Selasa, 15 Oktober 2019
Indonesia | English

BEM FIB Universitas Indonesia Kembali Kunjungi Tzu Chi Center

11 Juni 2019 Jurnalis : Henny Yohannes (He Qi Utara 2)
Fotografer : Aina, Henny Yohannes, Budiman (He Qi Utara 2)


Para mahasiswa UI mengagumi bangunan Tzu Chi Center PIK yang luas. Mereka pun mengabadikannya dengan berfoto bersama di depan pintu masuk.  

Minggu 12 Mei 2019 di Tzu Chi Center PIK berlangsung tiga hari besar Tzu Chi, yaitu Hari Waisak, Hari Ibu International, dan Hari Tzu Chi Sedunia. Tim Departemen Pengabdi Masyarakat dan Lingkungan BEM FIB Universitas Indonesia pun kembali berkunjung ke Tzu Chi PIK. Ini merupakan kedatangan mereka yang kedua kalinya.

Kedatangan kali ini berbeda dari sebelumnya, sekarang Sphatika mengajak 43 teman-teman komunitas BEM dari berbagai jurusan seperti Sastra Jerman, Sastra Rusia, Sastra Belanda, Sastra Jawa, Sastra Arab, Sastra Indonesia, BKK, FKM. Relawan Aina Shijie, Henny Shijie dan Budiman Shixiong menunggu rombongan Bus Universitas Indonesia di pos satpam pintu masuk Tzu Chi. Setibanya bus, relawan menyambut hangat Sphatika dan mahasiswa lainnya.   

Ketakutan dan Kekaguman
Awalnya Sphatika sedikit takut teman-temannya akan bosan karena satu dan lain hal, namun baru turun dari bus mereka sudah kagum akan bangunan Tzu Chi yang begitu  luas, indah dan bersih. Mereka pun langsung foto-foto di luar gedung Tzu Chi. Saat tiba di lobi mereka disambut oleh para relawan senior dan diarahkan ke ruangan tunggu yang telah disiapkan.  Pertemuan kali ini dibuka oleh relawan senior yaitu Haryo Shixiong, beliau memberikan beberapa penjelasan kepada para mahasiswa/i tentang acara hari ini, apa makna perayaan hari itu dan tema hari itu.


Haryo Shixiong memberikan beberapa penjelasan kepada para mahasiswa tentang makna dan tema acara hari tersebut. 


Wen Yue Shijie bercerita tentang sejarah Tzu Chi dan kisah-kisah Tzu Chi baik di Taiwan maupun di Indonesia.

Relawan senior lainnya yaitu Wen Yue Shijie juga ikut mendampingi para mahasiswa/i UI. Ia sudah menjadi relawan selama 27 tahun, dari awal Tzu Chi masuk ke Indonesia. Walaupun ada tugas di hari itu, ia masih mau menyempatkan satu jam waktunya untuk mendampingi para mahasiswa/I UI touring. Dengan sosoknya yang begitu angun dan bijaksana, Wen Yu bercerita tentang sejarah Tzu Chi dan kisah-kisah Tzu Chi baik di Taiwan maupun di Indonesia dengan begitu baik. Karena para mahasiswa/i mendengar langsung dari narasumber yang tepat maka mereka merasa touring ini sangat berkesan, dan mereka terinspirasi untuk melakukan hal yang sama seperti yang telah Master lakukan menebarkan kebajikan untuk masyarakat dan lingkungan.

Sebelum touring berakhir Wen Yue Shijie mengajak anak-anak untuk menulis harapan di pohon Bodhi. “Semoga seluruh umat berbahagia dan sejahtera, dan tidak ada lagi perpecahan dan perang saudara.”

Kebhinnekaan dan Keharmonisan
Dengan saling mengetahui satu sama lainnya, bisa membuka wawasan kita dalam kebhinnekaan dan keberagaman. Hidup di Negara kesatuan Republik Indonesia, maka kita harus hidup dengan harmonis. Harmonis untuk dapat mewujudkan NKRI yang damai, tenteram, sejahtera, adil, dan merata.


Para mahasiswa UI begitu antusias menghadiri acara hari tersebut walaupun ini merupakan kegiatan keagamaan di luar agama mereka.


Setelah mendengarkan penjelasan dari salah satu karyawan DAAI, para mahasiswa universitas Indonesia ini pun tidak mau ketinggalan untuk menjadi sahabat DAAI. Termasuk Spatika (kanan).

Hari itu Sphatika dan teman-temannya antusias sekali menghadiri acara hari tersebut, walaupun merupakan kegiatan keagamaan di luar agama mereka. Tapi karena rasa ingin tahu mereka seperti apa perayaan Waisak itu, akhirnya mereka pun belajar banyak seperti saat pemandian Rupang Buddha yang telah dilakukan sangat khidmat oleh tamu-tamu yang hadir dan juga oleh salah satu teman mereka yaitu Daniel (jurusan BKK 2017).

“Saat menyentuhkan tangan dalam air dan menerima bunga, hati saya merasa tenang dan damai.” Ujar Daniel.

Menjadi Sahabat DAAI
Setelah acara berakhir mereka menghampiri beberapa stand yang ada di koridor Tzu Chi. Pertama mereka menghampiri stand Sahabat DAAI. Sahabat DAAI bukan hanya untuk karyawan DAAI saja, ternyata masyarakat luas juga bisa ikut berpartisipasi. Keberadaan sahabat DAAI ini sangat membantu DAAI TV dalam menyiarkan tayangan-tayangan yang inspiratif untuk masyarakat. Setelah mendengarkan penjelasan dari salah satu karyawan DAAI, akhirnya para mahasiswa/i Universitas Indonesia ini pun tidak mau ketinggalan untuk menjadi sahabat DAAI.

Mie Instan DAAI, Mie Sehat dan Vegan
Stand berikutnya adalah Mie DAAI, produk ini merupakan produk mie vegan yang termasuk mie sehat karena tidak mengandung MSG, tidak mengandung pengawet dan pewarna buatan. Makan siang yang sebelumnya disantap oleh para mahasiswa/i yang tidak berpuasa yaitu lomie juga terbuat dari Mie DAAI.  

Bumi Kian Mengkhawatirkan
Para mahasiswa/i sangat kagum melihat ribuan botol plastik bekas sampah tersusun  berbentuk bola dunia, yang menunjukkan bumi kian mengkhawatirkan. Ini karena banyak sampah yang dihasilkan oleh manusia perharinya, baik di daratan maupun di lautan.


Tak lupa para mahasiswa diajak menjadi model endorse dari Mie DAAI.


Tim Departemen Pengabdi Masyarakat dan Lingkungan BEM FIB Universitas Indonesia berfoto di depan ribuan botol plastik berbentuk bola dunia. Foto ini untuk mengingatkan mereka akan kondisi bumi yang setiap hari kian mengkhawatirkan. 

“Melihat gambaran keadaan bumi kita ini, kami para mahasiswa sudah sepatutnya turut menjaga dan melestarikan bumi, dengan cara mulai dari hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari kami seperti membawa botol minum sendiri, tidak buang sampah sembarangan dan lain-lainnya. Selain itu kami juga punya kekuatan untuk mempropagandakan aksi lingkungan lewat sosial media agar pengetahuan dan kesadaran dapat tersebar dengan luas,” ucap Sphatika kepada relawan.

Sebagai penghuni bumi kita harus menjaga bumi dengan kedua tangan kita. Karena itu marilah kita bersama-sama menjaga kebersihan bumi tempat kita tinggal ini, agar bumi menjadi sehat dan bebas dari bencana.

Editor: Khusnul Khotimah

Artikel dibaca sebanyak : 340 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Penyakit dalam diri manusia, 30 persen adalah rasa sakit pada fisiknya, 70 persen lainnya adalah penderitaan batin.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat