Rabu, 20 November 2019
Indonesia | English

Yuli Natalia Cheng: Relawan Tzu Chi Jakarta

Bahagia di Jalan Bodhisatwa

29 Oktober 2019


Siapa sangka di balik senyumnya yang keibuan, Yuli dulunya adalah perfeksionis yang menuntut kesempurnaan dalam banyak hal. Kini setelah 15 tahun menjalani misi pendidikan di Tzu Chi, ia berubah menjadi orang yang bersyukur, berpuas diri, berpengertian, dan bertoleransi.

 

“Besok kita jam 10 geladi, lansong kompur di gan en lo lt.3 ya. Saya arkan siyap nasi unk kita makan sama2. Selasai bisa lansong iku tering lagi. Gan en.”

Bagi orang yang belum terbiasa berkirim pesan dengan Yuli Natalia Cheng, mungkin bingung membaca pesan Whatsapp di atas. Namun di sanalah uniknya seorang Yuli Natalia yang asli orang Taiwan, kuliah di Jepang, dan menikah dengan Abidin Sutio asal Medan. Sejak menikah tahun 1996, ia otomatis ikut suami pindah ke Indonesia. Latar belakang inilah yang membuat bahasa Indonesianya seperti itu.

Lahir di Taipei 48 tahun silam, Yuli adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Ia pun mengenal Tzu Chi sejak tahun 2004. Saat itu diajak menjadi donatur oleh pemilik tempat les anaknya, yaitu Li Qi Ying yang adalah relawan Tzu Chi, asal Taiwan. “Itu pertama kali saya dengar Tzu Chi, walaupun saya orang Taiwan tapi belum pernah dengar Tzu Chi,” kenang Yuli.

Mengetahui dirinya bersama suami bisnis di bidang restoran, Qi Ying lalu mengajaknya berdana makanan untuk bazar yang diadakan di Rusun Cinta Kasih Cengkareng. Ia pun mengiyakan dan ikut jualan selama 2 hari. Saat itulah pertama kalinya ia memasuki pintu kerelawanan dengan seragam abu putih. “Di sana saya lihat ada sepasang suami istri, relawan berseragam biru putih, selama dua hari itu mondar mandir mengelap meja, tapi wajah mereka tersenyum bahagia. Melihat itu saya sangat tersentuh, terharu, juga kagum. Saat itu saya berikrar, suatu hari saya juga mau seperti mereka,” tuturnya dalam bahasa Indonesia bercampur Mandarin dan Hokkian.

Jalan Panjang di Misi Pendidikan
Kiprahnya di Misi Pendidikan Tzu Chi bermula saat diajak Qi Ying bergabung di tim pendidikan untuk memulai Kelas Budi Pekerti Jakarta. Antusiasnya terhadap pendidikan sangat tinggi. Demi memulai kelas, materi dari Taichung dalam bahasa Mandarin selama dua tahun tuntas dipelajarinya dalam tiga hari. “Saya ingat waktu itu melihat materi dengan sangat gembira. Makin lihat, makin tertarik,” ungkapnya. Dari sana ia pun bertekad menceburkan diri dalam misi pendidikan. “Saat itu sama sekali tidak tahu seberat apa tanggung jawab di misi pendidikan. Pemikiran saya sangat polos, saya ngerti mandarin, jika bukan saya, mau tunggu siapa lagi,” tukasnya.

Februari 2006, kelas pertama pun dimulai di Kantor Yayasan Tzu Chi di ITC Mangga Dua Jakarta. Untuk dapat semakin mendalami Misi Pendidikan Tzu Chi, pada Juni 2006 Yuli bersama tim mengikuti training pendidikan di Taiwan. Padahal saat itu ia tengah hamil anak ketiga.


Kecintaan Yuli pada anak-anak terlihat dari ekspresi dan caranya membimbing. Karena memahami pemikiran anak-anak, ia pun dapat merancang materi yang membuat anak-anak mudah meresapi pelajaran di baliknya.

Yuli yang mengambil kejuruan pendidikan guru di SMA Taiwan dan kuliah jurusan psikologi pendidikan anak di Tokyo Woman's Christian University, sudah tidak asing menghadapi anak-anak. Kecintaannya pada anak-anak sudah ada sejak di bangku sekolah, hal itu juga tercermin dari ekspresinya saat membawakan kelas. “Saya anggap mereka itu teman. Jadi saat interaksi dengan mereka, saya sesuaikan frekuensi dengan mereka,” terangnya. Bicara mengenai anak-anak, matanya berbinar. “Seolah-olah saya berubah jadi mereka, jadi bisa membayangkan dan merasakan seberapa enjoy, interesting dan bahagianya mereka saat diberi suatu materi,” lanjutnya. Dengan cara ini pula Yuli memahami pemikiran anak-anak, sehingga ia dapat merancang materi yang gampang diresapi anak-anak.

Tahun 2009 saat dilantik menjadi komite di Taiwan, Yuli berkesempatan melihat langsung kelas budi pekerti di sana. Ia mendapati kelas di sana rata-rata melibatkan orang tua murid. “Saat itu saya sadar sebenarnya bukan kita yang ajarin anak-anak, tapi peran kita sesungguhnya adalah sebagai pendamping,” kata Yuli. Ia sangat setuju dengan perkataan Master Cheng Yen, yaitu tidak ada murid yang sulit dibimbing, yang ada hanyalah guru yang tidak bisa membimbing.

Pulang dari Taiwan, Yuli langsung berkoordinasi dan melakukan persiapan. Tahun 2011 kelas Qin Zi Ban mulai diadakan di Jing Si Pluit. Qin Zi Ban adalah kelas budi pekerti dimana orang tua juga terlibat di dalamnya. Impian Yuli adalah membentuk keluarga besar Tzu Chi dari kumpulan keluarga-keluarga kecil di komunitas. Sejak itu pula ia mengajak dan membimbing orang tua murid menjadi relawan Tzu Chi.

Menghadapi Tantangan dalam Komunitas
Pernah selama setahun lebih, Qin Zi Ban yang sempat pindah tempat beberapa kali dan akhirnya menetap di Tzu Chi Center itu hanya diasuh empat orang. Tahun 2016 ada pemekaran komunitas, sehingga relawan yang sebelumnya aktif bersama Yuli harus terpisah. Yuli dan tiga relawan yang tersisa memikul semua tanggung jawab, satu orang melakukan tugas 2-3 orang sekaligus. “Daripada complain, saya memilih bersyukur tiap ada yang datang bantu. Jika dipikir akan makin stres, gak ketemu solusi, lebih baik jalani saja sesuai kemampuan,” ujarnya.

Bukan hanya itu, di tahun yang sama, ia juga dipercaya memegang tanggung jawab sebagai Ketua He Qi Utara 1, sedangkan di luar Tzu Chi ia masih kerja di bagian keuangan kantor suaminya. Belum lagi menghadapi banyaknya masalah hubungan antarsesama dalam berorganisasi. Sebagai ketua, ia harus sigap memberi contoh dan menjadi teladan. Banyak atau sedikit relawan yang tergerak, ia belajar mensyukurinya. Tahun pertama sebagai Ketua He Qi, ia merasa beban jika tidak sukses mengembangkan komunitas. Saat itu ia mendapat nasihat dari mamanya.

“Kata mama, jika berlari duluan di depan, kamu akan kesepian. Kamu harus bisa tarik ulur sambil jaga orang di sekitar kamu. Kata-kata ini sebenarnya nasihat buat keluarga kecil saya, tapi saya pikir juga bagus diterapkan di keluarga besar Tzu Chi. Saya lalu sadar tidak bisa berlari sendiri ke depan, tapi harus bergerak seirama dengan orang-orang di komunitas,” ucap ibu tiga orang anak ini.


Di tahun keempat menjadi ketua komunitas He Qi Utara 1, Yuli merasa sangat bersyukur dan bahagia di dalam perjalanan ini karena telah mengasah pribadinya menjadi lebih baik.

Berbagai kondisi itu menempanya hingga menumbuhkan rasa syukur, berpuas diri, berpengertian, dan toleransi. Ia pun berubah dari yang menuntut menjadi lebih toleran. “Saya pada dasarnya orang yang sangat perfeksionis, tapi kerja Tzu Chi membuat saya yakin pada jalinan jodoh baik dan yakin setiap orang punya niat baik. Dari sana saya mulai melepas,” ungkapnya tersenyum. Keyakinan itu dipegangnya erat, ajaibnya setiap ia butuh bantuan, selalu ada relawan yang datang.

Bersama-sama di Jalan Bodhisatwa
Sudah 4 tahun lamanya Yuli bersama kedua wakilnya yaitu Puspawati dan Shelly Widjaja, berusaha memimpin komunitas sebaik mungkin. “Butuh metode yang tepat, harus dari ketua bergerak, lalu relawan bergerak, maka otomatis terkumpul energi positif,” jelas Yuli. Dalam setiap kegiatan, Yuli yang merencanakan, sedangkan Puspawati punya kelebihan mengendalikan situasi di lapangan, dan Shelly cenderung punya banyak ide.

Komunitas He Qi Utara 1 pun berkembang seiring pertumbuhan relawan yang tergalang dari orang tua murid. Kini sebagian dari mereka menjadi Daai Mama yang mengasuh Qin Zi Ban dan Tzu Shao Ban. “Saya sangat terharu, mereka panggil saya Aco (nenek buyut). Awalnya kaget karena merasa tua. Tapi lama-lama merasa ada maknanya. Karena biasanya Aco di keluarga kan suka minta anak cucu lahiran terus. Nah di komunitas juga sama, saya bilang ke mereka, ayo cepat-cepat kalian lahiran lagi, hahaha.. (galang hati relawan baru -red),” ujarnya terbahak.

Menurut Yuli, 15 tahun perjalanannya di Tzu Chi tergambar melalui tiga kata, yaitu Yakin (Xin), Berikrar (Yuan), dan Praktik (Xing). “Saat goyah saya akan ingat ikrar dan niat pertama saya, di benak saya akan terbayang kembali sosok suami istri yang mengelap meja, itu membuat keyakinan saya muncul kembali. Jika keyakinan kita sudah teguh maka arah yang ditempuh selanjutnya sudah pasti tidak salah,” tegasnya.

Ucapan Master Cheng Yen, yaitu Laibuji (tidak keburu lagi) membuatnya cemas, “Ucapan Master ini sangat berat di hati saya, tapi saya tidak bisa sendirian, sangat berharap semuanya sama-sama kebut di Jalan Bodhisatwa ini.” Raut wajahnya resah namun seketika berubah jadi optimis, “Jika di kehidupan ini belum selesai berlatih, di kehidupan mendatang saya bersedia datang lagi sebagai Bodhisatva dunia. Karena saya sangat puas dan bahagia dalam perjalanan ini.”

Jurnalis: Erli Tan

Fotografer: Arimami Suryo, Erli Tan

Artikel dibaca sebanyak : 432 kali


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha