Sabtu, 08 Agustus 2020
Indonesia | English

Ada Dua Hal yang Tidak Bisa Ditunda

28 Juli 2020 Jurnalis : Teddy Lianto
Fotografer : Teddy Lianto


Franki (kiri), Yanti (tengah), dan Yolanda (kanan) merasa senang dikunjungi dan mendapat paket sembako dari Tzu Chi.

Dalam sharingnya kepada relawan, Master Cheng Yen, pendiri Yayasan Buddha Tzu Chi selalu mengimbau mengenai pentingnya dua hal di dunia ini, yang tidak dapat ditunda. Hal itu adalah kita harus berbakti kepada orang tua. Selain itu, kita harus memanfaatkan tubuh pemberian orang tua ini untuk berkontribusi bagi dunia. Inilah wujud bakti yang terbesar. Dengan tubuh pemberian orang tua ini, kita bukan hanya harus berbakti kepada orang tua, tetapi juga harus berkontribusi bagi orang-orang di dunia. Inilah pelimpahan jasa  yang sesungguhnya kepada orang tua.

Seperti kisah perjuangan anak demi menolong ibunya yang menderita tumor. April 2016, Yanti (43) ibu dari empat anak ini tidak menyangka sakit kepala dan pusing yang kerap dialaminya merupakan akibat tumor sebesar telur yang tumbul di dalam kepalanya.

“Biasanya minum obat sakit kepala sembuh, lalu karena sering kambuh, kita berobat ke dokter katanya asam lambung, tapi juga ga sembuh dan semakin parah. Hingga akhirnya ada sempat ke orang pintar karena kita takut ada apa-apa, tapi tidak juga sembuh,” cerita Franki, anak pertama Yanti.


Franki kerap menjaga dan merawat Yanti di kala hari liburnya.

Franki, yang sempat bekerja sebagai buruh kontrak di pabrik perakitan motor akhirnya harus berhenti bekerja karena harus mendampingi ibunya berobat ke rumah sakit di daerah Bekasi, tempatnya tinggal. Sedangkan ayahnya menjaga kedua adiknya yang masih sekolah, yakni Yolanda (15) dan Ervan (5). Karena keterbatasan perlengkapan operasi, maka Yanti pun dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar untuk segera dioperasi. Begitu pindah ke RS yang baru, pemeriksaan dan pemberian obat Yanti membutuhkan banyak biaya, begitu juga untuk persiapan operasi. Franki dan Yanah, anak pertama dan kedua Yanti pun mencoba mencari pinjaman ke kerabat, ke kantor, dan wihara.

“Mama adalah orang yang kami sayangi. Apapun yang bisa kami lakukan, pasti akan kami lakukan, karena tanpa mama rasanya hampa. Jadi pada masa itu ada mobil dijual, motor dijual, tabungan dipakai buat biaya rumah sakit, yang penting mama sehat, tapi tetap aja dananya kurang. Itu benar-benar masa drop untuk saya dan keluarga,” jelas Franki mengenang masa dimana ia dan adiknya Yanah, harus berjuang mencari dana untuk memperjuangkan kesembuhan ibu yang mereka cintai.

Mei 2016, ketika hari operasi akan dimulai, ternyata mengalami penundaan karena masalah adminisitrasi. Hal ini pun membuat mereka semakin terpuruk, tidak tahu lagi kemana mereka harus mencari pinjaman. Kebetulan, Franki mengetahui ada sebuah yayasan yang bergerak di bidang sosial kemanusiaan, maka ia pun segera menghubungi dan meminta pertolongan. Karena jika ditunda lagi, penyakit Yanti akan semakin parah. Itu adalah masa paling menegangkan dan menakutkan bagi Franki.


Yanti tidak ingin menjadi beban anak-anaknya juga turut mengambil andil dalam pekerjaan rumah tangga. Dengan berpegangan pada dinding, ia melakukan aktivitas hariannya.

Franki merasa benar-benar buntu dan pasrah melihat kondisi ibu mereka yang sebentar lagi akan dipulihkan dari sakit tapi harus terhenti. Doa dan harapan terus dipanjatkan oleh Franki dan keluarga, berharap adanya keajaiban yang bisa membantu mereka.

“Pada masa itu, benar-benar ngedrop banget, saudara, dari wihara-wihara sudah banyak bantu, tapi masih belum cukup juga. Saat itu pikiran saya juga sudah macem-macem, karena kondisi mama sudah parah,” terang Franki yang kala itu kebingungan kemana lagi ia harus mencari bantuan.

Mendengar kabar jika adanya keadaan darurat dari warga yang membutuhkan, maka relawan Tzu Chi segera berangkat ke rumah sakit tersebut, membantu agar tindakan bisa segera dilakukan. Kala itu, Franki yang sedang menunggu di RS merasa lega dan haru, bantuan yang dibutuhkan begitu cepat sampai dan keesokan harinya, Yanti bisa segera dioperasi dan berjalan lancar serta sukses. Hal ini pun membuat Franki dan keluarga merasa lega, bahagia, dan penuh syukur.

“Bersyukur sekali Pak Hokcun, relawan Tzu Chi segera datang membantu saat itu, jadi saat ini saya masih bisa berkumpul bersama mama. Saya tidak bisa membayangkan apa yang terjadi jika relawan tidak datang saat it. Saya nggak berani membayangkan hal itu,” ungkap Franki.


Setiap pagi, Yanti membantu putrinya Yolanda untuk mencuci piring dan gelas.

Bantuan dan perhatian relawan, membuat Franki pun merasa salut. “Relawan Tzu Chi tidak hanya bantu biaya operasi, tetapi setelah keluar rumah sakit, masih sering mengunjungi dan memberikan bantuan obat rutin yang harus diminum yang tidak dicover BPJS. Hingga tahun 2018, sampai saya, adik-adik saya memiliki pekerjaan, baru kami minta stop karena kondisi keluarga kami sudah mulai membaik,” cerita Franki yang terinspirasi ketika mengambil bantuan obat setiap bulannya di ITC Mangga 2 lantai enam. Begitu banyak penerima bantuan yang kondisinya jauh lebih parah dari ibu mereka.

Dari sana Franki pun ingin bisa mandiri dalam merawat ibu mereka. Apalagi mereka sudah bisa melunasi pinjaman yang diberikan sanak saudara kepada mereka dulu untuk biaya berobat Yanti. Sejak Januari 2020, Franki memutuskan untuk bisa bersumbangsih ke Tzu Chi melalui celengan bambu yang ia kumpulkan dari uang jajan nya dan adik adiknya.

“Dengan bersumbangsih sebenarnya, rejeki bukan berkurang malah saya merasa donasi yang saya berikan malah kembali kepada saya. Contohnya keluarga saya semakin bahagia, kesehatan mama juga stabil, kami sekeluarga cukup makan,” jelas Franki dengan bahagia.

Berlapang Dada dan Menjalani Hidup dengan Penuh Syukur


Yanti juga membantu menjemur pakaian yang telah dicuci di pekarang rumah mereka.

Yanti yang ditemui saat itu juga sudah bisa beraktivitas mencuci piring dan menjemur pakaian. Ia merasa senang dikunjungi oleh tim redaksi dan DAAI TV.  Ia pun menjelaskan jika semenjak ia kehilangan penglihatan ia sudah ikhlas dan belajar menerima keadaannya.

“Tentu ada rasa terpukul dalam diri. Tapi saya pikir ini suratan takdir, harus belajar menerima dan menjalaninya. Setiap bangun tidur, saya berdoa ‘Tuhan, jika Engkau berkenan, kembalikan penglihatan saya. Supaya anak-anak bisa bebas beraktivitas dan tidak terikat harus menjaga saya setiap hari’ dan di malam hari saya bersyukur kepada Tuhan karena bisa berkumpul bersama keluarga dan tentu menyisipkan doa semoga saya bisa melihat kembali,” ujar Yanti yang terus merasa bersyukur atas berkah hidup yang sudah ia dapat .

Sejak pulih dari operasi, keempat anaknya selalu berada di dekatnya, menemaninya, serta bercanda dengannya layaknya teman mereka. “Anak-anak dan keluarga makin sayang, ini juga yang membuat saya bisa menerima kondisi saya sekarang ini,” terang Yanti.

Yanti pun memberikan semangat kepada penerima bantuan Tzu Chi lainnya tentang hidup harus terus dijalani dengan penuh syukur dan bahagia. “Buat mereka yang di sana, jangan pernah menyebut kehidupan Anda menderita, merasa sendiri, karena masih banyak orang yang mengalami kesulitan lebih parah dari kita. Tetap semangat, bersabar, tulus, dan ikhlas, sehingga setiap beban dapat  dilalui dengan baik, seperti yang saya lalui saat ini,” ungkap Yanti.

Editor: Metta Wulandari

Artikel dibaca sebanyak : 132 kali


Berita Terkait


Tak Ingin Sekadar Diberi

29 Juli 2020

Merawat Frans, Merawat Harapan

23 Juli 2020


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Setiap manusia pada dasarnya berhati Bodhisatwa, juga memiliki semangat dan kekuatan yang sama dengan Bodhisatwa.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat