Rabu, 21 Oktober 2020
Indonesia | English

Bagai Menyemai Benih di Ladang Subur

11 Desember 2018 Jurnalis : Metta Wulandari
Fotografer : Metta Wulandari


Yang Pit Lu (tengah) mengucapkan terima kasih kepada para relawan yang aktif di Misi Amal sejak Tzu Chi berdiri di Indonesia hingga saat ini.

Yang Pit Lu tidak bisa membendung air mata usai memberikan apresiasi berupa karangan bunga kepada 70 relawan senior yang aktif di misi amal. Ia sungguh terharu. Dengan suara yang sedikit tertahan, Lulu, panggilan akrabnya, bersyukur bisa berada di tengah-tengan mereka, yang telah memberikan dedikasinya untuk menjalankan Tzu Chi Indonesia dan menyemai cinta kasih bagi masyarakat luas. “Tidak terasa barisan kita bisa sepanjang ini,” kata Lulu sambil menahan haru di hadapan 369 peserta Gathering Misi Amal Tzu Chi (9/12/18) yang datang dari Jakarta, Bogor, Bekasi, Cikarang, dan Tangerang.

“Saya ingin mengucapkan gan en kepada Sui Hua Shijie yang mengajak saya ke misi amal. Saya ingat sekali, dulu pagi-pagi Sui Hua Shijie suka jemput saya, sekitar pukul 6 pagi, beliau bawa mobil dan kami sama-sama ke rumah sakit. Hui Tjhen Shijie, beliau juga senior saya, banyak mendampingi saya. Saya juga lihat banyak sekali relawan yang di sini, yang kita sama-sama berjuang di misi amal. Gan en Shixiong Shijie semua,” lanjut Lulu mengungkapkan rasa syukur dan terima kasihnya bagi para relawan.


Gathering Relawan Misi Amal mengundang para relawan senior di misi amal, salah satu yang hadir adalah Sui Hua yang saat ini masih menjalani pemulihan dari sakitnya.


Yang Pit Lu memberikan apresiasi berupa karangan bunga kepada 70 relawan senior yang telah mewariskan jejak cinta kasih di misi amal.

Dua puluh lima tahun Tzu Chi hadir di Indonesia, terlebih dahulu diawali dengan misi amal. Saat itu tahun 1993, relawan mulai memberikan bantuan di panti asuhan, panti jompo, dan secara bertahap membantu wilayah-wilayah di pinggiran Jakarta. Benih-benih cinta kasih tersebut tertanam subur hingga masa kini dan membuat misi amal yang merupakan akar dari Tzu Chi tertanam kuat. “Ini adalah wujud cinta kasih kita semua. Apabila saya sendiri, tidak mungkin saya bisa lakukan. Harus dengan kekuatan kita bersama,” ujar Lulu disambut tepuk tangan relawan lainnya.

Mewariskan Cinta Kasih

Master Cheng Yen mengatakan bahwa setiap orang merupakan Sutra hidup. Masing-masing dari mereka mempunyai kisah yang bisa dipelajari dan diteladani. Bukan hanya relawan, kisah penerima bantuan pun demikian. Seperti kisah Tan Jun Kiaw, relawan komite Tzu Chi yang dulunya merupakan seorang penerima bantuan. Karena pendampingan dari Anna Tukimin, relawan yang aktif di misi amal Tzu Chi di wilayah Jelambar, Jun Kiaw merasakan sentuhan cinta kasih dan kehangatan keluarga.

“Jalinan jodoh saya dengan Tzu Chi memang berawal dari keluarga saya yang menjadi penerima bantuan Tzu Chi. Namun saya salut dengan perhatian yang diberikan oleh relawan. Ditambah lagi pesan terakhir anak saya bahwa saya harus meneruskan berjalan di Jalan Bodhisatwa ini. Ada contoh yang baik dari Anna Shijie. Saya ikuti sampai saya menjadi relawan komite,” cerita Jun Kiaw.

Hingga saat ini, Ye Jiao, panggilan akrab Anna Tukimin masih sangat dekat dengan para penerima bantuan termasuk Jun Kiaw. Ia bahkan sering pergi bersama Jun Kiaw dalam suvei kasus. “Kepada penerima bantuan, kita harus menganggap mereka sebagai keluarga sendiri,” katanya. Dirinya menjadi salah satu relawan yang membagikan sharing pengalaman di acara gathering yang diadakan di Guo Yi Ting, Lantai 3 Aula Jing Si.


Anna Tukimin (kedua dari kiri) berbagi kisah tentang perjalanannya di Misi Amal Tzu Chi. Ia menekankan bahwa selain bantuan, pendampingan dan bimbingan untuk keluarga penerima bantuan sangatlah penting.


Gathering Relawan Misi Amal dihadiri oleh 369 relawan yang datang dari wilayah Jakarta, Bogor, Bekasi, Cikarang, dan Tangerang.

“Apabila menangani pasien kasus di wilayah masing-masing, itu merupakan satu kemudahan sebenarnya,” lanjut Ye Jiao. “Karena mereka ini sudah dekat dengan kita, dari situ kita kalau pagi bisa belanja sambil lewat rumah dia, kita bisa mampir, bisa kunjungi, kalau nggak bisa mampir, bisa dari telepon juga. Intinya menganggap mereka sebagai saudara kita. Kita tanya keadaan mereka. Apabila sudah sehat, baru sedikit demi sedikit ajak mereka untuk kegiatan biar bisa sama-sama belajar,” imbuhnya.

Bergabung di misi amal, Ye Jiao selalu mengingat pesan Master Cheng Yen bahwa relawan tidak cukup hanya memberikan bantuan, namun harus memberikan pendampingan dan bimbingan sehingga kehidupan penerima bantuan menjadi lebih baik. “Syukur-syukur mereka terinspirasi dan mau menjadi barisan Tzu Chi sehingga mereka tidak hanya menikmati berkah namun juga menciptakan berkah kembali,” ucap Ye Jiao.

Hingga saat ini, ada 5 penerima bantuan yang ditangani Ye Jiao, yang telah bergabung menjadi relawan. Satu di antaranya sudah menjadi relawan komite. Ada satu lagi penerima bantuannya sudah menjadi donatur dan menggalang dana 60 orang lainnya untuk disumbangkan ke Tzu Chi.

Seperti apa yang diingatkan oleh Lulu di awal acara bahwa, menjalankan misi amal bukan hanya perkara membantu orang lain. Tapi esensi paling dasar dari membantu orang lain adalah membantu diri sendiri. Hal ini bisa berlaku bagi siapa saja. “Melalui membantu orang, kita bisa memperoleh banyak (manfaat), mengasah rasa syukur dan cinta kasih kita, mengembangkan kebijaksanaan, yang secara tidak langsung membawa perubahan dalam diri sendiri,” papar Lulu.

Seni Menikmati Hidup

Berbeda kisah dari Ye Jiao, ada Lie San Ing, yang tahun ini berusia 66 tahun. Empat belas (14) tahun bergabung menjadi relawan Tzu Chi bagi San Ing adalah suatu metode pembelajaran baru, apalagi ia fokus di misi amal.

“Sejak kecil saya sudah merasakan bagaimana hidup susah. Makanya sempat kalau ikut survei kasus, saya seperti kebal,” kata San Ing. “Dulu pernah begitu susahnya, saya sekeluarga sampai bingung harus makan apa. Kalau ada nasi, nggak ada sayur. Kalau ada sayur, nggak bisa makan nasi. Ayah saya bijaksana, beliau membelikan bihun untuk makan kami sekeluarga,” lanjut San Ing menceritakan masa kecilnya.

Hal yang berat di masa kecilnya membuat ia tumbuh menjadi pribadi yang agak kaku dan kata orang dia pemarah. Orang yang dekat dengannya bahkan menjulukinya macan putih. “Ya karena saya dulu memang galak sekali. Emosian. Tapi nggak tahu sekian lama di Tzu Chi, teman-teman relawan malah bilang ‘kamu terlalu baik sih Shijie’. Saya nggak sadar, saya berubah,” tutur San Ing.

Dari pribadi yang dulunya kebal rasa, San Ing pun seperti diasah di misi amal. “Tentu sekarang saya bisa bersyukur dan menyadari berkah saya,” ungkapnya. “Saya sehat, punya tangan kaki lengkap,” lanjut San Ing. Itulah mengapa di usia yang sekarang, ia masih terus aktif di Tzu Chi. Katanya, selama dia masih sehat, dia akan terus menjalankan Tzu Chi.


Lie San Ing (tengah) berbagi kisah tentang bagaimana ia bisa menikmati dan mensyukuri perjalanan hidupnya setelah menjadi relawan Misi Amal Tzu Chi.

Padahal kalau diamati, relawan yang tergabung di He Qi Pusat ini bertempat tinggal di wilayah yang jauh dari kata pusat. San Ing tinggal di Ciputat, Tangerang Selatan. Sedangkan kantor He Qi Pusat ada di ITC Mangga Dua, Jakarta Pusat.

Apabila San Ing akan berkegiatan Tzu Chi di Mangga Dua, ia naik kereta paling pagi di Stasiun Sudimara, Ciputat, sekitar pukul 06.35 WIB. Dari sana ia harus berganti kereta 3 kali, ditambah sekali lagi naik angkutan umum. Sedangkan untuk ke Tzu Chi Center PIK, ia harus berganti menggunakan Transjakarta setelah sampai di Stasiun Jakarta Kota.

“Kalau orang tanya mengapa tidak menikmati hidup di hari tua? Saya akan balik bertanya, yang dinamakan menikmati hidup itu seperti apa? Karena sekarang pun saya sedang menikmati hidup dengan cara saya. Ini sangat nikmat. Saya mempunyai banyak teman, saya melatih diri, menggenggam kesempatan, menciptakan berkah,” tegas San Ing. “Di Tzu Chi saya merasakan hal yang lebih baik, kenapa saya nggak genggam ini saja,” imbuhnya tersenyum gembira.

Akar Kuat Menopang Rindangnya Pohon

Melihat kebahagiaan dari para relawan senior dan junior membuat Wie Sioeng ikut terharu. Ia menuturkan bahwa sebenarnya sudah lama merencanakan acara Gathering Misi Amal Tzu Chi ini, namun baru bisa terlaksana di penghujung tahun 2018. “Hari ini saya membawa pulang semangat dari para senior dan semangat dari anak-anak muda yang hari ini berkumpul dengan satu arah yang sama yakni, menjalankan misi amal,” katanya melalui pesan singkat.

Sebagai Koordinator He Xin Misi Amal Tzu Chi, Wie Sioeng menjelaskan kegiatan ini merupakan suatu wadah untuk menjalin hubungan baik antar relawan amal dari setiap komunitas serta dengan rekan-rekan di Divisi Bakti Amal. Tak ketinggalan juga bagi para relawan senior. “Kami mengundang semua relawan senior sehingga mereka bisa melihat bahwa hingga saat ini misi amal yang mereka wariskan tetap dijalankan oleh generasi penerus,” jelas Wie Sioeng. “Maka sudah layak bagi kami untuk memberikan apresiasi kepada para senior sebagai bentuk penghargaan dan gan en dari hati kami yang paling dalam,” imbuhnya.


Wie Sioeng mengungkapkan terima kasih kepada para relawan senior yang telah hadir dan berbagi kisah serta kebahagiaan mereka.


Barisan relawan di Misi Amal Tzu Chi diharapkan dapat semakin panjang sehingga lebih banyak lagi masyarakat yang bisa terbantu. Misi amal merupakan akar dari Tzu Chi, apabila akarnya kokoh maka akan bisa menopang pohon yang besar dan rindang.

Ketua Tzu Chi Indonesia, Liu Su Mei pun berpesan bahwa setiap generasi mempunyai masanya sendiri. Namun dari masa ke masa, apa yang mereka lakukan tetaplah saling terpaut satu sama lain. “Bagi generasi yang muda terhadap para senior mari saling menghormati mereka. Bagi senior terhadap generasi muda mari mewariskan cinta kasih kepada mereka,” ujar Liu Su Mei.

“Sebenarnya dalam menjalankan misi, melakukan kegiatan Tzu Chi, tidak perlu terlalu tertekan, yang penting kita lakukan dengan sungguh hati. Jadi mari sama-sama memikul tanggung jawab ini, lakukan misi amal, akar kita sehingga akar kita tambah kokoh,” tegasnya.

Editor: Hadi Pranoto

Artikel dibaca sebanyak : 871 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Kesuksesan terbesar dalam kehidupan manusia adalah bisa bangkit kembali dari kegagalan.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat