Wenny Saari: Relawan Tzu Chi Jakarta
Ladang Berkah yang Tak Pernah Habis di Tzu Chi


“...Di luar sana mungkin banyak tempat berbuat baik, tapi di Tzu Chi ladang berkahnya enggak pernah habis, ada saja terus...”

Saya mengenal Tzu Chi dari kakak saya yang tinggal di Bandung. Dia memperlihatkan sebuah buletin yang memuat sosok Pak Aguan (Sugianto Kusuma, Wakil Ketua Tzu Chi Indonesia). Pak Aguan, seorang yang kaya raya tapi bisa bersumbangsih, turun ke masyarakat, membawa beras dan membagikannya ke masyarakat.

Kakak saya bertanya, kamu mau jadi relawan tidak? Kalau mau tinggal daftar di Jakarta, cari saja di google, tempatnya di mana dan daftar. Dari situlah saya mulai tertarik. Pada September 2009 saya ikut sosialisasi menjadi relawan Tzu Chi, dan benar-benar menjadi relawan pada Januari 2010. Kakak saya saat itu belum jadi relawan tapi kami akhirnya sama-sama menjadi relawan juga.

Sebelumnya saya sebenarnya dalam hati ingin berbuat baik tapi tak tahu ladangnya ada di mana. Saya ingin ikut bersumbangsih di sebuah yayasan sosial kemanusiaan. Akhirnya dipertemukan oleh Tuhan di Tzu Chi, disinilah tempatnya, banyak sekali kegiatan.

Semua Misi Tzu Chi saya ikut, dari Misi Pendidikan, Misi Amal, saya tidak pilih-pilih. Ada kegiatan apa ya saya ikut, lama-lama lebih tertarik di Misi Amal. Kan tujuan Master Cheng Yen mendirikan Yayasan Buddha Tzu Chi ingin menyucikan hati manusia, masyarakat aman dan sejahtera, dan dunia bebas dari bencana. Nah dari situlah saya tergerak hati ingin mengikuti Master Cheng Yen sebagai sosok yang memberikan cinta kasih kepada yang membutuhkan atau yang menderita.

Dari situ saya merasakan bahwa membantu orang itu kita puas, orang bisa bahagia, kita juga mendapat kebahagiaan. Tentunya kalau membantu orang kan tidak cuma kasih lalu sudah, kita juga ingin menyucikan hati dia. Jadi kita bimbing dia supaya hatinya lebih terbuka.

Sebelum menjadi relawan saya cenderung pesimis, gampang marah, tidak sabar. Kalau ketemu masalah sering emosi sendiri, nah setelah bergabung di Tzu Chi, tentunya banyak belajar. Saya kan ikut training, ikut kegiatan, Apalagi Tzu Chi kan tempat melatih diri. Setelah pelatihan yang lama, bertahun-tahun akhirnya saya bisa lebih bersabar, bisa menahan emosi.

Seperti kata Master Cheng Yen, kita kalau bisa memberikan bantuan kepada orang lain, kita menanam yang baik tentu akan mendapat hasil yang baik. Di sinilah saya tertarik untuk mencari ladang berkah terus karena di Tzu Chi banyak sekali yang bisa kita lakukan untuk bantu orang lain. Jadi itulah kenapa saya terus berada di Tzu Chi. Di luar sana mungkin banyak tempat berbuat baik, tapi di Tzu Chi ladang berkahnya enggak pernah habis, ada saja terus.

Bagi saya Master Cheng Yen itu hatinya sangat welas asih. Beliau selalu membantu orang tanpa melihat suku, ras, siapa saja kalau ada yang menderita, harus dibantu. Dengan demikian kami juga mengikuti Master. Jadi sering membantu orang sajalah di mana kita melihat ada penderitaan. Kita terjun ke masyarakat, kita membantu dan kita membimbing orang tersebut karena kalau sakit kan bukan hanya sakit fisik, tapi juga batinnya. Jadi kalau batinnya sehat, tentu dia bisa lebih baik hidupnya dan bisa membantu orang lain juga.

Wejangan-wejangan yang diberikan Master Cheng Yen sangat mengena buat saya, semakin banyak kita berbuat baik, maka semakin besar kebaikan yang akan kita terima. Ladang berkah itu kan diciptakan, kalau kita semakin berbuat, maka ladang berkah itu semakin besar dan tentunya kita akan menuju langkah kehidupan yang lebih baik dan semakin sehat.

Seperti dituturkan Khusnul Khotimah
Keteguhan hati dan keuletan bagaikan tetesan air yang menembus batu karang. Kesulitan dan rintangan sebesar apapun bisa ditembus.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -