Selasa, 21 Mei 2019
Indonesia | English

Bagaimana Menjadi Guru yang Bahagia dan Menyenangkan

29 Mei 2017 Jurnalis : Eltri W Andeska (TCUCEC)
Fotografer : Eltri W Andeska, Agus Hartono (TCUCEC)

doc tzu chi

Lebih dari seratus peserta mengikuti kegiatan Day of Mindfulness (DoM) Educators di Tzu Chi Center, Pantai Indah Kapuk Jakarta.

“Tiiiing…” bel kesadaran penuh berdenting. Sejenak aktivitas pun terhenti. Lebih dari seratus peserta diajak untuk kembali hadir menyadari keberadaannya di saat itu, menyadari penuh saat nafas masuk dan nafas keluar, merasakan keheningan yang damai. Di ruangan yang berpendingin dan teduh, semua peserta duduk bersila, berjalan, berbaring. Setiap gerakan dilakukan dengan penuh kesadaran dalam kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 20 Mei 2017 di Tzu Chi Center, Pantai Indah Kapuk, Jakarta.

Kegiatan yang dinamakan Day of Mindfulness (DoM) for Educators ini diikuti oleh 118 peserta, sebagian besar di antaranya adalah pemerhati dan kalangan pendidik. Berkat kerjasama yang apik antara Plum Village, Badan Koordinasi Pendidikan Buddhis Indonesia (BKPBI), Pusdiklat Bodhidharma, dan Tzu Chi University Continuing Education Center (TCUCEC), kegiatan bernuansa meditatif ini berjalan dengan khidmat. Kegiatan yang dipandu oleh enam biku dan bikuni anggota monastik dari Plum Village dan didukung oleh belasan relawan ini mengusung tema Happy Teachers Will Change the World.

“Guru yang damai dan bahagia akan dapat mengubah dunia,” pesan Biku Ven. Thich Chan Phap Kham. Beliau adalah salah seorang pemateri handal yang datang langsung dari Plum Village, sebuah pusat meditasi terkemuka di bawah bimbingan Ven. Thich Nhat Hanh di Perancis.

Bikuni Tin Yeu saat memberikan pengarahan tentang cara menjadi seorang guru yang bahagia dan menyenangkan.

Fokus untuk para guru, kegiatan ini bertujuan agar mereka dapat menyikapi masalah-masalah yang ada di sekolah dengan damai. Di sini mereka diajarkan bagaimana membangun situasi yang menyenangkan dengan kesadaran penuh, dengan cara yang cukup sederhana yaitu mengatur pernafasan. Hal ini pun dapat diaplikasikan dalam berbagai kondisi mulai dari duduk, berjalan, berbaring, bahkan saat makan.

“Yang pertama kita mengajarkan tentang bel kesadaran penuh. Karena setiap kali kita kembali ke nafas masuk dan keluar, kita akan menjadi tenang,” kata Ven. Thich Chan Phap Kham.

Saat seorang guru menemui kondisi yang membuat dia marah, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengenali emosi tersebut dan menemukan cara bagaimana mengatasinya. Ven. Thich Chan mengatakan pada situasi tersebut, saat kita merasa kesal, maka seorang guru harus mengubah dirinya sendiri barulah dapat mengubah dunia.

Tidak hanya di sekolah, banyak orang mengeluhkan sulitnya untuk fokus di tengah kesibukan yang semakin banyak. Ia pun memberikan tips bahwa seseorang hendaknya melakukan satu hal dalam satu kesempatan agar tidak stress dan mudah marah. Dia mengatakan bahwa tidak ada yang namanya multitasking, karena otak manusia tidaklah didesain demikian.

“Caranya kerjakan satu hal dalam satu kesempatan. Saat makan ya makan, saat jalan ya jalan, saat bermain HP ya main HP. Jangan bermain HP sambil jalan,” ujar Ven. Thich Chan, disambut tawa para peserta. Para peserta nampak begitu menikmati semua tahapan kegiatan ini.

Yohanes, seorang guru olahraga Tzu Chi School berpendapat, dengan pengalaman ini Ia bisa lebih merangkul anak-anak. Suasana belajar menjadi lebih nyaman, baik bagi guru maupun anak didiknya. Dia merasakan manfaat yang besar dari kegiatan ini.

“Buat saya ini manfaatnya sangat berguna sekali. Paling tidak saya diberikan satu pembelajaran di mana saya bisa mengontrol emosi saya dan bisa mengontrol diri saya pribadi di dalam menghadapi orang banyak terutama terhadap anak didik,” kata Yohanes.

Mulai saat ini, Yohanes meyakini bahwa Ia akan menjadi seorang happy teacher. Dia pun akan menerapkan ini di kehidupannya terutama saat mengahapi situasi di sekolah.

“Di saat melihat anak-anak sudah sulit diatur, Saya mencoba untuk mengatur nafas, mengontrol diri sendiri sehingga saya tetap bisa memberikan aura yang baik kepada anak-anak sehingga anak-anak juga merasakan nyaman, bukan lagi saya atasi dengan marah-marah, tapi dengan aura yang baik karena saya sudah mencoba mengontrol diri saya menjadi seorang happy teacher,”  ucap Yohanes dengan mantap.

Biku Ven Thich Chan Phap Kham berfoto bersama dengan Indra Gunawan dan Lilis Juliati Arief.

Di tengah guru-guru muda yang berpartisipasi, hadir pula Indra Gunawan. Seorang profesional di bidang penerbitan yang sudah kenyang asam garam, sebagai seorang mantan dosen, Indra amat menikmati kegiatan ini karena tak hanya duduk seperti meditasi umumnya, namun juga mencakup kegiatan sehari-hari.

“Sebelumnya pernah saya ikut meditasi dan juga yang lain, tapi itu kan hanya sitting. Dan di luar itu kan kurang diakui sebagai meditasi. Kalau ini kan apakah jalan, makan, bernyanyi,”  kenang Indra.

Indra berharap kegiatan positif seperti ini dapat lebih sering diadakan, tidak hanya untuk guru namun juga untuk umum. Banyak pelajaran yang bisa diambil, terutama tentang kasih dan damai.

“Lebih menghayati, sebab mindfulness itu bisa dikatakan bukan berarti sama sekali netral, gak begitu. Tapi kita mengamati, tidak judgement. Tapi setelah mengamati, netral dan tidak berpihak, observasi apa yang terjadi, baru kita melakuakan action juga. Pendekatannya kasih dan damai,” tutur Indra.

Dalam kehidupan sekarang ini, di mana banyak orang yang mudah stress dan marah, penting bagi kita untuk tahu bagaimana mengatasi emosi-emosi yang ada. Karena itu, bermula dari pendidik diharapkan dapat memberikan pengajaran dan etika yang baik serta mengatasi emosi kepada para muridnya. Bikuni Tin Yeu, seorang bikuni asal Indonesia yang belajar di Plum Village, yang juga salah satu pengisi acara tersebut menuturkan bahwa guru amatlah penting dalam membawa perubahan dunia. Karena guru adalah figur yang dapat menggerakkan murid-muridnya ke arah yang lebih baik.

“karena guru itu menggantikan juga peran orangtua di rumah. Mereka itu punya power untuk mengajak orang banyak. Karena dia lah yang bisa membawa perubahan, karena kalau dia happy, bahagia. Maka semua itu akan menjadi mudah,” tutup Tin Yeu.

Editor: Khusnul Khotimah

Artikel dibaca sebanyak : 1531 kali


Berita Terkait


Serunya Belajar di Kelas Memasak TCUCEC

18 Juli 2018

Merangkai dan Memaknai Keindahan Bunga

01 Maret 2017

Liburan yang Berkualitas di TCUCEC

09 Januari 2017

Becak dari Pelepah Palem

24 Maret 2016

Filosofi dalam Memasak

16 Oktober 2015


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Mengonsumsi minuman keras, dapat melukai orang lain dan mengganggu kesehatan, juga merusak citra diri.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat