Rabu, 16 Januari 2019
Indonesia | English

Relawan Tzu Chi Surabaya: Purwanto

Melatih Diri untuk Pengembangan Diri

14 Desember 2018


“Dari buku Master Cheng Yen yang berjudul Ilmu Ekonomi Kehidupan, banyak intisari (yang bisa dijadikan bahan) untuk pengembangan diri saya.”

Saya adalah seorang perantau yang bekerja di Surabaya. Tiga belas tahun lalu saya mulai bekerja di perusahaan Ang Putra Jaya sebagai office boy, untuk menggantikan pegawai sebelumnya. Setiap kali selesai menjalankan tugas, saya sering ditugaskan untuk mengantar dokumen ke Kantor Tzu Chi Surabaya. Dari sinilah awalnya saya mengenal Tzu Chi.

Saya semakin mengenal Tzu Chi dari Bapak Agus, seorang supir di Kantor  Tzu Chi Surabaya. Pak Agus sering parkir di tempat saya bekerja dan banyak bercerita tentang Tzu Chi dan kegiatan-kegiatan kemanusiaannya kepada saya. Dari sini kemudian saya tertarik ikut bergabung menjadi relawan.

Pada tahun 2006, Tzu Chi Indonesia membantu para korban bencana gempa di Bantul, Yogyakarta. Di situlah awal saya semakin dekat dengan Tzu Chi.  Disela-sela tugas saya sebagai karyawan, saya memutuskan untuk menjadi relawan Tzu Chi. Kegiatan yang pertama saya ikuti adalah kegiatan donor darah di Dukuh Kupang, Surabaya.

Di tahun 2011, saya ikut membagikan sembako bagi masyarakat kurang mampu di wilayah Perak, Surabaya bersama muda-mudi Tzu Chi (Tzu Ching). Saya juga sangat dekat dengan para penerima bantuan jangka panjang Tzu Chi (Gan en Hu) hingga ada yang menganggap saya seperti anak sendiri. Saking dekatnya, mereka sudah tidak sungkan lagi untuk menceritakan masalah kesehatan dan kondisi keluarga mereka.

Di wilayah Perak, muda-mudi Tzu Chi (Tzu Ching) sangat banyak dan aktif berkegiatan. Saya sering berkegiatan bersama Tzu Ching, mulai dari pembagian sembako, baksos kesehatan, tanggap darurat, dan kunjungan kasih ke panti asuhan. Dalam kegiatan terkadang ada sedikit gesekan dan perbedaan pendapat, tapi saya anggap itu sebagai ladang pelatihan diri  untuk saya.

Pada tahun 2016, saya berkesempatan mengikuti Training 4 in 1 di Jakarta. Selama 2 hari saya mengikuti training penanganan bagi korban bencana (tanggap darurat) yang membuat saya kemudian aktif terlibat dalam Tim Tanggap Darurat Tzu Chi Surabaya. Pertama kali menjadi relawan tanggap darurat adalah ketika terjadi bencana longsor di Ponorogo Madiun. Saya bangga sekaligus terharu karena dapat menyalurkan bantuan langsung kepada para korban bencana. Saat relawan Tzu Chi melakukan survei ke rumah-rumah penduduk, salah satu rumah yang dikunjungi itu adalah rumah seorang gadis yang saat ini menjadi pendamping hidup saya, dan Ibu dari anak-anak saya.

Sejak menikah saya sering mengajak istri untuk ikut kegiatan Tzu Chi, terutama bagi sembako. Selain mengenalkan Tzu Chi, saya juga ingin menunjukkan bahwa penerima bantuan juga bisa bersumbangsih (sesuai kemampuannya) melalui  celengan bambu. Saya sangat bersyukur karena istri dan keluarga saya sangat mendukung saya di Tzu Chi.

Menjadi relawan Tzu Chi haruslah serba bisa,  tidak hanya di misi amal yang saya tekuni. Di sinilah nilai positifnya bagi saya, banyak hal yang bisa saya  pelajari dan lakukan di Tzu Chi. Salah satunya adalah gerakan isyarat tangan (Shou Yu). Setiap ada kegiatan Tzu Chi atau pementasan selalu menampilkan gerakan isyarat tangan. Saya sering ditugaskan untuk melatih gerakan isyarat tangan ke relawan yang baru bergabung. Tugas ini menjadi ladang melatih kesabaran diri.

Saya juga mendalami Dharma dengan membaca buku-buku Master Cheng Yen. Salah satunya buku Ilmu Ekonomi Kehidupan. Dari buku ini, banyak intisari (yang bisa dijadikan bahan untuk pengembangan diri saya. Master Cheng Yen mengatakan, walaupun kita berumur panjang, tetapi jika tidak dimanfaatkan dengan benar maka akan sia-sia. Jangan sampai kita hidup hanya menanam karma buruk. Justru kita harus terus menanam karma baik dalam hidup ini.

Setelah hampir 12 tahun menjadi relawan, saya bertekad untuk menjadi murid Master Cheng Yen yang baik. Bersyukur sekali pada 11 November 2018 saya bisa dilantik Komite oleh Master Cheng Yen di Hualien Taiwan. Saya merasa senang sekaligus sedih. Senang bisa bertemu banyak relawan dari penjuru dunia, dan banyak belajar dari pengalaman mereka. Namun saya juga sedih, di usianya yang sudah sepuh, Master Cheng Yen masih sangat bersemangat memperhatikan umat manusia di dunia namun, tetapi saya yang masih muda justru merasa belum melakukan apa. Dari sini saya bertekad untuk lebih berani mengemban tanggung jawab, menyebarkan cinta kasih dan mewariskan ajaran Master Cheng Yen.

Seperti yang dituturkan kepada Eka Suci R (Tzu Chi Surabaya)

Artikel dibaca sebanyak : 140 kali


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha