Senin, 26 Agustus 2019
Indonesia | English

Maju Bersama dengan Teknologi Informasi

Hingar­bingar anak­anak prasekolah sudah terdengar dari dalam rumah sederhana bertingkat 2 itu di Jalan Swadaya IV No 21, Cempaka Baru, Jakarta Pusat. Celotehan mereka seakan memecahkan keheningan pada sebuah gang yang terlihat lenggang siang itu. Tepat pukul 12.00 siang, puluhan anak­anak menyeruak keluar dari dalam rumah. Mereka adalah murid­murid pendidikan anak usia dini (PAUD) yang didirikan oleh Nurlina N. Purbo. Nurlina memang sangat peduli terhadap pendidikan terutama anak­anak di kalangan tidak mampu. Bagi Nurlina, masa depan seorang anak akan menjadi baik bila sejak dini dididik dengan cara yang baik dan tepat.

Sumbangsih untuk Keluarga

Kepedulian Nurlina pada pendidikan tidak hanya ia curahkan kepada anak­anak, tetapi juga kemajuan berpikir para ibu rumah tangga. Sejak berhenti bekerja sebagai pegawai dan memfokuskan diri menjadi ibu rumah tangga, Nurlina mulai berpikir bagaimana memberikan sumbang­sih kepada ibu­ibu rumah tangga agar mereka menjadi kreatif dan berkembang.

Berdasarkan tekad ini, akhirnya Nurlina mengundang ibu­ibu rumah tangga di sekitar tempat tinggalnya dan langsung mengatakan kalau ia ingin memberikan pelajaran keterampilan. “Saya mau membantu ibu­ibu untuk berkembang. Saya hobinya menjahit, menyulam, mau tidak belajar?” tanya Nurlina. Tetapi tanggapan yang ia terima justru di luar dugaannya. Mereka tidak lagi tertarik pada kerajinan tangan, mereka lebih berminat pada dunia komputer. Melihat minat yang tidak biasa ini, Nurlina langsung bertanya mengapa mereka lebih tertarik pada dunia komputer, bukan kerajinan tangan yang umumnya digemari oleh kaum perempuan. Salah satu dari mereka mengatakan bahwa ia sangat butuh bisa mengoperasikan komputer lantaran ingin membantu pekerjaan rumah anaknya yang banyak menggunakan komputer.

Kenyataan ini membuat Nurlina semakin sadar bahwa teknologi informasi sangat dibutuhkan oleh ibu­ibu rumah tangga. “Masih banyak ibu­ibu rumah tangga kita yang belum “melek” teknologi informasi,” katanya. Memang sampai saat ini masalah pemberdayaan perempuan masih menjadi polemik yang tak ada habisnya dibicarakan. Padahal sesungguhnya perempuan adalah bagian dalam setiap kemajuan dunia. Meski pada kenyataannya, masih ada beberapa pihak yang menganggap perempuan sebagai makhluk yang lemah dan berkodrat menjadi ibu rumah tangga.

Bagi Nurlina, sejak dilahirkan laki­laki ataupun perempuan sesungguhnya mereka memiliki kemampuan dan kesempatan yang sama di dunia ini. “Satu hal yang membedakan laki­laki dan perempuan adalah kodrat secara fisik, selebihnya tidak,” ujarnya.

Lebih jauh Nurlina menerangkan bahwa selama ini teknologi informatika selalu identik dengan kaum laki­laki. Apalagi umumnya banyak orang yang masih menganggap perakitan komputer sampai pembuatan program komputer adalah pekerjaan kaum laki­laki. Padahal menurutnya, kaum wanita memiliki potensi yang besar dalam dunia teknologi informasi. “Sesungguhnya perempuan bisa lebih hebat bila menjadi seorang programer, karena ia lebih teliti,” kata Nurlina yakin.   

Maka, sejak saat itu Nurlina segera menyusun materi pelatihan komputer yang akan diberikan kepada ibu­ibu rumah tangga. Dalam memberikan materi, Nurlina berprinsip pada materi yang lengkap namun mudah dipahami ibu­ibu rumah tangga. Karena itu, Nurlina membagi materinya menjadi 4 kelompok yang sangat umum dibutuhkan dalam dunia

kerja, yaitu Office writer, Office calculation, Office presentation, dan internet. Semua materi ini ia masukkan ke dalam satu paket pelatihan yang selesai selama 3

hari dengan waktu belajar 5 jam sehari. 

Membuahkan Hasil

Setelah selesai menyusun materi, mulailah ia menyediakan komputer dan tempat pelatihan. Bertempat di lantai atas rumahnya, kegiatan pelatihan yang anggotanya para ibu rumah tangga pun berlangsung.

Sukses dengan angkatan pertama, Nurlina segera mengajak ibu­ibu lain untuk mengikuti pelatihan komputer. Namun, mengajak para ibu rumah tangga untuk “akrab” dengan dunia teknologi informasi tidaklah mudah. Salah satu yang harus dihadapi oleh Nurlina adalah bagaimana menumbuhkan motivasi para ibu rumah tangga untuk menyadari betapa pentingnya teknologi informasi dalam kehidupan sehari­hari. Untuk menyiasati itu Nurlina mulai menerangkan kebutuhan teknologi informasi di dalam keluarga, seperti membuat laporan keuangan, membantu tugas sekolah anak dan bahkan membantu tugas suami. “Saya selalu memberikan motivasi berawal dari dalam keluarga,” katanya.

Akhirnya berkat informasi dari mulut ke mulut, pelatihan komputer yang diselenggarakan oleh Nurlina mulai banyak diminati oleh ibu­ibu rumah tangga dari berbagai wilayah, di antaranya daerah Bekasi, Ciputat, Depok, dan Bintaro. Bahkan berkat usahanya ini, setelah Nurlina bisa tampil di salah satu stasiun televisi swasta, permintaan mengajar pun banyak datang dari luar pulau. Namun karena keterbatasan waktu dan tenaga pengajar, Nurlina hanya bisa memberikan modul pelatihannya secara gratis kepada para peminat. Nurlina memang tidak memusingkan masalah hak paten karyanya, karena baginya melihat wanita Indonesia “melek” teknologi informasi adalah jauh lebih penting dari sebuah hak paten.

Keseriusan Nurlina untuk memajukan perempuan Indonesia dalam bidang teknologi informasi tidak berhenti sampai di situ. Selain memberikan pelatihan kepada para ibu rumah tangga, Nurlina juga prihatin terhadap remaja­remaja di lingkungannya yang masih belum mengenal dunia teknologi informasi. Dari keprihatinan inilah akhirnya Nurlina membentuk Kelompok Remaja Melek IT (Kermit), suatu wadah para remaja untuk memberikan wawasan, pengetahuan dan keterampilan, khususnya dalam bidang teknologi informasi. Dengan dibentuknya Kermit, Nurlina berharap para remaja dapat bersaing dan berkompetisi guna menghadapi era globalisasi, sesuai dengan slogannya: “Maju Bersama dengan Teknologi Informasi”.

Masih Belum Puas

Sejak Nurlina membuka pelatihan komputer di tahun 2008, sedikitnya sudah 10 angkatan yang telah belajar darinya. Usahanya ini telah membuat orang yang tidak mengerti jadi mengerti, dari yang sudah mengerti menjadi tambah mengerti. Bahkan beberapa remaja anggota Kermit yang dulunya hanya bekerja sebagai pramuniaga, kini setelah memahami komputer ia telah naik jabatan sebagai kasir. Meski demikian Nurlina masih merasa belum puas terhadap usahanya. Menurutnya, perempuan yang “melek” teknologi informasi itu masih sedikit. “Jakarta sebagai kota besar, yang maju itu hanya sekian persen saja. Wanita yang kerja kantoran hanya sedikit. Selebihnya banyak wanita yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga, yang setiap harinya berurusan dengan dapur, anak, dan suami. Itu adalah target saya,” tegasnya.

Karena itu Nurlina lantas berharap adanya partisipasi dari banyak pihak untuk mewujudkan wanita Indonesia “melek” teknologi informasi dan menjadikan teknologi informasi sebagai sarana pengetahuan, komunikasi, dan persaingan di era globalisasi.

Artikel dibaca sebanyak : 1318 kali


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Berlombalah demi kebaikan di dalam kehidupan, manfaatkanlah setiap detik dengan sebaik-baiknya.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat