Kamis, 12 Desember 2019
Indonesia | English

Kita Perlu Sepaham, Sepakat, Sejalan


Mungkinkah umat manusia bisa sepaham, sepakat, dan sejalan? Bukan soal mungkin atau tidak, tapi saat ini hal tersebut sangat diperlukan.

Pertengahan Maret 2019, siklon tropis Idai menerjang Mozambik dengan kecepatan 175 km/jam. Kecepatan ini setara dengan kecepatan dalam sirkuit balap motor ataupun mobil. Dapatkah Anda membayangkan hembusan angin dengan kecepatan setinggi itu?

Siklon Idai dicatat sebagai siklon terburuk yang pernah terjadi di Afrika. Berimbas pada 3 negara yaitu Mozambik, Zimbabwe, dan Malawi. Laporan korban pascabencana sejumlah 1.300 meninggal, 2.262 hilang, dan 3 juta orang terdampak bencana. Penderitaan pascabencana semakin memprihatinkan sebab ketiga negara yang dilanda siklon ini sesungguhnya termasuk 25 negara termiskin di dunia. Sebelum terjadinya siklon, relawan Tzu Chi telah memberikan perhatian pada warga di sini. Maka, saat Siklon Idai terjadi, relawan pun telah menyalurkan bermacam bantuan mulai dari kebutuhan hidup hingga perlengkapan untuk pemulihan pascabencana.

Sungguh, Tak Ada Waktu Lagi
Siklon Idai hanya contoh bencana alam terbaru yang membuat banyak orang menderita. Taifun, hurikan dan siklon, sebetulnya adalah tiga istilah untuk kejadian ekstrem cuaca yang sama yaitu siklon tropis. Walaupun sebutannya berbeda-beda, proses terjadinya sama. Siklon terjadi di atas lautan, ketika air laut menguap lalu menyebabkan pengembunan. Udara memanas dan menarik udara yang lebih dingin ke atas. Akibatnya terbentuklah angin yang kecepatannya hingga 350 km per jam.

Ketika suhu bumi semakin panas, maka tejadi penguapan dalam area yang luas. Pergerakan udara akibat perbedaan suhu ekstrem antar lapisan udara semakin mungkin terjadi. Semakin ekstrem perbedaan suhu, kecepatan aliran udara semakin tinggi. Siklon pun terbentuk.


Haryo Suparmun, Koordinator Kamp Pelatihan 4 in 1 mengimbau peserta pelatihan untuk bisa meng-update kualitas diri dan menyamakan persepsi.

Belakangan, semakin banyak bencana yang terjadi akibat perubahan iklim. Suhu bumi yang cenderung terus meningkat sebenarnya sangat mengkhawatirkan. Hal ini juga yang mendorong Perserikatan Bangsa-Bangsa membentuk United Nations Framework Covention on Climate Change (UNFCCC) pada tahun 1992. Secara rutin UNFCCC menggelar konferensi internasional untuk membahas dan membuat kesepakatan terkait perubahan iklim.

Bulan Desember 2015 dalam konferensi yang ke-21, menjadi momen penting sebab para negara menghasilkan “Persetujuan Paris”, di dalamnya berisi dorongan kepada negara-negara untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Targetnya adalah menahan kenaikan suhu bumi tidak lebih dari 2 derajat Celsius sampai dengan tahun 2100. Ini adalah kabar gembira bagi dunia, termasuk Master Cheng Yen yang sangat memperhatikan isu lingkungan. Sayangnya, persetujuan ini tidak dilengkapi komitmen tegas dari setiap negara, sebab tidak tercapai kesepakatan tentang langkah nyata mengurangi emisi gas rumah kaca. Momen ini sungguh disayangkan.

Dalam ceramahnya pada 18 Desember 2015, Master Cheng Yen menyampaikan, “Perubahan iklim yang ekstrem telah menarik perhatian banyak negara. Semua orang bisa memiliki kesepahaman bersama, ini sungguh merupakan sebuah kabar baik. Mereka semua telah sepaham tentang hal ini. Meski demikian, tidak mudah untuk mencapai kesepakatan. Singkat kata, untuk meredam perubahan iklim, kita harus memahaminya terlebih dahulu. Lalu, kita harus mencapai kesepakatan dan bertindak secara nyata. Jika kita hanya memahaminya tanpa melakukan tindakan nyata, maka masalah ini tetap tidak dapat diatasi. Ini merupakan tanggung jawab setiap orang.” Sejak itu pula Master mencetuskan tentang “sepakat-sepaham-sejalan (bertindak bersama)”.

Metode untuk Semua Orang
Tanggal 27-28 Juli 2019 lalu, Tzu Chi Indonesia mengadakan pelatihan bagi relawan Tzu Chi di seluruh Indonesia. Tema yang diangkat adalah “Sepaham, Sepakat, Sejalan”. Tzu Chi Indonesia bermaksud mendorong gerakan pelestarian lingkungan secara lebih intensif. Beberapa pembicara dari Taiwan dan Australia secara khusus diundang untuk berbagi. Di antaranya adalah Chen Zhelin dulunya adalah seorang insinyur di perusahaan telekomunikasi asal Jerman yang berada di Taiwan dan bekerja selama 30 tahun. Setelah pensiun, sebuah jodoh menghantarnya akhirnya bergabung menjadi relawan Tzu Chi dan sangat getol dalam mensosialisasikan pelestarian lingkungan.


Chen Zhelin (tengah), relawan Tzu Chi Taiwan membagi formula 10 jari dalam pemilahan sampah. Formula ini membuat setiap orang bisa mengingat jenis benda yang bisa didaur ulang.

Chen Zelin mulai menjadi relawan dengan bekerja setengah hari di Depo Pelestarian Lingkungan dengan tugas utama membongkar helm. Niat awalnya adalah untuk mengisi waktu kosong sejak ia pensiun dari bekerja. Hingga suatu hari Chen Zhelin diminta untuk mempresentasikan tentang daur ulang kepada anak-anak TK yang sedang berkunjung ke depo. Ini tampak seperti tugas yang mudah. Ia tak menyangka akan gagal menarik perhatian anak-anak yang polos itu. Mereka malah lebih asyik memperhatikan tingkah laku seekor bebek yang sedang nyasar ke depo, dan mengabaikan dirinya.

Ini membuat Chen Zhelin merasa perlu memutar otak demi menemukan cara paling menarik untuk menyampaikan tentang pelestarian lingkungan. Hanya dengan demikian, ia bisa mengajak lebih banyak orang mau berbuat untuk lingkungan. Akhirnya ia menemukan formula 10 jari yang membuat setiap orang bisa mengingat jenis benda yang dapat didaur ulang. Urutan 10 jari tersebut adalah tangan kiri: botol plastik, botol kaca, kaleng aluminium, kaleng logam, kertas; tangan kanan: batere, pakaian, perangkat elektronik, logam, dan lain-lain. Chen Zhelin tidak main-main, ia telah berkeliling ke banyak negara untuk mensosialisasikan formula 10 jari ini dan membuat banyak orang lebih mudah ingat untuk memilah barang daur ulang.


Dengan menerapkan pola 1-2-3, relawan Tzu Chi diharapkan dapat mengetahui bagaimana cara mudah melestarikan lingkungan dan membagikan pola ini kepada masyarakat luas.

Kreativitas Chen Zhelin dan kepeduliannya pada lingkungan mendorongnya terus mengembangkan formula baru. Salah satunya yaitu cinta bumi 1-3-5 dan cinta diri 2-4-6. (Boleh dilengkapi dengan poster 1-3-5) Cinta bumi 1-3-5 intinya memandu orang-orang untuk hemat air, bervegetaris, dan bergaya hidup ramah lingkungan. Sedangkan cinta diri 2-4-6 mengajak orang untuk hidup sederhana dan harmonis.

Bersiap Menyambut Tzu Chi Hospital
Selain mendorong relawan untuk peduli pada pelestarian lingkungan, Tzu Chi Indonesia juga berharap para relawan dapat sepaham, sepakat, sejalan untuk mewujudkan Tzu Chi Hospital yang merupakan agenda besar Tzu Chi Indonesia. Dalam pelatihan yang sama, relawan dipersiapkan untuk mendukung Tzu Chi Hospital di Indonesia yang tak lama lagi akan beroperasi. “Di rumah sakit ini kita tahu akan ada relawan pendamping di rumah sakit. Maka sebelum hari-H, relawan sudah mendapatkan bekal bagaimana cara mereka menjadi relawan pendamping di rumah sakit, apa saja yang bisa dilakukan,” jelas Haryo, koordinator pelatihan. Untuk mendukung tercapainya tujuan tersebut, pelatihan ini mengundang pemateri dari Taiwan, yakni Huang Ming Yue, relawan yang sudah 30 tahun konsisten dalam misi kesehatan di rumah sakit.

Huang Ming Yue yang sudah 28 tahun menjadi relawan pemerhati di Rumah Sakit Tzu Chi Taiwan membagikan pengalamannya. Pada tahun 1991, ia bergabung menjadi relawan pemerhati rumah sakit karena tertarik pada ajaran Master Cheng Yen yang mengatakan bahwa cinta kasih bukanlah suatu slogan, tetapi merupakan wujud nyata. Karena itu Huang Ming Yue ingin memiliki kehidupan yang berarti dengan bersumbangsih di rumah sakit, dengan telaten mengunjungi, mendengar, dan membantu para pasien.


Para peserta kamp 4in1 mempraktokkan formula 10 jari yang disosialisasikan oleh Chen Zhelin.

“Di kehidupan ini, kita harus memanfaatkan tubuh kita untuk membantu, menjaga dan merawat orang lain, serta mengumpulkan niat baik semua orang untuk bersumbangsih kepada orang lain,” harap Huang Ming Yue. Ia juga menceritakan bahwa dengan menjadi relawan di rumah sakit, memang banyak hal yang harus ia berikan, tetapi lebih banyak hal-hal yang ia dapatkan.

Menjadi Keluarga Artinya…
Ketika ada anggota keluarga yang terkena penyakit maka sesungguhnya yang menderita bukan hanya pasien itu saja, tetapi juga seluruh anggota keluarganya. Kisah-kisah selama menjadi relawan rumah sakit dari Huang Ming Yue, sangat menyentuh dan menarik bagi para peserta pelatihan. Menurut Huang Ming Yue, menjadi relawan pemerhati itu juga harus bisa melakukan dan memerankan banyak hal: menjadi saudara, orang tua, teman, kakak, adik, dan bahkan terkadang menjadi kakek dan nenek.

Hal ini dirasakannya ketika mendampingi seorang ibu berusia 40 tahun yang mengidap penyakit jantung di ruangan paliatif (ruangan khusus bagi pasien agar dapat meringankan penderitaan). Detak jantung ibu itu amat lemah. Pasien tersebut merasa risau karena bulan depan merupakan ulang tahun anaknya yang ke-10 tahun. “Saya kemudian bilang kepadanya bolehkah ulang tahunnya kita percepat. Kita kemudian siapkan kue dan telur untuk merayakan ulang tahunnya,” kata Huang Ming Yue dan disambut dengan haru oleh pasien tersebut. Ibu ini memiliki 4 (empat) anak yang masih kecil-kecil.

Untuk menenangkan batin pasien tersebut, Huang Ming Yue berkata, “Saya tidak tahu apakah saya bisa menerima kehormatan dengan menjadi bagian dari keluarga Anda. Anda pasti khawatir akan anak-anak Anda. Andaikan usaha pengobatan ini gagal, kami akan dampingi anak-anak Anda sampai dewasa.” Tak lama kemudian, pasien tersebut meninggal dunia. Mulailah babak baru Huang Ming Yue berperan sebagai ibu bagi keempat anak pasien tersebut. Bersama-sama relawan lainnya mereka mendampingi dan memberikan penghiburan bagi keempatnya. Di hari Sabtu dan Minggu, anak-anak ini kerap datang ke rumah sakit. “Suatu hari, anak yang bungsu bilang kalau dia kangen sama Mamanya. Langsung saya bilang, ‘ayo saya gendong kamu. Saya jadi Mama kamu’,” kata Huang Ming Yue. Di rumah sakit pula anak-anak ini mengerjakan tugas sekolahnya dengan dibimbing para relawan. “Ada istri dokter-dokter kita yang menjadi relawan dan mengajari anak-anak ini,” kata Huang Ming Yue.


Huang Ming Yue, relawan Tzu Chi Taiwan membagikan berbagai kisah inspiratif yang pernah ia jalani selama menjadi relawan Tzu Chi.

Menjalani Dengan Sukacita
Baik dalam hal pelestarian lingkungan, maupun mengejar impian Tzu Chi Hospital, ketika semua orang semua dapat sepaham, sepakat, dan sejalan, akan terwujud kekuatan bajik besar yang akan membawa perubahan. Dengan begitu pula, semua relawan akan melakukan dengan penuh sukacita, benarkah? Hendry Zhou dalam materinya menjelaskan:

Apa itu Sepaham? Semua relawan Tzu Chi harus sepaham bahwa semua manusia pada hakikatnya baik dan memiliki cinta kasih. Jika relawan berpikir hanya ia yang memiliki cinta kasih maka dia tidak akan bisa mengajak lebih banyak orang untuk bergabung ke Tzu Chi.

Apa itu Sepakat? Relawan Tzu Chi harus sama-sama sepakat bahwa sifat hakiki manusia pada dasarnya sama. Tabiat dan kebiasaanlah yang bebeda-beda. Master Cheng Yen punya keyakinan bahwa sifat orang pada dasarnya baik sehingga tidak perlu diubah. Yang perlu diubah adalah kebiasaan dan tabiatnya.

Yang ketiga adalah Sejalan. Master Cheng Yen sering mengatakan, manusia tidak cukup dengan hanya punya kesadaran, akan tetapi harus bisa mengolah kesadaran menjadi kebijaksanaan. Kesadaran di sini adalah apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, apa yang kita tahu.

Meski bukan hal yang mudah diwujudkan, tapi menjadi sepaham, sepakat, dan sejalan bukan tidak mungkin. Pada akhirnya sekali lagi semua relawan perlu melatih diri dengan mengurangi ego dan memperluas cinta kasih, pada semua orang, pada bumi, dan tentunya pada sesama saudara se-Dharma.

Jurnalis: Tim Redaksi

Fotografer: Dok. Tzu Chi

Artikel dibaca sebanyak : 197 kali


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Memberikan sumbangsih tanpa mengenal lelah adalah "welas asih".

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat