Rabu, 18 September 2019
Indonesia | English

Banjir Manado: Para Pahlawan Hati

14 Februari 2014 Jurnalis : Supriadi Marthaen (Tzu Chi Palembang)
Fotografer : Metta Wulandari dan Teddy Lianto

foto
Warga Tikala Baru yang merasa tersentuh dengan bantuan dan dukungan relawan kepada mereka.

“Kugembira..bila dengar tawamu..”
“Hatiku bersedih..bila engkau menangis..”

 

Kalimat di atas adalah kutipan lirik lagu “Satu Keluarga” yang sudah sangat sering kita dengar di Tzu Chi, tetapi baru kali ini benar-benar saya rasakan keindahannya. Master Cheng Yen sering berkata, “Merasakan penderitaan orang lain bagai penderitaan sendiri dan sebaliknya juga merasakan kebahagiaan orang lain bagaikan kebahagiaan kita.” Rasa empati yang dalam dari hati yang tulus, itulah kunci kesuksesan para insan Tzu Chi dalam menyentuh hati masyarakat Manado.

Tentu saja rasa empati, ketulusan, dan totalitas para insan Tzu Chi juga datang dari besarnya rasa kekeluargaan dan kepercayaan yang begitu tinggi antara satu relawan dengan relawan lainnya. Salah satu dari “Tiga Tiada” yang sering diungkapkan Master Cheng Yen adalah “Di dunia ini tidak ada orang yang tidak kupercaya”. Setiap insan Tzu Chi adalah perpanjangan tangan dan kaki Master Cheng Yen. Jadi bila tidak ada orang yang tidak kupercayai, maka tentu saja kita juga memercayai “tangan dan kaki sendiri”. Di dalam Dunia Tzu Chi kita tidak memiliki kepemimpinan yang sifatnya hierarki, yang ada adalah semangat 4 in 1 : He Xin (Bersatu Hati), He Qi (Ramah Tamah), Hu Ai (Saling Menyayangi), dan Xie Li (Gotong Royong). Semangat 4 in 1 ini yang benar-benar begitu terasa oleh saya selama di Manado. Para relawan Tzu Chi tanpa memandang berbedaan usia, status sosial, agama, dan suku benar-benar menjadi satu barisan cinta kasih yang menyatu dengan masyarakat Manado di Kelurahan Paal 4, Banjer, Tikala Ares.

Ada begitu banyak kisah-kisah hubungan relawan Tzu Chi dan warga yang mengharukan sebagai akibat dari keselarasan hati mereka. Misalnya saja ada seorang ibu yang rumahnya tersapu banjir, tetapi meskipun ibu ini mengalami musibah tersebut, ia tidak larut dalam kesedihannya dan bahkan ikut serta membagikan cinta kasih kepada para relawan Tzu Chi yang sudah menyentuh hatinya dalam wujud menyediakan sarapan pagi dan snack (bubur, pisang goreng, dan ubi goreng) kepada para relawan Tzu Chi. Makanan yang sederhana ini begitu menghangatkan hati karena berasal dari ungkapan hati yang tulus.

foto   foto

Keterangan :

  • Pembagian kupon bantuan kompor beserta tabung gas dan regulatornya kepada warga korban banjir (kiri).
  • Relawan mengajak para warga untuk memeragakan isyarat tangan "Satu keluarga" (kanan).

Begitu pula yang terjadi dengan salah satu rombongan relawan Tzu Chi yang sedang membagi kupon kompor. Ketika itu hari sudah siang, sementara jarak antara RW (Lingkungan) tempat para relawan ini membagikan kupon kompor dengan posko tempat makan siang cukup jauh (bolak-balik sekitar 1,5 jam). Ketika para relawan baru akan membahas tentang rencana makan siang, tiba-tiba ada warga yang memanggil para relawan ini dan menawarkan makan siang di rumahnya. Bahkan ketika para relawan ini selesai membagi kompor pun, ada warga yang menawarkan diri untuk mengantarkan para relawan ke posko dengan menggunakan mobilnya. Uniknya, warga yang menawarkan mobil ini adalah warga yang sama yang pada pagi hari pembagian kupon Cash for Work memarahi relawan tersebut karena anggota keluarganya ada yang tidak kebagian kupon. Kemudian ada juga kisah beberapa orang relawan yang merasa terharu karena banyak warga yang mengajak foto bersama dengan begitu akrab.

Kisah warga yang mengarang dan menyanyikan lagu sebagai ungkapan rasa syukur dan terima kasih kepada para relawan Tzu Chi setelah mendamaikan tetangganya yang bertengkar. Kisah warga Tikala Ares Lingkungan 3 yang membubuhkan tanda tangan dan ucapan terima kasih pada sehelai kain merah. Masih ada banyak lagi kisah-kisah hubungan relawan dan warga yang begitu menyentuh hati yang tentunya tidak dapat diceritakan satu per satu.

Tetapi kalau mau kita mencoba menarik kesimpulan dari semua itu sebenarnya sederhana. Semuanya karena hati yang tulus dan sepenuh hati (Yong Xin), karena hanya “hati” yang satu yang bisa menyentuh “hati lainnya”. Bagaimana caranya? Hok Lay Shixiong menyampaikan kepada saya pada malam hari pertama kami di Manado bahwa kita harus mengecilkan ego kita sekecil-kecilnya, baru bisa masuk dan menyentuh hati orang lain.

Perjalanan kali ini benar benar membawa begitu banyak pengalaman berharga bagi diri saya pribadi. Begitu banyak pengalaman mengharukan, begitu banyak inspirasi-inspirasi dari para shixiong dan shijie di lapangan. Saya sendiri masih orang biasa yang punya banyak kekurangan tetapi saya benar-benar bangga menjadi salah satu barisan dari orang-orang luar biasa. Para Pahlawan Hati yang selamanya akan aku kenang.

Wo Ai Tzu Chi...Wo Ai Tzu Chi...Wo Ai Tzu Chi...

Artikel dibaca sebanyak : 1201 kali


Berita Terkait


Memberikan Apa yang Mampu Diberikan

18 Februari 2014


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Hanya orang yang menghargai dirinya sendiri, yang mempunyai keberanian untuk bersikap rendah hati.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat