Minggu, 22 September 2019
Indonesia | English

Aloha Camp 2019: Kembali Merajut Masa Depan Tzu Chi

03 Mei 2019 Jurnalis : Nanda Kumara (He Qi Barat 2)
Fotografer : Vivi angel, Clarissa, Michelle Novenda, Andy O, Elysa Wu (He Qi Barat 2)


Sesi Sutra Bakti, Amelia Shigu menuntun peserta untuk menemukan kebahagiaan sejati.

Master Cheng Yen pernah berkata bahwa cara untuk mengarahkan orang lain bukanlah dengan memberi perintah, namun bimbinglah dengan memberi teladan melalui perbuatan nyata. Menyadari hal ini, banyak Tzu Ching (muda-mudi Tzu Chi) asal Indonesia yang hatinya tergerak sendiri, sehingga terwujud kembali acara yang merupakan mata air bagi masa depan Tzu Chi, awal dari benih-benih Tzu Ching –atas inisiatif, kerelaan hati, dan upaya yang luar biasa maka diwujudkan kembali, Aloha Camp 2019.

Sabtu (27/04/2019), Aloha Camp kembali dilaksanakan sebagai acara kemah indoor Tzu Chi bertemakan “Dream, Inspire, Courage”. Aloha Camp 2019 terbuka bagi kalangan calon mahasiswa dan mahasiswa. Acara dilangsungkan selama dua hari, bertempat di Tzu Chi Indonesia, Pantai Indah Kapuk, Jakarta. Aloha Camp 2019 diurus oleh puluhan panitia beranggotakan para Tzu Ching, juga relawan Tzu Chi. Ada pun peserta Aloha Camp 2019 juga tidak hanya berasal dari Jakarta. Secara keseluruhan, peserta Aloha Camp 2019 berasal dari berbagai daerah, yakni Bandung, Jakarta, Lampung, Tangerang, dan Serang.

Pukul satu siang, acara utama Aloha Camp 2019 pun disuguhkan tepat setelah sosialisasi budaya Tzu Chi oleh panitia acara Aloha Camp 2019. Acara tersebut ialah sesi sharing yang bertemakan Misi Pelestarian Lingkungan Tzu Chi. Acara ini diisi oleh tiga pembicara. Mereka adalah Willy Tong Xue, Aya Tong Xue, dan Andy Xue Zhang.

 

Ego yang Baik

Penting untuk disadari, bahwa sifat egois bisa muncul karena seseorang kurang memiliki rasa empati kepada orang lain. Akan tetapi, dalam sharing-nya, Willy Tong Xue menjadikan para peserta Aloha Camp 2019 sebagai saksi dari kisah nyatanya yang unik. Willy mengaku bahwa dirinya menjadi seorang vegetaris berkat diawali rasa ego.

Awalnya keinginan Willy menjadi vegetaris dipicu oleh komitmen besar adiknya, Vincent. Kebetulan di satu waktu, Willy dan Vincent mengikuti seminar vegetarian Tzu Chi bersama, di tahun 2016. Saat itu Vincent masih berumur sepuluh tahun. Adik kecilnya, Vincent Fransidy, mampu menjadi lebih hebat dari dirinya. Dari sini, Willy mengaku bahwa dirinya tercengang saat itu. Sebab Vincent bertekad untuk menjadi vegetaris seumur hidup –ketika hanya ditantang untuk menjadi vegetaris selama satu bulan.


Willy Tong Xue membawakan sesi sharing mengenai pola hidup vegetarian dan pengalaman uniknya.

Alih-alih menerima passport vegetarian, Vincent menolak passport vegetarian dan langsung berkata bahwa dirinya bertekad untuk menjadi vegetarian seumur hidup. Dalam artian, saat Willy Tong Xue sedang sharing saat itu, Vincent Tong Xue adalah seorang vegetaris yang kebetulan hadir, duduk di belakang sambil menyaksikan kakaknya membawakan sesi sharing.

Saat itu, Vincent mengabari sang ibunda mengenai komitmen besarnya itu. Ibunda Vincent, Yessie Shigu, begitu mendukung Vincent. Bahkan Ibunda Vincent juga berkata kepada Willy untuk tidak terpengaruh menjadi vegetaris hanya karena Vincent. Jika Willy tidak benar-benar menginginkannya, maka Willy tidak harus menjadi vegetaris. Yessie Shigu tidak memaksakan anaknya, dan memastikan bahwa akan mendukung anaknya hanya jika anaknya sungguh-sungguh ingin melakukan sesuatu yang mereka inginkan.

Ternyata Willy telah berhasil mengubah rasa ego menjadi kekuatan yang begitu istimewa. Willy mengaku bahwa hewan juga merupakan mahluk hidup. Rupanya dari kesadarannya itu, Willy bersungguh untuk menjadi vegetaris, bukan karena keterpesonaan semata. Justru rasa ego membawa Willy untuk memiliki rasa empatik yang begitu hebat, tidak hanya terhadap sesama manusia, akan tetapi juga bagisemua hewan. Sesi sharing oleh Willy Tong Xue berujung tepukan tangan yang meriah.

“Rasa ego itu enggak selalu buruk,” ujar Willy.

Di sisi lain, Aya Tong Xue telah dan masih menulusuri minatnya terhadap Tzu Chi sejak tahun 2017. Saat ini pun Aya merupakan seorang vegetarian. Dalam sesi sharing-nya, Aya menunjukan video seorang anak balita yang menolak untuk memakan ayam dan jenis hewan lainnya.


(Sedang berdiri; urutan kiri ke kanan: Willy Tong Xue, Lina) Momen Lina menunjuk dirinya sendiri, di saat satu kelas ditantangi Willy Tong Xue untuk menjadi vegetaris selama beberapa waktu, justru Lina membuat keputusan untuk menjadi vegetaris seumuran hidup.

“Hewan itu baik! Aku tidak ingin memakannya,” tutur balita itu.

Tidak berhenti di sana, Aya menyatakan bahwa dirinya termotivasi untuk menjadi vegetaris berkat rasa belas kasihan, rasa menghargai, rasa kepedulian terhadap bumi, dan yang terutama, berkat Master Cheng Yen.

“Setelah saya duduk di depan meja sushi, kok rasanya kayak bersalah, ya? Tidak ada orang yang tahu sih.. tapi saya malu dengan diri saya sendiri. Saya sudah pernah bertekad saya akan menjadi vegetaris dan, enggak vegetarian itu aneh. Maka setelah tahu, saya tidak lanjut makan itu,” kata Aya.

Seraya termotivasi, peserta Aloha Camp kembali terkejut. Ternyata Aya juga termotivasi berkat teladan dari seorang Shigu yang tidak asing, Ibunda dari Willy Tong Xue dan Vincent Tong Xue, beliau adalah Yessie Shigu. Tidak hanya menjadi orang tua yang baik, Yessie Shigu juga merupakan teladan yang terpuji.

Seketika para peserta Aloha Camp 2019 seperti merasa bahwa dunia itu sempit, ini terbukti dari ekspresi di wajah mereka. Walau sebenarnya, dunia ini tidak akan pernah sempit untuk dipadatioleh orang-orang yang hatinya terpuji.

Kemudian, Aya dan Willy mengajak para peserta untuk menjadi vegetaris. Alhasil, ada dua peserta yang mengangkat tangan dan keduanya berkomitmen untuk menjadi vegetaris seumur hidup. Salah satu dari mereka adalah Lina. Saat diwawancara, Lina mengaku bahwa dirinya termotivasi berkat Master Cheng Yen.

“Beliau seperti Bodhisatwa, menyayangi semua mahluk hidup, lemah atau kuat, tinggi atau pendek, tanpa terkecuali. Beliau mengasihi semua mahluk hidup,” jelas Lina.

Setelah sesi sharing oleh Willy dan Aya, Andy Xue Zhang menyusul dengan topik yang tidak kalah penting. Andy Xue Zhang mengangkat kutipan berbasis budaya humanis Tzu Chi. Dengan tema sharing WAVES (We Are Vegetarians and Earth Saviours. Terjemahan: Kita Adalah Vegetarian dan Penyelamat Bumi).


Sesi Sutra Bakti, Amelia Shigu saat berbagi cerita melahirkan berbagai reaksi, salah satunya adalah reaksi terharu yang timbul dari seorang peserta.

Andy Xue Zhang membeberkan sebuah slogan mulia yang memiliki kemampuan untuk mencintai bumi. Slogan itu ialah “Cintai Bumi 135”.

Cintai Bumi 135” merupakan slogan yang mengandung tiga makna. Makna pertama “1” yakni cintai bumi dengan selalu menggunakan air (saat di keran) seukuran satu sumpit,yang berartimenghemat penggunaan air. Makna kedua “3”, yang berarti cintai bumi dengan menanam kebajikan dengan berbasis tiga kebaikan: lingkungan, kesehatan, dan menghargai kehidupan. Ini merupakan hakikat dari “cintai bumi”. Lalu, makna terakhir “5”, yaitu cintai bumi dengan selalu membawa lima permata. Lima permata itu adalah gelas, mangkok, sumpit, sapu tangan, dan kantong belanja. Makna terakhir ini bertujuan mengurangi penggunaan wadah dan alat plastik, serta menghemat penggunaan tisu.

“Saat kita ingin melakukan apa saja, kita mengambil keputusan, dan yang penting dari itu adalah kita bertekad. Bertekad sampai kita punya keyakinan. Lalu, setelah itu, action. Akan tetapi, ada satu masalah terakhir yang sering menghambat. Hambatan itu adalah hari esok. Saat disuruh action, kebanyakan orang berkata bahwa selama masih ada hari esok, mereka akan melakukannya nanti,” kata Andy Xue Zhang.

Sesudah sesi sharing selesai, Aloha Camp dilanjutkan dengan berbagai kegiatan seperti Shou Yu, Pembuatan Parcel, dan Games. Setelah seluruh kegiatan tersebut, acara dilanjutkan dengan sesi Sutra Bakti. Dalam sesi ini, suasana serius mengisi ruangan seraya pembicara, Amelia Devina Shigu, terus membangun kepekaan batin para peserta. Dengan penuh perhatian, Amelia Shigu menyampaikan bahwa kebahagiaan dari dalam diri ialah kebahagiaan yang sebenarnya.


Foto bersama, Aloha Camp 2019, setelah pelantikan dan penerimaan Tzu Ching baru.

“Saya pun kalau berteman berharap untuk dimengerti, tapi semuanya itu tidak akan menjadi masalah, asal kita bisa mengerti diri kita sendiri,” ujar Amelia.

Bagi Amelia, menjadi pribadi yang cantik adalah menjadi pribadi sendiri. Nyaman dan tidak tertekan sama sekali. Menjadi pribadi yang asli agar bisa terus berkembang. Sebab dalam hidup ini, Amelia menegaskan bahwa setiap orang memiliki penderitaannya masing-masing, kita sebagai manusia tidak sepatutnya untuk menuntut dan mengeluh dalm mencapai kebahagiaan.

“Sikap yang perlu kita tetapkan yakni tetap menjadi diri sendiri dan terus berkembang. Belajar dari pengalaman. Menangis jikalau tidak kuat pun tidak masalah. Sebab melalui pengalaman yang sendu, mental manusia akan menjadi lebih kuat. Akan tetapi hal yang wajib dihindari adalah memendam perasaan, karena itu adalah hal yang tidak diperlukan jika manusia ingin mencapai kebahagiaan sejati,” nasihat Amelia shigu.

Sesi Sutra Bakti ditutup dengan sebuah perenungan. Amelia Shigu menuntun peserta dan panitia kamp, menempuh jalan menuju kebahagiaan sejati. Setiap peserta dan panitia tenggelam ke dalam lubuk hatinya masing-masing.

Tzu Chi telah membantu lebih dari seratus negara dan memiliki cabang di 58 negara. Menjalani 8 misi besarnya. Aloha Camp telah berperan besar dalam pertumbuhan jumlah Tzu Ching. Mendorong Tzu Chi menjadi lebih efektif dalam memenuhi misi nya. Dalam Aloha Camp 2019, yaitu misi pelestarian lingkungan. Melalui peran generasi muda, Tzu Chi mampu untuk terus menjalin hubungan yang serasi dengan bumi tanpa terputus, kemungkinan besar, selamanya.

 

Editor: Khusnul Khotimah

Artikel dibaca sebanyak : 459 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Orang yang memahami cinta kasih dan rasa syukur akan memiliki hubungan terbaik dengan sesamanya.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat