Senin, 22 Juli 2019
Indonesia | English

Melatih Kejujuran Sejak Dini

Bisa Karena Biasa. Di kantin kejujuran, para siswa dapat langsung mengambil makanan atau minuman yang diinginkan, lalu membayar, dan ambil uang kembalian sendiri. Dengan konsep ini, diharapkan dapat menanamkan kejujuran dalam diri siswa sejak dini, sehingga nantinya sifat ini akan terbawa kelak saat mereka dewasa.

“Siapapun yang ingin belanja dapat mengambil sendiri makanan atau minuman yang diinginkan, lalu membayar sesuai dengan harga yang tertera. Semua transaksi dilakukan serba sendiri. Tak ada kamera pengintai atau penjaga yang mengawasi selama kantin kejujuran beroperasi. Justru karena semua serba sendirilah, maka kejujuran kita diuji.

Siang itu, jarum jam tepat menunjuk pukul 09.40. Bel berbunyi nyaring dan terdengar hampir di seluruh penjuru sekolah. Waktu istirahat telah tiba, kantin yang semula lengang, mendadak dipenuhi siswa-siswi yang hendak melepas lelah, membeli makanan ataupun minuman. Bersama tiga temannya, Dinda, siswi SMP Negeri 8 Depok ini menuju salah satu sudut kantin yang tidak terjaga.

Di depannya tersedia berbagai jenis jajanan, seperti kue, permen, makanan ringan, dan minuman. Tanpa canggung, Dinda langsung mengambil sebuah kue dan minuman ringan. Sejurus kemudian, siswi kelas 2 ini menaruh uang ke dalam kotak plastik di sudut meja. Dinda pun mengambil beberapa uang logam sebagai kembalian uang jajannya. Tindakan Dinda diikuti oleh teman-temannya. Dalam waktu 20 menit –waktu istirahat– kotak plastik itupun telah penuh terisi uang.

Beli, Bayar, dan Ambil Kembalian Sendiri
Diresmikan pada 15 Mei 2008, Kantin Kejujuran SMPN 8 Depok ini didirikan atas kerjasama antara Kejaksaan Negeri, Pemerintah Kota, dan Karang Taruna Kota Depok. Tujuannya dalam rangka menggalakkan “Gerakan Langsung Antikorupsi Sejak Dini” (Galaksi). Menurut Rela Kusumasari, Ketua Koperasi Sekolah yang menangani kantin kejujuran ini, dengan menanamkan kejujuran pada anak sejak dini, maka diharapkan setelah dewasa mereka dapat menjadi orang yang jujur, apapun pekerjaan mereka nantinya.

Dari delapan kios yang berada di areal kantin sekolah, baru satu yang dijadikan proyek percontohan penerapan kantin kejujuran. Hal ini dikarenakan tujuh kios lainnya disewakan kepada para pedagang dan dikelola secara mandiri. “Jadi baru satu aja yang menerapkan konsep kantin kejujuran, kantin nggak ditungguin, siswa beli, bayar, dan ambil kembalian sendiri,” terang Rela yang juga guru Bahasa Indonesia. Meski begitu, semua pedagang sangat mendukung program ini. Meski belum sepenuhnya menerapkan konsep kantin kejujuran, setidaknya mereka telah memberi kepercayaan kepada siswa untuk menaruh uang ke dalam kotak sendiri. “Kalau makanan seperti ini (siomay –red) susah kalo nggak ditungguin,” kata Iis, salah satu pedagang beralasan.

Awalnya Banyak yang Hilang
Di masa awal penerapannya, secara jujur Rela mengakui sering terjadi kecurangan yang dilakukan anak-anak. “Waktu pertama, setelah dicek, ternyata ada kue-kue yang hilang,” jelas Rela. Hal ini juga diamini oleh Jamaludin, guru sekaligus pengurus kantin kejujuran. Bahkan jumlahnya semakin hari semakin meningkat. Akhirnya oleh pihak sekolah, kantin ini sempat diberhentikan sementara sambil terus mensosialisasikan kepada para siswa, pembina OSIS, dan guru Bimbingan Penyuluhan. Melalui penyuluhan saat upacara, pihak sekolah terus-menerus menyampaikan himbauan dan pesan-pesan moral kepada siswanya. “Alhamdulillah, setelah itu kemudian bisa jalan lagi,” jelas Rela senang.

Meski kadang merugi, namun pihak sekolah tetap berupaya mempertahankan kantin kejujuran ini. “Masih dalam batas toleransi, dari 1.000 lebih siswa, yang hilang itu nggak ada satu persennya kan?” kata Rela. Sependapat dengan Rela, Jamaludin mengatakan, “Yang namanya perjuangan untuk pendidikan ya terus aja. Setelah dicoba ternyata sekarang ada perubahan. Tingkat kehilangan menjadi sangat jarang. Lagi pula sebenarnya tidak merugi, tapi sedikit mengurangi keuntungan.” Jamaludin menambahkan, “Sebelumnya, bukan rahasia umum lagi, yang namanya ‘darmaji’ (dahar lima ngaku hiji –makan lima ngaku satu –red) sejak dulu dah ada dan mentradisi. Sekarang hal-hal seperti itu jauh berkurang.”

Hal ini diakui pula oleh para pedagang di sekitar lokasi kantin kejujuran. “Setelah diterapin, alhamdulillah anak-anak pada jujur. Dulu sering ada anak yang minta kembalian, padahal uangnya pas,” kata Iis. Sementara Sarmo, pedagang lainnya mengaku dengan adanya kantin kejujuran ini anak-anak menjadi lebih jujur. “Ya bisa dibilang berhasil, sebelumnya sering kehilangan, sekarang nggak lagi,” jelas Sarmo.

Bagi para siswa sendiri, keberadaan kantin kejujuran ini merupakan sarana pelatihan diri. “Melatih kejujuran kita, ambil sendiri dan bayar sendiri. Senang juga sih, dah dikasih kepercayaan,” kata Farez, siswa kelas 1. Sementara Dinda merasakan betul manfaat kantin kejujuran ini. “Melatih kita untuk jujur. Beli satu, bayar satu. Kalau nggak bayar akan ada rasa bersalah meskipun nggak ada yang lihat,” ungkapnya.

Jujur, atau Batin tidak Tenang
Menurut Mimid Sunendi, Wakil Kepala SMPN 8 Depok, kantin kejujuran ini merupakan sarana pembelajaran langsung bagi pengembangan moral siswa. “Jadi bukan teori lagi, tapi langsung praktik,” jelasnya. Untuk itu, meski terkadang masih ada siswa-siswi yang berlaku kurang jujur, kantin kejujuran ini akan terus dipertahankan dan bahkan dikembangkan, sehingga dapat menerapkan secara murni konsep kantin kejujuran. “Sebagai guru, tugas kita bukan cuma mengajar aja, tapi mendidik juga. Sudah kewajiban kita untuk menanamkan kejujuran sejak dini,” jelas Rela.

“Saya melaksanakan amanah, ini juga merupakan peluang dakwah, dan memang juga karena anak di sekolah itu biasanya lebih mudah diarahkan,” terang Jamaludin. Secara moral, Jamaludin juga mengimbau kepada para siswanya untuk berperilaku jujur. “Dengan jujur kita bisa tenang. Kalo nggak, batin yang nggak tenang,” tegasnya. Jika sejak dini anak-anak sudah dilatih untuk berlaku jujur, maka setelah dewasa, diharapkan sifat-sifat ini akan terbawa kelak dalam kehidupan mereka. Seperti kata pepatah, Alah bisa karena biasa”, segala sesuatu akan bisa karena terbiasa.

Jurnalis : Hadi Pranoto

Fotografer : Hadi Pranoto

Artikel dibaca sebanyak : 2240 kali


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Penyakit dalam diri manusia, 30 persen adalah rasa sakit pada fisiknya, 70 persen lainnya adalah penderitaan batin.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat