Sabtu, 15 Desember 2018
Indonesia | English

Tetap Mandiri, Bahkan Bisa Bersumbangsih


Kecelakaan yang merenggut salah satu kaki Andi tidak membuat semangat hidupnya ikut terenggut. Berbekal keterampilannya dalam bidang elektronik, Andi tetap bisa menjadi kepala keluarga yang bertanggung jawab. Keterampilan ini pula yang membuatnya masih bisa bersumbangsih.

Peristiwa kecelakaan pasti berdampak pada kelangsungan hidup seseorang, apalagi jika mengakibatkan cacat atau kehilangan salah satu anggota tubuh mereka. Kehilangan anggota tubuh membuat kehidupan seseorang dapat terganggu, terutama dari sisi ekonomi dan kehidupan sosialnya.

Hal  inilah yang dialami Andi (37), warga Prepedan, Kamal, Jakarta Barat. Akhir bulan Februari 2017, ia mengalami kecelakaan nahas di jalan. Nyawanya terselamatkan meski kedua kakinya menjadi korban. Seketika itu juga Andi dibawa ke salah satu rumah sakit di Jakarta Barat, dimana dokter mengatakan jika kaki kanannya sudah tidak bisa diselamatkan dan harus diamputasi hingga di bawah lutut. Sementara telapak kaki kiri juga harus dioperasi di beberapa bagian. “Saya pasrah, yang penting saya bisa selamat. Saya cuma ingat keluarga saya aja waktu itu,” ungkapnya lirih.

Proses operasi dimulai pukul 2 dini hari dan berlangsung selama lima jam. Ketika tersadar dan keluar dari ruang operasi, Andi melihat semua anggota keluarga tercinta sudah mengelilingi tempat tidurnya. Wajah-wajah sedih, cemas, dan tangis membaur di ruangan itu. Seluruh biaya pengobatan hingga pemulihan di rumah sakit ditanggung oleh perusahaan truk penyebab kecelakaan itu. Andi juga mendapatkan santunan dukacita dari pihak asuransi.

Menjalani Kehidupan Baru


Keterampilan memperbaiki peralatan elektronik ini ia dapatkan secara otodidak dari saudaranya. Hasilnya lumayan, ia bisa memperbaiki kipas angin, speaker aktif, tape, DVD player, gulung dynamo, dan lainnya.

Kehilangan anggota tubuh membuat Andi menjadi sosok yang lemah dan tidak percaya diri. Pasca operasi ini tidak mudah baginya untuk menjalani kehidupan. Proses penyembuhan kaki kanan dan kirinya memakan waktu hampir 6 bulan lebih. Setelah operasi pertama, ia masih harus menjalani operasi sekali lagi. “Saya selalu berdoa mudah-mudahan operasi kedua ini operasi yang terakhir. Dokter sempat bilang bisa tiga atau empat kali operasi untuk cangkok kulit menutupi beberapa bagian kedua kaki saya. Untungnya memang hanya dua kali operasi aja, pertama ketika amputasi kaki kanan, trus yang kedua cangkok kulit dari paha,” terang Andi.

“Dokternya bilang, ‘Andi ini sudah saya tutup semua bagian kaki kiri kamu jadi nggak perlu operasi cangkok kulit lagi,” kata Andi, “wahhh  seneng bener saya, soalnya sakitnya minta ampun, pasca operasi kulit paha itu." Proses cangkok kulit paha untuk menutup ruas kaki kiri Andi memang butuh waktu cukup lama, dan Andi juga harus mengganti perban setiap hari dan menjalani perawatan di rumah. Penggantian perban pun tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang, sehingga ada perawat khusus dari rumah sakit yang datang untuk mengganti perban setiap hari.  Inilah perjuangan pertama Andi dalam proses penyembuhan kedua kakinya.

Mengisi Waktu Luang dengan Berkarya

Jika awalnya Andi hanya ditemani sang istri dalam menjalani masa-masa pemulihan, kehadiran relawan Tzu Chi membuat semangat Andi untuk pulih kian tumbuh. Adalah Herniwati, relawan Tzu Chi yang juga umat wihara yang sama dengan Andi yang menyarankan agar ia mengajukan permohonan bantuan ke Tzu Chi. Setelah pengajuan bantuan, Herniwati dan seorang relawan Tzu Chi lainnya Johnny Chandrina datang mengunjungi rumah Andi. Saat itu ia sedang menjalani perawatan di rumah (Home care) oleh suster yang mengganti perban di kedua kakinya. Sejak itulah (Maret 2018) relawan Tzu Chi rutin mengantar Andi untuk kontrol ke rumah sakit. Ia juga mendapatkan bantuan tunjangan biaya hidup selama ia belum bisa bekerja.

“Andi ini sangat kuat tekadnya untuk bangkit. Dia benar-benar ingin cepat kembali bekerja untuk membantu keluarganya,” ungkap Johnny, “karena dia (Andi) bisa memperbaiki barang-barang elektronik, kita tawarkan untuk mengisi waktu luang di Depo Kosambi memperbaiki barang-barang elektronik.”


Andi dan istri secara rutin ikut berdonasi untuk Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. “Setelah saya di bantu saya jadi berkeinginan untuk ikut membantu yang lain yang membutuhkan pertolongan seperti saya dahulu.

Pada awalnya Andi selalu didampingi istrinya ketika pergi ke Depo Pelestarian Lingkungan Tzu Chi Duri Kosambi. Di depo ini ia memperbaiki barang-barang elektronik bekas yang sudah rusak dan dibuang pemiliknya. Dengan keterampilannya, barang-barang bekas ini bisa digunakan kembali. “Setelah diperbaiki nilai jualnya jadi lebih tinggi ketimbang kita jual ke pengepul dalam kondisi rusak,” terang Johnny.

Pelan tapi pasti, kesibukan di Depo Pelestarian Lingkungan membuat Andi bisa sejenak melupakan “kekurangan” dirinya. Dan di sini pula ia bisa merasakan kelebihan yang dimilikinya. Sedikit demi sedikit kepercayaan dirinya pun tumbuh.  Inilah yang diharapkan relawan Tzu Chi, agar Andi dapat bangkit dan pelan-pelan bisa mandiri.

Beradaptasi dengan “Kaki Baru”

Enam bulan pasca operasi, luka kaki Andi mulai mengering. Dokter menyarankan agar ia berlatih menggerakkan kedua kakinya untuk menghindari pengapuran tulang. “Bagaimana saya belajar jalan dokter, kaki kanan saya kan nggak ada,” keluhnya kala itu. Karena takut terkena pengapuran tulang, Andi bersama istri berinisiatif membuat kaki palsu sendiri dengan menggunakan paralon, melapisinya dengan busa, dan dipasang ke sepatu yang sudah tidak terpakai. “Lumayan tuh kaki palsu buatan sendiri, saya paksain aja walaupun sangat sakit,” kata Andi.  Namun karena tak tahan dengan rasa sakitnya, kaki palsu buatan sendiri itu akhirnya hanya terpakai selama dua bulan saja.

Kehadiran relawan Tzu Chi buat Andi sebagai tempat banyak belajar kehidupan manusia. Andi berterima kasih kepada relawan Tzu Chi yang selama ini mendampingi mentalnya dan juga keluarganya yang sempat terpuruk.

Relawan Tzu Chi kemudian mencoba mendampingi Andi untuk mendapatkan kaki palsu melalui Yayasan Peduli Tuna Daksa (YPTD) di kawasan Sunter, Jakarta Utara. Kebetulan yayasan ini memang membantu para penyandang tunadaksa melalui pemberian bantuan kaki palsu (protesa) dan tangan palsu secara gratis kepada mereka yang tidak mampu.

Proses pengajuan dan pembuatan kaki palsu Andi sangat singkat. Pembuatannya pun hanya membutuhkan waktu dua hari saja. Kaki palsu yang pertama sempat kelonggaran dan kepanjangan hingga ia merasa kurang nyaman. Setelah diukur kembali lalu diperbaiki, keesokan harinya Andi sudah bisa latihan berjalan dengan kaki palsunya.

Hanya butuh waktu 3 hari bagi Andi untuk belajar berjalan dengan kaki palsunya. Tekadnya yang kuat agar bisa cepat beraktivitas membuatnya cepat beradaptasi dengan “kaki” barunya. Terasa sakit awalnya di bagian bawah dan bagian dengkul karena terjepit dan tidak bisa berjalan leluasa. “Saya ingin cepat bisa kerja lagi, cuma masih pikir peluang kerja apa yang bisa saya kerjakan dengan kondisi kaki seperti ini,” kata Andi yang dulunya bekerja sebagai tenaga marketing perusahaan pembuatan mesin-mesin pabrik.

Sebelum kecelakaan terjadi, Andi adalah tulang punggung dari 2 keluarga, keluarga orang tuanya dan keluarganya sendiri. Mamanya berjualan gado-gado dan rujak buah di rumah. Ayahnya sendiri tidak bisa bekerja lagi karena sudah tua dan penglihatan yang buruk. Ketika relawan Tzu Chi berkunjung, Andi sedang duduk di lantai beralaskan bantal di ruang tamu. Kedua orang tua Andi dengan senang hati menyambut kedatangan relawan Tzu Chi. Herniwati dan Johnny, relawan Tzu Chi yang mendampingi Andi juga gembira melihat Andi sedikit gemuk.

Wahhh gemukan kamu, Ndiii…,” sapa Johnny.

Iyaa gimana nggak gemuk, makan tidur…,makan tidur ajah…,” celetuk Ibu Andi sambil tertawa.

Cepat pulihnya kedua kaki Andi berkat dukungan penuh dari istri dan kedua orang tuanya. “Makanya saya pengen buru-buru bisa jalan, sakit-sakit tetap saya paksa belajar jalan dengan kaki palsu ini, pengen cepet-cepet kerja. Sekarang kebutuhan sehari-hari dari hasil Mama jualan gado-gado aja,” jelas Andi. Berharap bisa segera menanggung hidup keluarga, dengan tabah Andi menghadapi rasa sakit, perih dan resiko luka kembali saat berlatih kaki palsunya.


Andi, yang aktif di Depo Pelestarian Lingkungan Tzu Chi Duri Kosambi ikut berpartisipasi dalam Pekan Amal Tzu Chi dengan menjaga stan depo yang menjual barang-barang elektronik secondary hasil reparasinya.

Selain itu Andi juga sudah mulai berani menerima jasa perbaikan (service) peralatan elektronik di rumahnya, seperti kipas angin, TV, tape, radio, setrika, dan lainnya. Keterampilan memperbaiki peralatan elektronik ini didapatkan Andi secara otodidak dari saudaranya. Hasilnya lumayan, ia bisa memperbaiki kipas angin, speaker aktif, tape, DVD player, gulung dynamo, dan lainnya. Setelah mahir barulah Andi memberanikan diri untuk menerima service di di rumahnya.

Selain belajar memperbaiki peralatan elektronik, Andi juga harus berjuang dengan keterbatasan dirinya. Ia harus beradaptasi dari awal lagi dengan kondisi tubuhnya yang baru ini. “Pokoknya segala posisi saya harus adaptasi lagi, karena posisi duduk dan berdiri memang terasa ada yang beda,” ungkapnya.

Di sinilah ia senang karena relawan Tzu Chi rutin berkunjung ke rumahnya. “Seneng bener sudah dibantu biaya hidup saya, kan saya sudah nggak kerja lagi. Jika sedang ada kesulitan saya juga langsung sampaikan sama relawan Tzu Chi, bisa tukar pikiran,” ujar Andi.

Apa yang dilakukan relawan Tzu Chi membuatnya ingin ikut berbuat kebajikan. Salah satunya dengan mengikuti kegiatan Pekan Amal Tzu Chi pada bulan April 2018. Di sana Andi menjaga stan yang menjual barang-barang elektronik dari Depo Pelestarian Lingkungan Tzu Chi Duri Kosambi yang sudah diperbaikinya. Ada kipas angin, jam dinding, setrika, mixer, bohlam, dan barang-barang elektronik lainnya.

Duduk di kursi di depan stan Depo Kosambi, Andi penuh antusias melayani setiap pengunjung yang mampir. Meski barang-barang yang dijajakan terbilang second, ia tetap mengutamakan kualitas barang. Sebelum diserahkan, Andi selalu mengetes untuk memastikan ke pembeli kalau barangnya benar-benar berfungsi. Harganya pun bervariasi. Kisaran 40.000 hingga 120.000 rupiah tergantung jenis dan nilai barang tersebut.

Penulis dan fotografer: Anand Yahya

Artikel dibaca sebanyak : 144 kali


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Beramal bukanlah hak khusus orang kaya, melainkan wujud kasih sayang semua orang yang penuh ketulusan.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat