Sabtu, 23 Maret 2019
Indonesia | English

Berita Internasional: Klinik Medis Tzu Chi Melayani 4.100 Orang di Sri Lanka

23 Juli 2018 Jurnalis : Tim Dokumentasi Tzu Chi
Fotografer : Tim Dokumentasi Tzu Chi


Dokter Pengobatan Tradisional Tiongkok Li-Fen Lin dari TIMA Singapura kerap menekuk lututnya ke tanah untuk mengobati pasien. Dia dengan hati-hati bertanya bagaimana perasaan mereka dan menenangkan saraf mereka.

Dari tanggal 13-15 Juli 2018, sebuah tim yang terdiri dari 158 relawan dari rumah sakit Tzu Chi, Asosiasi Medis Internasional Tzu Chi (TIMA) dan relawan Tzu Chi mendirikan klinik medis gratis di selatan Sri Lanka. Mereka melayani lebih dari 4.100 pasien. Banyak dari pasien menderita penyakit kronis yang tidak bisa mereka sembuhkan karena kemiskinan dan kurangnya pengetahuan medis.

Sejak Tsunami menerjang Asia Selatan pada tahun  2004, Tzu Chi telah melakukan berbagai proyek amal di Sri Lanka, termasuk penyediaan layanan medis gratis di daerah terpencil. Sementara itu klinik medis gratis skala besar tiga hari ini diadakan di Rumah Sakit Divisi Baduraliya di Kalutara, yang berjarak sekitar 40 kilometer selatan ibukota Kolombo. Sebagian besar penduduk bekerja di perkebunan teh atau perkebunan karet; mereka mendapatkan penghasilan rendah dan memiliki akses terbatas untuk transportasi. Sulit bagi mereka mendapatkan perawatan medis yang mereka butuhkan.

Tim dokter, perawat, dan apoteker berasal dari rumah sakit Tzu Chi di Hualien, Taipei, Taichung dan Yuli di Taiwan dan TIMA di Singapura. Mereka menyediakan layanan operasi, obat-obatan internal, oftalmologi, pengobatan gigi, dan pengobatan tradisional Cina.

Sekelompok sukarelawan tiba di lokasi sebelumnya untuk mendirikan klinik dan membersihkan rumah sakit dengan stafnya. Arun, seorang perawat kepala yang telah bekerja di sana selama 14 tahun, mengatakan bahwa semua staf rumah sakit sangat senang karena Tzu Chi mengadakan klinik gratis di sana. Ini adalah pertama kalinya sebuah organisasi amal mengadakan klinik gratis di daerah setempat. Tzu Chi dapat membantu rumah sakitnya untuk memberi manfaat lebih banyak pasien, katanya.

Selama klinik gratis, 217 pasien membutuhkan operasi bedah. Dr. Chun-Ming Chang tengah merawat pasien.

Di pagi hari pada tanggal 13 Juli, antrean panjang sudah mengular di depan klinik gratis. Banyak yang berjalan lebih dari satu jam untuk mencapai lokasi tersebut. Penduduk lokal umumnya berbicara dengan bahasa Sinhala, banyak mahasiswa kedokteran dan keperawatan dari University of Colombo dan KDU bertindak sebagai penerjemah. Seorang mahasiswa keperawatan tahun keempat mengatakan bahwa dia tidak hanya belajar pengetahuan medis, tetapi juga melihat kerendahan hati para petugas medis. Dia ingin menjadi perawat yang pasiennya percaya dan percaya diri, ungkapnya.

Selama klinik gratis ini, 217 pasien membutuhkan operasi bedah. Salah satu ahli bedah adalah Dr. Chun-Ming Chang, yang telah berpartisipasi di banyak klinik medis gratis di Nepal, Filipina, dan Indonesia. Dia mengatakan bahwa dia sangat bersyukur melihat ruang operasi yang lengkap. Ini berkat sekelompok relawan dari Singapura, mereka tiba di Sri Lanka terlebih dahulu dengan semua peralatan bedah yang dapat mereka bawa dan mendirikan ruang operasi. Mereka bahkan menambahkan AC.

Karena kemiskinan dan kurangnya pengetahuan medis, banyak penduduk telah menderita sakit selama bertahun-tahun yang hanya membutuhkan perawatan atau operasi sederhana. Sebagai contoh, seorang pria berusia 67 tahun, Munipeme, memiliki tumor berdiameter 10 cm di punggungnya. Selama 20 tahun terakhir, dia tidak bisa berbaring telentang. Sekarang, setelah pengangkatan tumor, Munipeme dapat berbaring telentang dan menikmati tidur malam yang nyenyak.

Premasiri (59), memiliki luka di kakinya selama lebih dari 20 tahun. Sangat sakit, dan sering mengundang lalat untuk berkerumun. Berjalan tanpa alas kaki justru memperburuk kondisi. Di klinik gratis, dokter segera mengobati lukanya, menuliskan resep, dan memintanya memakai sepatu untuk melindungi kakinya untuk menyembuhkan lukanya. Relawan juga menyiapkan sepasang sandal untuknya.

Klinik gratis skala besar yang digelar dari 13-15 Juli 2018 ini memberikan manfaat bagi lebih dari 4.100 pasien.


Sementara pasien menunggu giliran, relawan Tzu Chi berinteraksi dengan mereka dan mengucapkan doa serta menyanyikan lagu-lagu bahasa isyarat. Terlepas dari perbedaan bahasa, relawan menunjukkan cinta dan perhatian mereka.

Banyak pasien masuk ke klinik dengan ketidaknyamanan, tetapi berjalan keluar dengan kepuasan dan senyuman di wajah mereka. Chin-Hua Fu, seorang ahli saraf Rumah Sakit Taichung Tzu Chi, tersentuh oleh senyum mereka. Dia mengatakan bahwa dia akan menghargai berkat yang dia miliki dan mengumpulkan lebih banyak orang untuk membebaskan mereka yang menderita.

Di klinik pengobatan tradisional Cina, dokter meredakan nyeri muskuloskeletal pasien yang disebabkan oleh kerja yang terlampau berat. Satu pasien mengalami tekanan darah tinggi tetapi berhenti minum obat. Bahkan setelah dokter memberinya obat, tekanan darahnya masih terlalu tinggi, sekitar 200 mmHg. Ia pun dibawa ke klinik pengobatan Tiongkok. Dr. Yi-Zhe Zheng, dari Rumah Sakit Taichung Tzu Chi, menggunakan akupunktur untuk membantu meringankan tekanan darahnya. Ini adalah pertama kalinya Dr. Zheng menghadiri klinik gratis di luar negeri. Meskipun ada hambatan bahasa, dokter menggunakan observasi, merasakan denyut nadi dan palpasi untuk melakukan evaluasi.

Dr Udaya Issac Rathnayake, Kepala Distrik Kesehatan Kalutara, sebelumnya pernah menghadiri konferensi tahunan TIMA. Dia sangat mendukung layanan medis gratis ini.

“Tidak ada kata-kata untuk mengucapkan terima kasih kepada Anda. Dalam beberapa hari ini, saya melihat bagaimana semua orang membantu penduduk Kalutara yang sangat miskin tanpa syarat. Saya belajar banyak dan mengerti lebih banyak tentang agama Buddha dan semangat Tzu Chi,” ujarnya setelah klinik gratis berlangsung.

Pada 2017, TIMA mengadakan lebih dari 533 klinik gratis di seluruh Taiwan, yang memberikan manfaat bagi lebih dari 44.000 pasien. Para anggota TIMA peduli terhadap mereka yang membutuhkan sesuai dengan tempat tinggal mereka. Jika ada kebutuhan, mereka akan membentuk tim dan melakukan perjalanan jarak jauh untuk melihat pasien yang membutuhkan bantuan mereka. Mereka ingin menyebarkan cinta yang besar di seluruh dunia.

Artikel dibaca sebanyak : 329 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Dengan keyakinan, keuletan, dan keberanian, tidak ada yang tidak berhasil dilakukan di dunia ini.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat