Sabtu, 08 Agustus 2020
Indonesia | English

Rita Malia Widjaja: Relawan Tzu Chi Tangerang

Menjadi Lebih Bersyukur dan Bervegetaris

24 Juli 2020


“...Saya mendengar ceramah Master Cheng Yen dan sharingsharing dari relawan. Dari situ lah saya mulai belajar apa itu arti berteman, dan bersyukur. ...”

 

Awal saya mengetahui Tzu Chi saat saya diajak suami saya menonton channel TV baru yaitu DAAI TV. Ada yang berkesan saat menonton DAAI TV pertama kali. Saya menyaksikan sosok laki-laki tua yang kehidupannya sangat sederhana namun dengan senang hati mengumpulkan botol-botol bekas untuk diberikan ke depo daur ulang Tzu Chi, bukan dijual untuk keuntungan sendiri. Dari tayangan itu saya melihat bahwa meskipun laki-laki tua itu orang kecil tapi peduli akan kepentingan orang banyak. Dia menyadari arti kehidupan. Hal ini membuat saya tertarik kepada Tzu Chi.

Saya lalu mengirimkan data diri saya ke email yang tertera di akhir tayangan. Setelah beberapa waktu menunggu, kemudian ada relawan Tzu Chi yang menghubungi saya dan memberi tahu bahwa ada kegiatan sosialisasi Tzu Chi.

Setelah mengikuti pelatihan selama 2 jam itu mata hati saya terbuka saat seorang relawan sharing tentang perjalanan dia mendampingi para penerima bantuan. Karena itulah, sejak awal saya tertarik di misi amal dan bergabung di Tzu Chi pada Februari 2009.

Saya berminat di misi amal karena bisa langsung melihat kondisi kehidupan penerima bantuan dan bisa turut membantu. Terkadang saya mendampingi pasien di rumah sakit saat kontrol atau berobat. Dengan ikut merasakan kesulitan mereka, membuat saya lebih mensyukuri hidup ini dan menerima apa adanya.

Sebelum mengenal Tzu Chi, saya adalah sosok yang tertutup dan tak pandai bergaul. Saya lebih senang berbicara pada cermin karena merasa ada teman yang bisa diajak berbagi cerita. Saya juga kerap merasa hidup ini seperti numpang lewat saja. Sekolah dari kecil sampai besar, lalu kuliah, bekerja, menikah, membesarkan anak, menjadi tua dan meninggal.

Di awal berkegiatan di Tzu Chi tetap terasa ada yang kosong di hati saya. Bila ada gesekan, saya berusaha menghindar. Tapi saya pikir sampai kapan saya selalu lari dari masalah. Untungnya selama berkegiatan di Tzu Chi saya senang ikut pelatihan baik itu sosialisasi ataupun pelatihan relawan dimana saya mendengar ceramah Master Cheng Yen dan sharing-sharing dari relawan. Dari situlah saya mulai belajar apa itu arti berteman, dan bersyukur.

Hal yang sangat berkesan yaitu saat saya dilantik menjadi Komite di Hualien pada 16 November 2017 lalu. Campur aduk antara senang dan sedih, merasa terharu dan membuat saya menangis. Sejak saat itu saya janji bahwa saya akan bervegetarian seumur hidup saya.

Kata perenungan Master yang paling saya ingat adalah “Dua hal yang tidak dapat ditunda yaitu berbakti kepada orang tua, dan melakukan kebajikan”. Karena hal itu, sudah diajarkan oleh orang tua saya sejak masih saya kecil, jadi pas banget dengan ajaran Master. Kami hidupnya sederhana sekali ya. Jadi kami dididik harus benar-benar membantu orangtua. Pada saat makan malam pun kami harus menunggu orang tua pulang dari berdagang, baru kami makan barengbareng.

Saya bersyukur puteri saya, anak kedua, setelah pulang dari Tzu Ching Camp di Hualien mengatakan bersungguh-sungguh kepada saya bahwa dia ingin bervegetarian seumur hidup. Mulanya saya ragu, namun sampai sekarang dia tetap bervegetarian. Itu yang membuat saya yakin, jika saya ingin mengubah orang lain, saya harus mengubah diri saya sendiri dulu. Saya harus tunjukkan bahwa saya berkegiatan di Tzu Chi dengan tujuan untuk menolong semua makhluk, karena itu saya percaya kelak suami dan anak saya yang pertama, kita bisa menjalin jodoh baik di Tzu Chi. Tak ada yang tak mungkin, kalau kita punya niat yang tulus pasti semua itu akan tercapai.

Seperti dituturkan kepada Dini Rantykasari

Artikel dibaca sebanyak : 62 kali


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha