Rabu, 22 November 2017
Indonesia | English

Merawat Semangat dan Tekad

doc tzu chi

Aula Jing Si Bandung yang selangkah lagi rampung menjadi spirit bagi relawan Tzu Chi Bandung untuk lebih banyak memberikan kontribusi bagi masyarakat sekitar.

Relawan Tzu Chi tak hanya berbuat banyak ke luar (bersumbangsih) namun juga terus menempa diri. Demikian halnya dengan relawan Tzu Chi Bandung. Sejak berdiri 13 tahun lalu, Tzu Chi Bandung telah memberikan banyak kontribusi bagi masyarakat sekitar. Kini tiba waktunya, Tzu Bandung membangun Aula Jing Si, tempat melatih diri sekaligus menebar cinta kasih.

Bangunan bernuansa abu-abu di Jalan Jenderal Sudirman Bandung itu berdiri anggun. Empat pilarnya menjulang tinggi. Gaya arsitekturnya mirip dengan kantor pusatnya yang berada di Hualien, Taiwan. Di sisi depan bangunan itu bertuliskan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia Bandung.

“Mudah-mudahan dengan adanya Aula Jing Si ini, nantinya bisa lebih menarik orang (untuk bergabung). Kalau ini penampilannya sudah beda dengan kantor biasa kan? Dengan ini kita harus lebih rajin lagi,” ujar Harun Lam, koordinator pembangunan Aula Jing Si Bandung.

Bagi relawan Tzu Chi Bandung, Aula Jing Si memang bukan sekadar bangunan yang bakal menjadi pusat berkegiatan. Pembangunan Aula Jing Si yang sebentar lagi rampung ini juga mendorong semangat relawannya untuk lebih giat menjalankan misi-misi Tzu Chi: Amal, Kesehatan, Pendidikan, dan Budaya Humanis.

“Saya ingin adakan seperti kalau di gereja itu Sunday School minimal dua minggu sekali. Saya juga ingin ada depo daur ulang yang melibatkan mereka yang ada di panti jompo, sebab banyak yang masih produktif. Saya juga ingin ajak anak-anak sekolah melihat daur ulang seperti apa. Kami ingin ada kerja sama dengan sekolah-sekolah,” kata Herman Widjaja, Ketua Tzu Chi Bandung.

Herman Widjaja mengetuai Tzu Chi Bandung sejak awal berdiri tahun 2003. Hingga kini Tzu Chi Bandung terus melaksanakan misi-misi Tzu Chi melalui kegiatan seperti bantuan sembako bagi warga kurang mampu, pengobatan bagi masyarakat yang jauh dari fasilitas kesehatan, bedah kampung, renovasi sekolah, dan pembangunan jembatan. Bantuan juga diberikan kepada pasien yang perlu penanganan khusus. Selain itu Tzu Chi Bandung juga mendampingi Yayasan Aziziyah memberikan terapi bagi anak-anak penyandang disabilitas.

Bermula dari Bagi Beras

Bagi Herman Widjaja, yang membuatnya terus semangat di dunia kerelawanan adalah komitmen.

Memberikan bantuan beras bagi masyarakat yang kurang mampu merupakan yang paling sering digelar oleh Tzu Chi Bandung. Dari bagi beras pula, kisah Tzu Chi Bandung bermula.

Kala itu, tahun 2003 Herman Widjaja belum mengenal betul tentang Tzu Chi. Namun Herman yang aktif di beberapa organisasi sosial menyanggupi ketika diminta kesediaannya membantu Tzu Chi Indonesia yang hendak membagikan 8.000 ton beras bagi warga kurang mampu di Jawa Barat.

“Saya enam bulan hanya bisa membagikan 6.300 sekian ton. Tapi keburu rusak kalau tidak dibagi,” kenang Herman.

Dengan bantuan rekan-rekannya, beras pun berhasil dibagikan seluruhnya di Bandung, Sukabumi, Cianjur, Garut, Tasikmalaya, Sumedang, Subang, hingga Cirebon. “Nah sekelompok orang ini yang memang bantu saya. Yang tiga orang itu,” sambungnya.

Tiga orang yang dimaksud Herman adalah Djonni Andhella, Harun Lam, dan Almarhum Asikin Tiono. Bersama Herman, keempat relawan inilah yang menjadi relawan pertama Tzu Chi Bandung.

“Lalu kami diajak Pak Aguan (Sugianto Kusuma, Wakil Ketua Tzu Chi Indonesia) ke Master Cheng Yen (di Taiwan), bahwasanya ini murni lintas agama kan? Begitu saja mulai tertariknya,” kata Herman.

“Saya lihat Tzu Chi beda dengan organisasi lain. Tzu Chi tuntas memberikan bantuan, dari survei, sampai perhatian lanjutan, sehingga kebajikannya sungguh-sungguh dan tulus dari lubuk hati, bukan formalitas,” tambahnya.

Menjadi Kantor Penghubung Tzu Chi

Dengan bimbingan relawan Tzu Chi dari Jakarta, Herman Widjaja, Djonni Andhella, Harun Lam, dan Almarhum Asikin Tiono mulai mengembangkan Tzu Chi di Bandung. Berbagai kegiatan sosial kemanusiaan yang digelar pun menarik banyak orang. Pelantikan relawan Tzu Chi Bandung yang kedua, digelar pada 5 September 2004 dan diikuti sebanyak 22 relawan baru. Pada 16 Oktober 2004, Tzu Chi Bandung pun menjadi salah satu Kantor Penghubung Tzu Chi di Indonesia.

Selain bagi beras, Tzu Chi Bandung juga kerap menggelar bakti sosial kesehatan. Ini membuat dokter yang sering bergabung semakin antusias. Karena itu setahun kemudian, tepatnya 28 Agustus 2005, Tzu Chi Bandung mendirikan klinik yang melayani penyakit umum dan gigi.

Empat belas dokter dari berbagai bidang keahlian pun berpraktik di klinik yang diberi nama Klinik Cinta Kasih Tzu Chi ini. Prof. Dr. Pisi Lukitto menjadi penanggung jawab klinik bersama dengan Dr. Husen Nasseri. Klinik ini pula yang menjadi cikal bakal terbentuknya TIMA Bandung.

Keberadaan klinik ini nyatanya sangat membantu relawan dalam menangani pasien penerima bantuan atau Gan En Hu. Dokter akan memeriksa kondisi Gan En Hu dan memberikan referensi bagaimana tindak lanjutnya.

“Kalau klinik sosial yang tidak usah bayar banyak. Lebih murah dari Tzu Chi juga ada. Di sini kalau mampu kena biaya, kalau kurang mampu ya kami bebaskan biayanya. Jadi manfaatnya buat saya yaitu memudahkan penilaian untuk menentukan satu kasus pasien,” ujar Herman.

Segaris Senyum di Bibir Han-Han


Han-Han saat dikunjungi relawan Ganda Suhanda di Panti Asuhan Bhakti Luhur Alma, Bandung, Jawa Barat. Han Han termasuk pasien pertama yang ditangani oleh Tzu Chi Bandung.

Salah satu Gan En Hu yang ditangani oleh Tzu Chi Bandung di awal-awal berdiri bahkan hingga kini adalah Han-Han (24). Han-Han menderita penyakit Cerebral Palsy atau lumpuh otak sejak kecil. Tulang-tulang tubuh yang bengkok membuatnya hanya mampu berbaring.

Han-Han ditangani oleh Tzu Chi Bandung sejak umur 12 tahun, yakni tahun 2005. Saat itu, di penghujung Desember 2005 Han-Han terserang demam tinggi dan muncul ruam merah di sekujur badan seperti yang terjadi pada gejala demam berdarah. Namun ibunya, Sri Sari, yang menjadi orang tua tunggal ini tak membawa anak bungsunya ke dokter karena tak punya ongkos.

Kesedihan menggelayuti pikiran Sri. Ia pun baru ingat tentang Yayasan Buddha Tzu Chi. Padahal tujuh bulan ke belakang Tzu Chi Bandung rutin memberi bantuan sembako bulanan dan beasiswa kepada dua kakak Han-Han. Sri segera menelepon Klinik Cinta Kasih Tzu Chi. Relawan pun merespon dengan menjemput Han-Han.

Setelah menjalani pemeriksaan di klinik, Han-Han langsung dilarikan ke Rumah Sakit Dokter Hasan Sadikin Bandung. Syukurlah Han-Han tidak terserang demam berdarah. Namun Han-Han harus menjalani rawat inap selama beberapa hari. Sejak itulah relawan terus membantu pengobatan Han-Han yang menderita Cerebral Palsy.

“Waktu pertama kali ketemu Han-Han keadaannya memang gawat. Gawat teh lumpuh kan sudah jelas, tidak terurus sama mamanya. Mamanya kan bagaimana pun harus ada penghasilan. Kakaknya tiga, laki satu dan perempuan dua, tapi kurang perhatian. Jadi kurang terurus sama sekali,” kata Ganda Suhanda, relawan Tzu Bandung.

Keluarga Han-Han hidup serba kekurangan terutama sejak sang ayah meninggal. Karena itu Tzu Chi Bandung juga memberi bantuan untuk membayar sewa rumah. Relawan juga menyarankan Ibu Han-Han untuk menyewa rumah yang lebih luas agar kondisi Han-Han membaik. Selain itu mereka juga membuatkan Han-Han sebuah kursi roda khusus yang dibuat oleh ahli dari Institut Teknologi Bandung (ITB).

Setiap kali datang berkunjung, relawan membawakan Buletin Tzu Chi. Biasanya sebelum tidur Han Han selalu minta dibacakan Buletin. Saat acara Pemberkahan Akhir Tahun, relawan biasanya menjemput Han-Han untuk turut serta.

Pada ulang tahun Han-Han yang ke-17, relawan memberinya kejutan dengan datang ke rumah kontrakannya sambil membawa kue ulang tahun. Di atas kue berlapis cokelat itu, terpajang lilin merah yang melambangkan usia Han Han yang genap 17 tahun. Han-Han sangat gembira, apalagi saat para relawan menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun. Di hari ulang tahunnya pula giliran Han Han yang bersumbangsih. Han-Han memberikan angpau untuk Tzu Chi.

“(Angpau ini) buat Tzu Chi dari Han Han,” ujarnya pelan, kala itu. Gadis polos ini juga ingin bisa berbuat baik.

Tak terasa, tahun ini Han-Han telah berusia 24 tahun. Relawan memasukkannya ke Panti Asuhan Bhakti Luhur setelah ibunya meninggal agar Han-Han tetap terurus. Tzu Chi Bandung tetap mendukung biaya hidup Han-Han dan mengunjunginya sedikitnya satu bulan sekali. Begitu juga dengan ketiga kakak Han-Han yang juga rutin mengunjunginya sebulan sekali.

Memori tentang relawan Tzu Chi yang tanpa henti memperhatikannya terekam jelas dalam ingatan Han-Han. Saat disambangi Ganda Suhanda, segaris senyuman langsung menghiasi wajahnya.

“Ingat tidak sama Shibo?” bisik relawan Ganda Suhanda di dekat telinga Han-Han yang tengah berbaring.

“Ingat,” jawabnya pelan.

“Cece sama Koko datang tidak?” tanya Suhanda

Nggak” jawabnya

“Koko suruh datang atuh.”

“Kerja,” jawab Han-Han.

“Ohhh kerja katanya.”

Suhanda memuji ingatan Han-Han yang bagus, juga secara fisik yang terlihat sangat bersih.

“Memang untuk sembuh tidak mungkin, tapi beda jauh dengan dulu waktu di rumah. Sekarang kelihatannya putih, bersih, cuma ya badannya tetap begitu. Dia juga bisa bilang terima kasih. Dulu kan tidak sama sekali,” ujar Suganda.

Bergegas Membantu Korban Tsunami


Sekolah Unggulan Cinta Kasih Pangalengan, Kabupaten Bandung yang merupakan hasil renovasi total SD Negeri 1 dan 3 Pangelengan hancur pasca gempa bumi pada 2 September 2009.

Senin 17 Juli 2017 lalu, tepat sebelas tahun terjadinya gempa dan tsunami Pangandaran 2006. Gempa berkekuatan 6,8 skala Richter ini menyebabkan tsunami lebih dari dua meter yang menewaskan setidaknya 668 jiwa. Tahun ini warga Pangandaran mengenangnya dengan menghentikan segala aktivitas selama tiga menit pada tanggal dan waktu yang sama, pukul 15.30 WIB untuk mendoakan para korban.

Saat itu, relawan Tzu Chi Bandung yang jaraknya tiga jam dari Pangandaran langsung meluncur ke lokasi. Namun karena begitu banyak orang yang juga ingin menuju ke lokasi, kemacetan terjadi hingga memakan waktu sembilan jam.

Relawan Tzu Chi Bandung membawa bantuan darurat seperti biskuit, mi instan, selimut, tenda dan memberikan pengobatan. Relawan juga memberikan bantuan beras kepada dapur umum yang ada di beberapa titik. Ada juga bantuan uang duka bagi yang anggota keluarganya meninggal dunia.

Bencana seolah belum mau pergi, pada tahun 2009, gempa dahsyat terjadi di Tasikmalaya dengan kekuatan 7,3 skala Richter. Puluhan orang meninggal dunia dan luka-luka. Ribuan bangunan hancur, termasuk SD Negeri 1 dan 3 Pangalengan.

Setelah melalui survei yang mendetail, Tzu Chi Bandung pun merenovasi sekolah ini secara total. Dua sekolah ini kemudian dilebur diberi nama Sekolah Unggulan Cinta Kasih Pangalengan. Bangunan dengan luas tanah 6.927 meter persegi ini memiliki 21 ruang kelas, juga 2 ruang perpustakaan. Ada pula laboratorium IPA, laboratorium komputer, laboratorium bahasa, aula, UKS, lapangan basket, kantin, serta masjid.

“Sampai saat ini kami masih libatkan mereka (para murid) dalam kegiatan-kegiatan seperti acara Pemberkahan Akhir Tahun. Mereka menampilkan lagu isyarat tangan,” kata Herman Widjaja.

Jembatan Cinta Kasih Tzu Chi di Batas Garut dan Tasikmalaya


Gadis ini bernama Putri Cinta Kasih. Orang tuanya memberikan nama Putri Cinta Kasih karena terinspirasi dari jembatan Simpay Asih yang dibangun Tzu Chi pada tahun 2007.

Arus Sungai Cikangean di Desa Simpang, Kecamatan Cibolang, Garut, siang itu mengalir deras. Namun Putri Cinta Kasih (8) dan teman-temannya urung beranjak dari sungai berbatu besar itu.

Derasnya Sungai Cikangean menyimpan kisah tentang semangat anak manusia demi bisa bersekolah. Sopa Saepul Milah (25) masih ingat betul bagaimana ia dan teman-temannya dari Desa Simpang harus menerabas sungai untuk bisa sampai di sekolahnya, SDN Karyasari yang ada di Desa Cempakasari, Kabupaten Tasikmalaya.

“Dulu waktu menyeberang takut sekali yang dirasakan. Kan airnya juga tidak stabil. Kadang surut kadang pasang. Lalu kalau hujan gede, pasti airnya besar kan. Tapi saya selalu semangat untuk sekolah,” kata Sopa.

Saat musim kemarau, permukaan air sungai memang hanya setinggi lutut orang dewasa. Namun saat musim hujan, tinggi air bisa mencapai 2 meter, dengan lebar sungai 70 meter. Orang tua yang khawatir akan bahaya yang mengintai anaknya memilih tidak menyekolahkan anak mereka. Namun Ketua RT dan warga yang menyadari pentingnya pendidikan sukarela membantu anak-anak menyeberang sungai. 

Anak-anak di Desa Simpang bersekolah di Desa Cempakasari yang sudah masuk wilayah Kabupaten Tasikmalaya ini karena lokasinya paling dekat. Sebenarnya ada SDN Simpang, namun perlu waktu dua jam untuk sampai. Ada juga jembatan gantung yang bisa digunakan agar tidak perlu menerjang sungai, namun untuk sampai ke sana harus berjalan kaki sejauh 20 kilometer.

Perjuangan anak-anak Desa Simpang demi menuntut ilmu terdengar juga oleh para relawan Tzu Chi Bandung. Relawan bergerak mendatangi lokasi untuk melakukan survei. Untuk sampai di lokasi, relawan menempuh delapan jam perjalanan dengan mobil dan satu setengah jam dengan motor.

“Ke sana itu sengsaranya bukan main. Memang masih jalan curam dan sebagainya. Nah dengan dibuatnya jembatan gantung di sana, kan mobilisasi masukin barang, besi dan sebagainya maka harus bikin jalan. Akhirnya waktu peresmian kenapa mobil jenis Kijang saja masuk, sedan bisa masuk, ini efek samping yang positif dari pembangunan jembatan itu. Jadi membuka jalan, mobilisasi konstruksi jalan,” kenang Herman Widjaja.

Dari hasil survei, disepakatilah pembangunan jembatan gantung. Biaya pembangunan ditanggung oleh Tzu Chi dibantu Pemda Kabupaten Garut serta Pemda Kabupaten Tasikmalaya. Sedangkan pengerjaannya dilakukan oleh perwira TNI dari Yon Zipur Kodam III/Siliwangi.

Jembatan besi sepanjang 104 meter dan lebar 1,75 meter yang menghubungkan dua sisi sungai ini pun rampung pada 25 Agustus 2007. Jembatan itu dinamakan Jembatan Simpay Asih Tzu Chi. Simpay Asih berarti cinta kasih.

Sopa kecil dan teman-temannya, para guru, dan orang tua murid merasa sangat lega. Kemudahan untuk mencapai sekolah membuat anak-anak makin semangat.

“Senang sekali karena tidak akan lagi berenang melewati sungai yang airnya deras, sudah ada jembatan Alhamdulillah,” kata Sopa.


Semangat pantang menyerah mengantarkan Sopa Saepul Milah (25) menjadi seorang guru (kanan).

Semangat itu pula yang mengantarkan Sopa menggapai cita-citanya. Lulus SMP, Sopa melanjutkan ke SMA Yappas Singaparna di Tasikmalaya dan melanjutkan pendidikan di STKIP Muhammadiyah jurusan teknologi informasi dan komunikasi. Kini Sopa menjadi guru di SMP tempat ia belajar dahulu.

Tak hanya di bidang pendidikan, efek pembangunan jembatan ini juga dirasakan warga dari sisi ekonomi. Lalu lintas perdagangan di dua desa ini pun semakin mudah. Selain itu, hubungan sosial warga di dua desa yang sebelumnya dipisahkan oleh sungai pun kini makin erat.

“(Dulu sebelum ada jembatan bagaimana sih?) Wah tidak bisa dibilang sangking susahnya. Kalau airnya deras tidak bisa menyeberang. Walaupun orang tua meninggal, tidak bisa ke sana. Itu banyak terjadi. Jauh memutarnya,” kata Aan Darwati (35) yang diiyakan oleh suaminya Ilal (37).

Begitu bersyukur dengan dibangunnya jembatan Simpay Asih, pasangan suami-istri ini pun menamai anak bungsunya dengan nama Putri Cinta Kasih. Orang tua Putri Cinta Kasih turut mendoakan para relawan Tzu Chi.

“Ini mau bapaknya. Mau dikasih nama apa, kata saya. Putri Cinta Kasih saja. Biar dikenang nama jembatannya. Biar banyak yang tahu. Mau kemana? mau ke Jembatan Cinta Kasih. Hehehe.., Kami doakan Tzu Chi Bandung teh makin sukses. Relawannya makin kompak,” kata Aan Darwati.

Mendengar doa Aan Darwati, Ketua Tzu Chi Bandung, Herman Widjaja merasa haru.


Relawan Tzu Chi Bandung usai mengikuti training relawan calon komite yang diisi oleh relawan komite dari Tzu Chi Jakarta.

Saya tidak membayangkan efek sebegitu besar, tapi saya tahu begitu kami kesulitan membawa bahan bangunan ke sana, mobilisasi harus bikin jalan. Ini kita harus beli batu buat jalan segala macam. Itu banyak swadaya masyarakat sana juga. Jadi tidak semua kita, tidak. Masyarakat, tentara, turun tangan semua demi jalan yang bisa dilewati ke sana,” kata Herman.

Herman juga bersyukur kontribusi relawan 10 tahun lalu hingga kini masih dirasakan manfaatnya oleh warga di dua desa. Ia pun menyadari semangat relawan di awal-awal Tzu Chi Bandung berdiri itulah yang kini harus dimiliki lagi, bahkan lebih besar dari sebelumnya. Spirit dari Aula Aula Jing Si Bandung yang sebentar lagi rampung makin menyemangati langkah relawan Tzu Chi Bandung dalam melatih diri dan menyebarkan cinta kasih.

“Dengan ini saya ingatkan relawan kita, kita harus punya sikap lebih hati-hati lagi, lebih mengayomi, dan memberi citra yang baik untuk Tzu Chi,” tekadnya.

Penulis: Khusnul Khotimah

Fotografer: Hendra, Dayar, M.Galvan (Tzu Chi Bandung), Anand Yahya

Artikel dibaca sebanyak : 239 kali


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Security Code
Setiap manusia pada dasarnya berhati Bodhisatwa, juga memiliki semangat dan kekuatan yang sama dengan Bodhisatwa.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat