepat juga baru bisa sampai 2 hari kemudian, sedangkan ibu saya sudah meninggal dunia, kepulangan saya juga tidak membantu,” Gao Ming-shan mengatakan bahwa di sisi ibunya ada saudaranya dan insan Tzu Chi. Dia percaya ibunya akan mendapatkan perawatan yang terbaik, tetapi penduduk desa miskin yang berada di hadapan matanya ini lebih membutuhkan dirinya.

Demi menjaga kesehatan sang ibu, saudara-saudara Gao Ming-shan menemani sang ibu jalan-jalan sepanjang tahun, hal ini berlangsung hari demi hari. Setelah sang ibu meninggal dunia, Gao Ming-shan sering kembali ke jalan Tianmu, jalan dimana dia selalu berjalan beriringan dengan ibunya, “Tidak adanya ibu, berjalan-jalan terasa sepi luar biasa,” Katanya. Master Cheng Yen berusaha menghibur dirinya dengan berkata, “Gunakan tubuh yang diberi ibumu untuk berjalan di jalan yang pantas kamu jalani dengan mencintai semua makhluk.”

Relawan Xu Wenlong teringat pada waktu dilakukan pembagian bantuan musim dingin, relawan selalu mengambil kesempatan untuk bertandang ke rumah penduduk yang mereka kenal, dia sendiri pernah berkunjung ke rumah seorang janda beranak satu, ternyata di sana ia menemukan bahwa sang ibu rumah tangga telah meninggal karena sakit keras belum lama ini. Anaknya kemudian menjadi yatim piatu dan mengikuti pamannya keluar desa untuk bekerja.

Penyesalan seperti ini telah terjadi berulang kali. “Seringkali kami berharap seorang anak dapat bersekolah hingga ke perguruan tinggi, kemudian baru mencari pekerjaan. Tetapi karena berbagai faktor, kadangkala sama sekali tidak sempat untuk memperbaiki keadaan.” Hal ini membuat mereka lebih bisa memahami kecemasan Master Cheng Yen setelah menerima laporan singkat dari relawan, “Harus segera, jangan sampai sang anak menjadi yatim piatu! Harus cepat, lebih cepat agar para penduduk dapat pindah dari rumah reyot mereka.” Rasa welas asih dan empati Master Cheng Yen, membuat para relawan juga menganggap setiap penduduk desa seperti orang tua sendiri, seperti anak sendiri. Hal yang menghibur hati adalah, seiring dengan dibangunnya perumahan Tzu Chi, kehidupan penduduk telah menjadi lebih baik. Pola pikir orang tua juga telah berubah, persentase anak-anak yang mendapat pendidikan semakin lama semakin banyak, secara bertahap mereka mulai beranjak ke tahap melepaskan diri dari jerat kemiskinan.

Tigabelas tahun telah berlalu dengan cepat. Seorang bayi yang masih orok saat itu kini telah menjadi seorang murid sekolah menengah, sementara orang paruh baya yang kekar, kini rambut di pelipisnya juga sudah memutih, sedangkan hubungan antara warga  kota pegunungan Luodian dengan Kota Guiyang perlahan-lahan telah terjalin dengan baik. Terlihat penduduk desa ada yang telah menikah, mendapat kesempatan bekerja dan telah lahir pula generasi berikutnya. Begitulah kehidupan bergenerasi terus-menerus tiada henti. Namun, kemiskinan tidak lagi diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dengan kerja keras dan semangat bergotong royong dari semua orang, kebahagiaan di turunkan ke generasi berikutnya terus-menerus di desa pegunungan ini.

Sumber : http://paper.udn.com/udnpaper/POL0010/223993/web/

Penerjemah : Tony Yuwono, Lienie Handayani, Desvie Nataleni

Artikel dibaca sebanyak : 2633 kali


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Bertambahnya satu orang baik di dalam masyarakat, akan menambah sebuah karma kebajikan di dunia.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat