Minggu, 27 September 2020
Indonesia | English

"Rumah Baru" Kakek Keng Soen

11 September 2020 Jurnalis : Anand Yahya
Fotografer : Anand Yahya

Tjiong Keng Soen (70) namanya. Ia hidup berpindah-pindah dari lapak satu ke lapak lainnya di Pasar Taniwan Kapuk Raya, Jakarta Utara. Ada kalanya juga ia tidur di Poskamling warga. Prihatin dengan kondisinya, relawan Tzu Chi mengajak Kakek Keng Soen tinggal di “rumah besar” bersama para Lansia lainnya.

Kakek Keng Soen (70) adalah salah satu penerima bantuan Tzu Chi (Gan en Hu) sejak tahun 2015. Setiap bulan Kakek Keng Soen mendapat bantuan biaya hidup dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Setiap bulan, Kakek Keng Soen dan para penerima bantuan lainnya mengambil langsung bantuan ke Kantor Yayasan Tzu Chi Indonesia, sekaligus mengikuti kegiatan ramah tamah (gathering) yang diadakan relawan untuk seluruh penerima bantuan Tzu Chi.   


Kakek Keng Soen ketika ditemui tengah tidur di Pos Siskamling di ujung Lorong Pasar Taniwan, Kapuk Jakarta Barat.

Namun di masa pandemi Covid-19 ini kegiatan ramah tamah ditiadakan. Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia mengeluarkan kebijakan untuk penyaluran bantuan biaya hidup akan ditransfer langsung ke rekening penerima bantuan, dan untuk bantuan barang atau sembako seperti, susu, diapers dan lainnya akan dikirim melalui jasa pengiriman (ojek online).


Lo Hok Lay dengan perlahan membangunkan Keng Soen yang sedang tertidur di Pos Siskamling untuk diajak pindah ke Rumah Keluarga Lansia Atmabrata (panti) di Jakarta Utara.

Satu hari, Keng Soen datang langsung ke Kantor Yayasan Tzu Chi Indonesia di Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara untuk mengambil bantuan biaya hidupnya, dari sinilah staf Badan Misi Amal Tzu Chi mendapat penjelasan dari Keng Soen bahwa ia sekarang sering berada di pasar Taniwan Kapuk Raya Jakarta Barat. Jika malam hari Keng Soen tidur di Pos Siskamling atau emperan warung. Rupanya sepeninggal istrinya, Kakek Keng Soen tidak lagi menempati rumah kontrakannya. Ia lebih banyak tinggal di pasar Taniwan tempatnya mencari nafkah sebagai kuli panggul.

Satu hari relawan Tzu Chi mengalami kesulitan untuk mengantar bantuan biaya hidup Keng Soen, alamat yang tercantum sudah tidak lagi ia tinggali, hingga relawan Tzu Chi kesulitan menemui Keng Soen. “Kebetulan saya Ketua Misi Amal di komunitas He Qi Utara 2, Keket Shijie, salah satu staf Badan Misi Amal Tzu Chi hubungi saya bahwa Kakek Keng Soen sudah tidak punya tempat tinggal. Waktu itu solusinya adalah mencarikan rumah kontrakan, namun ada pertimbangan orang berusia lanjut (Lansia) hidup sendiri sangat resiko, akhirnya ada solusi lain untuk dicarikan panti Wreda,” kata Hok Lay.

Menjemput Kakek Keng Soen


Hok Lal dengan cekatan merapikan pakaian Kakek Keng Soen untuk dibawa ke Rumah Keluarga Lansia Atmabrata di Cilincing, Jakarta Utara.

Pagi itu, 9 September 2020, pukul 09.30 WIB, Hok Lay berencana mengajak Tjiong Keng Soen untuk tinggal di Rumah Yayasan Atmabrata, rumah keluarga Lansia di daerah Cilincing, Jakarta Utara. Hok Lay menjemput Kakek Keng Soen di Pasar Taniwan. Hok Lai membawa satu tas koper kosong untuk pakaian Keng Soen.

Hok Lay bersama kami (Tim Redaksi) menyusuri lorong-lorong Pasar Taniwan sambil mencari Kakek Koeng Soen. “Dia biasanya di sini di depan toko HP, tapi nggak ada,” kata Hok Lay. Tak lama, penjaga toko HP (handphone) tersebut menginformasikan jika Kakek Keng Soen ada di Pos Siskamling di ujung jalan Pasar Taniwan. “Tadi ada di sini, Pak pagi-pagi, trus dia jalan ke ujung sana,” terang penjaga toko HP sambil menunjuk ke arah Timur pasar.

Kami bergegas berjalan ke ujung jalan. Warga sekitar dan para pedagang sudah mengenali kedatangan relawan Tzu Chi. Mereka dengan ramah menyapa relawan Tzu Chi sambal menunjukkan keberadaan Kakek Keng Soen yang sedang tidur di Pos Siskamling.


Sambil berjalan menyusuri lorong Pasar Taniwan, warga dan pedagang pasar mengucapkan salam perpisahan kepada Kakek Keng Soen.

Benar saja, di Pos Siskamling kami melihat seorang kakek sedang tidur dalam posisi menempelkan lutut di satu sisi. Hok Lay mencoba membangunkannya perlahan. Beberapa warga sekitar melihatnya, dan mendukung rencana relawan Tzu Chi memberikan tempat tinggal yang lebih baik bagi Kakek Keng Soen. Hok Lay Menyapa Kakek Keng Soen yang terbangun dari tidurnya sambil tersenyum. “Selamat siang, Pak…., wah maaf ganggu, saya tadi cari-cari ternyata ada disini,” ujar Hok Lay, “ayooo Pak Keng kita siap-siap, mana pakaiannya biar saya masukkan ke dalam koper. Ini saya bawakan koper.” Sebelumnya memang Hok Lay sudah menyampaikan rencana ini.

“Itu pakaian saya ada di dalam gerobak, ada di kantong kain,” ujar Keng Soen sambil berjalan ke arah gerobak di depan Pos Siskamling. Ada tiga buntelan tas kain bertuliskan Bansos Dinas Sosial dan satu tas  Bansos dari Istana Kepresidenan.

Hok Lay dengan cekatan memasukkan seluruh pakaian ke dalam koper. “Ini mana yang bersih, mana yang kotor nihhh?” tanya Hok Lay. “Tau dahhh,” jawab Ken Soen tertawa.


Sambal berjalan perlahan, Kong Soen bersama Hok Lai berangkat menuju ke Rumah Keluarga Lansia Atmabrata di Cilincing, Jakarta Utara.

Namun ada satu tas plastik berisi beberapa potong pakaian seperti dari jasa pencucian pakaian (laundry), karena masih dalam plastik bersih dan ada bon pakaiannya. “Wahh ini dari Loundy nih,” ujar Hok Lay.

“Iya …, itu ada yang kasihan sama dia, jadi beberapa potong baju dan celananya di laundry sama yang punya laundry di sini,” ungkap seorang ibu.

“Wah baik-baik sekali warga sini sama pak Keng Soen yaaaa” ujar Hok Lay tersenyum.

“Iyaa…,”jawab si ibu. Dia mah di sini nggak usil, malah sering bantu kalo ada belanjaan yang nggak kebawa di mau bantuin bawain,” ungkap warga sekitar

“Cuma kita kasian aja tidurnya ngemper di mana-mana di sekitaran pasar ini. Kadang di depan toko, kadang di sini (Pos Siskamling),” ungkap seorang warga.

Berselang beberapa menit kami berjalan menyusuri lorong pasar. Warga yang mengetahui kami dari Yayasan Buddha Tzu Chi menyapa dengan ramah. Hok Lay menyapa warga sambil berpamitan untuk membawa kakek Keng Soen yang akan diantar ke rumah panti lansia.

“Iya, Pak lebih baik di panti saja, kalau di sini kita bisa mengawasi dari pagi dan sore, kalau malam kita nggak bisa mengawasi,” ungkap para pedagang pasar. “Baik-baik yaaa Kong di Panti,” sapa warga berpesan.

Di Panti Lansia Atmabrata (Rumah Keluarga Lansia), kami disambut dengan ramah seperti layaknya keluarga oleh Bruder Petrus Partono dari Bruder Paroki Salib Suci Keuskupan Agung Jakarta. Bruder Petrus Partono menyampaikan bahwa Yayasan Atmabrata sudah sejak lama menjalin hubungan baik dengan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Ini diwujudkan dengan beberapa kali kegiatan sosial Tzu Chi di panti ini, baik dalam kunjungan kasih, bantuan paket sembako hingga baksos kesehatan bagi penghuni panti. Hubungan yang baik ini ditindaklanjuti oleh Yayasan Buddha Tzu Chi sebagai perantara menolong Kakek Keng Soen yang mau merawatnya di Rumah Keluarga Lansia Atmabrata.


Tiba di Rumah Keluarga Lansia Atmabrata, Hok Lai dan Keng Soen disambut hangat ramah pengurus dan penghuni panti ini. 

Adanya berkah dan jalinan jodoh yang baik membawa Kakek Keng Soen kini bisa tinggal di tempat yang lebih tenang, aman, dan nyaman. Namun ada beberapa persyaratan yang wajib dijalani Kakek Keng Soen untuk menjalani Rapid Test Covid-19 sebelum menghuni Rumah Keluarga Lansia Atmabrata. Dan beruntung, hasil Rapid Test Covid-19, Ken Soen negatif. Selebihnya, Hok Lay mengurus berbagai persyaratan administrasi lainnya.

Menurut Hok Lay, awalnya sulit membujuk Kakek Keng Soen untuk tinggal di rumah keluarga Lansia. “Awalnya dia tidak mau diajak ke sini (panti), dia merasa sudah nyaman tinggal di lingkungan Pasar Taniwan,” ujar Hok Lai. Namun Hok lay menjelaskan secara pelan-pelan kemungkinan-kemungkinan buruk yang terjadi jika Kakak Keng Soen terus-menerus tidur di lingkungan pasar dan udara terbuka.

“Saya bilang pada Pak Keng Soen, coba mari kita sama-sama berpikir, jika di pasar tempat tidur tidak tetap, waktu istirahat pasti kurang, waktu tidur berkurang, tidak nyaman. Belum lagi jika musim hujan pasti mudah kena penyakit. Sebaliknya, kalau di panti, waktu tidur pasti terjamin, makan pun terjamin, jika sakit ada yang mengantar ke dokter, jadi kenapa harus memilih hidup di jalanan,” kenang Hok Lay mengingat percakapannya dengan Kakek Keng Soen beberapa waktu lalu.

Dari pembicaran dari hati ke hati itulah Ken Soen akhirnya luluh. Ia bersedia tinggal di panti. “Begitu dia bilang oke, saya langsung gerak cepat, besoknya saya bilang akan jemput di pasar,” ungkap Hok Lay.

Dari sisi kemanusiaan, Hok Lay mendapat hikmah dan bersyukur dapat memberi bantuan dalam bentuk memfasilitasi antara Yayasan Buddha Tzu Chi, Pak Keng Soen dan Yayasan Atmabrata. “Saya sangat bersyukur bisa berkesempatan mengantarkan beliau untuk tinggal yang lebih layak, kehidupannya (Kakek Keng Soen) di hari tua juga lebih terjamin karena tinggal di lingkungan keluarga yang penuh dengan hati orang-orang yang mulia,” tegas Hok Lay.

Hok Lai berharap, sekaligus berpesan bagi keluarga yang memiliki orang tua dan diberi kemampuan hendaknya dapat merawat mereka di rumah. Karena bisa merawat orang tua di masa senjanya adalah sebuah berkah dan perbuatan yang sangat mulia.


Bruder Petrus Partono menyampaikan bahwa Yayasan Atmabrata sudah sejak lama menjalin hubungan baik dengan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Ini diwujudkan dengan beberapa kali kegiatan sosial Tzu Chi di panti ini, baik dalam kunjungan kasih, bantuan paket sembako hingga baksos kesehatan bagi penghuni panti. 

Hal yang sama dirasakan Bruder Petrus Partono. “Berbagi kebahagiaan dan rasa syukur terhadap kasih Tuhan adalah prinsip dasar Yayasan Atmabrata dalam mejalankan misi kemanusiaannya,” kata Bruder Petrus.

Rumah Yayasan Atmabrata berdiri pada tahun 1978 dengan pelayanan yang terfokus pada warga miskin di daerah Cilincing, Jakarta Utara. Dari rumah yang sederhana ini, lahirlah berbagai macam kegiatan rutin dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan rumah bagi keluarga lansia.Rumah Keluarga Lansia Atmabrata sendiri mulai berdiri pada tahun 2014. Saat ini, Rumah Keluarga lansia Atmabrata dihuni oleh 36 orang lansia, dan khusus diperuntukkan bagi mereka yang kurang mampu dan tidak mempunyai sanak saudara.

Editor: Hadi Pranoto

Artikel dibaca sebanyak : 1826 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Orang yang berjiwa besar akan merasakan luasnya dunia dan ia dapat diterima oleh siapa saja!

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat