Rabu, 02 Desember 2020
Indonesia | English

Belajar Hidroponik dan Penerapan Konsep Berbakti

05 November 2020 Jurnalis : Metta Wulandari
Fotografer : Metta Wulandari, Dok. Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi

Tim Budaya Humanis Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng mulai belajar mengembangkan budidaya tanaman hidroponik di lingkungan sekolah. Memilih hidroponik model rakit apung, para guru menggunakan barang-barang daur ulang yang dimanfaatkan kembali sebagai pelengkap media tanam.


Supina, Koordinator Tim Budaya Humanis Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng menunjukkan pertumbuhan bibit tanaman pakcoy (atau bokchoy) yang ditanam dalam hidroponik rakit apung.

Pada percobaan pertama ini, ada sejumlah 108 bibit tanaman pakcoy (atau bokchoy) dan selada air yang ditanam dengan cara diapungkan menggunakan media styrofoam dalam satu instalasi yang berukuran 3x1 meter, dengan ketinggian 20 sentimeter. Mulai ditanam sejak Sabtu pekan lalu (31/10/2020), kedua bibit tanaman tersebut kini mulai tumbuh tinggi, lebih dari 5 sentimeter. Apabila berhasil, 3 minggu lagi tanaman-tanaman tersebut akan siap dipanen.

“Kuncinya kita sendiri harus telaten mengecek nutrisi yang terkandung dalam airnya. Lalu apabila ditanam di halaman, jangan lupa menambahkan atap (fiber) agar instalasi kita terbebas dari air hujan jadi tidak kebanjiran,” kata Supina, Koordinator Tim Budaya Humanis Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng.


Setiap harinya Supina mengukur kadar nutrisi yang terkandung di dalam air, nutrisi tersebut harus selalu mencukupi kebutuhan tanaman sehingga menghasilkan tanaman yang baik.


Supina ditemani Cai Chai Si memperhatikan pertumbuhan tanaman hidroponik di taman belakang kelas.

Menanam tanaman dengan cara hidroponik dinilai cocok diterapkan di wilayah padat mengingat proses tanamnya tidak memerlukan lahan (media tanah) yang luas dan bisa dilakukan di tempat terbatas. Seperti warga Jakarta yang kebanyakan tinggal di lahan yang terbatas, apartemen, maupun rumah susun, bercocok tanam dengan cara hidroponik bisa menjadi solusi akan kebutuhan penghijauan yang juga membantu menghasilkan udara segar.

“Sekarang walaupun kita lihat halaman (sekolah) kita luas, tapi rasanya masih kurang hijaunya. Jadi gimana ya caranya yang di lantai 2, lantai 3, yang nggak ada tanah tapi bisa juga ada tanamanannya (selain dengan pot)? Intinya biar bisa menambah penghijauan juga di lingkungan sekolah,” lanjut Supina yang giat mengukur nutrisi tanaman hidroponiknya setiap hari.

Bakti Pada Orang Tua


Para guru mengepak media tanam yang akan diberikan kepada para siswa terkait tugas menaman tanaman di rumah masing-masing. Guru menfasilitasi media tanam untuk memudahkan siswa dan orang tua.

Proses menanam tidak hanya dilakukan oleh para guru di sekolah, siswa  yang saat ini tengah belajar dari rumah pun mendapat tugas menanam namun dengan media tanah. Hal itu berkaitan dengan tema Berbakti yang diangkat dalam kelas Budi Pekerti.

“Kalau sebelumnya pembelajaran secara offline (tatap muka), kami ada bikin (tentang anak yang ikut merasakan) gimana rasanya ibu mengandung kan pakai bantal yang diselipkan ke perut, tapi sepertinya itu kurang cocok untuk pembelajaran online,” ungkap Supina.


Siswa memberikan laporan mengenai pertumbuhan tanaman mereka di rumah masing-masing. Mereka mengaku senang melihat perkembangan tanamannya, tak jarang ada yang cemas apabila tanaman mereka tidak tumbuh dengan baik.

Menanam tanaman kemudian dipilih karena tanaman direpresentasikan sebagai seorang bayi yang harus dirawat dan dibesarkan, layaknya orang tua menjaga anaknya masing-masing. “Jadi seperti dari bibit, dalam hal ini anak dalam bentuk janin di perut ibu sudah harus dirawat, lalu berkecambah dan seterusnya, siswa merawat sampai dia besar. Itu banyak tantangannya,” tambah Supina.


Menanam tanaman dipilih menjadi tugas Kelas Budi Pekerti karena tanaman direpresentasikan sebagai seorang bayi yang harus dirawat dan dibesarkan, layaknya orang tua menjaga anaknya masing-masing.

Tantangan-tantangan dalam merawat tanaman tersebut diharapkan memberikan pemahaman bagi para siswa bahwa perjuangan orang tua dalam merawat seorang anak juga tidaklah mudah.

“Dari sana siswa bisa tahu tanggung jawabnya merawat sesuatu, belajar untuk bisa berdikari. Ditambah lagi belajar disiplin diri, dia tahu waktu kapan harus menyiram tanaman, memberikan pupuk, memperhatikan. Jadi ini suatu pembelajaran yang baik sekali untuk siswa dan juga untuk guru,” imbuh Cai Chai Si, Wakil Koordinator Tim Budaya Humanis Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng berharap.

Editor: Hadi Pranoto

Artikel dibaca sebanyak : 177 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Mendedikasikan jiwa, waktu, tenaga, dan kebijaksanaan semuanya disebut berdana.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat