Selasa, 26 September 2017
Indonesia | English

Home of Arzu: Secercah Harapan Bagi Pencari Suaka Jakarta

doc tzu chi

Husain Rasooli (baju putih), sesaat sebelum pergi dan menetap di Australia setelah permohonan suakanya diterima di negeri Kanguru. Husain merupakan salah satu anak yang tinggal di Home of Arzu, sebuah rumah tinggal yang disediakan Tzu Chi untuk para pengungsi asal negara Timur Tengah ini.

“Saya terpisah dari orangtua dan saudara saya. Betapa saya merindukan ibu saya saat ini,” ungkap Bismillah Joia, seorang anak yang saat ini masih berusia 14 tahun yang kini tercatat sebagai pengungsi di Indonesia.

Bismillah Joia tidak sendiri. Ia bersama delapan temannya terpaksa meninggalkan tanah kelahiran mereka di Afghanistan untuk mencari kedamaian dan ketenangan di Indonesia. Konflik bersenjata di Afghanistan membuat lonjakan jumlah pengungsi mencapai 1,2 juta orang. Angka ini melonjak pesat dibandingkan di tahun 2012 yang mencapai 500.000 pengungsi.

Joia dan para pengungsi lainnya semakin terperangkap dalam konflik Afghanistan yang kian memburuk saat Taliban menggencarkan serangan musim semi tahunan mereka. Menurut Bismillah, tembakan bersenjata menjadi pemandangan sehari-harinya kala ia masih berada di Afghanistan.

Penduduk Afghanistan tak punya pilihan lain, selain mencari kedamaian di negara lain. Perjuangan Joia untuk pindah dari Afghanistan menuju Indonesia juga sangat berliku. Ia terbang dari negara asalnya menuju India dengan menggunakan pesawat, setelahnya ia kembali terbang menuju Malaysia. Dari Malaysia menuju Indonesia, Joia menggunakan kapal.

“Saat itu saya takut sekali. Saat hendak ke kapal, saya harus berjalan sekitar 30 meter dan suasana pada saat itu sangat gelap sekali. Dari kapal kecil, saya dipindahkan ke kapal yang lebih besar. Saya menutupi wajah saya dengan kain sehingga saya tak melihat air di laut dan ombak yang besar,” kenang Joia dengan mata yang berkaca-kaca.

doc tzu chi

Kondisi para pengungsi yang sangat memprihatinkan. Karena keterbatasan tempat dan sumber daya dalam membantu mereka, para pengungsi ini harus tidur di belakang Kantor United Nation High Commissioner for Refugees (UNHCR) di kawasan Kebon Sirih, Jakarta Pusat.

Sesampainya di Indonesia, perjuangan untuk hidup tenang dan nyaman pun masih terasa panjang. Saat Joia dan kedelapan temannya sampai di Jakarta, mereka tak memiliki tempat tinggal. Dua bulan lamanya mereka tidur di pinggir jalan, beralaskan aspal jalan, diterpa dinginnya malam dan panasnya terik di kala siang hari.

Rasa lapar pun sering menghampiri. Mereka tak punya pilihan lain selain menunggu belas kasihan warga Jakarta yang tak sengaja lewat di tempat mereka menghabiskan siang dan malam, tepatnya di belakang kantor United Nations High Commissioner for Refugees atau UNHCR di kawasan Kebon Sirih, Jakarta Pusat.

Saat itu tanda tanya besar pun memenuhi ruang-ruang di hati dan kepala mereka. Dimanakah kedamaian yang sesungguhnya itu berada?

doc tzu chi

Hong Tjhin, relawan Tzu Chi yang merasa prihatin dengan kondisi para pengungsi ini kemudian berinisiatif untuk memberitahukan kondisi ini kepada relawan Tzu Chi Perwakilan Sinar Mas. Sejak itu, sebuah rumah yang nyaman menjadi tempat bernaung para pengungsi ini.

Pelangi Sehabis Badai

Akan ada pelangi sehabis badai. Seperti itulah gambaran kehidupan Joia dan kedelapan teman-temannya yang kini terpisah ribuan kilometer dari keluarga yang mereka cintai.

Tepat di bulan Mei 2016 menjadi bulan berseminya harapan bagi Joia dan teman-temannya. Kala itu, pembina Tzu Chi Sinar Mas, Shixiong Hong Tjhin melewati ruas-ruas jalan dimana para pengungsi yang seluruhnya adalah anak-anak di bawah umur sedang tidur di jalan. Segera dirinya memberi kabar kepada seluruh relawan Tzu Chi Sinar Mas untuk bersama-sama memberikan bantuan.

Tak berselang lama, kesembilan pengungsi yang seluruhnya adalah anak di bawah umur ini dipindahkan ke rumah yang disewa oleh Tzu Chi Sinar Mas sebagai rumah tempat mereka tinggal, menghabiskan siang dan malam tanpa lagi takut merasakan turunnya hujan.

 

doc tzu chi

Selama tinggal di Home of Arzu (Rumah Harapan) para pengungsi ini juga mendapatkan perhatian dari para relawan, baik dalam kesehatan maupun pendidikan non formal. Hal ini membuat benih-benih kebajikan juga tumbuh dalam hati mereka. Salah satunya ditunjukkan Husain Rasooli yang ikut mendonorkan darah.

Setelah dipindahkan ke rumah yang diberi nama Home of Arzu (Rumah Harapan), kondisi kehidupan kesembilan anak-anak ini berangsur-angsur membaik. Mereka tak lagi merasa kelaparan dan tak lagi merasakan dinginnya aspal jalanan di kala malam. Bahkan di Home of Arzu ini mereka memiliki dua orang pendamping: yaitu Kamran Ali dan Hussain Rasooli yang bertindak sebagai kakak sekaligus orang tua bagi Joia mereka.

Selain memberikan sandang dan papan, di Home of Arzu, relawan Tzu Chi Sinar Mas juga memberikan pendidikan bagi Joia dan teman-temannya. Mulai dari pelatihan bahasa Inggris, bahasa Indonesia, kelas komputer, hingga pelatihan skill sesuai dengan pilihan mereka.

Joia memilih kelas mekanik, sebab suatu hari nanti ia ingin menjadi mekanik handal. Teman-temannya yang lain memilih kelas yang berbeda sesuai dengan minat dan bakat masing-masing. Mulai dari kelas mesin, elektrik, memasak, hingga hair-stylist. Mereka menjalaninya dengan penuh rasa syukur dan bahagia.

Selain mendapatkan pelajaran formal, mereka juga diberikan kesempatan untuk berolahraga sehingga pikiran tak jenuh dan bosan. Olahraga yang rutin dilakukan oleh Joia dan teman-temannya adalah voli, futsal, dan berenang. Aktivitas ini tidak hanya membuat mereka gembira dan sehat, namun lebih daripada itu juga mengakrabkan satu dengan yang lainnya.

doc tzu chi

Para pengungsi yang tinggal di Home of Arzu juga sering terlibat dalam kegiatan sosial Tzu Chi.  Seperti saat memberikan bingkisan Lebaran kepada para pengungsi agar bisa merayakan hari raya dengan penuh sukacita.

Aktif dalam Kegiatan Tzu Chi

Memiliki latar belakang sebagai korban konflik dan masa lalu yang kelam tak membuat para pengungsi dari Afghanistan ini menjadi apatis dan pesimis. Kondisi hidup yang saat ini jauh lebih baik, justru menggerakkan hati mereka untuk aktif dalam kegiatan sosial, termasuk yang dilaksanakan oleh Tzu Chi.

Joia dan teman-temannya tak pernah absen dalam kegiatan rutin Tzu Chi Sinar Mas yakni donor darah yang dilaksanakan di Plasa Sinar Mas Land, Thamrin, Jakarta Pusat. Mereka ikut dalam persiapan hingga pada saat kegiatan. Bahkan, beberapa dari mereka ikut menyumbangkan tetesan demi tetesan darah mereka bagi orang yang membutuhkan.

“Ini adalah pengalaman saya pertama kali dalam mendonorkan darah. Awalnya sempat takut, namun  rasa takut itu saya coba hilangkan. Saya hanya fokus bahwa darah yang saya sumbangkan ini akan berguna bagi orang-orang yang sakit,” tutur Hussain Rasooli sesaat setelah mendonorkan darah.

Kegiatan Tzu Chi lainnya yang juga kerap diikuti adalah daur ulang. Dengan sigap Joia, Hussain, Kamran, dan anak-anak lainnya membantu memilah plastik-plastik yang siap didaur ulang. Walaupun kondisi di siang hari sangat panas dan keringat membasahi baju, mereka tetap dengan senang hati membantu para shibo dan shiqu dalam melaksanakan misi pelestarian lingkungan.

“Saya sangat bahagia dan selalu excited dalam menjalankan kegiatan Tzu Chi. Bagi saya, kegiatan-kegiatan Tzu Chi itu sangat indah sekali khususnya dalam hal kemanusiaan. Dan saya sangat bersyukur bisa menjadi bagian dalam kegiatan ini,” tutur Kamran Ali yang sudah setahun menjalani aktivitas sebagai guardian di Home of Arzu.

Tak jarang juga relawan Tzu Chi melakukan kunjungan kasih ke Home of Arzu yang berada di kawasan Kebon Nanas, dan memberikan motivasi serta sesi sharing antar relawan dan para pengungsi. Kedatangan relawan ini menambah warna warni baru di hidup mereka. Mereka sadar, walaupun mereka jauh dari keluarga yang mereka cintai, namun mereka memiliki keluarga baru yang juga memberikan perhatian sehingga mereka tak lagi merasakan kesepian dan sedih.

Rasa bahagia serta haru memenuhi ruang hati dan pikiran relawan Tzu Chi Sinar Mas yang dengan penuh kesabaran serta kasih sayang mendampingi kesembilan anak-anak pencari suaka ini. Riani Purnamasari, misalnya. Sebagai relawan Tzu Chi yang setia mendampingi anak-anak di Home of Arzu, ia merasa sangat bersyukur dengan kondisi bangsa Indonesia yang terbebas dari konflik perang dan kontak senjata.

Menurut Riani, saat ini tak ada lagi sedih di wajah mereka seperti saat pertama kali bertemu di dekat Kantor UNHCR Jakarta. Bahkan saat ini mereka tengah disibukkan dengan kegiatan belajar-mengajar serta internship untuk melatih skill mereka. Kemampuan ini sangat diperlukan agar bisa menjadi bekal mereka saat hidup di negara yang akan mereka tinggali kelak.

Riani juga berharap banyaknya dukungan dari berbagai pihak terhadap anak-anak Home of Arzu ini agar apa yang saat ini tengah mereka cita-citakan dapat direalisasikan. “Karena bagaimanapun, mereka (para pencari suaka) ini berhak untuk mendapatkan hidup yang layak dan memiliki harapan.” 

Merajut  Mimpi yang Lebih Indah

Indonesia memang hanya menjadi negara transit bagi Joia dan seluruh penghuni di Home of Arzu. Pada akhirnya, UNHCR akan menunjuk mereka ke satu negara yang menjadi negara tetap mereka.

Hussain Rasooli, salah seorang anak yang tinggal di Home of Arzu kini telah meninggalkan Indonesia untuk terbang dan tinggal tetap di negeri kangguru, Australia. Tepat di tanggal 17 Mei 2017, Hussain meninggalkan teman-teman di Home of Arzu dan juga para relawan Tzu Chi yang udah ia anggap seperti keluarga dan kembali merantau ke negeri orang.

“Lakukan yang terbaik, jangan malas, dan jangan mengeluh,” pesan Hussain Rasooli kepada para penghuni Home of Arzu sesaat sebelum ia lepas landas ke Australia.

Kamran Ali yang bertugas sebagai guardian di Home of Arzu juga tengah menunggu pengumuman dari UNHCR untuk diberangkatkan ke Kanada. Berbagai proses termasuk wawancara telah ia jalani. Dan dengan penuh kesabaran ia menunggu dan akan segera mengikuti jejak Hussain Rasooli untuk kehidupan yang lebih baik.

Tidak hanya bagi para guardian, Joia dan kedelapan teman-temannya juga mengharapkan hal yang sama. Mereka ingin tinggal di sebuah negara yang pasti, yang secara legal mengizinkan mereka untuk menempuh pendidikan dan juga bekerja. Walaupun mereka sudah merasa nyaman di Indonesia, namun mimpi tidak berhenti sampai di sini saja.

Keberanian, optimisme, dan kekuatan. Tiga hal ini dapat kita petik sebagai pelajaran dari perjalanan panjang Bismillah Joia dan teman-temannya. Dalam usia yang masih sangat belia, menjadi korban peperangan, dan dengan bermodalkan keberanian mereka memutuskan untuk terbang ke negeri orang.

Badai telah mereka lalui. Kini Bismillah Joia dan teman-temannya menemukan sandaran batin. Walau rasa rindu terhadap keluarga sering menghampiri, namun dengan aktivitas dan teman-teman yang ada di sekitar mereka, mereka dapat melalui itu semua.

Bismillah Joia juga memberikan kita pelajaran penting bagi hidup, yakni Harapan. Itulah sebab, mereka tinggal di rumah yang bernama Home of Arzu. Arzu yang berarti Harapan. Mereka adalah harapan, bagi diri mereka sendiri, keluarga, dan juga Tzu Chi.

Hong Tjhin, relawan Tzu Chi yang merasa prihatin dengan kondisi para pengungsi ini kemudian berinisiatif untuk memberitahukan kondisi ini kepada relawan Tzu Chi Perwakilan Sinar Mas. Sejak itu, sebuah rumah yang nyaman menjadi tempat bernaung para pengungsi ini.

Artikel dibaca sebanyak : 425 kali


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Security Code
Keindahan kelompok bergantung pada pembinaan diri setiap individunya.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat