Rabu, 11 Desember 2019
Indonesia | English

Berbagi untuk Saudara di Sentani

27 Maret 2019 Jurnalis : Marcopolo AT (Tzu Chi Biak)
Fotografer : Marcopolo,Chandra,Lister (Tzu Chi Biak)


Chandra, relawan Tzu Chi Biak tengan mendata para pengungsi di Posko Pengungsian Sekolah SIL, Jayapura.

Hari itu, Sabtu 16 Maret 2019 malam, hujan deras membasahi Kota Sentani, Jayapura, Papua. Beberapa jam kemudian terdengar berita bahwa telah terjadi banjir bandang dan air pasang yang melanda kota sentani. Bencana ini mengakibatkan 63 orang meninggal dan sekitar 6 ribu warga mengungsi (Data dari Posko Induk Gunung Merah, 17 Maret 2019)

Tzu Chi Biak segera berkomunikasi dengan relawan Tzu Chi yang ada di Jayapura untuk segera membantu. Tapi karena terbatasnya sarana transportasi baru pada Selasa malam, 19 Maret 2019, 5 orang relawan Tzu Chi Biak berangkat ke Jayapura menggunakan KM. Ciremai. Rombongan relawan Tzu Chi Biak ini membawa 40 karton Nasi Jing Si untuk para pengungsi. Setelah menempuh perjalanan selama 18 jam, tibalah relawan di Jayapura pada Pkl. 18.00 WIT. Keesokan harinya, relawan Tzu Chi Biak bersama dua relawan dari Jayapura melakukan survei ke Sekolah SIL (Yayasan Abdi Budaya Nusantara) yang menjadi tempat pengungsian warga.


Relawan Tzu Chi melakukan survai ke posko-posko pengungsian sambil membawa barang-barang bantuan, berupa makanan dan kebutuhan warga lainnya.

Hari Kamis, 21 Maret 2019, Pukul 07.00 WIT relawan memulai perjalanan ke posko sementara relawan di Sentani. Setelah tiba tanpa banyak membuang waktu relawan mulai memasak Nasi Jing Si untuk para pengungsi. Target hari itu sebisa mungkin membagi kehangatan dengan membagikan Nasi Jing Si ke 1.000 orang pengungsi.

Sekitar Pukul 13.00 WIT, Nasi Jing Si telah selesai dimasak. Relawan segera mengantarnya ke Posko Pengungsian Sekolah SIL. Sebanyak 541 bungkus Nasi Jing Si diberikan di posko tersebut. Selesai membagikan nasi cinta kasih ini relawan kemudian berkeliling dan mengumpulkan data lewat pos kesehatan yang didirikan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Cendrawasih yang sejak hari Minggu telah berada di posko tersebut. Dokter Michael, salah satu penanggung jawab di pos kesehatan mengatakan, “Kami telah memeriksa kesehatan 736 orang warga sejak hari Minggu sampai pada Kamis siang. Mayoritas keluhan yang diderita pasien adalah trauma, Inpeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA), pusing, kejang, demam, dan ada juga ibu yang melahirkan.” Bagi pasien yang mengalami sakit ringan bisa segera diobati, sedangkan yang masuk kategori berat segera dirujuk ke Puskesmas Sentani untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.


Bella, relawan Tzu Chi bersama anak-anak di posko Pengungsian Sekolah SIL, Jayapura.

Selain itu, relawan juga sempat berbincang dengan Mr. Joost Pikkert, salah satu penanggung jawab posko mengatakan sebelumnya jika di posko tersebut telah menampung 2000 -an orang. Namun karena keadaan yang berangsur-angsur membaik maka para pengungsi mulai kembali ke tempat dan menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan sehingga jumlah yang ada sekitar 1.000 -an jiwa lebih.

Kemudian relawan segera kembali ke posko untuk memasak makan malam bagi warga di dua posko pengungsian lainnya. Sebanyak 200 bungkus didistribusikan ke Posko Sekolah Tinggi Agama Kristen Indonesia (STAKIN) dan 190 bungkus disalurkan ke Posko di Stadion Bernabes Youwe. Di Posko STAKIN sendiri para pengungsi berjumlah 798 orang, dan di Stadion Bernabes Youwe sebanyak 209 orang.


Di Posko Sekolah SIL ada 541 orang pengungsi korban banjir bandang yang mengungsi sementara di tempat ini.

Pihak Pemda Jayapura dengan dibantu anggota TNI, Polri, BUMD/BUMN, swasta, komunitas, dan organisasi masyarakat lainnya bekerja sama membersihkan jalan-jalan yang masih tertutup material longsor. Namun karena luasnya medan yang terdampak banjir bandang ini masih ada beberapa titik yang belum dibersihkan secara maksimal. Proses pembersihan ini juga bukan perkara yang mudah karena hujan masih turun dengan deras selama proses pembersihan dan evakuasi berlangsung.

Relawan sendiri belum bisa menembus ke posko-posko yang lebih jauh karena terkendala cuaca. Keinginan untuk segera menjangkau daerah-daerah yang lebih jauh tetap tinggi, namun faktor keselamatan yang menjadi faktor pertimbangan. Bagaimanapun, keamanan dan keselamatan relawan Tzu Chi di lokasi bencana menjadi prioritas utama dalam setiap misi pemberian bantuan bagi korban bencana.


Editor: Hadi Pranoto

Artikel dibaca sebanyak : 328 kali


Berita Terkait


Banjir Sentani: Merajut Berkah di Danau Sentani

02 April 2019

Banjir Sentani: Perhatian Bagi Keluarga Korban Banjir Bandang

01 April 2019

Banjir Sentani: Setiap Saat Berbuat Kebajikan

29 Maret 2019

Perhatian untuk Para Pengungsi di Sentani

27 Maret 2019


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Ada tiga "tiada" di dunia ini, tiada orang yang tidak saya cintai, tiada orang yang tidak saya percayai, tiada orang yang tidak saya maafkan.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat