Rabu, 16 Januari 2019
Indonesia | English

Saya Seorang "Kakak" dan Saudara


Dina bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah pasangan Tan Soon Hock dan Siow Lee Kien. Bagi mereka Dina sangat cekatan dalam bekerja dan sangat bisa dipercaya. 

“Sebelumnya, semua orang memanggil saya ‘kakak’, sekarang mereka memanggil saya Kak Dina!” terang Dina.

Dina Wati Faot berasal dari desa kecil di Kupang, ibukota Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Kedua orang tuanya adalah petani yang menggantungkan hidup mereka dari pekerjaan kasar. Sebagai anak kedua, dia mulai bekerja sebagai asisten rumah tangga sejak berusia 9 tahun. Pada tahun 2005, dia meninggalkan rumah dan keluarganya untuk berangkat mencari penghasilan ke Malaysia.

Empat tahun yang lalu, pasangan Tan Soon Hock dan Siow Lee Kien bertemu Dina melalui agen asisten rumah tangga. Senyuman ramahnya menarik perhatian Lee Kien dan membuatnya senang melihat Dina. Dia berkata, “Dina baik dan bisa dipercaya. Saya merasa sangat tenang membiarkan dia yang menangani semua pekerjaan rumah. Saya tidak lagi memperlakukan dia sebagai pembantu dan kami sering bertukar pikiran. Hal-hal positif dari dia menjadi sumber pengaruh baik dalam diri saya.”

Dina yang berhati baik untuk selalu membantu orang lain mengatakan, “Saya tidak pernah punya mimpi. Saya hanya ingin membantu orang lain. Tapi jika saya diberikan kesempatan, saya berharap saya bisa menjadi seorang perawat.”

Dina mengingat saat dia berusia sembilan tahun, dia menyaksikan ibunya kesakitan saat akan melahirkan. Saat itu, karena mereka tidak memiliki biaya transportasi ke rumah sakit yang jaraknya jauh, ibunya tidak memiliki pilihan selain berjalan kaki meskipun dalam keadaan sakit. Dalam perjalanannya, saat dia tidak dapat bertahan lebih lama lagi, seorang ibu tua membantu proses persalinannya. Masih dalam ingatan Dina, “Jika saja ada perawat, mama tidak akan sesakit ini.”

Sayangnya, dikarenakan kondisi keluarga, Dina harus putus sekolah setelah menyelesaikan kelas 1 SD. Walaupun menghadapi berbagai kesusahan, dia tetap teguh untuk memperbaiki diri dan pada akhirnya, belajar berkomunikasi dalam Bahasa Mandarin. Dia sangat yakin saat berkata, “Tidak bisa belajar hanyalah alasan. Jika yang lain bisa, maka kita juga bisa.”

Keyakinan Yang Tidak Disengaja


Dina ketika dilantik menjadi Relawan Komite Tzu Chi. 

Saat Dina sedang bekerja di keluarga Tan, dia diberikan tanggung jawab besar untuk menemani Jin Po Yu, ibunda Soon Hock, ke sesi pelatihan relawan Tzu Chi. Sebagai anggota Tzu Cheng Faith Corps, keinginan terbesar Soon Hock adalah membawa semua orang di sekitarnya ke dalam Tzu Chi, termasuk anak, keluarga, teman dan partner bisnisnya. Yang terpenting, dia berharap ibunya akan bergabung juga. Dia mengakui, “Saat itu, satu-satunya cara yang terpikirkan oleh saya adalah meminta Dina menemani mama saya ke kelas-kelas tersebut.”

Hasilnya mengejutkan. Walaupun rencana awal adalah meminta Dina menemani ibunya ke kelas dan aktifitas Tzu Chi, secara tidak sengaja telah membuat Dina menempuh jalan Bodhisatwa juga.

Pada acara-acara Tzu Chi, Dina mengatasi dinding penghalang antar suku dan agama. Dia tidak merasa seperti orang luar juga tidak merasa diremehkan. Malah, dia merasa diterima dan diperlakukan dengan sederajat. Dengan demikian, dia dengan gampang menyatu dengan organisasi tersebut. Dengan hati yang penuh cinta kasih dan keyakinan, dia memperoleh kemampuan baru di Tzu Chi dan menemukan jalan hidupnya dalam berbagi tanpa pamrih.

Berbagi Tanpa Pamrih

Sebagai relawan Tzu Chi, Dina selalu menyimpan teguh pikiran “Lakukan”. Dia menggunakan segenap kemampuannya untuk berpartisipasi dan membantu di semua area yang menjadi keunggulannya. Dia selalu tersenyum meskipun saat sedang dibasahi oleh keringat.

Dia dapat mengelola waktu dengan baik dan memiliki waktu untuk bergabung dalam pelatihan daur ulang dan pelatihan-pelatihan lainnya. Dia menjadi sering berada di depo pendidikan daur ulang. Walaupun bertubuh kecil, dia kuat dan bekerja dengan efisien, sehingga dicintai dan dihormati oleh semua orang.

Melalui daur ulang, Dina tidak hanya belajar untuk tidak membuang-buang sumber daya, tapi juga memperpanjang umur pemakaiannya. Dia selalu mengingatkan para pekerjanya bahwa memiliki barang tidaklah harus selalu baru, tetapi bisa dibeli dari pojok barang bekas di pusat daur ulang, sehingga memperpanjang usia pemakaian barang tersebut dengan efektif.

Dina mengakui bahwa menjadi vegetarian adalah perubahan dirinya yang terbesar sejak bergabung dengan Tzu Chi. Ketika pertama kali bekerja dengan keluarga Tan, dia berpikir,”Majikan saya sebelumnya banyak makan daging dan ikan, kenapa majikanku yang sekarang tidak? Makan sayur setiap harinya kelihatan menyedihkan.”


Dina pun merasa nyaman dengan bervegetaris.

Setelah mengetahui menjadi vegetarian adalah untuk melindungi bumi dan mengurangi bencana yang terjadi di seluruh dunia, juga setelah menonton video bagaimana hewan-hewan dibunuh untuk dikonsumsi, dia merasa iba. Ia menjadi mengerti maksud sebenarnya dari vegetarian adalah untuk membentuk hubungan yang harmonis dengan semua makhluk hidup, maka dia bertekad menjadi vegetarian. Sudah lebih dari 1 tahun dan Dina merasa nyaman dengan bervegetaris.

Penuh empati, dia berkata, “Hewan sama dengan manusia, mereka tidak ingin dibunuh. Ketika hewan dibunuh, mereka juga akan menjerit kesakitan dan terluka.” Sejak menjadi seorang vegetarian, Dina mulai memperhatikan serangga-serangga kecil di sekitarnya dan berkomunikasi dengan mereka agar mereka keluar rumah sehingga tidak sengaja terbunuh.

Melalui partisipasinya dalam banyak kunjungan kasih, Dina telah menyaksikan berbagai penderitaan dan dia mulai menghargai berkatnya. Kunjungan pertamanya adalah ke seorang wanita berumur 35 tahun, yang kesusahan mencari nafkah untuk menghidupi tujuh anaknya. Dia berkata, “Saya berpikir hidup saya susah, tapi kemudian saya sadar bahwa lebih susah hidup orang-orang yang miskin secara spiritual.”

Sebagai tambahan, Dina juga mencari dan mengumpulkan kasih sayang orang-orang untuk membantu orang yang membutuhkan. Dia menyadari bahwa berdonasi bukanlah keistimewaan orang kaya melainkan keistimewaan orang tulus. Setelah menonton video relawan Tzu Chi memasuki daerah bencana untuk menolong para korban, khususnya saat para relawan menolong korban gempa bumi di Indonesia, Dina sangat tersentuh dan meminta untuk menambahkan sumbangan bulanannya.

Lee Kin berkata dengan penuh syukur, “Menambahkan sumbangan bulanan bukan beban yang kecil untuk dia, tetapi Dina seperti malaikat yang dikaruniai dengan perasaan cinta kasih yang besar sejak muda. Sekarang di saat bibit cinta dengan perlahan tumbuh di hatinya, saya berharap dia akan menggunakan potensi terbesarnya untuk memenuhi mimpi masa mudanya.”

Malam Bersama Menghapus Batasan

Mengingat pertama kali dia makan malam bersama majikannya, Dina merasa gugup dan tidak nyaman. “Saya tahu status saya. Bagaimanapun, saya seorang ‘Kakak’ (asisten rumah tangga), tapi majikan saya berkata semua orang sama di dunia Tzu Chi. Itu menenangkan saya.”

Sejak hari pertama Dina melangkah masuk ke rumah mereka, dia telah merasakan kehangatan cinta kasih. “Majikan saya selalu mengundang saya untuk makan malam bersama, tapi karena saya tidak pernah makan bersama majikan-majikan saya sebelumnya, saya merasa sangat tidak nyaman,” ujar Dina.

Seiring berjalannya waktu, Dina merasa tersentuh dengan ketulusan hati majikannya dan undangan Ibu Jin untuk makan malam bersama. Itulah akhirnya yang membuatnya memutuskan makan malam bersama mereka. Hal ini menghapuskan penghalang antara majikan dan karyawan. Dina akhirnya mengerti pemikiran di balik semua orang di Tzu Chi adalah saudara dalam Dharma. Dia makan malam bersama majikannya seperti keluarga tanpa merasakan adanya pemisah.

Banyak asisten rumah tangga yang meninggalkan rumah mereka untuk kehidupan yang lebih baik seperti Dina, memiliki tugas untuk diselesaikan sepanjang hari. Bersyukur, Dina memiliki majikan yang pengertian, yang memberikan dia kebebasan, ruang dan waktu sehingga dia bisa berkembang selangkah demi selangkah di jalan Bodhisatwa.

Dibandingkan dengan kondisinya pada majikan sebelumnya, mereka sangat berbeda. Dengan cepat, Hock dan Lee Kien memperlakukan Dina dengan setaraf dan memberikan cinta dan perhatian layaknya orang tua. Sejak dia meninggalkan rumahnya bertahun-tahun yang lalu, Dina telah memimpikan keluarga yang penuh cinta seperti ini. Dia berkata, “Saya bersyukur kepada keluarga Tan yang telah memperlakukan saya seperti keluarga, seperti anak sendiri dan merawat saya saat saya merindukan rumah.”

Sebagai orang Kristen, hal yang paling menyentuh untuk Dina dalam empat tahun ini adalah keluarga Tan tidak pernah lupa memberkati dan memberikan hadiah kepadanya pada malam Natal. 

Setelah berpartisipasi dalam berbagai aktifitas Tzu Chi, Dina belajar tentang kasih sayang. Sekarang, sebagai Relawan Komite yang baru, dia berharap untuk mengajak lebih banyak teman dan anggota keluarga untuk bergabung dengannya dalam gerak kebaikan ini. Ketika dia pulang, dia akan terus mendekatkan diri dengan semangat Jing Si dan melakukan daur ulang di sana, meningkatkan kesadaran efek tebang liar, memandu masyarakat menjadi vegetarian untuk menyelamatkan dunia dan membangun hubungan harmonis dengan semua makhluk hidup.

Dina sangat bersyukur atas terciptanya dunia Tzu Chi oleh Master Cheng Yen, yang membuatnya merasakan pengalaman mendapatkan berkat kasih sayang dan pengertian.

Penulis : Sia Ah Tong (Tzu Chi Malaysia)

Fotografer: Chua Teck Ching (Tzu Chi Malaysia)

Diterjemahkan oleh Alwing Low (Tzu Chi School)

Artikel dibaca sebanyak : 551 kali


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Tiga faktor utama untuk menyehatkan batin adalah: bersikap optimis, penuh pengertian, dan memiliki cinta kasih.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat