Jumat, 15 November 2019
Indonesia | English

Berjuang Bangkit Kembali

16 Oktober 2019 Jurnalis : Suyanti Samad (He Qi Timur)
Fotografer : Suyanti Samad (He Qi Timur)


Kunjungan kasih insan Tzu Chi komunitas He Qi Timur di rumah Agatta, salah satu penerima bantuan Tzu Chi.

Adalah sebuah hobi Agatta Stevanya Meralda Montolalu (22) pada kegiatan outdoor seperti naik gunung dan panjat tebing sejak di bangku sekolah menengah atas, hingga ia menjadi salah satu anggota mahasiswa pencinta alam di salah satu kampus di Jakarta Timur. Agatta, panggilan akrabnya selama ini adalah mahasiswi Fakultas Ilmu Komunikasi, Jurusan Hubungan Masyarakat (Humas). Ia kini sudah duduk di semester 7.

Tahun 2016 silam, menyambut mahasiswa baru di kampusnya, Agatta dan rekan-rekannya dari organisasi pencinta alam  melakukan atraksi repling (menuruni ketinggian dengan media tali). Tiga rekannya berhasil, sedangkan Agatta gagal karena miskomunikasi dengan teman lainnya. Akibatnya, Agatta terjatuh ke tanah hingga menyebabkan kelumpuhan dan bergantung pada kursi roda.

Atraksi lompat ini juga sudah merupakan kegiatan rutin setiap tahun. Empat mahasiswa dari Organisasi Mahasiswa Pencinta Alam terpilih menyambut tantangan ini. Mereka berempat akan melakukan atraksi lompat dari atas gedung universitas lantai 6. Atraksi ini tentunya akan didukung dengan bantuan alat pengaman. “Disuruh ikut ambil bagian buat isi acara,” kata Agatta, anak kedua dari tiga bersaudara.


Relawan Tzu Chi terus memberikan semangat dan motivasi kepada Agatta dan keluarganya.

Agatta Stevanya Meralda Montolalu, adalah salah satu pelompat dari 4 orang peserta pelompat lainnya. “Tiga cowok, satu perempuan, itu aku. Tiga cowok berhasil, tapi aku-nya sendirian gagal karena  mis-komunikasi dengan teman lainnya. Ada yang kurang dari safety-nya (alat pengaman) sampai akhirnya aku jatuh ke tanah,” cerita Agatta, saat itu ia masih duduk di bangku kuliah semester dua. Dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Islam, Agatta sudah tidak sadarkan diri. Walaupun sempat sadar sebentar saat di rumah sakit, namun tak berapa lama kemudian Agatta pingsan lagi.

Karena cederanya cukup parah, dokter menyarankan agar Agatta segera dirujuk ke Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta. Dokter di RSCM menyarankan untuk dilakukan operasi tulang belakang Agatta dengan memasang pen. Operasi tersebut dilakukan seminggu setelah kecelakaan. “Gara-gara jatuh itu jadi lumpuh, patah tulang belakang, dan saraf juga putus. Setelah operasi, kata dokter, aku dinyatakan lumpuh,” ujar Agatta, tetap bersikap tegar walau hatinya sedih kala itu.

Dokter menjelaskan tulang belakang patah dan hancur di bagian belakang sehingga harus dipasang pen agar Agatta bisa kuat. Lebih lanjut, dokter juga menambahkan karena sarafnya terjepit akibat dari tulang terbentur hingga patah, sarafnya terputus sehingga berakibat pada kelumpuhan. Walau sudah berkonsultasi dengan beberapa dokter di beberapa rumah sakit dokter mengatakan bahwa Agatta sulit untuk sembuh seperti sediakala.


Relawan Tzu Chi ketika mengantarkan langsung ranjang pasien untuk Agatta yang mengalami kelumpuhan dan sulit untuk bergerak (24 Desember 2017).

Selama sebulan lamanya, Agatta harus menjalani rawat inap di RSCM Jakarta. Tindakan penyembuhan lanjutan adalah rehap medical yang dilakukan selama sebulan di RS Fatmawati sesuai saran dari salah satu dokter RSCM Jakarta. “Rehab medik bukan buat penyembuhan, tetapi buat (melatih) kemandirian. Kasus seperti saya, kata dokter, untuk sembuh itu butuh waktu yang lama. Rehab medik itu bisa buat kamu mandiri. Mau ngapain bisa sendiri. Seperti naik kursi roda sendiri,” tutur Agatta yang saat ini masih bergantung pada mamanya saat di rumah, bantuan papa untuk mengantarnya ke kampus, dan bantuan keuangan dari kakak tertuanya.

Pascaoperasi Agatta tidak bisa duduk, ia hanya bisa tiduran terus di rumah sakit. Untuk memiringkan badan ke kiri ataupun  ke kanan saja harus dibantu orang tua. Semuanya harus dibantu orangtua. “Pas di Fatmawati baru diajarin duduk, segala macam, supaya melatih tulangnya kuat lagi, melatih kakinya biar tidak mengecil. Diberikan fisioterapi,” kenang Agatta.

Kita adalah Satu Keluarga
Agatta Stevanya Meralda Montolalu telah menjadi keluarga besar Tzu Chi sejak tahun 2017. Sejak kecelakaan, relawan Tzu Chi terus mendampingi dan memberikan motivasi padanya. Sebuah kado kejutan juga diberikan relawan Tzu Chi yang memberikannya ranjang rumah sakit untuk Agatta. “Ini adalah hadiah Natal terindah dari Tzu Chi. Sangat bersyukur,” kata Agatta terharu kala itu.


Perhatian dan dukungan semangat dari relawan tak habis-habisnya diberikan kepada Agatta.

Jalinan jodoh baik ini terus terajut hingga sekarang. Sebanyak 15 insan Tzu Chi komunitas He Qi Timur kembali melakukan kunjungan kasih ke rumah Agatta yang terletak di Jalan Enggano, Tanjung Priuk, Jakarta Utara, pada 6 Oktober 2019. Tidak hanya memberikan bingkisan, pada kunjungan kali ini, Agatta mendapat perhatian khusus dari Dokter Fanny, dokter ahli saraf.

Dokter Fanny menyarankan Agatta tetap melakukan fisioterapi pada kakinya. Namun kendala biaya dan bapaknya yang sakit menyebabkan Agatta sempat berhenti menjalani fisioterapi. “Harus fisioterapi untuk melatih saraf kaki, dengan harapan ada pemulihan. Nggak mungkin langsung sembuh seratus persen. Kalau fisioterapi maka saraf-sarafnya bisa pulih,” kata Dokter Fanny

“Senang rasanya dan  sangat bersyukur bisa berjodoh dengan Tzu Chi, diberi dukungan semangat untuk maju walaupun (masih) memakai kursi roda. Saya jadi termotivasi untuk bangkit,” tegas Agatta.

Editor: Hadi Pranoto

Artikel dibaca sebanyak : 248 kali


Berita Terkait


Dharma Bukan Hanya Sekadar Kata-Kata

06 November 2019

Merasa Masih Ada yang Memperhatikan, Masih Ada Yang Peduli

09 Oktober 2019

Bersumbangsih Bersama dan Berbagi Keceriaan

27 Agustus 2019

Menyatukan Keping-Keping Kehidupan

12 Agustus 2019

Belajar, Berbagi dan Bergembira Bersama

07 Agustus 2019


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Dengan kasih sayang kita menghibur batin manusia yang terluka, dengan kasih sayang pula kita memulihkan luka yang dialami bumi.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat