Selasa, 19 Desember 2017
Indonesia | English

Berkenalan Dengan Tzu Chi

07 Desember 2017 Jurnalis : Suyanti Samad (He Qi Pusat)
Fotografer : Halim Kusin (He Qi Barat), SuyantiSamad (He Qi Pusat)

doc tzu chi

Pengenalan tentang sejarah Tzu Chi yang berawal dari 30 ibu rumah tangga di Taiwan yang menyisihkan sebagian uangnya dalam celengan setiap hari kepada rombongan dari Buddhist Fellowship Singapore dan Yayasan Dhammavihari Buddhist Studies.

Gedung Tzu Chi Center yang terletak di Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, selalu menjadi suatu contoh bagi setiap orang maupun organisasi keagamaan lainnya yang datang mengunjunginya. Bangunan tersebut adalah sebuah bangunan yang mengisahkan kebenaran, kebajikan, dan keindahan semangat Buddha dan dunia Tzu Chi. Sebuah bangunan yang menghadirkan semangat pengabdian diri yang penuh welas asih dan cinta kasih dari para insan Tzu Chi yang berlandaskan rasa empati yang mendalam. Sebuah bangunan yang merekam dan mewariskan jejak sejarah cinta kasih Tzu Chi kepada para generasi masa depan.

Pada Jumat, 1 Desember 2017, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia menerima kunjungan dari Buddhist Fellowship Singapore dan Yayasan Dhammavihari Buddhist Studies. Kunjungan ke gedung Tzu Chi Center  ini pun disambut oleh 18 relawan Tzu Chi komunitas He Qi Utara 1.

Yayasan Dhammavihari Buddhist Studies yang berdiri pada 1 Oktober 2015 ini, selalu mendapat kunjungan kerjasama dari Buddhist Fellowship Singapore di setiap tahunnya. Tujuannya adalah untuk melakukan beberapa kegiatan sosial. Salah satu misi Buddhist Fellowship Singapore sendiri adalah menyebarkan cinta kasih melalui bakti sosial dan memberikan perhatian terhadap masyarakat menengah ke bawah serta memberikan dukungan bagi siswa Buddhis maupun umat Buddhis di seluruh Indonesia. Karena anggota Buddhist Fellowship Singapore masih berjumlah sedikit, maka jika ingin melakukan bakti sosial di Jakarta, mereka akan menjalin bekerjasama dengan Yayasan Dhammavihari Buddhist Studies, untuk merealisasikan misi mereka.

doc tzu chi

Kunjungan ke Tzu Chi Center yang diusulkan oleh Slamet Leo (kedua dari kiri), selaku Ketua Yayasan Dhammavihari Buddhist Studies, mendapat sambutan baik dari Buddhist Fellowship Singapore.

doc tzu chi

Sosialiasasi Pengenalan Tzu Chi yang dibawakan oleh Sherly shijie di Galeri DAAI, Tzu Chi Center, PIK, Jakarta Utara kepada 20 orang anggota Buddhist Fellowship Singapore dan 15 orang anggota Yayasan Dhammavihari Buddhist Studies.

Tahun 2017 ini, Buddhist Fellowship Singapore kembali melakukan kunjungan ke Yayasan Dhammavihari Buddhist Studies selama 3 hari. Salah satu agenda kunjungannya adalah ke Tzu Chi Center yang diusulkan oleh Ketua Yayasan Dhammavihari Buddhist Studies, Slamet Leo (49). Hal ini pun mendapat sambutan baik dari Buddhist Fellowship Singapore. “Beberapa diantara anggota Buddhist Fellowship Singapore, ternyata pada saat ini sedang belajar untuk menjadi volunteer (relawan) Tzu Chi Singapore. Ini adalah kesempatan baik bagi mereka untuk mengenal organisasi Tzu Chi, terutama misi kemanusiaan. Belajar kenapa Tzu Chi bisa berkembang menjadi besar, kenapa Tzu Chi teroganisir dengan baik,” jelas Slamet Leo.

Bersama dengan 20 orang anggota Buddhist Fellowship Singapore dan 15 orang anggota Yayasan Dhammavihari Buddhist Studies, Slamet Leo mengajak mereka mengunjungi Tzu Chi Center. Adapun kunjungan ke Tzu Chi Center ini merupakan salah satu program kunjungan perdana yayasan tersebut di tahun 2017. Kekaguman Slamet Leo terhadap Tzu Chi sangat besar. Ia bercerita bahwa sebelumnya Yayasan Dhammavihari Buddhist Studies pernah melakukan kunjungan ke kantor pusat Tzu Chi di Hualian, Taiwan. Yayasan ini pun mendapat sambutan yang sangat baik sekali di Taiwan.

“Kesan mendalam terhadap Tzu Chi adalah organisasi yang terstruktur, memiliki jumlah relawan yang sangat besar, dan telah menyebar ke seluruh dunia. Selain itu juga memiliki kegiatan kemanusiaan dan penyebaran cinta kasih universal,” cerita Slamet Leo. Menurutnya, faktor-faktor yang ada di Tzu Chi bisa menjadi salah satu contoh bagi Yayasan Dhammavihari Buddhist Studies dan ingin berkembang seperti cara Tzu Chi. “Kita ingin belajar bagaimana Tzu Chi membangun relawan begitu terstruktur. Tujuan kita pun sama. Bila Tzu Chi lebih ke arah praktek cinta kasih, yayasan kami juga melakukan pengembangan cinta kasih melalui ajaran Buddha (Dhamma Buddha),” ungkapnya.

doc tzu chi

Vincent Chua (paling kanan) mengikuti dengan seksama rangkaian kegiatan dalam kunjungan di Tzu Chi Center, PIK, Jakarta Utara.

doc tzu chi

Lim Joon Hiang (berdiri), salah satu anggota Buddhist Fellowship Singapore, merasakan suatu kehangatan satu keluarga saat mengunjungi Tzu Chi Center.

Beberapa tahun yang lalu, salah salah satu anggota Buddhist Fellowship Singapore, Vincent Chua juga telah mengenal tentang Tzu Chi saat mengunjungi Taipei, Taiwan. Disana, Vincent Chua mengunjungi gerai Tzu Chi yang memperkenalkan produk Tzu Chi dan buku-buku Tzu Chi. Saat itu, salah satu volunteer Tzu Chi di Taipei menceritakan tentang Tzu Chi, menceritakan Jing Si, dan kegiatan-kegiatan Tzu Chi. “Saya mengenal Tzu Chi, juga dari teman yang telah menjadi volunteer Tzu Chi. Mereka banyak menceritakan tentang Tzu Chi kepada saya. Setelah itu, saya memutuskan ikut serta dalam pelatihan relawan. Di Tzu Chi, saya menemukan filosofi Tzu Chi yang telah menyentuh hati saya. Saya juga sangat berkesan kepada volunteer Tzu Chi. Para insan Tzu Chi sangat disiplin, peduli pada amal sosial kemanusiaan, peduli pada lingkungan. Inilah yang menginspirasikan saya untuk mau bergabung dalam barisan relawan Tzu Chi,” cerita Vincent Chua. Ia pun berharap suatu saat ia bisa memenuhi kriteria untuk menjadi volunteer Tzu Chi.

Menurut Vincent Chua, menjadi relawan Tzu Chi merupakan suatu tantangan baginya. Dalam kunjungannya ke Tzu Chi Center, PIK, Jakarta Utara, ia melihat banyak hal yang telah dilakukan oleh relawan Tzu Chi di Indonesia. “Saya sangat mengagumi Tzu Chi Indonesia karena berada di negara yang sangat besar, memiliki relawan yang baik. Saya sangat bahagia berada di Indonesia,” jelas Vincent Chua. Kunjungan ke Tzu Chi Center ini pun merupakan pengalaman pertamanya. Vincent Chua pun berniat menceritakan pengalamannya kepada teman-teman di Singapura selama mengunjungi Tzu Chi Center di Indonesia tersebut.

Lim Joon Hiang, salah satu anggota Buddhist Fellowship Singapore, juga merasakan suatu kehangatan saat mengunjungi gedung Tzu Chi Center, PIK, Jakarta Utara. Ia merasa seperti sedang dalam sebuah keluarga. “Saya sangat kagum melihat kerapian para insan Tzu Chi dalam berseragam. Semua kancing seragam harus tertutup, dan baju pun rapih dimasukkan,” ujar Lim yang datang bersama istrinya dalam kunjungan di Indonesia. Perjalanan singkat selama 3 hari di Jakarta dan mengunjungi gedung Tzu Chi Center ini pun telah menginsprasikan Buddhist Fellowship Singapore dan Yayasan Dhammavihari Buddhist Studies untuk lebih maju dan giat dalam melakukan kebaikan. 

Editor: Arimami Suryo A.

Artikel dibaca sebanyak : 307 kali


Berita Terkait


Belajar dari Semangat Garsel

15 April 2016

Praktik Nyata di Keseharian

29 Maret 2016

Pembelajaran Cinta Kasih untuk Siswa Seminari

28 Maret 2016


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Security Code
Tak perlu khawatir bila kita belum memperoleh kemajuan, yang perlu dikhawatirkan adalah bila kita tidak pernah melangkah untuk meraihnya.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat