Kamis, 15 November 2018
Indonesia | English

Toleransi Berbalut Nilai-Nilai Kehidupan Beragama


Rombongan dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) didampingi oleh Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Liu Su Mei  dan beberapa relawan komite dari Indonesia mengunjungi Kantor Pusat Tzu Chi di Hualien, Taiwan.

“Tzu Chi tidak membeda-bedakan agama, semua mendapatkan perlakuan (bantuan) dan fasilitas yang sama entah itu beragama Buddha, Islam, atau agama yang lainnya.”   (Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Said Aqil Siroj).

Tzu Chi masuk ke Indonesia dengan membawa nilai-nilai toleransi dan keberagaman. Sejak kehadirannya Tzu Chi juga menjalin kerja sama dengan berbagai organisasi masyarakat dan keagamaan di Indonesia. Bentuk kerja samanya terwujud dalam berbagai hal, seperti pendidikan, bantuan kemanusiaan, kesehatan, dan berbagai hal lainnya. Intinya adalah Tzu Chi mengusung semangat cinta kasih universal, membantu masyarakat yang membutuhkan tanpa membeda-bedakan suku, agama, ras, dan golongan.

Toleransi beragama inilah yang akhirnya merajut simpul Tzu Chi dengan salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara yaitu Nahdlatul Ulama (NU). Kedua organisasi berbasis agama ini mulai menjalin tali persahabatan sejak tahun 2015. Saat itu relawan Tzu Chi diundang untuk hadir pada acara sharing Misi Tzu Chi dan masa celengan bambu di Madrasah Tebuireng, Jombang, Jawa Timur yang didirikan oleh tokoh NU, KH. Hasyim Asy'ari.

Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi Islam yang didirikan oleh KH. Hasyim Asy'ari pada 31 Januari 1926 di Jombang, Jawa Timur. NU menganut paham Ahlussunah Waljama’ah, sebuah pola pikir yang mengambil jalan tengah antara ekstrem aqli (rasionalis) dengan kaum ekstrem naqli (skripturalis). Sumber pemikiran bagi NU tidak hanya Al-Quran, tetapi juga menggunakan kemampuan akal ditambah dengan realitas empirik.

Organisasi NU mengikuti pendirian bahwa, Islam adalah agama yang fitri, yang bersifat menyempurnakan segala kebaikan yang sudah dimiliki manusia. “NU didirikan dengan cita-cita untuk membentuk atau memperkuat persaudaraan sesama umat Islam (Ukhuwah Islamiah), kemudian persaudaraan sesama sebangsa atau setanah air (Ukhuwah Watoniah), dan puncaknya adalah persaudaraan sesama umat manusia, Ukhuwah Insaniah. Jadi NU ini tidak ada sedikit pun untuk radikal. Semua saudara, baik itu Muslim atau non Muslim, warga Indonesia maupun orang luar negeri, semua saudara kita,” ungkap Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Said Aqil Siroj.

Kemudian pada bulan Maret 2018, KH. Said Aqil Siroj beserta para pengurus PBNU berkesempatan untuk mengunjungi Tzu Chi Center di Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. Kegiatan kunjungan ini sebagai perpanjangan jalinan jodoh yang sudah terjalin. Komunikasi serta interaksi yang baik saat kunjungan ke Tzu Chi Center ini pun berujung pada perjalanan mengunjungi Kantor Pusat Tzu Chi di Hualien, Taiwan.

Pertemuan Dua Tokoh Agama Dunia


Wakil Pimpinan Rumah Sakit Tzu Chi Taipei, Xu Rongyuan mendampingi rombongan dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)  saat melakukan kunjungan ke unit budaya humanis dan pengobatan rumah sakit.

Pada 17-19 April 2018, KH. Said Aqil Siroj beserta rombongan dari PBNU mengunjungi Rumah Sakit Tzu Chi, DAAI TV di Taipei, Taiwan, serta mengunjungi Aula Jing Si di Hualien untuk bertemu pendiri Tzu Chi,  Master Cheng Yen. Mereka didampingi relawan Tzu Chi Indonesia, Hong Tjhin dan Alwin Scorp.

Di hari pertama, rombongan dari PBNU mengunjungi Rumah Sakit Tzu Chi di Taipei. Pihak rumah sakit menayangkan video dalam bahasa Inggris untuk menjelaskan sejarah rumah sakit dan konsep bangunan Rumah Sakit Tzu Chi yang ramah lingkungan. Wakil Pimpinan Rumah Sakit Tzu Chi Taipei, Xu Rongyuan mendampingi rombongan melakukan kunjungan ke unit budaya humanis dan pengobatan rumah sakit serta menjelaskan jika setengah dari jumlah pasien rawat inap di Rumah Sakit Tzu Chi Taipei adalah warga berpenghasilan rendah. Mendengar hal ini, Said Aqil mengatakan jika semangat cinta kasih universal Rumah Sakit Tzu Chi merupakan lambang kemanusiaan.

Setelah itu, Said Aqil beserta rombongan mengunjungi DAAI TV yang merupakan Pusat Badan Misi Budaya Humanis Tzu Chi. Susan Yeh, CEO DAAI TV menjelaskan tentang arti dari DAAI yang adalah cinta kasih tanpa pamrih yang melintasi agama, suku dan bangsa. Dalam kesempatan itu, Susan Yeh dan Said Aqil pun saling bertukar suvenir. “Suvenir ini mewakili niat tulus dari 91 juta anggota NU,” Kata Said Aqil.

Dari DAAI TV, rombongan PBNU kemudian mengunjungi Tzu Chi University. Di sini, Said Aqil melihat program-program studi yang diberikan Tzu Chi kepada para mahasiswanya khususnya dalam bidang kedokteran. Setelah mendapatkan penjelasan, Said Aqil tertarik dengan salah satu program Tzu Chi University yaitu Silent Mentor. Program ini merupakan donasi tubuh yang dilakukan oleh para insan Tzu Chi yang telah meninggal dunia dengan tujuan sebagai media praktik bedah yang nyata bagi para mahasiswa kedokteran di Tzu Chi University.

Said Aqil juga mengapresiasi keberadaan mahasiswa-mahasiswa dari Indonesia di universitas tersebut. Bukan tanpa sebab, apresiasi yang diungkapkan oleh Said Aqil karena mahasiswa-mahasiswa tersebut bukan hanya mereka yang beragama Buddha saja, tetapi mahasiswa yang beragama Islam juga ikut menuntut ilmu di sana. Selain itu para mahasiswa dari Indonesia juga mendapatkan beasiswa dari Tzu Chi karena berprestasi. “Tzu Chi tidak membeda-bedakan agama, semua mendapatkan perlakuan dan fasilitas yang sama entah itu beragama Buddha, Islam, atau agama yang lainnya,” kata Said Aqil.

Saat Aqil Siroj bertemu dengan Master Cheng Yen, beliau menyampaikan kesan dan harapannya. “Kami berharap dapat seperti Yayasan Buddha Tzu Chi, menciptakan kedamaian di dalam masyarakat, juga mengharapkan ada kesempatan bekerja sama dengan Tzu Chi dalam mewujudkan hal hal yang bermanfaat bagi masyarakat Indonesia,” kata Said Aqil. Master Cheng Yen menyambut hangat hal ini dan mengatakan jika Tzu Chi sudah berada di Indonesia selama 20 tahun lebih. “Saya berterima kasih kepada masyarakat Indonesia yang menerima Tzu Chi dengan penuh toleransi.

Selanjutnya Master Cheng Yen mengatakan, “Setiap orang hendaknya dapat saling menghormati, agama apapun semuanya memiliki cita-cita luhur, hanya saja pemikiran dari pemeluknya ada yang menyimpang. Masyarakat Indonesia hidup dengan aman tenteram, serta  memiliki agama yang penuh dengan cinta kasih. Hal ini membuat saya sangat salut dan kagum. Agama Islam adalah agama yang mendunia, dan Tzu Chi juga selalu bekerja sama dengan umat Islam di banyak tempat.”

Master Cheng Yen juga menjelaskan jika relawan Tzu Chi berasal dari berbagai agama yang berbeda-beda, tetapi semuanya mempunyai arah dan tujuan yang sama. Pertama-tama, insan Tzu Chi menjadikan Sila sebagai sistim, bila memiliki cinta kasih maka dengan sendirinya akan tertib dan dengan ikhlas bergabung sebagai relawan. Jika di dalam hati ada cinta kasih dan selalu bersikap tulus, maka akan sama seperti agama Islam.

Kedua mengunakan cinta kasih sebagai manajemen agar setiap orang bersumbangsih dengan tulus. Selain itu, diperlukan juga konsep pelestarian lingkungan, karena jika tidak ditangani dengan serius masalah melestarikan lingkungan akan menjadi masalah yang sangat serius. Selain itu, perlu lebih banyak menghimbau dan melakukan sosialisasi tentang pelestarian lingkungan.

Dalam hal ini populasi penduduk Taiwan 20 juta jiwa lebih, sedangkan jumlah penduduk Indonesia 10 kali lipat dari Taiwan, jika Indonesia menerapkan konsep pelestarian lingkungan, seluruh dunia akan dapat menyaksikannya. Semua orang akan lebih banyak membantu untuk menerapkan pelestarian lingkungan di Indonesia, asalkan pemilahannya dilakukan dengan baik, maka sampah akan berubah menjadi sumber daya, hal ini merupakan bantuan yang sangat besar bagi dunia.


Wakil Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Sugianto Kusuma dan Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siroj menadatangani kerja sama yang disepakati dalam bidang  pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, pelestarian lingkungan, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Berbagai jalinan jodoh ini pun berbuah manis. MoU kerja sama dalam bidang bencana alam, pendidikan, dan kesehatan antara Tzu Chi dan PBNU ditandatangani oleh Ketua PBNU KH. Aqil Siroj dan Wakil Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Sugianto Kusuma dalam acara Peringatan Dharmasanti Waisak Nasional 2018 yang digelar di Aula Jing Si Lt. 4, Tzu Chi Center, pada Senin, 4 Juni 2018. Penandatanganan MoU ini juga disaksikan oleh Stephen Huang, CEO Tzu Chi Internasional, para Biksu dan Sangha, para tokoh dari berbagai agama di Indonesia serta para tokoh masyarakat.

Wawancara Khusus dengan KH. Said Aqil Siroj:

KH. Said Aqil Siroj sebagai pemimpin NU merupakan sosok cendikiawan Muslim yang memiliki latar belakang agama yang kuat, dan selalu memperjuangkan Islam di berbagai aspek. Laki-laki kelahiran Cirebon, 3 Juli 1953 ini memiliki latar belakang akademis yang luas dan terbuka dalam ilmu Islam. Hal ini yang membuat orang nomor satu di PBNU ini untuk berdakwah sekaligus bersinergi bersama organisasi-organsasi Islam lainnya dan menjunjung kerukunan beragama dengan organisasi-organisasi keagamaan lainnya.

KH. Said Aqil Siroj pernah dinobatkan Royal Islamic Strategic Studies Center sebagai tokoh Islam yang berpengaruh di seluruh dunia peringkat ke-20 dari 500 tokoh. “Sebuah agama tidak ada artinya jika tidak bersumbangsih untuk kemanusiaan, dan Tzu Chi adalah sebuah organisasi yang bersumbangsih untuk kemanusiaan,” kata Aqil Siroj. 

Berikut rangkuman wawancara DAAI TV dan Tim Redaksi Majalah Dunia Tzu Chi dengan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Said Aqil Siroj:

Sebenarnya kegiatan-kegiatan NU sendiri itu seperti apa?

Nahdlatul Ulama bukan organisasi politik, bukan organisasi profesi, tapi organisasi masyarakat di bidang agama, pendidikan, kesehatan, dan dakwah Islam. Agenda-agenda ini oleh para kyai-kyai dari tingkat ranting hingga pusat setiap hari didakwahkan.

Apa tujuan Pak Kyai berkunjung ke Tzu Chi Taiwan?

Yang pertama adalah Silaturrahim atau tatap muka itu sangat penting. Jadi itu ajaran dalam Islam. Yang kedua adalah Silaturafka, menyamakan persepsi, dan yang ketiga adalah Silaturamal, membangun jaringan kerja sama, serta yang ke empat adalah Silatur ruh, menyambung spiritual. Jadi kami berkunjung ke Taiwan (Tzu Chi) itu tentunya ingin bersilaturahim, tapi yang kita harapkan ada tindak lanjut kerja sama. Selain itu ya menyamakan persepsi, menyambung spiritual.

Jika berbicara tentang Master Cheng Yen, beliau membangun Tzu Chi dengan menggabungkan Buddhisme dan Humanisme. Apakah konsep humanisme ini cocok diterapkan dalam Islam ?

Ya, jelas. Islam itu agama kemanusiaan, agama Tamadun (masyarakat yang mempunyai peradaban). Tzu Chi sudah menunjukan bahwa kemanusiaan sebagai panglima. Jika sebuah organisasi hanya dalam paparan simbol-simbol kemanusiaan itu belum menyentuh nilai-nilai kemanusiaan yang sebenarnya, hanya harmonis dan toleransi saja. Tapi kalau sudah menjadi humanis itu jika ada yang susah kita hibur, ada yang repot kita bantu, ada yang membutuhkan kita datangkan kebutuhannya, tidak ada yang dibedakan.

Apakah ada persamaan antar NU dengan Tzu Chi?

Ya sama. Kita membantu fakir miskin dan masyarakat kecil. Kita juga membangun masyarakat agar berpendidikan, agar tidak kelaparan, agar memiliki tempat tinggal. Itu adalah nilai-nilai Islam yang diajarkan Nabi Muhammad SAW. Jadi dasarnya adalah Ittaam (pangan), Iksa (sandang), Iskan (papan) dan kalau ada orang yang peduli dengan tiga hal itu (sandang, pangan, papan) berarti Islami. Jadi kalau Tzu Chi melakukan kepedulian itu berarti sangat-sangat cocok dengan ajaran dan nilai-nilai Islam.

Apa pendapat Pak Kyai tentang Tzu Chi dan adakah saran supaya Tzu Chi bisa besar seperti NU?

Yang harus besar bukanlah jumlahnya, tapi adalah berkahnya, manfaatnya, peranannya. Jadi kalau bekerja sama dengan NU kita punya massa yang besar, dan Tzu Chi yang punya strategi, manajeman, dan metode bagaimana memberikan bantuan. Utamanya adalah membangun masyarakat yang cerdas, bermartabat. Jadi intinya bagaimana membangun masyarakat yang berpendidikan, sehat, berkecukupan, dan sejahtera.

Upaya apa yang dilakukan untuk mencegah tindakan radikalisme dan intoleransi agama di Indonesia?

Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan, terlebih lagi hingga menyebarkan kebencian dengan agama lain. “Kami di NU tidak bosan-bosan, tidak henti-hentinya menyampaikan ajaran Islam yang sebenarnya itu anti kekerasan, anti radikalisme, dan terorisme. Kita selalu menyampaikan hal tersebut dari tingkat ranting, cabang, wilayah, hingga pusat. Kita terus berjuang dan melakukan hal itu,” tegas Said Aqil.


Penulis: Tim Redaksi Tzu Chi

Artikel dibaca sebanyak : 630 kali


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Semua manusia berkeinginan untuk "memiliki", padahal "memiliki" adalah sumber dari kerisauan.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat