Rabu, 16 Januari 2019
Indonesia | English

Berdoa Bersama Menyongsong 25 Tahun Tzu Chi

04 September 2018 Jurnalis : Metta Wulandari
Fotografer : Erli Tan, Metta Wulandari, Yusniaty (He Qi Utara 1)

Untuk menyambut usia Tzu Chi yang ke-25, relawan Tzu Chi Jakarta mengadakan Chao San di halaman Aula Jing Si. Chao san bertujuan untuk mengajak relawan berdoa dengan hati yang tulus.

Menyambut usia Tzu Chi Indonesia yang ke-25, relawan Tzu Chi Jakarta mengadakan Chao San di halaman Aula Jing Si, Tzu Chi Center, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. Ritual namaskara ini diadakan pada Minggu, 2 September 2018 dan diikuti oleh lebih dari 200 relawan. Para relawan ini sudah berkumpul di halaman Aula Jing Si sejak pukul 4.30 pagi. Chia Wen Yu, relawan komite senior Tzu Chi Indonesia mengungkapkan bahwa chao san dilaksanakan dengan tujuan untuk mengajak relawan berdoa dengan hati yang tulus agar Tzu Chi tetap solid sehingga barisan relawan bisa terus bertambah panjang dan bermanfaat untuk masyarakat lebih luas.

Chao san adalah kegiatan san bu yi bai, yang berarti tiga langkah satu namaskara. Dalam melakukan ritual ini, relawan berjalan tiga langkah secara perlahan dengan diiringi lantunan Namo Ben Shi Shijia Mou Ni Fo kemudian dilanjutkan satu kali bernamaskara. Begitu seterusnya, mengelilingi lobi Aula Jing Si menuju lapangan teratai, dan kembali lagi ke tempat semula.

Untuk mengingatkan apa makna san bu yi bai, Livia Tjin, relawan komite Tzu Chi menjelaskan bahwa chao san bukan sekadar bernamaskara. Tiga langkah pertama merupakan wujud dari kemantapan langkah dari setiap relawan. “Dalam kehidupan ini, atau dalam perjalanan Tzu Chi pun kalau ada yang tidak sesuai keinginan, atau ada kesulitan, kita tetap teguh berjalan. Buddha berkata bahwa jalan yang susah, harus tetap dijalani,” jelas Livia, “kalau ketemu kesulitan lalu berhenti begitu saja, tidak mungkin Tzu Chi Indonesia bisa sampai 25 tahun.”

Ritual namaskara ini diadakan pada Minggu, 2 September 2018 dan diikuti oleh lebih dari 200 relawan yang sudah berkumpul di halaman Aula Jing Si sejak pukul 4.30 pagi.

Dalam melakukan chao san, relawan berjalan tiga langkah secara perlahan diiringi lantunan Namo Ben Shi Shijia Mou Ni Fo yang dilafalkan oleh para relawan Tzu Chi, kemudian dilanjutkan satu kali bernamaskara.

Dalam setiap langkah chao san tebersit pula ketenangan serta konsentrasi. Pikiran, ucapan, dan perbuatan harus seimbang dan penuh kesadaran sehingga bisa benar-benar merasakan ketenangan dan kesadaran.

Sedangkan namaskara, salah satu maknanya adalah pertobatan (tidak akan melakukan kesalahan lagi), merenung, dan untuk mengikis keegoan. “Bayangkan ketika bernamaskara, kepala dan tangan semua ada di tanah, itu kita mengikis ego kita, dan juga melatih kegigihan. Satu lagi, kita juga mengikis karma buruk,” lanjut Livia.

Master Cheng Yen dalam ceramahnya pun menuturkan bahwa, dalam kehidupan, setiap manusia mempunyai banyak noda batin. Noda batin tersebut membuat siklus kehidupan manusia tidak berhenti. Bagaimana menghentikan itu, jawabannya, setiap orang harus bertobat.

Usai melakukan chao san relawan berkumpul bersama di Fu Hui Ting lantai 2 Aula Jing Si untuk menenangkan diri, serta mendalami Dharma dengan menyaksikan ceramah Master Cheng Yen.

“Yang paling bersyukur adalah kita semua di kehidupan ini mempunyai benih karma yang baik, kita semua berada di lingkungan yang baik. Bagaimana kita memanfaatkan waktu kita dengan baik yaitu dengan menumbuhkan benih baik dengan cara memberikan sumbangsih kepada masyarakat. Dengan begitu kita bisa menciptakan kehidupan yang lebih baik lagi di masa yang akan datang,” kata Mei Rong, relawan Tzu Chi mengutip ceramah Master Cheng Yen.

Dalam hal ini, Wen Yu pun mengingatkan setiap relawan untuk bisa menggenggam kesempatan serta mendalami Dharma. “Kita merasa sangat bahagia karena ada kontribusi dari semua relawan, bukan hanya satu atau dua orang saja. Ke depannya hidup kita bisa menjadi lebih berarti dan kita harapkan masyarakat bisa menjadi lebih baik. Tentu kita harus mengajak lebih banyak orang lagi untuk berbuat baik untuk masyarakat. Kita sendiri pun harus terus menggenggam kesempatan,” tukasnya.

Liu Su Mei, Ketua Tzu Chi Indonesia mengucapkan terima kasih kepada seluruh relawan yang sudah bergabung bersama Tzu Chi.

Tidak jauh berbeda dengan Wen Yu, Liu Su Mei, Ketua Tzu Chi Indonesia pun merasakan kebahagiaan yang sama. Ia mengucapkan terima kasih kepada seluruh relawan yang sudah bergabung bersama Tzu Chi. “Tzu Chi tahun ini berusia 25 tahun. Saya melihat ada shixiong-shijie yang sudah ikut sejak awal, ada juga yang bergabung dari pertengahan. Jadi jalinan jodoh di Tzu Chi itu bulat, tidak ada istilah siapa yang lebih senior dari siapa,” tuturnya usai melaksanakan chao san.

Liu Su Mei pun mengimbau seluruh relawan untuk tidak berhenti sampai di sini dan tetap sepenuh hati menyebarkan cinta kasih di Indonesia. “Gan en (terima kasih) kepada relawan semua yang sudah sepenuh hati memberikan sumbangsih dan mau memegang tanggung jawab. Ke depan, 25 tahun lagi, mari kita semua sama-sama jia you,” ajaknya disambut tepuk tangan seluruh relawan.

Editor: Hadi Pranoto

Artikel dibaca sebanyak : 277 kali


Berita Terkait


Rasa Hormat dan Keyakinan di Jalan Bodhisatwa

05 Mei 2015


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Jangan takut terlambat, yang seharusnya ditakuti adalah hanya diam di tempat.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat