Jumat, 21 Februari 2020
Indonesia | English

Wardi: Relawan Tzu Chi Tebing Tinggi

Mendidik dengan Hati, Membimbing dengan Cinta

12 Februari 2020


Ketika kebanyakan orang menghindari para narapidana, Wardi justru tergerak untuk membimbing mereka. Kerja kerasnya tak sia-sia. Beberapa di antaranya kini menjalani hidup dengan baik selepas menjalani masa hukuman. Menurut pria yang sudah 40 tahun lebih menjadi guru ini, mengubah orang baik menjadi lebih baik adalah hal biasa, tetapi mengubah orang jahat menjadi orang baik adalah luar biasa.

Mengenal Tzu Chi sejak tahun 2009, Wardi awalnya belum tertarik mengikuti kegiatan-kegiatan sosial Tzu Chi. Ketika Pinnie Johan, rekannya di wihara mengajaknya, ayah tiga anak ini mengelak. Ada saja alasannya. Mulai dari sibuk kerja, sedang kurang sehat, hingga tugas keluar kota.

Hati suami Tjong Kwai Hiok ini mulai tertarik dengan Tzu Chi selepas menonton DAAI TV. Dari mata turun ke hati, hal ini yang terjadi pada ayah dari Elin Juwita, Vivin Juwita, dan Erik Wardi ini. Hati pria kelahiran tahun 1956 ini tersentuh ketika mengenal Master Cheng Yen dari program Lentera Kehidupan. Kebijaksanaan dan welas asih pendiri Tzu Chi membuatnya tersentuh. Wardi pun mulai ikut kegiatan Tzu Chi di Medan. Benih-benih Tzu Chi tumbuh subur dalam dirinya. Dari sekadar ikut, kini tebersit niat untuk mendirikan Tzu Chi di kampung halamannya, Tebing Tinggi.

Mulailah Wardi mengajak teman-temannya, Pinnie Johan dan Rusli. Gayung bersambut, jika dulu Wardi yang diajak, kini justru ia yang jemput bola. Ketiganya segera menghubungi Tzu Chi Medan untuk mengadakan kegiatan di Tebing Tinggi. Kegiatan pertama adalah donor darah pada 8 Februari 2009 di RSUD Dr. Kumpulan Pane. Momen ini dijadikan Wardi untuk belajar dan menyerap nilai-nilai ajaran Tzu Chi. Ini juga kali pertama baginya menggalang relawan Tebing Tinggi.

Sukses menggalang kegiatan, galang hati kemudian dilakukan. Sebulan kemudian diadakan Tea Gathering untuk memperkenalkan Tzu Chi di Tebing Tinggi. Di luar dugaan, yang hadir cukup banyak, sekitar 350 orang. Masih di bulan yang sama, beberapa calon relawan dari acara Tea Gathering mengikuti sosialisasi relawan. Relawan Tzu Chi Medan begitu antusias memotivasi. Kemudian, pada bulan April 2009, sebanyak 30 orang mengikuti pelatihan relawan (Abu Putih) yang diadakan Tzu Chi Medan.

Seperti air yang terus mengalir, perkembangan Tzu Chi Tebing Tinggi berjalan lancar. Akhirnya, pada bulan April 2009 dibentuk Xie Li Tebing Tinggi dan Wardi dipercaya sebagai ketuanya. “Mengemban tanggung jawab ini membuat saya harus lebih giat terjun ke semua misi,” kata Wardi. Melihat perkembangan relawan Tebing Tinggi begitu cepat dan bersungguh hati maka pada Maret 2011, Tzu Chi Tebing Tinggi dipercaya menjadi Hu Ai. Lagi-lagi Wardi dipercaya untuk menahkodainya. Kegiatan pun semakin berkembang dan luas jangkauannya. Jika dulu Tzu Chi Tebing Tinggi didampingi relawan Tzu Chi Medan, kini giliran mereka yang membina relawan Tzu Chi di Pematang Siantar dan Kisaran.  

Dukungan Penuh Keluarga
Menjadi Ketua Hu Ai Tebing Tinggi dan membina relawan di dua kota kecil lainnya tentu membuat banyak waktu, tenaga, dan pikiran Wardi tersita. Beruntung keluarga mendukung sehingga ia bisa mengemban tanggung jawab ini dengan baik. “Hampir 80% kegiatan sebagai guru saya alihkan ke kegiatan Tzu Chi. Anak dan istri saya sangat mendukung, bahkan mereka juga aktif di Tzu Chi. Saya harus Gan En kepada keluarga yang begitu pengertian,” kata Wardi. Sejak tahun 2018, tanggung jawab sebagai Ketua Hu Ai dipegang Rusli Shixiong, dan Wardi sebagai wakilnya.


Bagi Wardi, Tzu Chi bukan hanya ladang berkah, tetapi juga ladang kebajikan. Menurutnya air Dharma bisa melenyapkan noda batin, mengubah pola pikir, pandangan dan perilaku apabila direnungkan dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Berasal dari dari keluarga Buddhis yang menekuni dunia pendidikan, Wardi dan keluarga sangat aktif di wihara. Kehidupan mereka terbilang sederhana. Untuk menjadi Komite Tzu Chi Wardi harus menunggu hingga 7 tahun. Karena tidak mudah baginya yang tinggal di kota kecil dan memiliki keterbatasan waktu dan finansial. “Kami harus mengikuti pelatihan relawan keluar kota yang membutuhkan banyak waktu dan biaya,” ungkapnya. Setelah melampaui semua keterbatasan dan kendala, akhirnya Wardi dilantik sebagai komite pada tahun 2016. Tiga tahun kemudian, tepatnya 21 Oktober 2019, giliran istri dan kedua anak Wardi dilantik menjadi Komite Tzu Chi. 

Awal mula Wardi bergabung ke Tzu Chi adalah untuk melakukan kebajikan, dengan begitu ia bisa menciptakan berkah. Ternyata Tzu Chi bukan hanya ladang kebajikan, tetapi juga tempat pelatihan diri. “Setelah mengikuti bedah buku dan Xun Fa Xiang, saya baru menyadari di Tzu Chi ada mustika yang lebih berharga, yaitu belajar prinsip kebenaran agar bisa menumbuhkan jiwa kebijaksanaan,” kata Wardi. Menurutnya air Dharma bisa melenyapkan noda batin, mengubah pola pikir, pandangan, dan perilaku manusia apabila direnungkan dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Dan perubahan itu juga terwujud dalam dirinya. “Perubahan terbesar saya adalah bisa mengurangi ego. Sekarang saya lebih sabar dan tabah menghadapi segala kondisi,” ungkapnya.

Membina Warga Binaan
Ketika kebanyakan orang memilih “menjauh” dari Lembaga Pemasyarakatan dan para penghuninya, Wardi justru kebalikannya. Sifatnya sebagai seorang pendidik membuatnya tergerak untuk membimbing mereka. Kerja kerasnya tak sia-sia. Beberapa warga binaan kini sudah menjalani hidup dengan baik selepas menjalani masa hukuman. “Bisa mengubah satu orang jahat menjadi baik berarti berkurangnya satu orang jahat dan bertambahnya satu orang baik di dunia,” tegas Wardi.

Jalinan jodoh Tzu Chi Tebing Tinggi dengan warga binaan Lapas Klas II B Tebing Tinggi bermula dari kunjungan relawan ke Lapas Tebing Tinggi. Relawan merasa tersentuh ketika melihat anak-anak berusia 9-17 tahun yang jumlahnya 25 orang harus menempati sel yang sangat sempit dan tidur beralaskan apa adanya. Kondisinya sangat memprihatinkan. “Kita memberikan 25 buah matras dan bantal. Anak-anak ini sangat gembira menyambut kami,” ungkap Wardi.

Dalam kunjungan ini juga Kalapas memperlihatkan kondisi Cetiya (tempat ibadah umat Buddha) yang memprihatinkan. Dari sini muncul keinginan untuk memperbaikinya. Setali tiga uang, ide ini juga didukung Ketua Tzu Chi Medan, Mujianto dan tokoh-tokoh umat Buddha lainnya. Pembangunan Cetiya Dharma Agung ini dimulai pada 7 Januari 2019 dan diresmikan pada 15 April 2019 oleh Menteri Hukum dan HAM Yasonna H. Laoly.


Sifatnya sebagai seorang pendidik membuat Wardi tergerak untuk membimbing warga binaan di LP Tebing Tinggi.

Hardware sudah dibangun, bagaimana dengan software-nya? “Kami juga mulai tahap pembinaan. Tahap ini paling berat, namun kami harus terus maju, karena kami telah bertekad membimbing warga binaan dengan Dharma, agar setelah bebas mereka bisa menjadi orang yang bermanfaat bagi dirinya, keluarga, dan masyarakat,” tegas Wardi. Seminggu sekali relawan memberikan siraman rohani kepada warga binaan yang beragama Buddha. Ketika Hari Raya Waisak, Tzu Chi Tebing Tinggi juga mengadakan perayaan di Lapas ini agar warga binaan bisa merasakan kesucian Hari Waisak: Membalas Budi Luhur Buddha, Orang Tua, dan Semua Makhluk. Baksos Kesehatan juga diadakan di Lapas Tebing Tinggi ini, mengingat banyak penghuni yang menderita penyakit kulit, THT, dan penyakit-penyakit lainnya. Relawan juga memberikan perlengkapan mandi seperti sabun antiseptik, sikat dan pasta gigi, serta pakaian bekas layak pakai.

Pembinaan tidak hanya di dalam Lapas, saat mereka bebas relawan juga terus mendampingi. “Kami sebagai pengganti keluarga. Mereka juga sangat terharu dan timbul tekad untuk melangkah di jalan yang benar. Bila kita tidak memberi jalan keluar (terang), mereka akhirnya memilih kembali ke jalan yang salah, bahkan bisa menjadi semakin parah,” ungkap Wardi.

Aliang adalah warga binaan Tzu Chi Tebing Tinggi yang pertama bebas. Selain berhasil mengubah jalan hidup Aliang menjadi lebih baik, relawan juga menyatukan kembali ikatan hubungan antara anak dan orang tua yang terputus. Akibat tindak-tanduknya yang membuat malu keluarga, orang tua Aliang sempat memutuskan hubungan. Bahkan ini diumumkan di koran lokal jika keluarga tidak lagi bertanggung jawab atas perbuatan Aliang. Namun, hati orang tua mana yang tak luluh ketika melihat putranya telah berubah dan menjadi sosok anak yang berbakti.

Sekarang orang tua Aliang sangat gembira melihat perubahan anaknya. Dalam acara Doa Bersama Bulan Tujuh Imlek Penuh Berkah yang diadakan Tzu Chi Tebing Tinggi, Aliang melakukan pertobatan dan memohon maaf kepada kedua orang tuanya. Rangkulan penuh kehangatan diberikan kedua orang tua Aliang yang membuat ketiganya tidak bisa membendung air mata.

Selain Aliang, ada 4 warga binaan lainnnya yang telah bebas. Ada yang telah kembali ke keluarganya di luar kota, dan tetap menjalin hubungan dengan relawan. Aliang bahkan kini aktif melakukan pemilahan barang daur ulang di Depo Pelestarian Lingkungan Tzu Chi Tebing Tinggi, ikut Xun Fa Xiang, bedah buku, gathering relawan, baksos kesehatan, dan donor darah. Bulan Oktober 2019 ini Aliang bahkan telah ikut pelatihan relawan Tzu Chi (Abu Putih).

“Semoga mereka (warga binaan) yang telah bebas bisa memulai kehidupan baru yang penuh harapan. Bisa mengubah orang baik menjadi lebih baik adalah hal biasa, tetapi bisa mengubah orang yang jauh tersesat menjadi orang baik adalah luar biasa,” kata Wardi.

Seperti dituturkan kepada Elin Juwita (Tzu Chi Tebing Tinggi) dan Hadi Pranoto

Artikel dibaca sebanyak : 194 kali


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha