Kamis, 12 Desember 2019
Indonesia | English

Anak-anak Istimewa Menunjukkan Kasihnya pada Orang Tua

02 Desember 2019 Jurnalis : Khusnul Khotimah, Johan (He Qi Pusat)
Fotografer : Susi Christine, Meliana (He Qi Pusat)


Relawan Tzu Chi dari Hu Ai Jembatan Lima, He Qi Pusat menciptakan sebuah acara yang menjadi kesempatan bagi murid-muri SLB Kasih Bunda untuk menunjukkan bakti mereka kepada orang tua, Sabtu 30 November 2019.

Kevin Antolim (13) tak bisa menahan tangisnya saat membasuh kaki ibunya, Seni Pui (39). Siswa yang duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar ini terlihat sesenggukan. Begitu juga dengan ke-25 temannya di Sekolah Luar Biasa (SLB) Kasih Bunda, Duri Selatan, Jakarta Barat yang mengikuti acara basuh kaki dalam rangka memperingati Hari Ibu ini.

“Saya sudah tiga kalinya (basuh kaki ibu),” kata Kevin. Apa yang bikin Kevin menangis? “Karena Kevin sayang Mama, saya banyak bersalah setiap hari, sekarang saya minta maaf,” kata Kevin, tutur katanya tegas, meski ia adalah siswa dengan tunagrahita (memiliki kecerdasan di bawah rata-rata anak seusianya –red).

Kevin mengaku senang dengan kegiatan yang diinisiasi oleh relawan Tzu Chi dari komunitas Hu Ai Jembatan Lima ini dan berharap akan ada lagi. Jika Kevin sampai menangis sesenggukan, Seni Pui, ibunya pun demikian. Air mata Seni Pui tak terbendung lagi.

“Saya sangat terharu melihat Kevin, anaknya memang mengerti, tahu bagaimana seorang anak harus berbakti kepada orang tua,” kata ibu dari dua anak ini.


Seni Pui terharu dengan perlakukan manis Kevin, putranya.

Setelah membasuh kaki, anak-anak dipandu untuk menghidangkan teh, dilanjutkan dengan menyuapkan kue ke orang tua. Terakhir mereka memberikan rangkaian bunga kepada orang tua sebagai lambang terima kasih atas pengorbanan yang telah dilakukan oleh orang tua, yang telah bersusah payah membesarkan mereka.

Menyentuh Hati Semua Orang
Albertus Wibowo, Pengurus Yayasan Kasih Bunda Sejati yang menaungi SLB Kasih Bunda juga merasa tersentuh melihat bagaimana murid-muridnya mengikuti acara ini dengan baik. Tujuan dari acara ini pun terwujud, di mana anak-anak menyadari kesalahan, lalu meminta maaf, lalu bertekad untuk menjadi anak yang lebih berbakti.

“Terima kasih untuk teladan yang telah diberikan kepada anak-anak kami, di mana anak-anak kami diajari untuk menghormati dan mengasihi keluarga terutama ibu. Karena dari ibulah kehidupan itu berawal,” ujarnya.


Albertus Wibowo, Pengurus Yayasan Kasih Bunda Sejati berterima kasih kepada para relawan Tzu Chi yang menggelar acara yang bertujuan untuk menginspirasi semua orang untuk lebih menghargai orang tua. 


Relawan Tzu Chi menyiapkan teh dan kue yang akan dipersembahkan anak-anak untuk para orang tua. Dalam kunjungan ini, relawan juga membawakan makan siang, makanan ringan, juga goody bag bagi semua anak dan dua orang tua, serta menitipkan bantuan sembako seperti beras bagi sekolah ini.

Kegiatan seperti ini memang sangatlah menyentuh hati kedua belah pihak, baik anak maupun orang tua. Mimi (49) warga Krendang Timur, salah satu orang tua murid, sangat berterima kasih kepada relawan Tzu Chi, karena mau meluangkan waktu untuk anak anak SLB Kasih Bunda.

“Relawan membuat acara yang begitu mengharukan. Para relawan benar- benar telah membangkitkan rasa kasih sayang di antara anak dan orang tua,” kata Mimi.  

Begitu juga dengan Yeyen (44), warga Teluk gong, Jakarta Utara.

“Anak anak diajarkan untuk hormat kepada orang tua, terutama kepada ibu. Walaupun anak-anak SLB, mereka bisa mengerti akan susah payahnya seorang ibu mengasuh dan membesarkan anaknya dengan kasih sayang yang tiada habisnya,” ujar Yeyen yang juga berharap, relawan Tzu Chi dapat terus melanjutkan kegiatan yang baik ini di sekolah ini.


Relawan membawakan shou yu atau lagu isyarat tangan dengan senyum yang merekah.

Tapi bukan hanya siswa, para pengurus, dan guru SLB Kasih Bunda saja yang mendapatkan inspirasi dari acara basuh kaki ini. Sabtu, 30 November 2019 menjadi hari yang tak terlupakan bagi sebagian relawan Tzu Chi yang baru pertama kali ke sekolah anak-anak berkebutuhan khusus ini. Kunjungan ini sendiri merupakan kali kedua bagi komunitas relawan Tzu Chi dari Hu Ai Jembatan Lima. Kunjungan yang pertama dilakukan pada bulan Mei 2019 yang lalu.

“Kami relawan sangat senang dapat menciptakan kebahagiaan di sini, di hari ini. Kami, relawan datang untuk mencontohkan teladan yang baik.  Di sini relawan juga belajar banyak, terutama untuk bisa lebih bersyukur dan bahwa di dunia ini masih ada anak-anak yang harus kita bantu, harus kita sayangi,” kata Florentina, relawan yang menggawangi acara ini yang juga Ketua Hu Ai Jembatan Lima.

Sekilas Tentang SLB Kasih Bunda
Yayasan Kasih Bunda Sejati yang menaungi SLB Kasih Bunda ini berdiri pada tahun 1995, mengkhususkan untuk melayani anak-anak berkebutuhan khusus. Sebanyak 85 persennya adalah anak-anak berkebutuhan khusus dari keluarga yang kurang mampu.


Sebanyak 26 murid ikut serta dalam acara ini. Mereka datang bersama orang tua mereka dan berbaur bersama bapak ibu guru dan para relawan. Ada 42 relawan yang memeriahkan acara ini. 

Bangunan sekolah berlantai tiga seluas lebih kurang 200 meter persegi ini terletak di dalam gang. Sekolah ini mempunyai 10 kelas dengan murid aktif yang berjumlah 110 anak, meskipun daya tampungnya sebenarnya hanya sekitar 70 anak saja.

Mulanya yayasan ini hanya melayani anak-anak tunagrahita, yakni yang mengalami hambatan dalam intelektualnya. Tapi seiring berjalannya waktu, akhirnya sekolah ini melayani semua anak berkebutuhan khusus. Ada anak yang tunanetra, tunarungu wicara, juga anak dengan tunadaksa, yakni yang mengalami hambatan dalam pertumbuhan, banyak juga yang autis, serta down syndrom.


Relawan menunjukkan salah satu karya batik, siswa SLB Bunda Kasih. 

“Pasti kita sebagai orang tua akan menyekolahkan anaknya di tempat yang terbaik. Tapi setelah mencoba kesana-kemari, mereka tidak mampu memenuhi persyaratan terutama finansial. Sehingga Kasih Bunda adalah pos yang terakhir,” jelas Albertus Wibowo, Pengurus Yayasan Kasih Bunda Sejati.

Semua anak dididik dan dilatih sesuai kemampuan, agar kelak memiliki kemampuan hidup di masyarakat, atau paling tidak mengurangi ketergantungannya terhadap orang lain. Dengan kegigihan para guru, anak-anak di sekolah ini telah menorehkan banyak prestasi. Begitu pun dengan guru-gurunya yang juga banyak berprestasi. Ini bukti bahwa keterbatasan bukan menjadi penghalang untuk mandiri, maju, dan berprestasi.

Editor: Hadi Pranoto

Artikel dibaca sebanyak : 432 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Apa yang kita lakukan hari ini adalah sejarah untuk hari esok.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat