Senin, 21 Oktober 2019
Indonesia | English

Hidup di Kesempatan Kedua


Saat tsunami terjadi, Kasmayadi beserta istri, tiga anak, adik, dan seorang keponakannya berada di Pantai Talise. Mereka tengah pulang ke kampung halaman sekaligus berlibur. Kasmayadi adalah relawan Tzu Chi Sinarmas daerah Kalimantan Tengah. Setelah terjadi guncangan, Kasmayadi memastikan keluarganya lari dan menyelamatkan diri. Ia dan adiknya terpisah dari keluarganya. Mereka sempat tergulung air tsunami. Beruntung tangan Kasmayadi berhasil meraih pagar besi. Ketika gelombang air datang lebih tinggi. Mereka berlari terseok dan berlindung di balik bangunan.

Saat itu, pemandangan langsung menjadi gelap karena semua aliran listrik padam, sinyal telepon selular pun tidak terhubung. Kasmayadi mencari keberadaan keluarganya. Perjalanannya sangat tidak mudah apalagi tanpa penerangan dan dalam kondisi trauma. Kaki ayah tiga anak itu juga sempat kram tapi dalam kondisi itu ada orang yang datang membantunya dan dengan senang hati memijat serta memberinya air minum. “Saya nggak tahu gimana, orang-orang itu nolong saya. Mungkin inilah balasan dari kita berbuat baik sama orang, kita juga ditolong orang,” ungkapnya haru.

Walaupun kondisi sudah tidak kondusif, Kasmayadi terus mencari keluarganya. Ia sempat pulang ke rumah untuk beristirahat, tapi hatinya tidak tenang sebelum berhasil menemukan mereka.

“Sekitar setengah tiga pagi saya jalan lagi. Sampai di dekat Taman Kota saya berhenti karena ada rame-rame. Saya memanggil, ’Sofi, Sifa, Kanza..’ Pada saat teriakan saya yang keempat ada yang jawab, ’Saya, Yah!’ Anak saya Sofi yang ngejawab,” kisahnya.

Ketika bertemu kembali dengan keluarganya, rasa haru dan bahagia bercampur aduk. Dirinya sangat beryukur atas pertolongan orang-orang di sekitar. Di tengah situasi dan kondisi yang masih mencekam, masyarakat sekitar masih menolong istri, anak-anak dan keponakannya. “Mereka dikasih tikar, mereka ditolong orang juga, bahkan anak-anak saya nggak lapar, dikasih snack,” ucapnya.


Menciptakan Berkah Kembali

Setelah selamat dan bertemu relawan Tzu Chi, Kasmayadi sangat ingin turut serta memberikan pertolongan. Rasa syukur atas kesempatan hidup yang diberikan Sang Pencipta kepada dirinya, diwujudkannya melalui perbuatan baik.

“Istri saya sempat nanya saya kemana, karena dia juga masih khawatir. Saya jawab, saya sama relawan Tzu Chi dulu, Bu, bantuin orang banyak dulu. Kita harus bersyukur, kita bisa hidup semua, utuh satu keluarga. Inilah terima kasih saya sama Allah,” ungkap Kasmayadi.

Kisah Kasmayadi dan keluarganya menggugah dan menginspirasi relawan Tzu Chi lainnya, termasuk Franky O. Widjaja, Wakil Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia yang juga Chairman Sinar Mas Agribusiness and Food.

“Kebaikan yang beliau lakukan sebelumnya telah digunakan, sekarang harus lebih banyak lagi melakukan kebaikan. Bersyukur sekali, dia langsung turun menjadi relawan di Palu,” kata Franky O. Widjaja pada momen HUT-80 Sinar Mas, 10 Oktober 2018.

Rasa syukur yang diwujudkannya melalui perbuatan baik memberikan makna atas kehidupan kita. Sudah seharusnya kita mempergunakan kesempatan hidup yang kita punya dengan sebaik-baiknya.

Jurnalis: Moses Silitonga (Tzu Chi Sinar Mas)

Editor: Ivana

Artikel dibaca sebanyak : 465 kali


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Kendala dalam mengatasi suatu permasalahan biasanya terletak pada "manusianya", bukan pada "masalahnya".

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat