Rabu, 18 September 2019
Indonesia | English

Harapan di Taman Pelangi


“...Di bimbingan belajar ini Yuli dan kawan-kawan berkeyakinan bahwa cara terbaik mengajarkan cinta dan kasih sayang kepada anak harus dimulai dari lingkungan rumah tinggal, lalu berlanjut ke lingkungan bermain dan belajar....”

Yulianti baru saja keluar dari rumahnya yang terlihat begitu sederhana di tepian kali yang membelah Pademangan Barat. Depan rumahnya terlihat begitu teduh, karena dinaungi oleh pohon-pohon besar taman kota. Setelah berbincang dengan salah seorang ibu rumah tangga, Yulianti langsung menyusuri taman itu guna menemukan lahan yang tak ada genangan airnya. Kemudian ia menggelar dua buah terpal berukuran besar, merapikannya, dan membersihkannya. Di tempat inilah setiap hari Kamis Yuli dan beberapa orang pengajar dari sebuah gereja memberikan bimbingan belajar bagi anak-anak di Pademangan Barat. Mereka memberikan bimbingan belajar membaca dan menggambar bagi anak-anak usia dini dan bimbingan belajar matematika bagi anak-anak sekolah. Selain itu pendidikan budi pekerti pun mereka berikan sebagai pondasi pembentukan karakter anak. Uniknya setiap anak yang mengikuti bimbingan belajar tidak dipungut biaya sepeser pun.

Menurut Yuli, bimbingan belajar di taman terbuka ini sudah berjalan sejak satu tahun yang lalu. Semua bermula dari enam tahun yang lalu ketika Yuli mengikutsertakan anaknya pada sebuah bimbingan belajar membaca yang diadakan oleh para relawan gereja yang letaknya tak jauh dari Pademangan. Dari situlah akhirnya jiwa kerelawanan Yuli terpanggil. Yuli merasa bahwa program ini sangat baik untuk menunjang kegiatan belajar mengajar, maka dari keyakinan itu ia menyebarkan kembali informasi ini kepada ibu-ibu rumah tangga yang lain di Pademangan. Alhasil banyak ibu-ibu yang turut membawa anak mereka untuk ikut bimbingan belajar.

Namun setelah sekian lama atas berbagai alasan kegiatan ini pun akhirnya terhenti. Kendati demikian Yuli merasa sangat sayang jika kegiatan ini tidak lagi dilanjutkan. Meskipun kedua anaknya sudah tidak lagi mengikuti bimbingan belajar baca dan menulis Yuli tetap berkeinginan agar anak-anak yang lain dapat mengecap kesempatan yang sama. Akhirnya atas saran seorang relawan pengajar Yuli membuka kembali kelas bimbingan belajar itu yang berlokasi di sebuah Taman di Pademangan, Jakarta Utara. Bimbingan belajar itu ia beri nama Bimbingan Belajar Pelangi, yang terinspirasi oleh tingkah polah anak-anak yang beraneka ragam dalam memberi warna hidup kita.

BELAJAR DI TAMAN. Di tepian kali di sebuah taman di Pademangan Barat, Yulianti dan kawan-kawan secara rutin mengadakan bimbingan belajar bagi anak-anak di lingkungan mereka setiap hari Kamis.

Di tempat ini Yuli bersama rekan-rekannya mengajarkan anak-anak tentang budi pekerti. Sebab menurutnya perkembangan anak banyak dipengaruhi oleh lingkungan dan seorang anak kecil tidak mungkin tahu mana perbuatan yang buruk dan mana yang benar jika tidak diajari oleh lingkungannya. Karena pada dasarnya anak-anak akan memiliki kecenderungan melakukan hal yang buruk. Oleh sebab itulah diperlukannya latihan-latihan dalam pembinaan perilaku. Dari adanya bimbingan belajar ini setidaknya selama seminggu sekali Yuli bersama kawan-kawannya telah membuat sebuah lingkungan yang baik bagi anak-anak. Selain memberikan pelajaran kepada anak-anak, ternyata para ibu-ibu pun juga diajarkan tentang timbal balik kasih sayang antara orang tua dengan anaknya. Tujuannya adalah agar orang tua paham tentang kewajibannya dalam memberikan teladan dan sumber kasih sayang kepada anak-anaknya. Sedangkan anak-anak pun menjadi tahu cara menyayangi orang tuanya.

Selama dua jam belajar di lapangan terbuka, Yuli tak lupa mengajarkan anak-anak untuk berlatih berdoa. Menurutnya hanya kekuatan doalah yang dapat mengubah segalanya. Dampak positif yang lain dari mengajarkan doa kepada anak-anak, yaitu anak akan merasa berada di hadapan Tuhan dan ketika dewasa nanti, ada kemungkinan mereka akan mengingat masa-masa indah ini di mana mereka berdoa bersama keluarganya.

KARAKTER PENENTU. Menurut Yulianti kecerdasan emosi memiliki peranan penting dalam keberhasilan seorang anak di lingkungan sosialnya nanti.

Menanamkan Karakter
Materi lain yang rutin Yuli dan kawan-kawan ajarkan adalah sikap saling mengalah. Menurut Yuli saling berkorban dan bersedia mengalah untuk kepentingan bersama juga merupakan kebahagiaan. Makanya di hari Kamis itu, sebanyak lima puluh siswa yang ikut bimbingan belajar terlihat begitu akur dalam sebuah permainan. Mereka bernyanyi bersama, saling bergerak, saling bergandengan tangan, dan saling bertepuk tangan. Dan yang terpenting adalah mereka saling ikhlas dalam memperebutkan hadiah. Kegiatan ini ternyata telah membuat anak-anak mengenal teman di sebelahnya, mau peduli, dan belajar mengekspresikan dirinya sendiri. “Perbandingannya 80-20. Delapan puluh persen materi budi pekerti dan dua puluh persennya pelajaran formal,” jelas Yuli. Karenanya selama pelajaran berlangsung Yuli dan kawan-kawannya selalu menyisipkan pesan moral seperti pesan cinta kepada sesama yang diajarkan melalui contoh-contoh sederhana dari sebuah kisah nyata.

Melalui bimbingan belajar ini pula Yuli dan kawan-kawannya berharap para ibu-ibu bisa lebih memperhatikan anak-anak mereka. Sebab ia khawatir di masa sekarang ini banyak orang yang terpengaruh oleh sajian media elektronik yang tidak mendidik. Mayoritas dari tayangan televisi lebih sering mempertontonkan adegan kekerasan atau mengetengahkan cerita yang tak mengajarkan cinta kasih, yang tentunya akan berdampak negatif bagi sang ibu terlebih anak-anaknya. “Setiap hari ibu-ibu rumah tangga menonton sinetron dan banyak dari sinetron memberikan dampak buruk. Paling tidak selama satu hari ini mereka mendapatkan info yang baik,” kata Yuli.

MUATAN BUDI PEKERTI. Di Bimbingan belajar Pelangi mereka tak hanya mengajarkan teknik membaca, menggambar, dan pelajaran matematika, tapi juga tata krama dan sopan santun.

Di bimbingan belajar ini Yuli dan kawan-kawan berkeyakinan bahwa cara terbaik mengajarkan cinta dan kasih sayang kepada anak harus dimulai dari lingkungan rumah tinggal, lalu lanjut ke lingkungan bermain dan belajar. Karenanya di bimbingan belajar inilah aura cinta dan kasih sayang diberikan agar selesai dari kegiatan ini anak dan orang tua membawa sesuatu yang bermanfaat, yaitu manisnya kasih sayang.

Dunia anak-anak memang dunia yang penuh keluguan dan jauh dari intrik-intrik pikiran orang dewasa, maka dari itu diperlukan tangan-tangan yang penuh kasih untuk membesarkan dan mendewasakan mereka. Dan Yuli bersama sahabatnya telah membuktikan diri memberikan pengabdiannya di bidang itu.

Naskah: Apriyanto
Foto: Anand Yahya

Artikel dibaca sebanyak : 1653 kali


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Penyakit dalam diri manusia, 30 persen adalah rasa sakit pada fisiknya, 70 persen lainnya adalah penderitaan batin.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat