Rabu, 23 Oktober 2019
Indonesia | English

Terus Menyemangati Tjek Min


Keinginan Tjek Min untuk sembuh begitu kuat. Beberapa gerakan anggota tubuhnya seolah menggambarkan semangat untuk segera pulih dari stroke yang dideritanya. Semangat ini dijawab oleh relawan Tzu Chi dengan memberikan dukungan serta pendampingan bagi ayah dua putri tersebut.

 

Kehadiran relawan Tzu Chi ke Rusun Kapuk Muara sudah ditunggu oleh Tjek Min. Di Rusun tersebut, Tjek Min tinggal di salah satu rumah yang berada di lantai 5 bersama istri dan kedua putrinya. Wajahnya spontan bahagia saat relawan Tzu Chi datang sambil mengucap salam untuk menjenguknya, Minggu (14/04/19).

“Silahkan masuk, Shijie,” ucap Kelyati (40), istri Tjek Min menyambut rombongan Tzu Chi. Tjek Min yang berada tidak jauh dari pintu masuk juga ikut mempersilahkan masuk dengan gerakan tangan kirinya dari atas kursi plastik. Tubuh bagian kanannya tidak bisa bergerak seperti sedia kala akibat stroke.

Setelah duduk lesehan di ruangan berukuran 4 x 6 meter dan saling bertanya kabar, Kelyati menceritakan kondisi terkini suaminya. Sambil bercerita, ia juga mengingat kembali saat-saat suaminya terserang stroke. “Awal stroke ya tiba-tiba saja. Saat itu dia sedang di warung kopi berbincang-bincang sama teman,” cerita Kelyati. Ia ingat betul dengan peristiwa yang terjadi pada 14 Oktober 2017 kira-kira pukul 17.30 WIB tersebut. “Kata temannya, suami saya tiba-tiba suaranya sedikit-sedikit hilang,” jelas Kelyati.

Melihat kondisi Tjek Min, temannya pun segera berinisiatif untuk mengantarkan ke klinik kesehatan terdekat setelah terlebih dahulu menghubungi Kelyati. Saat itu, Tjek Min masih sanggup untuk berdiri dan dibonceng menggunakan motor menuju klinik oleh temannya. Sampai di klinik, dokter segera memberikan cairan infus untuk Tjek Min sekaligus mengobservasi kondisinya. Beberapa saat kemudian, badan Tjek Min sudah tidak bisa bangun serta lemas di bagian tubuh sebelah kanan.

Dokter memberitahu Kelyati bahwa suaminya terkena stroke. “Kely, kely, cepat bawa ke rumah sakit suaminya. Ini sudah kena stroke,” kata Kelyati menceritakan salah satu teman yang juga berada di klinik. Beruntung salah satu pengunjung warung kopi ada yang membawa mobil. Kemudian setelah berkoordinasi dengan keluarga, Tjek Min dibawa menuju salah satu rumah sakit di Jakarta Barat untuk mendapatkan perawatan yang intensif.

“Sampai di UGD rumah sakit suami saya sudah tidak bisa apa-apa, hanya bengong saja di atas kursi roda,” cerita Kelyati. Sama sekali tidak terlintas dalam benak dan pikiran Kelyati bahwa suaminya akan terkena stroke. Pasalnya, sejak dulu suaminya tidak pernah memiliki riwayat penyakit yang serius. “Perasaan saya panik saat itu, sedih, bingung harus gimana. Semua bercampur menjadi satu,” kata Kelyati.


Saat melakukan kunjungan kasih, relawan Tzu Chi juga menyempatkan diri untuk membantu Tjek Min berlatih berjalan di koridor lantai 5, Rusun Kapuk Muara.

Setelah diperiksa dokter dan mendapatkan ruang rawat inap, serta melalui serangkaian tes medis untuk memastikan penyebab stroke yang diderita Tjek Min, dokter menyarankan untuk dilakukan tindakan operasi. Operasi perlu dilakukan karena pembuluh darah di otak kiri Tjek Min pecah dan terdapat gumpalan darah.

Setelah berdiskusi dan melakukan konfirmasi dengan berbagai pihak, keputusan operasi Tjek Min pun diiyakan oleh Kelyati. Tempurung kepala bagian atas di sebelah kiri dibuka untuk dilakukan penyedotan darah yang menggumpal akibat pecahnya pembuluh darah. Tempurung kepala Tjek Min diinkubasi di dalam perutnya selama dua bulan menunggu proses pemulihan pascaoperasi untuk selanjutnya dilakukan pemasangan tempurung kepala kembali setelah dinyatakan siap oleh dokter. “Perkembangannya ya masih ling-lung, ngelantur, dan tidak bisa bangun dari tempat tidur,” kata Kelyati menceritakan kondisi suaminya beberapa hari setelah operasi.

Jalinan Jodoh Baik

Sebelum stroke, Tjek Min bekerja sebagai sales dan beberapa pekerjaan serabutan lainnya. Untuk membantu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, Kelyati juga ikut membantu suaminya dengan berjualan kuetiaw. Dari pernikahan Tjek Min dan Kelyati, mereka dikaruniai dua orang anak perempuan yaitu Windy (16) dan Seren (9) yang saat ini masih duduk di bangku sekolah.

Setelah suaminya stroke, tinggal Kelyati sendiri yang menafkahi keluarga. Ia pun harus bisa membagi waktu antara berjualan dan mengurus anak dan suaminya setiap hari. Kelyati harus berjuang ekstra untuk keluarganya tanpa bantuan suaminya. Namun hasil dari berjualan rupanya juga tidak cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari. Berbagai kesulitan perlahan-lahan menghampiri Kelyati dan keluarga. Penghasilan berkurang, tetapi pengeluaran justru bertambah, seperti biaya pendidikan anak dan pengobatan suaminya.

Beruntung di saat kesulitan mendera, selalu ada jalan bagi mereka yang sabar dan mau berusaha. Pertolongan pun bisa datang dari mana saja dan kapan saja. Dari lokasi Kelyati berjualan inilah jalinan jodohnya dengan Tzu Chi terjalin karena lokasi tersebut milik dari salah satu relawan Tzu Chi bernama Linda. “Saya berjualan di tempat salah satu relawan Tzu Chi. Sedikit banyak ya ia tahu saya dan kondisi keluarga saya,” jelas Kelyati.

Dari perbincangan dan melihat kondisi yang dialami suami Kelyati, Linda menyarankan untuk mengajukan permohonan bantuan ke Tzu Chi. “Mau tidak ke Tzu Chi? Jika ada permohonan bantuan, mungkin di sana bisa membantu,” cerita Kelyati menirukan ucapan Linda. “Boleh,” jawab Kelyati. Linda pun membalas keinginan Kelyati untuk mengajukan bantuan ke Tzu Chi. “Ya sudah nanti atur waktu, kita ke sana,” kata Kelyati menirukan perkataan Linda yang menjembatani jalinan jodoh baiknya dengan Tzu Chi.

Berkas permohonan bantuan dari Kelyati untuk keluarganya masuk ke bagian Bakti Amal Tzu Chi Indonesia pada 16 November 2017. Setelah dipelajari lebih lanjut dan dilakukan proses survei oleh relawan, permohonan bantuan disetujui. Bukan hanya bantuan untuk Tjek Min saja, bantuan biaya pendidikan untuk salah satu anaknya juga diberikan.

Keinginan Sembuh yang Besar
Pascaoperasi, Tjek Min menjalani pemulihan di rumahnya yang terletak di lantai 5 Rusun Kapuk Muara, Jakarta Utara. Selain mengonsumsi obat, ia juga harus melakukan terapi gerak untuk tubuh dan berjemur (bagian kiri tubuh) supaya otot-ototnya tidak mengecil dan melemah. Kondisi yang dialami Tjek Min ini membuat relawan Tzu Chi berinisiatif membuatkan alat bantu untuk terapi gerak.

Hal ini dilakukan karena kondisi tempat tinggalnya yang berada di lantai 5. Jika harus melakukan terapi di tempat kesehatan, Tjek Min harus menuruni tangga sebanyak 5 lantai karena di rusun tempat tinggalnya tidak tersedia fasilitas lift. Hal itu menjadi sesuatu yang sangat menyulitkan baginya tanpa bantuan dari orang lain.


Bukan hanya menerima bantuan saja, semangat serta motivasi juga diberikan para relawan Tzu Chi sebagai energi positif untuk menunjang proses penyembuhan stroke yang diderita oleh Tjek Min.

Saat kunjungan kasih ke rumah Tjek Min yang ketiga, tepatnya tanggal 20 Desember 2017, relawan mencari cara supaya Tjek Min dapat melakukan terapi gerak untuk tubuh tanpa harus menuruni anak tangga dari lantai 5. “Ada tidak shixiong-Shijie yang bisa bantu membuat alat supaya Tjek Min tidak kesulitan turun dan naik tangga rusun?” cerita Ayen Rita, relawan Tzu Chi yang juga menjadi pendamping Tjek Min.

Akhirnya, ada dua orang relawan yang menyanggupi untuk membuat alat terapi gerak untuk Tjek Min. Sederhana sekali, alat tersebut hanya terbuat dengan tali tambang, roda katrol, serta kayu. Setelah dibuat, dipasang, dan digunakan oleh Tjek Min, kemajuan kesehatannya juga semakin baik. Bahkan beberapa alat yang dipinjamkan Tzu Chi untuk mendukung kesehariannya pun akhirnya dikembalikan. “Awal-awal kita pinjamkan tongkat, kursi roda, tapi belakangan mereka mengembalikannya karena Kelyati ingin melatih suaminya supaya mandiri,” ungkap Ayen.

Saat dikunjungi relawan, raut wajah Tjek Min terlihat bahagia. Walaupun masih kesulitan untuk berbicara, dengan beberapa gerakan tangan kirinya ia berusaha untuk menyampaikan sesuatu kepada relawan. “Ini artinya kuat. Badannya kuat masih bisa mengangkat tangan,” kata Kelyati menjelaskan masud dari suaminya yang mengangkat tangan. Kondisi pisikologis Tjek Min juga semakin baik karena sebelumnya ia suka meratapi dan menangisi keadaannya. “Suka nangis kalau lagi sendiri. Yah mungkin sedih karena jadi begini keadaannya. Tapi sekarang sudah enggak, justru dia semangat latihan pake alat yang dibuat relawan itu,” cerita Kelyati.

Relawan juga tidak segan-segan memeriksa kondisi tangan dan kaki Tjek Min yang terkena stroke saat kunjungan kasih. Sesekali mereka memijat dan memberikan sedikit “cubitan” untuk mengecek respon indra perasa laki-laki kelahiran Tanjung Pura, 27 September 1968 tersebut. Perkembangannya juga cukup signifikan, dari yang awalnya hanya bisa berbaring, kini sudah bisa berjalan dengan satu tongkat. “Setiap hari jalan 3 kali keliling teras di lantai 5 rusun ini,” ungkap Kelyati.

Sikap bijaksana juga diperlihatkan oleh Tjek Min dan keluarga. Bukan semakin mengandalkan bantuan, tetapi beberapa bantuan dari Tzu Chi juga ada yang mereka hentikan jika dirasa sudah tidak memerlukannya lagi. “Kaya popok, ya kita sudah tidak membutuhkannya lagi. Suami saya sekarang sudah bisa ke kamar mandi sendiri,” jelas Kelyati. Apa yang terjadi dengan Tjek Min bukanlah sebuah keinginan, tapi merupakan ujian dari Tuhan untuk lebih baik lagi. “Kalau sudah banyak perkembangan ya bantuan yang sudah tidak diperlukan ya dikembalikan lagi. Masih banyak orang yang lebih membutuhkan. Keadaan ini bukanlah kesempatan bagi kami (untuk mendapat bantuan), tetapi bagaimana kami bisa lebih baik lagi dan bersyukur,” ungkap Kelyati yang terlihat begitu tegar menghadapi cobaan bagi keluarganya.

Jurnalis: Arimami Suryo A.

Editor: Hadi Pranoto

Artikel dibaca sebanyak : 216 kali


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Menghadapi kata-kata buruk yang ditujukan pada diri kita, juga merupakan pelatihan diri.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat