Sabtu, 07 Desember 2019
Indonesia | English

Merawat Anak-anak Istimewa

doc tzu chi

Bhiksuni Guna Sasana selalu berusaha untuk menyempatkan diri mengunjungi Guna Nanda dan bercanda bersama anak asuhnya. Walaupun tidak bisa mendampingi setiap waktu, namun Suhu tetap mamantau kondisi anak asuh dan berusaha memberikan yang terbaik.

Banyak orang yang mengatakan bahwa anak-anak hadir membawa harapan, namun ternyata kehadiran si jabang bayi itu tidak selalu diterima. Mereka bukannya disayang, tapi malah dibuang. Ketika harapan menjadi terlantar, tangan-tangan lain yang penuh kasih sayang mulai mendekap hangat menjadikan harapan bukan lagi sekedar harapan.

***

Menggandeng tangan mungil Aling menjadi rutinitas pagi seorang pengasuh di Lembaga Penyantun Anak (LPA) Guna Nanda, Cakung, Jakarta Timur. Aling ikut saja tanpa berontak saat tangannya digenggam. Rambutnya masih basah usai mandi pagi, wajahnya lugu penuh kepolosan, matanya kecil, dan tulang pinggulnya agak bengkok ke depan. Kaki Aling mungil, sementara tingginya tak lebih dari 100 sentimeter di usia yang kini sudah 15 tahun. “Aling mau terapi ya?” tanya Uning Fiyati, kakak pembina Guna Nanda yang hanya dijawab dengan anggukan oleh Aling. Sementara itu Aling masih mengekor, melangkah dengan sinar mata yang berbinar di balik lensa kacamatanya.

Lebih dalam masuk ke Guna Nanda, ada beberapa anak lainnya yang lari kesana-kemari sambil berteriak gembira. Pagi hari di Guna Nanda memang serasa milik mereka, si kecil, karena mereka belum bersekolah. “Mereka biasa nonton televisi atau main-main sama kami,” kata Uning.

Tawa anak-anak itu terdengar sangat lepas dan bisa dengan bebas mengekspresikan perasaan. Baju mereka pas di badan, bersih, dan wangi. Rambut mereka tersisir rapi dan dipotong sesuai model masa kini. Badan mereka pun gempal penuh nutrisi, sehat, dan tumbuh seperti seharusnya. Melihat saya, mereka berhenti berlari dan bersikap anjali seraya berkata, “Amitofo Kakak.” Sambutan pagi yang manis, saya pikir.

Terasa menyenangkan ketika melihat mereka bermain penuh keceriaan. Kondisi itu bisa jadi 180 derajat berbeda dari sebelumnya. Anak-anak itu, yang kini berwajah ceria, yang berceloteh riang, yang badannya menggemaskan, mereka dulunya sempat terlantar, tersiksa, bisa jadi kelaparan, dan haus kasih sayang. Sementara kini, mereka dididik penuh cinta, mereka tinggal bersama, berbagi, dan diikat dengan persaudaraan tanpa perlu menjadi sedarah.

Cerita Anak Guna Nanda

Ada 50 anak di Guna Nanda dengan usia beragam. “Yang paling kecil satu setengah tahun, yang paling besar 19 tahun,” ucap Uning. Lima puluh anak dengan latar belakang yang beragam dan 50 sifat yang berbeda itu datang dari bermacam-macam keluarga. Biksuni Guna Sasana, pendiri Guna Nanda sempat menceritakan beberapa kisah dari anak-anaknya. “Ada yang ibunya menelepon kami tengah malam, ada yang menelepon kami sebelum melahirkan dan lalu menitipkan anaknya pada kami. Ada anak-anak yang menjadi korban kekerasan rumah tangga, dan ada pula orang tua yang tidak mampu menebus anaknya dari rumah sakit usai melahirkan. Semua kami didik di sini,” tutur Suhu Xue De, panggilan akrab Biksuni Guna Sasana.

“Kalau Aling,” lanjut Suhu Xue De, “dia adalah anak dari tenaga kerja luar negeri yang hamil di luar nikah.” Ibu Aling sebenarnya tidak menerima kehamilan dan ingin menggugurkan kandungannya. Beberapa kali ia mencoba membunuh janin di rahimnya dengan meminum obat-obatan berbahaya, namun bayi di kandungannya ternyata tidak juga luruh. Akibat obat-obatan yang ia konsumsi, Aling lahir dengan keadaan yang tidak normal.

Sebagian besar anak LPA Guna Nanda selalu menyambut tamu yang datang dengan ramah dan penuh kehangatan. Seperti Aling yang selalu senang apabila ada tamu yang mengunjunginya. Ia tak segan untuk bercanda dan menganggap mereka sebagai saudara sendiri.

Merawat Aling bukan hal yang mudah pada awalnya. Semua orang di panti dibuat bingung karena bayi Aling tidak bisa menelan makanan. “Setiap disuapi, makanan malah keluar dari hidung, dari kuping,” tambah Suhu Xue De. Setelah dilakukan pemeriksaan ternyata Aling lahir tanpa langit-langit di mulutnya. Di usianya yang ke-4, Aling akhirnya menjalani operasi langit-langit. Suhu pun mencoba tidak meninggalkan rumah sakit selama Aling dirawat. Aling juga menjalani terapi kesehatan lain untuk melatih tulang pinggul dan kakinya.

Sementara itu banyak kisah anak-anak istimewa lainnya yang ada di Guna Nanda, namun Suhu menilai penuturannya tersebut tidak perlu dituliskan. “Kita harus menghormati dan menjaga privacy dari anak dan keluarganya,” timpal Suhu Xue De. “Yang penting sekarang adalah masa depan mereka. Jangan menjadi anak yang dari tempat gelap (kembali) ke tempat gelap, tapi jadilah anak dari tempat gelap (menuju) ke tempat terang dalam segala hal,” tegas Suhu Xue De.

Estafet Cinta Kasih

Kepedulian terhadap anak-anak sudah mulai diukirkan oleh Suhu Xue De sejak 16 tahun lalu, tepatnya pada 3 September 2000, kala LPA Guna Nanda diresmikan. Panti asuhan yang berdiri pasca kerusuhan 1998 (krisis ekonomi dan politik yang berujung kerusahan –red) ini dibangun karena kepedulian yang besar terhadap nasib tunas-tunas bangsa yang terlantar atau kehilangan sosok orang tua mereka. “Dulu kami cuma punya satu anak asuh, itu pun dari Manado, Sulawesi Utara,” ucapnya. Makin lama, makin banyak yang mengenal Guna Nanda.

Selain dibangun dengan kepedulian, Guna Nanda juga dibangun dengan membawa semangat kasih sayang. “Ditambah semangat ingin melihat anak-anak yang nggak mampu pun bisa berprestasi, bisa sekolah,” ucap Suhu Xue De. Beliau yang sempat merasakan menjadi seorang guru yang kerap melihat siswanya tidak diizinkan masuk sekolah karena kekurangan biaya, merasa iba. Akhirnya berdirilah Guna Nanda yang kini memiliki 50 anak asuh dengan berbagai latar belakang.

Karena berasal dari berbagai latar belakang maka keseharian anak asuh di Guna Nanda diatur sedemikian rupa dengan jadwal yang ditempel di sudut-sudut ruangan panti. Dimulai dengan kebaktian pagi setiap pukul 5 dan dilanjutkan dengan persiapan masing-masing anak untuk bersekolah. Dalam mendidik anak asuh, Guna Nanda bekerja sama dengan Sekolah Mogallana, Bekasi yang dinilai sangat membantu anak-anak panti. Selain dalam mendidik, Sekolah Mogallana bersedia untuk membantu mengurus surat persyaratan administrasi yang dibutuhkan oleh masing-masing anak. “Sekolah Mogallana sangat membantu kami, mereka luar biasa,” ucap Suhu.

Usai bersekolah, anak asuh dijemput dengan mobil operasional Guna Nanda. Mereka kemudian diizinkan untuk beristirahat hingga pukul 14.30 WIB dan melanjutkan belajar pada 15.00 WIB. Sementara itu jam belajar tidak berbatas waktu. “Pokoknya sampai mereka bisa,” kata Uning.

Dalam belajar, anak asuh di Guna Nanda ditemani oleh kakak pembina. Ada 5 orang kakak pembina yang dulunya juga merupakan anak asuh Guna Nanda. Mereka mendedikasikan dirinya usai lulus dari jenjang pendidikan SMA dan SMK untuk berbagi cinta kasih dengan adik-adik mereka. “Jadi kami memberikan pilihan kepada mereka yang sudah lulus, apakah mau melanjutkan kuliah atau mengabdi selama 2 tahun,” jelas Suhu Xue De. “Tapi kebanyakan dari mereka memilih untuk mengabdi,” imbuhnya.

Membantu Meringankan Beban

Berbeda dengan anak LPA Guna Nanda yang diasuh oleh panti karena masalah keluarga, Uning merupakan anak asuh dalam program beasiswa. Ia dan 3 temannya yang berasal dari Temanggung, Jawa Tengah bersekolah di Jakarta karena mendapatkan beasiswa dari Suhu Xue De. Mereka bersekolah di SMK Bina Karya, Jembatan 5, Jakarta Barat dan tinggal di asrama milik Suhu Xue De di Jl. Tiang Bendera Jakarta Pusat. “Banyak hal yang kami dapatkan dari Suhu, maka dari itu kami ingin memberikan yang terbaik juga untuk adik-adik di sini. Pokoknya kami berbagi apa pun yang kami punya. Ilmu apa yang kami bisa, kami ajarkan ke adik-adik sampai mereka bisa,” tutur Uning.

Guna Nanda menerapkan peraturan untuk melatih kedisiplinan para anak asuhnya. Peraturan tersebut termasuk penentuan jam belajar yang dimulai sejak pukul 15.00 sampai waktu yang tidak ditentukan. Di sana mereka ditemani oleh 5 kakak pembina untuk belajar bersama.

Uning yang sudah empat tahun mengenal Guna Nanda merasa tidak susah menentukan pilihan ketika Suhu Xue De bertanya apa yang ingin ia lakukan. Ia bisa saja memilih untuk melanjutkan kuliah dan menggapai cita-citanya menjadi pebisnis dalam waktu yang tidak lama. Tapi ia mengurungkan keinginannya dan memilih mengabdi di Guna Nanda. “Saya ingin membantu Suhu, kebetulan Suhu butuh orang untuk mendidik adik-adik di sini, jadi saya ingin membantu Suhu,” tegas Uning.

Di usianya yang ke-20 pertengahan November lalu, Uning mengaku banyak pelajaran yang ia dapatkan dari perannya sebagai kakak pembina. Ia yang dulunya manja, sekarang dituntut menjadi pribadi yang mandiri. Ia yang tidak sabaran, diminta belajar sabar untuk menghadapi segala kenakalan anak-anak dan remaja. Kakak pembina juga dituntut menjadi pribadi yang solutif untuk memecahkan masalah adik-adik mereka. Walaupun mengaku kaget, Uning akhirnya tetap membagi apa yang ia punya terutama kasih sayang. “Nggak mudah, tapi akhirnya belajar juga berbagi kebahagiaan sama adik-adik, belajar menjadi orang tua, kakak, dan teman,” akunya.

Membalas Bakti pada Orang Tua

Ada pula kakak pembina lainnya bernama Novica Sari Tjipta Widjaja (19 tahun). Ia lulusan SMK Dharma Paramita, Bekasi yang memutuskan mengabdi di Guna Nanda usai merampungkan study SMK-nya. “Suhu sudah menyokong saya sejak kelas 3 SMP, jadi saya nggak mau merepotkan suhu lagi,” tutur Novi menjawab pertanyaan yang belum saya tanyakan.

Novi dulu adalah anak asuh LPA Guna Nanda yang bergabung di panti ketika ia masih duduk di kelas 3 SMP. Ia dan dua saudara perempuannya dinyatakan memenuhi syarat untuk bisa dititipkan di panti, “Administrasi semua lengkap. Selain itu saya, kakak, dan adik saya adalah anak korban kekerasan,” katanya. Ia bercerita secara terbuka mengenai kisahnya beberapa tahun silam, juga tentang betapa ia masih mengingat bagaimana rasa takut yang ia rasakan pada sosok sang ayah.

Imbas kekerasan yang dialaminya, Novi dan Octaviani, kakak perempuannya sempat dirawat karena luka serius di bagian kepala. Sang ibu pun tak tinggal diam dan memilih berpisah dengan ayah dari anak-anaknya tersebut. “Mama lalu menitipkan kami di sini (Guna Nanda),” tambah Novi.

Selama menjalani pendidikan dan tinggal di Guna Nanda, Novi selalu mengingat perkataan terakhir ibunya di balik pintu panti yang meminta maaf karena tidak bisa menjadi orang tua yang berguna. “Kami marah sama Mama karena Mama bilang begitu,” tukas Novi.

Guna Nanda membuka pintu selebar-lebarnya kepada para donatur maupun yayasan lain yang ingin bekerja sama atau memberikan bantuan seperti yang rutin dilakukan oleh Yayasan Buddha Tzu Chi.


Yayasan Buddha Tzu Chi dan beberapa yayasan lain kerap melakukan kunjungan dan menghibur anak asuh di Guna Nanda. Mereka juga membagikan bingkisan dan kacamata bagi anak asuh Guna Nanda untuk menunjang kegiatan belajar mereka.

Novi menjelaskan bahwa perkataan ibunya itu ditengarai karena ayahnya menginginkan anak laki-laki, namun ke-4 anak mereka terlahir perempuan. Novi menganggap pernyataan ibunya sebagai sebuah cambuk dan merasa ingin sekali membuktikan bahwa menjadi perempuan pun bisa membanggakan keluarga. “Saya mematuhi setiap peraturan yang ada di Guna Nanda, nilai pelajaran saya juga bagus. Semua hal baik saya lakukan karena ingin Mama tidak menganggap dirinya sebagai orang tua yang tidak berguna dan bisa membuat Mama bangga memiliki kami,” jelas Novi.

Motivasi tinggi yang kini dimiliki Novi tidak lepas dari peran Guna Nanda yang telah membesarkannya. “Kalau ditanya rumah, saya selalu jawab Guna Nanda itu rumah saya. Rumah kedua saya,” tegasnya.

Selain perhatian dan kasih sayang, nilai bakti pada orang tua pun tidak pernah luput ditanamkan dalam diri anak asuh di Guna Nanda. Itu pula yang dirasakan oleh Novi. Suhu Xue De kerap berpesan pada anak asuhnya bahwa setelah menyelesaikan pendidikan, mereka harus bisa kembali dan membantu orang tua. “Karena orang tua kita, bagaimana pun mereka, mereka adalah tempat kita berbakti,” tegas Suhu. “Mereka bisa saja nyaman tinggal di Guna Nanda, namun mereka harus kembali dan ingat untuk berbakti pada orang tua,” tambah Suhu.

Hal tersebut yang sedang dicoba oleh Novi. Ia memutuskan untuk mengabdi di Guna Nanda setelah masa belajarnya sekaligus berusaha meringankan beban Mamanya. “Nanti suatu hari saya pasti bisa membuka bisnis travel agent dan membahagiakan Mama,” ucapnya meyakinkan saya.

Tak Berhenti Memberi Cinta Kasih

Mendengar berbagai cita-cita dan tekad anak asuh, hati Suhu tersentuh. Memang cita-cita Guna Nanda belum sepenuhnya terwujud, namun Suhu merasa bahagia karena tekadnya untuk bisa menolong anak-anak sudah menampakkan hasil. “Apa yang kami lakukan ini murni untuk menolong orang. Jadi kalau bekerja dengan senang hati, dengan kebahagiaan, ya pasti hasilnya akan ada,” kata Suhu.

Suhu Xue De berharap semua yang telah dilakukan tidak berhenti sampai di sini. Pintu Guna Nanda masih selalu terbuka untuk anak-anak yang membutuhkan bantuan. “Semoga nantinya bisa dilanjutkan oleh generasi selanjutnya karena kita harus membagi berkah dan bekerja tidak harus serakah, sebatas kemampuan kita,” tutur Suhu Xue De berpesan, “intinya sebarkan terus cinta kasih dan bekerjalah sampai batas terakhir sebisa kita.”

Teks dan foto: Metta Wulandari

Artikel dibaca sebanyak : 2116 kali


1 komentar


Sherly Clarisa Chandra On Saturday, 04 Februari 2017, 11:26:24 wrote:

Selamat siang kak, kalau saya berminat untuk menjadi relawan tidak tetap di Tzu Chi harus daftar dimana dan prosedur apa yang harus saya lakukan? Terima kasih.



Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Gunakanlah waktu dengan baik, karena ia terus berlalu tanpa kita sadari.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat