Rabu, 17 Oktober 2018
Indonesia | English

Memeluk Cinta dari Dua Hati yang Menyatu

doc tzu chi indonesia

Sembilan belas bulan bukanlah waktu yang cepat bagi Linda dan Roy. Kilau dan meriahnya kembang api di pergantian tahun sama sekali tidak bisa menghibur mereka. Sembilan belas bulan, bahkan lebih, hidup mereka berwarna kelabu. Kadang hitam dan putih, dan selama itu tak pernah ada warna lain yang berarti. Persis sama seperti tv plasma di depan mereka saat itu. Hitam dan putih.

***

Mata sembab wanita muda itu terus saja melihat tv plasma yang menempel di dinding, di luar ruang operasi. Suaminya, berdiri tidak jauh dari televisi dengan tatapan juga terpaku ke layar. Sesekali ia tertunduk berdoa.

Televisi bergambar hitam putih itu menampilkan kondisi di dalam kamar operasi yang dipenuhi dokter spesialis dan perawat senior.Sedangkan anak-anak mereka terbaring dengan jaring di kepala dan selang di hidung. Melihat itu semua badannya lemas sedikit gemetar. Tangannya dingin dan wajahnya pucat.

Sudah beberapa hari ini ia tidak bisa tidur menunggu dan memikirkan apa yang akan terjadi hari ini. Sejak anak-anaknya harus rawat inap lebih awal, ia senantiasa terjaga karena terpisah dari buah hatinya.Kekhawatiran pasangan suami istri itu berujung pada ponsel yang selalu aktif di tangan. Daya di ponselnya pun harus selalu terisi. Semua pesan dan panggilan tidak boleh terlewatkan, satupun. “Saya tidak mau hal buruk terjadi pada anak saya,” katanya lirih.

Dan hari itu,Sabtu tanggal 20 Februari 2016,adalah hari yang ia tunggu-tunggu. Linda, wanita paruh baya itu, sembilan belas bulan, menantikan operasi pemisahan kedua buah hatinya, Maxxon dan Maxxen, yang terlahir kembar siam.

Selepas subuh ia meninggalkan rumah menuju Rumah Sakit Anak dan Bunda (RSAB) Harapan Kita. Pagi-pagi sekali ia bersiap melihat wajah kedua anaknya. Jalanan masih sangat lengang, namun isi kepala Linda (36) dan Roy (33), suaminya sudah tidak bisa terbendung. Malam sebelumnya ia mendapat kabar Max mengalami demam tinggi, apabila mereka masih demam, operasi tidak bisa dilaksanakan. Hal yang sama sekali tidak ia inginkan. “Saya sangat takut dan tidak bisa menjabarkan bagaimana perasaan saya,” kata Linda.


Kondisi Maxxon Maxxen sebelum dioperasi. Mereka mengalami kembar siam pada bagian dada hingga perut dan bibir sumbing.

Dokter sebisa mungkin memberikan terapi untuk menurunkan demam dua bayi kembar identik itu. Beruntung si kembar bisa ikut bekerja sama. Begitu demam mereka turun, sekitar pukul 6 pagi, anak kedua dan ketiga pasangan Linda dan Roy itu langsung dibawa masuk ke ruang operasi. “Saat itu saya belum sempat ajak mereka ngobrol, belum sempat bisikkan semangat dan ingatkan mereka untuk kuat,” ingat Linda terisak.

Dalam kekalutan itu Linda tak berhenti berdoa. Ia mencoba kuat tapi tidak bisa. Kepalanya kadang bersandar pada relawan Tzu Chi berseragam biru putih. Tangannya pun selalu erat menggenggam tangan sang suami. “Saya harus kuat,” pikirnya. Namun ia berkali-kali tak sadarkan diri ketika melihat saat-saat yang mendebarkan di ruang operasi.

“Saya nggak tahu bagaimana dia bisa kuat menjalani proses panjang ini. Tapi begitu dia lihat proses operasinya, dia pingsan tiga kali waktu itu,” ucap Vivi Tan, salah seorang relawan Tzu Chi yang mendampingi keluarga ini.

Bukan sekadar menemani keluarga, relawan Tzu Chi ikut hadir pagi-pagi buta dan mengadakan doa bersama dengan keluarga, dokter, jajaran direksi, dan semua yang bertugas. Operasi yang disiarkan oleh salah satu televisi swasta itu juga mengundang doa dari banyak orang yang menyaksikannya.

“Saat melihat siaran itu, teman saya yang di Batam, Makassar, Jakarta, banyak yang bertanya pada saya apa yang sedang Tzu Chi lakukan? Saya jelaskan ke mereka kalau relawan sedang mendampingi keluarga Maxxon dan Maxxen. Mereka turut memberikan doa dan dukungan kepada keluarga,” tutur Wie Sioeng, relawan yang menemani keluarga ini sejak awal.

Ketegangan di 6– 17


Genggaman tangan Wie Sioeng menguatkan sekaligus menenangkan Roy (tengah), Linda (kanan), dan pihak keluarga ketika operasi pemisahan Maxxon dan Maxxen dilakukan di RSAB Harapan Kita.

Hampir dua tahun lamanya, mata Linda lebih sering menerawang. Penglihatannya masih sering kabur karena terbalut air mata. Perawakannya mungkin tenang. Tapi layaknya air di samudra, hatinya dalam dan gelap berbahaya. Kadang penuh riak, kadang bergolak antara khawatir, cemas, dan takut yang luar biasa.

“Proses operasi kita mulai pukul 09.00, sebelumnya pukul 06.00 si kembar sudah masuk ruang OK,” kata dr. Engkie Achmad Djauharie, Sp.A, dokter anak di RSAB Harapan Kita sekaligus Ketua Tim Pemisahan Maxxon dan Maxxen. Untuk memisahkan keduanya, tim dokter RSAB Harapan Kitamenyiapkan persiapan yang matang dan lumayan lama hingga kedua kembar itu berumur 10 bulan. Lama operasi pun diperkirakan akan memakan waktu sekitar 16 jam. Mulai dari anastesi, penyayatan, pemisahan hati, pemisahan tulang dada bawah, pemisahan kedua anak, dan penutupan kulit perut.

Studi banding ke Rumah Sakit Umum Daerah DR. Soetomo, Surabaya juga dilakukan untuk mempersiapkan pemisahan Max. Di sana tim dokter menelaah apa yang perlu disiapkan, apa saja yang harus dilakukan, skenarionya seperti apa, sekaligus menyiapkan proses gladi resik. “Ini prosesnya sangat panjang sekali,” tutur dr. Engkie.

Kembali ke Jakarta, tim dokter melakukan pemeriksaan CT Scan dan MRI pada si kembar Maxxon dan Maxxen. Mereka juga membuat dummy dari dua boneka yang dijahit menjadi satu lalu beberapa kali melakukan gladi resik.“Itu semua kita pelajari, kita lakukan berulang-ulang, kita hitung waktu dengan pendampingan dari Surabaya karena kita pikir kita harus belajar dari ahlinya,” tutur dr. Engkie.

Sampai tiba di H-1 operasi, tim dokter yang terdiri dari 30 dokter; dokter bedah anak, dokter bedah toraks dan diafragma, dokter bedah plastik, dan dokter anastesi kembali melakukan gladi resik. Mereka semua adalah dokter dari berbagai rumah sakit: RS Anak dan Bunda Harapan Kita, RS Pusat Jantung Nasional dan Pembuluh Darah Harapan Kita, RS Kanker Dharmais, RS Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto, RS St. Carolus, RS Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo, dan didampingi tim dokter dari RS Umum Daerah Dr. Soetomo, Surabaya.

“Sebenarnya yang kita takutkan adalah jantung mereka. Apabila jantung mereka hanya satu maka mau tidak mau kami hanya bisa menyelamatkan salah satu. Tapi ternyata jantung mereka ada dua. Hati mereka juga ada dua, tapi menyatu,” jelas dr. Engkie.


Dokter Engkie Achmad Jauhari, Sp. A, dokter anak di RSAB Harapan Kita sekaligus Ketua Tim pemisahan Maxxon dan Maxxen hingga kini masih memantau tumbuh kembang mereka.

Dokter spesialis penanganan anak premature itu melanjutkan bahwa operasi yang diperkirakan mencapai 16 jam akhirnya berhasil diselesaikan dalam waktu 8 jam saja. “Pada saat melakukan pemisahan organ hati, kami membelahnya dengan sebanding. Awalnya khawatir ketika membelah hati, ada pembuluh darah yang menyilang. Beruntung ternyata tidak begitu, tidak terjadi pendarahan juga. Rongga dada pun ternyata hanya menempel di bagian ujung bawah, jadi relatif mudah karena tidak perlu membuka rongga dadanya,” imbuh dr. Engkie.

Ketenangan dokter yang menangani pemisahan Maxxon dan Maxxen di ruang OK nyatanya bertolak belakang dengan keadaan keluarga yang menunggu di luar ruangan. Linda pertama kali tidak sadarkan diri ketika melihat kedua anaknya dipasangkan jaring dan selang. Ia masih memikirkan tentang kata-kata untuk sang buah hati yang belum tersampaikan. “Bagaimana kalau saat itu adalah saat terakhir saya melihat mereka?” tuturnya berlinang air mata.

“Pingsan kedua itu pas dokter angkat tangan. Kami pikir dokter sudah give up, ternyata itu tanda tahap kesekian selesai dan lanjut tahap berikutnya. Lihat itu Linda udah langsung pingsan aja,” terang Vivi yang kala itu merasakan kepanikan yang sama.

Pingsan Linda kembali berulang ketika seluruh tubuh kedua anaknya diselimuti kain. “Itu anak saya kenapa? Kok semuanya ditutup?” tanyanya dengan suara parau lalu pingsan. Ketika itu dokter akan membelah hati kedua buah hatinya. “Kami terus berusaha menenangkan keluarga,” kata Wie Sioeng.

Beban Hilang Bagai Terangkat Awan

Pukul 17 lebih sekian, dokter keluar dari ruang OK menghampiri orang tua dan relawan yang mukanya sudah susah untuk dijabarkan. Sembab, pucat, lelah, dan khawatir. Setiap dokter keluar dari kamar operasi, entah kenapa mereka merasa rasa takutnya meningkat. Tapi ucapan, “Selamat, operasi pemisahan kedua anak Anda sukses,” membuat semuanya susah juga berkata-kata.

“Kalau saya nggak pakai baju relawan ini, saya pasti sudah lompat karena senang,” kata Wie Sioeng bahagia. Roy yang sejak awal tak melepaskan pandangan dari TV plasma langsung berlinang air mata. Ia memeluk relawan dengan sangat erat. Beban beratnya terasa diangkat, jalannya kembali ringan. Sembilan belas bulan penantian itu rasanya langsung plong.

“Kakek si Max saja tidak bisa menahan tangis. Dia datang menghampiri saya dan bilang, ‘Ini adalah hadiah dari Tuhan, cucu saya sudah seperti bayi lain. Nanti kalau saya pulang ke Pontianak, saya akan bilang ke orang-orang kalau cucu saya sudah sama seperti cucu kalian!’” tutur Wie Sioeng menirukan ucapan ayah dari Linda tersebut.

Rasa bahagia yang hampir sama juga pernah mereka rasakan sebelumnya. Saat itu dr. Didi Danukusumo, Direktur Medis dan Keperawatan RSAB Harapan Kita mengatakan, “Pihak keluarga tidak perlu memikirkan biaya dan pihak Yayasan Buddha Tzu Chi hanya perlu siap-siap mendampingi keluarga.” Begitulah caranya menyampaikan bahwa segala biaya akan ditanggung oleh pihak rumah sakit dan pendukung lainnya. Simpul yang rumit waktu itu terasa terurai dengan mulus.

Mereka yang Terbelah Tak Sempurna


Maxxon (baju kuning) dan Maxxen (baju merah) bercanda bersama Linda, ibu mereka. Usai dipisahkan melalui operasi, tumbuh kembang si kembar mengalami peningkatan seiring waktu.

Dokter sebenarnya sudah memprediksi kondisi janin itu sejak kehamilan Linda berusia 6 minggu. Pemeriksaan ultrasonografi (USG) pertama yang mereka lakukan kala itu belum terasa mengejutkan. Linda lebih terkejut ketika dokter mengatakan mereka akan mendapatkan anak kembar daripada kabar tentang kembar itu akan dempet, siam, menempel. “Soalnya kami nggak ada keturunan kembar sama sekali,” katanya senang.

Untuk kabar anaknya akan dempet dianggapnya masih terlalu dini. Baru 6 minggu dari 38 minggu kehamilan.

Dua belas minggu kehamilan, Linda dan Roy kembali melakukan USG. Hasilnya sama. Dua tubuh bayi itu tidak benar-benar terpisah. “Dalam kasus Maxxon Maxxen. Mereka pembelahan zigotnya tidak sempurna,” jelasdr. Engkie.

Dokter Engkie yang menangani kelahiran Maxxon dna Maxxen menjelaskan bahwa pada umumnya proses pembelahan zigot pada bayi kembar terjadi sekitar 2 sampai 3 minggu pertama. “Apabila pada masa itu ada yang mengganggu mereka (proses pembelahan), prosesnya bisa terhenti dan terbawa sampai lahir,” ucap dr. Engkie. “Atau jika pembelahan terjadi melebihi jangka waktu itu, pembelahan cenderung terhenti sebelum proses selesai dengan sempurna,” imbuhnya.

Mendapati mimpi buruk itu, Linda tak banyak bicara dan hanya mengungkapkan kekalutannya lewat air mata. “Kalau diingat ya dua tahunlah saya menangisi anak saya,” tuturnya tegar. Walaupun begitu, tak pernah terlintas satu keinginan pun untuk meluruhkan janin si kembar.

“Banyak orang yang bilang, ‘Lu sih gila, Lin’,” ingatnya sedikit tersenyum. Keluarga banyak yang merasa terbebani juga, apalagi orang tua mereka yang tidak bisa membayangkan mempunyai cucu kembar siam. Tapi mau apa? Ia sepakat dengan sang suami, Roy untuk mempertahankan kedua anak mereka dengan satu catatan: mereka mempunyai anggota tubuh yang lengkap. “Karena kami mempertimbangkan si Max (panggilan untuk si kembar) ini ke depannya akan bisa tumbuh dengan normal. Kalau anggota tubuh mereka nggak lengkap kan akan kasihan mereka karena sepanjang hidup mereka akan menderita,” lanjutnya.

Kabar akan lengkapnya anggota tubuh si kembar, mereka dapati ketika usia kehamilan mencapai 4 bulan. Tapi dua bulan kemudian mereka kembali terguncang setelah menerima hasil USG, “Dokter bilang anak saya sumbing dua-duanya. Saya lagi-lagi cuma bisa nangis di toilet berjam-jam,” ucap Linda.

Suara sumbang kembali ia dengar. Tapi hanya satu yang ia turuti. “Koko kedua saya memberi saya nasihat. Dia bilang, ‘Ini bibir aja kok, nanti bisa dioperasi. Yang penting organ lainnya lengkap’. Nasihat itu yang lalu menguatkan saya lagi.”

Maxxon Maxxen akhirnya lahir pada 28 April 2015 dengan operasi caesar. Seiring perkembangannya, salah satu dari mereka menderita darah tinggi dan permasalahan pada ginjal, serta subdural effuse (ada cairan di kepala) pada keduanya. Kondisi itu dipicu karena sistem pada tubuh mereka yang belum normal.

Linda pun harus merawat mereka dengan cara yang berbeda. “Saya mandiin mereka sendiri, rawat mereka sendiri, sampai pada bulan ke sekian baru dibantu sama perawat,” ingat Linda. “Kadang sambil mandiin mereka sambil nangis. Tapi saya harus kuat untuk anak-anak saya,” lanjutnya. “Mereka juga dulu selalu saling pukul, karena kondisi siamnya kan berhadapan ya. Jadi tanpa sengaja gerakan tangan mereka kena kembaran di depannya, akan saling menyakiti,” imbuh dr. Engkie.

Mengurai Simpul Kusut


Linda dan Roy tak henti bersyukur karena memiliki berkah yang tak terhingga. Kini mereka berharap kedua anak kembarnya bisa menjadi anak yang berbakti dan nantinya bisa membantu banyak orang.

Biaya yang begitu besar untuk pemisahan kembar siam telah dirinci oleh pihak rumah sakit, bahkan sebelum si kembar lahir. Persiapan mental bisa saja diperkuat, tapi begitu memikirkan biaya, kekuatan itu buyar. Tak ingin menyerah, keluarga Roy mempersiapkan penanganan dengan BPJS (jaminan sosial kesehatan dari pemerintah), namun tetap saja biayanya masih terlampau besar. “Biaya yang dicover BPJS masih sangat jauh,” ingat dr. Engkie.

Pengajuan bantuan ke Yayasan Buddha Tzu Chi pun tertunda karena kasus ini merupakan kasus yang tergolongsangat besar dan pertama. “Kami belum pernah menanganinya dan jujur belum tahu harus bagaimana,” ucap Wie Sioeng. Namun ia berkeras ingin memberikan apa yang ia bisa. Ia lalu bersama Hok Cun dan Hok Lay, relawan Tzu Chi lainnya bertemu keluarga dan berdiskusi bersama mencari solusi. Mereka juga beberapa kali datang berdiskusi dengan pihak rumah sakit sekaligus menjelaskan kondisi keluarga.

“Di misi amal, relawan Tzu Chi sebetulnya berdiri sebagai teman, berdiri di sisi mereka pada saat mereka sedang menderita, pada saat mereka bingung. Setidaknya pikiran kami yang tidak terbebani masalah secara langsung bisa lebih jernih dan fokus mendampingi mereka, bisa mencarikan jalan keluar untuk mereka,” jelas Wie Sioeng.

Kala itu memang rasanya air mata Linda tertumpah tidak ada habisnya. Apalagi di masa awal, ketika ia harus mengurus dua jagoannya itu tanpa bantuan pengasuh. Belum lagi, Maxwell, anak pertamanya juga baru berusia 4 tahun kala itu.“Saya berterima kasih kepada anak pertama saya yang begitu pengertian dan menyayangi kedua adiknya. Walaupun dulu sering sekali terabaikan, tapi dia mengerti bahwa kondisinya waktu itu sangat sulit,” imbuhnya.

Kini Linda dan Roy tak henti bersyukur karena dikelilingi orang-orang yang menyayangi mereka. Usia si kembar yang sudah masuk dua setengah tahun juga melengkapi kebahagiaan mereka. Bibir sumbing mereka pun sudah dioperasi di RSAB Harapan Kita berselang setahun setelah operasi pemisahan.

Tumbuhlah Sehat dan Ceria

Dua bayi menggemaskan yang bernama lengkap Maxxen Kee Ming Jian dan Maxxon Kee Ming Feng itu sudah bisa bernyanyi dan belajar menghitung sekarang. Apabila digabung, nama mereka berarti lelaki sehat yang kuat dan penuh semangat. Begitulah doa orang tua mereka.

Maxxen dan Maxxon juga sudah berlari ke sana kemari mengganggu kakak dan orang tuanya sepanjang waktu. Setiap ibunya mengatakan peek a boooo(ciluk…, baa), tangan mereka otomatis menutup mata dan lalu membukanya lagi disertai tawa. Suara dan kata-kata yang keluar dari kedua mungil kembar identik itu memang masih belum fasih, tapi itu sudah luar biasa untuk orang tua dan siapa pun yang melihat bagaimana berlikunya masa kecil mereka.

“Buat saya ini adalah satu keajaiban bahwa mereka sudah bisa berkembang seperti ini,” kata Wie Sioeng, dengan senyumnya terus mengembang ketika mengunjungi keluarga kecil itu.

“Saya berterima kasih sekali karena dukungan itu nggak bisa dibeli dengan materi. Melebihi materi dan apapun. Tanpa dukungan, walaupun ada uang, istilahnya nggak ada hati, nggak ada arti. Dukungan dari siapa pun itu sangat penting dan berarti, terlebih untuk para dokter juga pendampingan yang diberikan oleh relawan seperti ini,” tutur Linda haru.

Kini harapan Linda dan Roy hanya satu. Semoga anak mereka nantinya bisa membantu orang lain. “Seperti mereka bisa sehat hingga sekarang ini karena bantuan begitu banyak orang. Jadi mereka kalau sudah besar, harus banyak membantu orang lain dan tidak mementingkan diri sendiri. Harus kuat dan sehat,” doa Linda disambut anggukan sang suami dan relawan Tzu Chi.

Penulis: Metta Wulandari

Artikel dibaca sebanyak : 646 kali


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Keteguhan hati dan keuletan bagaikan tetesan air yang menembus batu karang. Kesulitan dan rintangan sebesar apapun bisa ditembus.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat