Rabu, 12 Desember 2018
Indonesia | English

Relawan Tzu Chi Medan: Desnita

Jangan Takut Mengambil Tanggung Jawab

10 Oktober 2018


Awalnya saya di barisan Tzu Chi hanya tahu bersumbangsih, tidak melatih diri. Akibatnya saya sering bersinggungan dengan relawan lain. Saya belajar melatih diri dengan fokus di Misi Pendidikan dan Jing Si untuk menyelami Dharma. 

Jodoh saya dengan Tzu Chi terjalin diakhir tahun 2002. Kala itu saya diundang oleh teman yang sama-sama belajar karate yaitu Phei Fen untuk mengikuti gathering yang diadakan di sebuah toko keramik. Saat itu saya tidak tahu tujuan gathering itu, saya hanya tahu diundang sebuah yayasan yang berbuat kebajikan.

Gathering ini diadakan karena di Medan belum ada Yayasan Buddha Tzu Chi, namun ada beberapa pasien di Medan yang dikirim ke Penang, Malaysia. Relawan Tzu Chi Penang yang membantu penanganan pasien kasus ini. Mereka juga sering memberikan perhatian kepada kami (relawan kembang), kemudian relawan Tzu Chi Jakarta memberi motivasi agar Tzu Chi ada di Kota Medan.

Dalam gathering itu, saya merasa kehangatan dari relawan Tzu Chi. Inilah yang mendorong saya  bergabung dalam barisan Tzu Chi. Saya mulai ikut kegiatan yang diadakan Tzu Chi Medan. Kegiatan pertama yang saya ikuti adalah kunjungan kasih ke Panti Jompo Hisosu di Binjai. Selama kunjungan kasih ini kehangatan yang diberikan relawan makin terasa. Relawan Tzu Chi Jakarta juga terus memberi bimbingan, sehingga menambah keyakinan saya untuk bergabung di Tzu Chi.

Makin hari saya semakin tertarik mengikuti kegiatan Tzu Chi. Saya ikut bersumbangsih lagi di  baksos kesehatan di Kantor Tzu Chi di kompleks Cemara Asri, Medan. Baksos saat itu sekitar seribu pasien yang datang. Adanya kegiatan besar ini saya banyak belajar dari relawan Tzu Chi Taiwan, Shu Hui Shijie dan beberapa relawan Tzu Chi Jakarta seperti Lulu Shijie dan Chandra Shixiong.

Ditahun 2003 saya mendapatkan tanggung jawab di bidang kegiatan. Saat itu Tzu Chi Medan membangun gedung Sekolah Dasar Negeri Belawan. Kondisi sekolah selalu tergenang jika air pasang, sehingga anak-anak tidak sekolah. Namun ketika Tzu Chi ingin membantu, ada rasa takut untuk memulainya. Warga Belawan tidak menerima kehadiran etnis Tionghoa, sehingga tidak ada orang Tionghoa yang berani ke sana. Ini tantangan bagi saya. Dengan berbekal cinta kasih dari Master Cheng Yen, perlahan-lahan kami mengetuk hati mereka. Tidak hanya bantuan pembangunan sekolah, relawan juga sering mengajarkan anak-anak isyarat tangan. Melihat ketulusan relawan Tzu Chi, warga sekitar mulai menerima Tzu Chi.

Di tahun yang sama saya ikut pembagian beras sebanyak 7.500 ton untuk masyarakat Belawan, Aceh, Nias dan Sumatera. Ketika Aceh dilanda tsunami 2004, saya bersama relawan Tzu Chi berangkat ke Aceh. Kondisi Aceh begitu mencekam. Meski begitu kami membantu membersihkan rumah sakit untuk menolong korban yang selamat.

Tahun 2009-2010, saya mengemban tanggung jawab di Misi Amal. Dan tahun 2012 saya dipercaya untuk menjadi Wakil Hu Ai. Karena saat itu saya hanya tahu bersumbangsih dengan segenap hati tetapi tidak melatih diri maka saya sering emosional dalam menghadapi masalah, sehingga banyak menjalin jodoh tidak baik dengan sesama relawan. Menyadari hal ini saya belajar mengubah sifat buruk saya dengan fokus di Misi Pendidikan dan Jing Si untuk menyelami Dharma. 

Selama enam tahun saya belajar melatih diri untuk mengubah sifat buruk saya. Saya bersyukur bisa bergandengan tangan lagi dengan relawan Tzu Chi. Diakhir 2017, saya mendapatkan kepercayaan dan tanggung jawab sebagai Ketua He Qi Cemara. Saya juga berharap kepada seluruh relawan Tzu Chi agar jangan takut mengambil tanggung jawab walaupun tanggung jawab itu melebihi kemampuan kita karena setiap manusia mempunyai kemampuan yang tidak terhingga.

Seperti yang dituturkan kepada Nuraina Ponidjan (Tzu Chi Medan)

Artikel dibaca sebanyak : 367 kali


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha