Minggu, 24 Juni 2018
Indonesia | English

Apresiasi Sumbangsih Para Lao Pu Sa

12 Maret 2018 Jurnalis : Yuliati
Fotografer : Anand Yahya, Yuliati, Erli Tan, Amir Tan (Tzu Chi Medan), Agus DS (He Qi Barat 2)

doc tzu chi indonesia

Sebanyak 21 relawan dilantik dan diresmikan menjadi relawan Pelestarian Lingkungan Tzu Chi pada Minggu, 11 Maret 2018 di Aula lantai 4 Tzu Chi Center, PIK Jakarta.

Bersamaan dengan pelantikan relawan calon komite pada kegiatan training relawan komite dan calon komite 2018, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia untuk pertama kalinya melantik relawan pelestarian lingkungan (11/3/2018). Sebanyak 21 relawan dilantik dan diresmikan menjadi relawan Pelestarian Lingkungan Tzu Chi. Mereka adalah 18 relawan pelestarian dari Depo Duri Kosambi Jakarta, 2 relawan dari Depo Tzu Chi Medan, dan 1 relawan dari Depo Tzu Chi Tanjung Balai Karimun.

Salah satu relawan yang dilantik adalah Kamsina (甘淑慧). “Saat dilantik rasanya malu, tadi saat naik panggung. Mereka bilang saya sudah 80 tahun tapi tiap hari datang kerja daur ulang, bukan hanya 2 hari seminggu, tapi Senin-Sabtu, mereka selalu memuji saya, saya merasa nggak enak (malu). Saya sudah tua tapi yang penting kita bisa menyumbangkan sedikit kemampuan kita melakukan daur ulang, sehingga bisa membantu orang yang membutuhkan,” ujar Kamsina usai dilantik.

“Saya merasa saya harus melakukan lebih baik lagi, lebih rajin dan giat, mengemban tanggung jawab saya dengan baik,” sambungnya.

Sejak tiga tahun lalu Ama 80 tahun ini sudah mengenal Tzu Chi. Ia sering kali memasak dan membawakan makanan ke depo untuk relawan di sana. Namun semenjak suaminya meninggal dua tahun lalu, Kamsina memutuskan untuk bergabung menjadi relawan pelestarian lingkungan.

“Di sini banyak teman, kita saling bercerita, nyanyi, bisa memperluas jalinan jodoh baik, kenal banyak teman, tua maupun muda,” ujar Kamsina usai memilah sampah botol-botol plastik.

Setiap harinya Kamsina bersama relawan lansia lainnya melakukan pemilahan sampah daur ulang di Depo Pelestarian Lingkungan Duri Kosambi, Jakarta Barat. Rumahnya yang berada tidak jauh dari lokasi depo, Kamsina setiap harinya mengayuh sepeda yang hanya membutuhkan waktu 5 menit saja. Sejak pagi jam 08.30 – 12.00 Bodhisatwa lansia ini turut bersumbangsih demi pelestarian lingkungan.

doc tzu chi indonesia

Setiap hari Selasa dan Kamis, relawan pelesatarian melakukan pemilahan barang daur ulang di Depo Duri Kosambi. Meski begitu ada beberapa relawan pelestarian lingkungan yang datang setiap hari.

doc tzu chi indonesia

Kamsina sejak dua tahun lalu bergabung di depo Duri Kosambi kini dilantik menjadi relawan pelestarian lingkungan.

“Saya di rumah sudah tidak banyak kerjaan, suami sudah tiada, makanya datang ke sini bantu, menyumbangkan sedikit yang saya mampu,” ucap Ama Jambi, sapaan akrabnya. “Tangan ini supaya tidak begitu cepat mengalami demensia, biar nggak cepat pikun kata orang,” candanya.

Satu hari memilah sampah, Kamsina mengaku satu orang bisa merapikan satu karung barang daur ulang. “Kami sangat cepat,” ucapnya tersenyum. Tidak melulu memilah sampah botol plastik, Kamsina terkadang juga memilah gelas plastik ataupun kertas daur ulang.

Selain melatih fisik dalam berkegiatan pemilahan sampah daur ulang, Kamsina juga turut melatih batinnya dengan mengikuti Xun Fa Xiang yang diadakan di Depo Pelestarian Lingkungan Duri Kosambi. Ia juga sering menyaksikan Ceramah Master Cheng Yen di DAAI TV. Ini justru semakin memotivasinya untuk menjadi Bodhisatwa pelestari lingkungan. Kamsina pun sangat bersemangat.

“(Hasil) Daur ulang bisa dipakai Tzu Chi untuk membuat baju, selimut untuk bantu korban bencana, kami hanya memikul sedikit tanggung jawab,” ungkapnya.

Penuh Dengan Sukacita

Di usianya yang sudah tidak muda, berkegiatan Tzu Chi mendapatkan dukungan dari keluarganya. Kamsina yang tinggal seorang diri di rumahnya merasa semakin sehat dengan kegiatan pemilahan sampah yang dilakukannya.

“Pulang dari sini (depo) tiap hari rasanya bahagia, sudah capek lalu sangat enak tidur,” katanya tertawa.

Dua tahun berkegiatan di depo, banyak yang dipelajari oleh Kamsina terutama bagaimana menjalin hubungan yang baik dengan orang lain. “Jika kita berharap diperlakukan orang dengan baik, maka kita harus terlebih dahulu memperlakukan orang dengan baik. Makanya kami di sini semuanya baik-baik. Mereka sayang ke kita, kita juga sayang ke mereka. Yang penting kita harus bisa baik ke orang, barulah orang lain bisa baik ke kita,” ungkap Ama Jambi ini.

doc tzu chi indonesia

Johnny Candrina mengajak relawan pelestarian lingkungan berkeliling Jing Si Living exhibition hall Aula Jing Si lantai 1 sebelum pelantikan dilaksanakan.

doc tzu chi indonesia

Wong Yuliana Atmaja (dua dari kanan) sangat antusias mengikuti sharing yang diberikan sebelum pelantikan dimulai.

Bahkan sebelum masuk ke dalam barisan relawan pelestarian Tzu Chi, Kamsina tidak mengetahui jika plastik ataupun kertas merupakan barang berharga yang bisa membantu orang lain.

“Sekarang di jalanan melihat botol plastik saya pungut. Saya kalau makan di luar bareng anak, kalau makan ada botol plastik saya akan bawa pulang, tapi selalu dimarahi anak katanya ‘masa sampah mau dibawa pulang’. Saya sih merasa sayang karena kita sudah jadi relawan pelestarian lingkungan kita tahu barang itu berharga. Bahkan tutup botolnya saja berharga,” ucap Kamsina.

Ibu empat anak ini juga menyediakan kantong untuk wadah barang-barang daur ulang yang kemudian ia bawa ke depo ketika berkegiatan. “Sangat sayang kalau dibuang karena barang daur ulang tersebut bisa untuk menolong orang,” tukasnya.

Adapula Wong Yuliana Atmaja yang telah bergabung menjadi relawan pelestarian lingkungan sejak 2013 lalu. Sebelumnya pada tahun 2009 Aping, sapaannya sudah mengenal Tzu Chi dan menjadi donatur Tzu Chi. Relawan 62 tahun ini memiliki usaha produksi kaos kaki. Meski begitu setiap hari Selasa dan Kamis ia terus meluangkan waktunya untuk kegiatan pelestarian lingkungan di depo Duri Kosambi.

Aping merasa depo seperti keluarga kedua baginya, ada canda dan tawa yang ia rasakan. “Di sini banyak teman Lou Pu Sa, kita ketawa-ketawa kerja daur ulang,” ujarnya.

Lantaran lokasi depo yang tidak jauh dari rumahnya, Aping cukup berjalan kaki. Jika menemukan sampah daur ulang di jalanan, ia pun dengan senang hati memungutnya dan membawa ke depo. Kegiatan pemilahan sampah juga ia terapkan di rumahnya, jika ada sampah plastik bekas belanja atau lainnya, Aping segera membersihkan plastik tersebut dan mengumpulkannya. Jika sudah terkumpul, ia membawa barang itu ke depo.

doc tzu chi indonesia

Mariana Winata yang sejak tahun 2011 bergabung menjadi relawan pelestarian lingkungan dengan semangat merapikan gelas plastik yang akan di daur ulang di Depo Duri Kosambi.

doc tzu chi indonesia

Sebagian relawan menyiapkan makanan untuk makan siang relawan pelestarian usai melakukan pemilahan sampah daur ulang.

Selama berkegiatan di Tzu Chi sebagai relawan pelestarian lingkungan, banyak yang dipelajari dari tumpukan sampah. Aping bisa bersyukur, sabar, dan menghargai barang apapun yang dimilikinya.

“Belajar hemat air, terutama menghargai barang-barang enggak kita buang begitu saja,” ucapnya.

Perubahan baik juga dirasakan Aping. Selain bervegetaris, ia juga sudah tidak pernah membakar kertas sembahyang pada acara perayaan tertentu. “Dulu kalau tiap malam ulang tahun, saya bikin sesuatu dari kertas lalu membakarnya, sekarang udah nggak pernah bikin dan membakarnya lagi. Master bilang kertas itu dari pohon, kalau kita bakar-bakar sama halnya kita bakar pohon,” terangnya.

Tidak hanya kebiasaan baik yang berubah, kesehatannya pun makin meningkat. “Saya ada tiroid, tapi karena kerja di sini rasanya berkurang. Kalau udah di sini (depo) apa saja lupa, di sini ketawa-ketawa. Shixiong shijie-nya baik,” ungkap Aping.

Menjadi bagian dari relawan pelestarian lingkungan yang dilantik untuk pertama kalinya di Indonesia ini, Aping merasa bahagia. “Senang bahagia, kami dari relawan daur ulang sudah diresmikan,” ungkapnya. Sebelum dilantik, relawan pelestarian lingkungan diajak untuk memahami bagaimana menjadi relawan pelestarian lingkungan. “Akan lebih giat lagi mengurangi sampah,” tegas Aping.

Sementara itu Mariana Winata yang sejak tahun 2011 bergabung menjadi relawan pelestarian lingkungan mengungkapkan kegembiraannya bersama relawan lansia lainnya. “Kalau di rumah sendirian nggak ada kegiatan, di sini enak senang, rame-rame banyak teman kerja huan bao,” ucapnya.

Setiap hari Selasa dan Kamis, ia menyisihkan waktunya untuk bersumbangsih demi lingkungan. Selesai mengerjakan kerjaan rumah tangga, Mariana segera menuju depo yang terletak tak jauh dari rumahnya dengan menggunakan jasa ojek. Tujuh tahun bersumbangsih di depo melakukan pemilahan sampah daur ulang, lansia 78 tahun ini merasakan ada kebahagiaan tersendiri bersama relawan pelestarian lingkungan lainnya.

Johnny Candrina, Kepala Depo Pelestarian Lingkungan Duri Kosambi Jakarta mengaku bahagia melihat relawan lansia yang aktif melakukan pemilahan sampah di depo yang dipimpinnya telah dilantik. “Saya bahagia bercampur terharu. Yang saya tunggu ada relawan huan bao. Dengan adanya pemberian tanda untuk mereka bisa membuat mereka makin semangat,” ungkap Johnny.

Johnny berharap dengan adanya pelantikan relawan pelestarian lingkungan pertama kalinya ini semakin banyak yang turut bergabung seperti mereka.

Wakil Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Sugianto Kusuma mengajak ratusan relawan Tzu Chi yang hadir untuk meneladani relawan pelestarian lingkungan yang baru saja dilantiknya.

“Mereka orang tua berumur 70-an, 80-an, saya salut karena mereka masih begitu semangatnya menjalankan Pelestarian Lingkungan. Bagaimana dengan kita yang masih muda-muda di sini? Mereka mungkin sudah susah jalan, untuk ikut dalam kegiatan lainnya sudah susah, tapi ternyata mereka masih bisa meluangkan waktu untuk melakukan kebajikan. Master selalu bilang bahwa janganlah kita menyianyiakan kesempatan. Karena kalau sudah berumur, kita tinggal tunggu makan, tunggu tidur, tunggu sakit, tunggu meninggal. Jadi janganlah menjadi manusia yang seperti itu, jadilah manusia yang berguna bagi orang lain, bagi dunia ini,” ujar Sugianto Kusuma.

 

Editor: Khusnul Khotimah

Artikel dibaca sebanyak : 554 kali


Berita Terkait


Hal Baik Berbuah Baik

21 Oktober 2015

Pelatihan Relawan Biru Putih: Melatih Diri dan Menjaga Hati

13 Oktober 2015

Pelatihan Relawan Biru Putih 2015: Memikul Tanggung Jawab Menjadi Benih Tzu Chi

12 Oktober 2015

Janji Bakti untuk Berkomitmen

21 Oktober 2014

Malam Keakraban Keluarga Tzu Chi

15 Oktober 2014


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Sikap mulia yang paling sulit ditemukan pada seseorang adalah kesediaan memikul semua tanggung jawab dengan kekuatan yang ada.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat