Rabu, 18 September 2019
Indonesia | English

Bulan Tujuh Bulan yang Penuh Cinta Kasih

16 Agustus 2019 Jurnalis : Lindawati Tjiawi (Tzu Chi Medan)
Fotografer : Amir Tan (Tzu Chi Medan)


Dalam sharing-nya Uman menjelaskan tiga kebaikan dari bervegetaris, yaitu untuk lingkungan, kesehatan, dan menghargai kehidupan.

Bulan tujuh Lunar adalah bulan “hantu”, demikian anggapan sebagian besar masyarakat awam. Pada bulan ini mereka tidak mengizinkan keluarganya melakukan perjalanan ke gunung maupun bermain di air, tidak boleh melangsungkan pernikahan dan memulai usaha baru, karena ada anggapan bahwa pada bulan Tujuh ini, pintu neraka terbuka dan hantu-hantu berkeliaran. Sebenarnya ini adalah takhayul yang harus diluruskan.

Master Cheng Yen berharap agar relawan Tzu Chi dapat membimbing orang-orang agar tidak tenggelam dalam takhayul. Untuk itu pada Sabtu malam 10 Agustus 2019, relawan Tzu Chi Medan, tepatnya di Medan Timur mengadakan acara Doa Bersama Bulan Tujuh Penuh Berkah di Depo Pelestarian Lingkungan Mandala Medan.

Sebelum memulai acara, para peserta yang hadir diajak makan malam bersama. Relawan menyiapkan makanan vegetarian untuk dinikmati peserta, dengan harapan agar peserta akan menyukai makanan vegetarian.  Di masyarakat banyak yang tidak bersedia  makan makanan vegetarian karena  menganggap makanan vegetarian itu tidak enak. Relawan ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa orang-orang yang bervegetarian juga dapat menikmati banyak makanan populer seperti misop, nasi lemak dan empek-empek vege yang juga enak.


Lagu Berdoa menutup acara Doa Bersama Bulan Tujuh Penuh Berkah. Semua hadirin memegang pelita di tangan dan berdoa dengan tulus, semoga dunia terbebas dari bencana.


Para siswa dari Sekolah Dharma Bakti Lubuk Pakam, Deli Serdang berikrar di hadapan Buddha Rupang.

Para hadirin pun dipersilahkan berdiri dan mengatupkan kedua belah telapak tangan dan acara dimulai dengan memberikan 3 kali penghormatan, yaitu kepada Buddha, Dharma dan Sangha, dilanjutkan dengan melantunkan lagu pendupaan. Sambil melantunkan lagu pendupaan, barisan pembawa pelita, buah dan bunga yang terdiri dari Ketua He Qi Medan Jati, Hu Ai Medan Timur dan wakilnya serta relawan komite Medan Timur berjalan dengan khidmat menuju altar dengan membawa pelita, buah dan bunga di tangan.

Di depan altar, pelita, buah, dan bunga tersebut diletakkan dengan rasa hormat di depan Rupang Sang Buddha. Setelah persembahan dan penghormatan, barisan pembawa pelita, buah dan bunga kembali duduk di barisan pertama dan kedua. Peserta diajak menyaksikan ceramah Master Cheng Yen tentang Ulambana dengan penuh kewelasasihan agar bumi aman tenteram, dilanjutkan dengan cerita anak Gembala Meratapi Kerbau.


Setelah berikrar di hadapan Buddha Rupang, setiap peserta mengambil satu buah daun Bodhi yang bertuliskan  doa dan tekad.


Sumida, relawan calon komite Tzu Chi yang sudah bervegetaris sejak tahun 2015  menceritakan tekad awalnya bervegetaris dipandu oleh MC, Yanny, relawan Komite Tzu Chi.

Dalam ceramahnya Master Cheng Yen mengatakan bahwa bulan Tujuh Lunar tidak seharusnya dianggap sebagai bulan yang tidak baik dan dinamakan bulan hantu, karena bila setiap hari hati kita dipenuhi kebajikan, maka setiap hari adalah waktu yang  baik, aman dan tenteram. Masyarakat awam telah dipengaruhi oleh nafsu keinginan duniawi, maka mereka mulai merasa takut lalu percaya kalau bulan tujuh Lunar setiap tahunnya adalah bulan hantu, di mana gerbang hantu terbuka. Sebenarnya gerbang hantu dibuka oleh manusia setiap hari, tetapi itu bukan gerbang hantu dari neraka melainkan gerbang hantu dalam batin manusia. Master Cheng Yen berharap setiap orang bisa mengubah keburukan menjadi kebaikan dan melenyapkan takhayul di bulan tujuh lunar ini.

Ulambana Sesungguhnya                
Setiap tahun di bulan tujuh Lunar, sebagian besar masyarakat awam mengadakan Ulambana dengan memberikan persembahan masakan  daging kepada arwah. Untuk itu Master Cheng Yen berharap, di bulan tujuh yang penuh berkah ini, relawan Tzu Chi dapat mengajak orang-orang untuk mengembangkan cinta kasih demi menolong semua makluk secara luas dengan tidak membunuh hewan untuk diberikan sebagai persembahan. Akan tetapi dengan menyelamatkan semua makhluk dalam penderitaan, mengingatkan orang-orang agar berdoa dengan tulus dan bervegetaris serta menanamkan Dharma ke dalam batin setiap orang. Ini baru merupakan Ulambana yang sesungguhnya.


Master Cheng Yen mengatakan bulan Tujuh Lunar tidak seharusnya dianggap sebagai bulan tidak baik dan bulan Hantu, tetapi merupakan bulan bakti, bulan berterima kasih dan bulan penuh berkah.

Pada bulan tujuh yang penuh berkah ini hendaknya setiap orang dapat mengimbau orang-orang untuk lebih berbakti pada orang tua dan  merenungkan lebih mendalam akan kasih sayang dari orang tua terhadap anak, bagaimana kita dapat membalas budi luhur orang tua.               

Pada kesempatan ini, Uman, relawan Komite, menjelaskan kepada hadirin ada tiga kebaikan dari bervegetarian. Yang pertama kebaikan bagi lingkungan, dengan bervegetarian akan mengurangi peternakan yang banyak menghasilkan gas metana yang menyebabkan pemanasan global. Kedua, kebaikan untuk kesehatan, bervegetarian membuat badan semakin sehat dan menurunkan emosi. Yang ketiga, kebaikan untuk menghargai kehidupan.

“Dengan bervegetaris kita tidak membunuh hewan untuk dikonsumsi,” terangnya.

Demikian juga dengan Sumida, relawan calon komite, mengungkapkan bahwa dia sudah bervegetaris sejak tahun 2015. Tekad Sumida memulai vegetarian adalah saat mengikuti bedah buku di mana dia menonton tayangan video yang menceritakan seorang tukang masak yang mau memasak ular, dia memotong kepala ular tersebut tetapi ular itu tidak mati dan menggigit kembali si tukang masak tersebut.


Masyarakat komunitas, donatur dan anak asuh juga berikrar di hadapan Rupang Buddha dengan mengatupkan kedua belah telapak tangan, setelah itu mengambil daun Bodhi.

“Dari cerita ini Master Cheng Yen mengatakan bahwa makhluk yang kita bunuh mempunyai rasa dendam dan akan mencari kita untuk balas dendam,” ujar Sumida.

Hal ini menyadarkan Sumida bahwa menikmati makanan enak yang hanya dirasakan di kerongkongan saja. Setelah itu tidak ada rasa nikmatnya lagi, tetapi kita telah menyebabkan banyak makhluk yang terbunuh. Sejak itu Sumida bertekad tidak makan hasil dari pembunuhan.

Acara dilanjutkan dengan berikrar di depan Rupang Sang Buddha. Setiap relawan dan peserta berjalan dengan tertib di depan altar dan berikrar. Setelah itu mereka mengambil 1 buah daun bodhi yang bertuliskan doa dan ikrar, kemudian kembali ke tempat duduk masing-masing. Lagu Berdoa (Qi Dao) yang dinyanyikan oleh semua hadirin dengan tulus menutup acara Doa Bersama ini.

Belajar untuk Bervegetaris
Acara Doa bersama ini telah menginspirasi peserta yang hadir, di antaranya Ati yang hadir bersama kedua anaknya.

“Awalnya saya tidak tahu kalau bervegetaris itu baik, sekarang saya sudah tahu dan saya akan pelan-pelan belajar untuk bervegetaris,” kata Ati.


Para pembawa pelita yang terdiri dari Ketua He Qi Medan Jati, Hu Ai Medan Timur dan wakilnya serta Relawan Komite Medan Timur mempersembahkan pelita di hadapan rupang Buddha.

Demikian juga dengan Lie Cen Fuk, salah satu warga Perumahan Cinta Kasih Bakung yang mengungkapkan bahwa dengan mengikuti acara ini ia mendapat pelajaran tentang vegetarian.

“Dan saya berniat akan bervegetaris karena dapat menyelamatkan bumi,” ujarnya.

Pada acara doa bersama ini turut hadir 19 siswa dan 2 guru dari  Sekolah Dharma Bakti Lubuk Pakam. Daniel, salah seorang siswa kelas X Dharma Bakti mengatakan dengan mengikuti acara ini dia sudah tahu bahwa bulan tujuh bukanlah bulan hantu tetapi bulan penuh berkah.

“Bulan cinta kasih dan sebagai bulan penuh bakti, seperti berbakti pada orang tua dan guru,” kata Daniel.

Seperti kata Master Cheng Yen, bulan tujuh Lunar adalah bulan bakti, bulan berterima kasih, dan bulan penuh berkah. Karena itu sudah seharusnya setiap orang bersungguh hati dalam menggalakkan pola makan vegetarian secara menyeluruh kepada semua orang.

Editor: Khusnul Khotimah

Artikel dibaca sebanyak : 272 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Sikap jujur dan berterus terang tidak bisa dijadikan alasan untuk dapat berbicara dan berperilaku seenaknya.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat