Rabu, 23 Oktober 2019
Indonesia | English

Asa di Setahun Pascagempa

30 September 2019 Jurnalis : Hadi Pranoto
Fotografer : Arimami Suryo A.


Viktor Elephard Sandewa, salah satu warga yang menjalani proses verifikasi calon penghuni Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi Pombewe, Sigi, Sulteng.

Setahun sudah musibah gempa, tsunami, dan likuefaksi menimpa Kota Palu, Sigi, dan Donggala di Sulawesi Tengah. Pada Sabtu, 28 September 2019 di beberapa tempat pengungsian Hunian Sementara (Huntara) dan beberapa tempat bekas lokasi terjadinya tsunami, dilakukan berbagai acara doa bersama untuk mengenang kejadian musibah setahun lalu. Semua berdoa sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing. Yang Muslim berzikir, yang Kristen, Hindu, dan Buddha pun berdoa sesuai dengan agama dan kepercayaan mereka masing-masing.

Di tengah keharuan mengenang setahun musibah bencana, ada segenggam asa yang menghampiri warga di Kabupaten Sigi. Selama dua hari, Sabtu dan Minggu, 28 – 29 September 2019, relawan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia melakukan verifikasi kepada warga calon penghuni Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi di Pombewe, Kec. Sigi Biromaru, Kabupaten, Sigi, Sulawesi Tengah.

“Untuk tahap pertama akan dibangun 500 unit oleh Tzu Chi, dan tahap berikutnya 500. Kemudian dari Kementerian PUPR (Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat -red) juga akan membangun 500 unit,” kata Joe Riadi, Ketua Tim Tanggap Darurat Tzu Chi yang juga koordinator kegiatan verifikasi ini.

Menurut Joe Riadi, verifikasi ini dilakukan sebagai salah satu cara untuk meyakinkan bahwa bantuan rumah yang diberikan ini memang benar-benar tepat sasaran. “Kita tentu ingin agar sumbangsih dari para donatur dan relawan benar-benar sampai kepada mereka yang berhak dan membutuhkan,” tegas Joe Riadi.


Joe Riadi, Ketua Tim Tanggap Darurat Tzu Chi menjelaskan kepada warga tentang visi dan misi Tzu Chi. Hadir juga Bupati Sigi, Muhamad Irwan Lappata, S.Sos, M.Si.

Selama dua hari ada 766 warga yang diverifikasi. Mereka berasal dari 6 desa di Kecamatan Sigi Sibomaru, yaitu: Desa Mpanau, Sidera, Oloboju, Jono Oge, Pombewe, dan Lolu.

Bersyukur, Berdoa, dan Berusaha
Salah satu warga yang menjalani proses verifikasi adalah Viktor Eferhar Sandewa. Pria berusia 37 tahun ini adalah seorang guru di SD Negeri 15 Palu. Saat kejadian gempa, Viktor yang hendak menghadiri Festival Palu Nomoni selamat. Begitu juga dengan anak dan istrinya. Mereka selamat meski sehari kemudian baru bisa bertemu. Sementara rumah mereka di Desa Lolu sudah hancur dan bergeser sejauh 500 meter dari lokasi semua akibat likuefaksi. Setelah tinggal bertahun-tahun, barulah Viktor menyadari jika rumah yang dicicilnya dari bank ini ternyata masuk zona merah dan dilarang untuk dibangun kembali.

“Untuk sementara dari pihak bank kita dibebaskan dulu untuk cicilannya, tapi nanti tetap harus mencicil,” kata Viktor tersenyum getir. Perasaannya “luka” karena harus mencicil “rumah” yang tidak bisa dihuni dan tanahnya hanya bisa dijadikan lahan pertanian. Meski begitu, Viktor tetap bersyukur bahwa anak dan istrinya bisa selamat.


Relawan Tzu Chi mencocokkan data dan mewawancarai warga.

Seperti warga lainnya, Viktor juga tak menyangka jika gempa-gempa kecil yang terjadi beberapa kali hari itu menjadi sebuah pertanda bahwa bencana besar akan terjadi. Karena itulah ia tetap berangkat menggunakan motornya menuju lokasi Festival Palu Nomoni di Pantai Talise, Kota Palu. Baru setengah perjalanan, Viktor terjatuh. Ia menduga jika ban motornya pecah. Tak terpikir sama sekali dalam benaknya jika ini adalah kejadian gempa. Ia baru tersadar jika terjadi gempa ketika jalan-jalan mulai retak, terbelah, dan air-air di selokan berhamburan ke jalan.

“Saya langsung teringat anak dan istri. Saya telepon mereka, nggak diangkat. Ini yang bikin panik, saya langsung balik ke rumah,” kenangnya. Tanpa pikir panjang, dipacunya kembali motor secepatnya kembali ke rumah. Namun perjalanan pulang tak semudah itu. Jalan-jalan banyak yang bergelombang, terbelah, tanah longsor, dan jembatan yang putus sehingga tak bisa lagi dilewati.

“Saya tetap susuri jalan yang masih bisa dilewati,” kata Viktor.

Begitu sampai di mulut gang masuk perumahan, suasana sangat mencekam. Meski sempat dilarang masuk, Viktor nekad menembusnya. Bahkan ia sempat menolong satu orang ibu dan anaknya yang terjebak dalam lumpur. Bersama warga lainnya, keduanya menuntun ibu dan anak tersebut melewati gundukan tanah maupun jalan yang terputus.


Viktor bersama rekan-rekannya di Huntara (Hunian Sementara) BUMN di Desa Lolu.

“Meski belum bisa ketemu anak-istri, tapi ketika kita bisa menolong orang lain ya kita tolong mereka dulu,” ungkap Viktor.

Usai membantu ibu dan anak tersebut ke tempat yang aman, Viktor dan bapak tersebut kelelahan. Keduanya memutuskan untuk beristirahat hingga pagi hari. Terlebih suasana sangat gelap dan sepi mencekam. Di tengah kegundahan itu, ada sekelompok orang yang menginformasikan jika ada sekelompok warga kompleks GKR Pekarta yang berhasil menyelamatkan diri dari likuefaksi dan tengah berkumpul di sebuah ladang pertanian yang aman.

“Begitu dengar, tenaga saya seolah pulih lagi. Malam itu juga saya ikuti petunjuk tersebut dan mencari keluarga saya,” tegas Viktor, “setiap ada orang berkumpul saya panggil anak saya, ‘Fino…fino’.” Entah sudah berapa puluh kali Viktor berteriak, tapi belum ada yang menyahut.

Setelah satu jam berkeliling barulah Viktor bertemu dengan anak-istrinya. Tangisnya meledak. Rasa cemas sepanjang malam itu terbayar sudah. Batinnya kini tenang, meski menemui kenyataan jika rumahnya tak lagi berbentuk.


Viktor dan tetangganya dulu di perumahan GR Pekarta menunjukkan lokasi bekas rumahnya yang rata dengan tanah. Rumah itu bergeser hingga 500 meter dari posisi semula.

“Pas ketemu, nangis, aduh, nggak usah dipikir itu rumah yang penting mereka selamat. Waktu itu kita tidur di lapangan  menghadap langit, bakar apa yang bisa dibakar, apalagi masih banyak terjadi gempa kecil-kecil,” kata Viktor, “yang Muslim berzikir, yang Kristen berdoa, semalaman kita nggak tidur. Besoknya saya dan tetangga coba cari apa yang bisa diselamatkan di rumah. Untung berkas-berkas saya ada yang sebagian di-laminating, jadi kena tanah dan air nggak basah.”

Bukan Sekadar Bantuan
Lebih dari setengah tahun Viktor dan keluarga tidur di tenda sementara sampai kemudian pindah ke Huntara PU di Desa Mpanau. Kini setahun tepat kejadian gempa, Viktor dan 765 orang (total 766 orang yang diverifikasi pada lainnya mengikuti proses verifikasi calon warga Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi di Pombewe, Sigi, Sulawesi Tengah.

“Sempat dengar-dengar Yayasan Buddha Tzu Chi. Kita sih mikirnya pasti ada organisasi sosial dan jalan sinyal kita grup WA gitu, dan mereka foto-foto, dan syukurlah ada yang mau bantu kita. Khawatir kita yang di Sigi nggak akan dibangun, sangat bersyukur sudah didata dan melihat langsung kami,” ujarnya.

Ada hikmah yang didapat Viktor dari musibah ini. Pertama bahwa manusia hidup di dunia ini hanya sementara, sehingga jangan hanya sibuk memikirkan harta benda saja, tetapi juga sisi kebaikan kepada sesama.


Relawan mengajak warga menyanyikan dan memperagakan isyarat tangan Satu Keluarga.

“Seperti saudara-saudara dari Yayasan Buddha Tzu Chi ini, kita tidak saling kenal, (tetapi) bisa ketemu di sini. Saya sangat tergerak hati. (Tzu Chi) bisa membantu begitu banyak. Kasih itu yang paling utama, kita nggak pandang suku dan agama, dan di dalam hati saya akan tularkan kepada sesama juga,” ungkap Viktor.

Sebagai seorang guru, Viktor juga akan mencoba menerapkan nilai-nilai kebaikan ini kepada murid-muridnya. “Dari sisi pelestarian lingkungan, menjaga kebersihan, kita mulai dari hal yang mudah dulu. Jadi bukan hanya bantuan rumahnya saja, tetapi juga nilai-nilai cinta kasihnya itu yang bisa masuk di hati kita.”

Terlebih menurutnya proses pendataan hingga penyaringan data dilakukan secara fair, adil, tanpa memandang suku, ras, agama, maupun golongan. “Semoga Tzu Chi semakin maju dan berkembang karena yang dikembangkan adalah nilai-nilai kemanusiaan. Dan nilai-nilai ini tidak akan mati karena selamanya hidup di lubuk hati manusia,” ungkapnya.

Editor: Khusnul Khotimah

Artikel dibaca sebanyak : 650 kali


Berita Terkait


Lebih Dekat dengan Para Pengungsi di Palu dan Sigi

02 Oktober 2019


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Apa yang kita lakukan hari ini adalah sejarah untuk hari esok.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat