Selasa, 21 Mei 2019
Indonesia | English

Berbakti Adalah Berkah Termulia

11 Desember 2018 Jurnalis : Meity Susanti (Tzu Chi Palembang)
Fotografer : Meity Susanti (Tzu Chi Palembang)

Semua anak bersujud kepada orang tua mereka sebagai wujud syukur dan bakti atas jasa-jasa orang tua.

“Cahaya mentari sangat terang, Budi orang tua sangat luhur”. Kata Perenungan Master Chen Yen

Di antara kita pasti tahu sebuah pepatah berbunyi: Surga berada di bawah telapak kaki ibu. Sebuah kalimat kiasan itu menuntun kita untuk menaati dan berbakti kepada ibu, mendahulukan kepentingan ibu daripada kepentingan pribadi, hingga diibaratkan letak diri kita bagaikan debu yang ada di bawah telapak kakinya bila kita ingin meraih Surga.

Di zaman sekarang, banyak terjadi pergeseran nilai di mana anak-anak memiliki pandangan, bahwa membesarkan seorang anak sudah merupakan tanggung jawab orang tua. Di sisi lain perkembangan dunia karier juga begitu cepat, sehingga anak-anak lebih dipacu untuk meningkatkan pendidikan akademisnya dari pada pendidikan karakter (budi pekerti). Hal inilah yang membuat nilai-nilai dalam membangun pendidikan karakter semakin berkurang.

Erly, relawna Tzu Chi langsung mengajak mamanya untuk ikut dalam acara Hari Ibu ketika tahu mamanya akan pulang dari Linggau ke Palembang. Selama 10 tahun mereka tinggal di kota yang berbeda.

Pernahkah kita bertanya kepada diri kita tentang apakah kita benar-benar memahami keadaan orang tua kita? Atau seberapa hangat hubungan kita dengan papa mama?

Untuk meningkatkan kehangatan dalam keluarga, Tzu Chi Palembang, Minggu, 9 Desember 2018, mengadakan peringatan Hari Ibu. Kegiatan ini mengajak relawan dan masyarakat umum untuk bersama mencurahkan kasih sayang kepada kedua orang tua sebagai wujud bakti atas pengorbanan yang telah mereka berikan.

Kegiatan ini dinilai cukup spesial bagi pasangan Bapak Siang Mei dan Ibu Leni. “Hari ini saya sangat bahagia dan terharu, bisa ikut kegiatan Hari Ibu bersama Tzu Chi. Di sini saya merasakan bahwa kegiatan ini sangat mendidik anak-anak untuk menyayangi orang tuanya. Sayangnya hanya dua anak saya yang ikut dan tiga lagi belum bisa ikut untuk merasakan bahagianya hari ini,” ungkap Bapak Siang Mei.

Xiao Pu Sa Berhati Tulus

Hari Ibu dilaksanakan di Ruang Bougenville Hotel Royal Asia Jl. Veteran no. 521, Kepandean Baru, Ilir Timur 1 Palembang. Sebanyak 85 peserta ikut hadir dalam acara ini, terdiri 29 orang tua dan 56 anak.

Dalam kegiatan ini relawan mengajak para orang tua dan anaknya untuk bermain game. Relawan menyediakan sebuah kain hitam dan anaknya harus menemukan tangan lembut mamanya yang selama ini merawatnya, sebagai bukti seberapa dekat dan tahu akan mamanya.

Bahagia bagi orang tua ketika anak-anaknya tumbuh menjadi anak yang sangat menyayangi orangtuanya.

Burhan (berkemeja hitam) mengajak keluarganya untuk ikut dalam acara ini, ia sangat bahagia karena acara ini mengajarkan anak-anak untuk berbakti.

Seperti halnya Enji, seorang anak usia 3 tahun yang dari kecil terlihat sangat menyayangi mamanya. Saat permainan berlangsung ia langsung mencari tangan mamanya di dalam kerumunan. Ketika menemukan tangan mamanya, a berkata, “Ini tangan mama,” sambil senyum bahagia dan memegang tangan mamanya.

Tak dipungkiri terkadang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, orang tua membutuhkan penghasilan agar bisa menunjang kesejahteraan anak. Sehingga mau tak mau mereka harus ekstra kerja keras agar semua kebutuhan terpenuhi. Namun kadang orang tua pun lupa bahwa ada anak yang mungkin tak tahu bahwa orang tuanya bekerja untuk mereka.

Sebagai seorang relawan, Novriko tak lupa mengajak semua anggota keluarga untuk ikut dalam acara ini.

“Hari ini sangat bahagia sudah bisa cuci kaki Mama Papa. Faye ingin nanti kalau kita pulang ke rumah atau hari Minggu, Mama Papa ajak Faye jalan sama-sama. Jangan kerja terus, jadi kita bisa having fun,” kata Faye, seorang siswa Kelas Budi Pekerti kepada orang tuanya.

Tak Perlu Menunda Waktu

Bahagia, haru, senyum tawa dirasakan pada acara ini, dimana anak-anak mendapatkan kesempatan untuk lebih dekat dengan orang tuanya. Mereka bersujud untuk memberi penghormatan sebagai rasa syukur tak terhingga karena orang tua mereka telah membersarkan mereka dengan kehangatan dan pengorbanan. Dilanjutkan dengan membasuh kaki, menyuapi kue, dan menyuguhkan teh dengan harapan agar orang tua merasakan bahwa anak-anaknya sangat menyanyangi dan mengasihi mereka.

Selain mencuci kaki anak-anak juga melayani orang tuanya dengan memijat dan membersihkan tubuh mamanya sebagai wujud bakti.

“Terima kasih kepada semua orang tua yang hadir dalam acara yang mengajarkan anak-anak untuk selalu berbakti dan bersyukur atas kebaikan yang orang tua berikan. Kegiatan ini juga memberikan kesadaran bahwa sudah merupakan suatu tanggung jawab anak untuk menyayangi orang tuanya,” tutur Burhan, salah satu peserta yang hadir. Novriko, relawan Tzu Chi pun setuju dengan pernyataan Burhan. “Usai acara ini kita harus ingat bahwa kita mempunyai tanggung jawab untuk menjaga papa mama,” ucapnya.

Melalui kegiatan ini relawan berharap semoga seluruh peserta bisa mendapat pelajaran bahwa, tak perlu menunda waktu untuk berbakti karena waktu tak mungkin menunggu. Jangan sampai ada penyesalan baru kita mau berbakti itu sama sekali tak ada artinya.


Editor: Metta Wulandari

Artikel dibaca sebanyak : 390 kali


Berita Terkait


Memanfaatkan Tubuh Untuk Berbakti kepada Orang Tua

09 Mei 2019

Perayaan Hari Ibu Sebagai Wujud Mengingat Budi Luhur Orang Tua

25 Mei 2018

Perayaan Hari Ibu di Tzu Chi Batam

18 Mei 2018

Mengenang Jasa Ibu

31 Mei 2017

Kasih Ibu Sepanjang Masa

31 Mei 2017


1 komentar


Sujarwoto On Tuesday, 11 Desember 2018, 16:02:08 wrote:

Kebahagiaan seseorang tidaklah diukur dari banyaknya apa yang dimiliki, melainkan seberapa banyak kebajikan dan kasih yang dipraktekkan. Bakti anak terhadap orang tua merupakan pondasi kesuksesan dan kebahagiaan setiap anak. Turut berbahagia atas kegiatan ini, semoga benih benih jodoh karma yang terjalin antara anak dan orang tua terus menguat sehingga bersama menyempurnakan Paramitha untuk mencapai kebahagiaan hakiki. Gan En...



Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Cemberut dan tersenyum, keduanya adalah ekspresi. Mengapa tidak memilih tersenyum saja?

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat