Rabu, 23 Oktober 2019
Indonesia | English

Bersatu Hati dan Bergotong Royong Mengukir Jejak Cinta Kasih

24 April 2019 Jurnalis : Elin Juwita (Tzu Chi Tebing Tinggi)
Fotografer : Amir Tan, Erik Wardi, Lidyawati (Tzu Chi Tebing Tinggi)


Pemotongan tumpeng oleh Ketua Tzu Chi Medan, Mujianto shixiong dengan didampingi relawan dari Tebing Tinggi dan Medan sebagai ungkapan syukur atas perjalanan Tzu Chi Tebing Tinggi selama satu dasawarsa.

Jalan Bodhisatwa adalah jalan yang luas dan lapang. Untuk membentangkan jalan tersebut, kita harus terjun ke dalam masyarakat untuk bersumbangsih secara nyata sehingga jalan yang ditapaki akan semakin luas dan rata. Inilah Ajaran Jing Si yaitu giat mempraktikkan jalan kebenaran. Dengan berpegang pada semangat dan filosofi Tzu Chi yaitu cinta kasih universal, insan Tzu Chi Tebing Tinggi telah mengukir jejak cinta kasih selama 10 tahun di Kota Tebing Tinggi.

Oleh karena itu pada Hari Minggu, 14 April 2019 diadakan perayaan ulang tahun Tzu Chi Tebing Tinggi ke-10 yang dihadiri sekitar 400 tamu undangan yang terdiri dari berbagai elemen yaitu 4 orang anggota Sangha, 1 Pastor dan 11 Suster Khatolik Harapan Jaya Pematang Siantar, pengurus dan umat vihara sekota Tebing Tinggi, Pengurus WALUBI, MBI, WBI, MBMI, Lions Club, Yayasan dan organisasi keagamaan dan sekolah. Lebih dari 100 relawan dan sukarelawan baik dari Medan, Kisaran, Pematang Siantar, Laot tador dan relawan tuan rumah sendiri larut dalam sukacita mengikuti kegiatan ini. Acara ini mengusung tema “Dari kelabu menuju terang. Dari Tiada menjadi ada. Terus melangkah di jalan Bodhisatwa yang lurus dan panjang. Hingga tiada kemelekatan pada suka dan duka.”


Peringatan HUT Tzu Chi Tebing Tinggi ke-10 dihadiri sekitar 400 tamu undangan yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat pada Minggu, 14 April 2019.

Tema ini diusung melihat bagaimana sejarah awal Tzu Chi Tebing Tinggi hingga perkembangannya sekarang. “Tzu Chi Tebing Tinggi yang didirikan pada tahun 2009 lebih banyak dukanya daripada sukanya,” ujar Wardi mengawali kisahnya. Kenapa demikian? Awal-awal berdiri, Tzu Chi Tebing Tinggi tidak memiliki apa-apa. “Semuanya pinjam. Kita juga harus berpindah-pindah tempat terus selama empat kali dalam setahun,” kata Wardi.

“Tapi berkat semangat dan tekad relawan yang terus menjalankan misi, sekarang kita sudah mempunyai gedung kantor penghubung yang memadai. Awalnya kita hanya menjalankan misi Tzu Chi, sekarang kita juga mengembangkan Dharma Master untuk menumbuhkan jiwa kebijaksanaan,” lanjutnya.

Acara dibuka dengan penampilan Zhong Gu (Genderang dan Genta) yang dibawakan 10 orang relawan Tebing Tinggi dengan diiringi lagu “Melambaikan Krayon Kehidupan”. Anak-anak kelas budi pekerti kelas baru juga turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut dengan menampilkan isyarat tangan “Ciak Chai Siong Kai Zan” dimana menghibau kita untuk menjaga kesehatan dan menghargai kehidupan dengan menerapkan pola makan vegetaris. Sedangkan Anak-anak budi pekerti kelas lanjutan mempersembahkan sebuah drama musikal “Gui Yang Tu (Lukisan anak kambing berlutut)’. Tidak ketinggalan relawan laot tador menampilkan sebuah isyarat tangan berjudul “Du Jing Si Yu (Membaca Kata Perenungan) dan Anak-anak panti asuhan juga memperagakan isyarat tangan dengan lagu “Rang Ai Chuan Chu Qu (Menyebarkan Cinta Kasih)”.


Anak-anak kelas budi pekerti kelas baru turut menampilkan isyarat tangan “Ciak Chai Siong Kai Chan” dimana menghibau kita untuk menjaga kesehatan dan menghargai kehidupan dengan menerapkan pola makan vegetaris.

Kemudian acara dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng oleh Ketua Tzu Chi Medan, Mujianto shixiong sebagai ungkapan syukur atas perjalanan Tzu Chi Tebing Tinggi selama satu dasawarsa.

Penayangan dokumentasi tentang kisah perjalan Tzu Chi Tebing Tinggi dari awal berdiri sampai memasuki tahun kesepuluh mendapat sambutan yang hangat dari para tamu undangan. Hal ini terlihat dari kehikmatan saat para tamu undangan menyimak setiap kisah yang diceritakan para relawan sebagai benih pertama yang memprakasai berdirinya Tzu Chi Tebing Tinggi.

Waktu 10 tahun tentu bukanlah waktu yang singkat bagi insan Tzu Chi Tebing Tinggi dalam menggarap ladang berkah ini. Bisa melangkah di jalan Bodhisatwa selama 10 tahun juga tidaklah mudah, dengan mempraktikkan Sad Paramita yaitu kesabaran dan semangat menjadi sarana pelatihan bagi relawan Tebing Tinggi.

Awal Mula Jalinan Jodoh

Awal mula jalinan jodoh Tebing Tinggi dengan Tzu Chi dimulai dari Pinnie Johan shijie yang menjadi penggalang dana amal pertama di tebing tinggi. Donatur yang digalang beliau pada saat itu sudah ada sekitar 300. Melihat perkembangan donatur beliau, insan Tzu Chi dari Medan memotivasi beliau untuk mendirikan Tzu Chi di Tebing Tinggi. Namun pada saat itu beliau masih sebagai seorang ibu rumah tangga yang harus mengurus anak-anaknya yang masih kecil, jadi beliau merasa jodohnya belum matang. Namun beliau mengajak dua orang shixiong yang pada saat itu juga sama-sama sebagai aktivis di wihara yang sama yaitu Wardi shixiong dan Rusli shixiong untuk ikut dalam kegiatan baksos beras yang diadakan Tzu Chi Medan pada saat itu. Namun Wardi Shixiong belum ada jodoh karena pada saat itu beliau ada kegiatan lain.


Relawan Tzu Chi Tebing Tinggi juga turut membawakan bahasa Isyarat Tangan.

Setelah Wardi Shixiong nonton Daai TV, beliau mulai tertarik dengan Tzu Chi. Kemudian beliau mengajak Pinnie Johan Shijie dan Rusli Shixiong untuk mendirikan Tzu Chi di Tebing Tinggi. Akhirnya pada bulan Februari 2009 diadakan tea gathering pertama kali di Tebing Tinggi dan untuk pertama kali Tzu Chi diperkenalkan kepada masyarakat Tebing Tinggi. Proses berdirinya Tzu Chi di Tebing Tinggi sangat cepat dimana dua minggu kemudian diadakan sosialisasi relawan baru yang dihadiri kurang lebih 40 orang.  Satu bulan kemudian, 30 orang relawan mengikuti Pelatihan Abu Putih. Pada tanggal 13 April 2009, Tebing Tinggi ditetapkan sebagai Xie Lie. Inilah yang dijadikan hari berdirinya Tzu Chi di Tebing Tinggi.

Tekad Awal yang Tidak Pernah Luntur

Pada awalnya Tzu Chi Tebing Tinggi melangkah tanpa fasilitas yang memadai. Semua sarana dan prasarana yang dipergunakan adalah pinjaman mulai dari kantor, depo pelestraian lingkungan, dan mobil daur ulang. Kantor yang dipinjam sebagai tempat pertemuan relawan juga tidak bertahan lama dan relawan harus berpindah-pindah terus, bahkan pernah dalam kurun waktu sembilan bulan saja harus berpindah tempat empat kali. Melihat semangat relawan yang tidak pernah luntur dalam menjalankan misi-misi Tzu Chi membuat segelintir orang yang peduli untuk menggagas pembangunan kantor dan depo pelestarian lingkungan yang permanen untuk Tzu Chi Tebing Tinggi.


Sebelum dimulai acara, para tamu undangan disuguhi berbagai masakan vegetarian dan juga kue.

Pada mulanya rencana pembagunan gedung hanya di atas lahan seluas 16 x 16 meter. Kendala lain yang dihadapi relawan pada saat itu adalah untuk mendapatkan izin dari Master Cheng Yen membutuhkan waktu yang lama yaitu dua tahun. Ternyata kesabaran menunggu izin dari Master membawa berkah yang lebih besar. Berkat semangat, tekad dan kesabaran relawan Tzu Chi Tebing Tinggi yang terus menjalankan misi-misi Tzu Chi dan giat melakukan pelatihan diri, sehingga mendapat perhatian dari Hu Ai Medan. Mereka turut menggalang dana untuk pembangunan kantor Tzu Chi Tebing Tinggi. Kini lahan bangunan bertambah menjadi 20 x 34 meter. Pembangunan Kantor Penghubung Tzu Chi Tebing Tinggi telah selesai dan diresmikan pada tanggal 8 November 2015.


Acara ditutup dengan doa bersama. Dengan ketulusan hati semoga cinta kasih dan welas asih bergema di seluruh dunia.

Sampai saat ini, relawan Tzu Chi Tebing Tinggi tetap berpegang pada tekad awal dalam menjalankan misi-misi Tzu Chi. Insan Tzu Chi senantiasa bersumbangsih dengan penuh cinta kasih dan welas asih dalam membebaskan penderitaan serta membina diri sendiri untuk mencapai kebijaksanaan. Master Cheng Yen ingin muridnya bisa menumbuhkan keberkahan dan kebijaksanaan secara bersamaan. Dengan demikian jalan Bodhisatwa yang lurus dan panjang ini dapat terus ditapaki oleh generasi-generasi berikutnya. Inilah pewarisan Dharma. Pelatihan ke dalam diri dapat mempraktikkan cinta kasih, welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin. Sementara itu pelatihan keluar kita mempraktikkan ketulusan, kebenaran, keyakinan, dan kesungguhan. Dengan giat membuka jalan Bodhisatwa. Sehingga batin setiap orang dapat tersucikan.


Editor: Yuliati

Artikel dibaca sebanyak : 351 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Apa yang kita lakukan hari ini adalah sejarah untuk hari esok.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat