Jumat, 15 November 2019
Indonesia | English

Cinta Kasih Orang Tua Seluas Dunia

04 September 2019 Jurnalis : Ami Haryatmi, Yohanda, Yuliawati (He Qi Barat 2)
Fotografer : Mery Hasan, Roy Hudiana, Wanda Pratama (He Qi Barat 2)


Muliawati bersama adiknya membasuh kaki ibunya pada kegiatan Bulan Tujuh Penuh Berkah yang diadakan relawan Tzu Chi komunitas He Qi Barat.

Dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa ada keyakinan bahwa hari ke 15 pada bulan ke 7 dalam kalender Tionghoa adalah bulan yang kurang baik. Tetapi bagaimana kita melihat suatu tradisi dengan pandangan yang baik, hal ini bisa dicermati dalam ceramah Master Cheng Yen pada acara Bulan Tujuh Penuh Berkah.

Bagi orang kebanyakan bulan tersebut diwarnai oleh hal-hal mistis, seperti mitos, pamali atau tabu karena ada mitos yang berkembang bahwa bulan tujuh adalah sebagai bulan hantu. Di mana pintu neraka dibuka, sehingga dilarang atau kurang baik untuk berkegiatan seperti mengadakan acara pernikahan, pindah rumah, membuka usaha baru, dan lain-lain. Sehingga untuk menetralisir hal kurang baik tersebut sering diadakan upacara ulambana.

Namun pada kenyataannya, bulan tujuh adalah bulan yang penuh berkah, maka diadakanlah acara  memeringati Bulan Tujuh Penuh Berkah sebagai bulan bakti.

Acara Bulan Tujuh Penuh Berkah tersebut diperingati pada Minggu 25 Agustus 2019 di Guo Yi Ting lantai 3 Aula Jing Si, Tzu Chi Center. Dihadiri 283 orang, baik relawan maupun masyarakat umum, dimana sebanyak 46 pasang keluarga mengikuti prosesi membasuh kaki orang tua yang melambangkan bakti anak terhadap orang tua.

Melimpahkan Jasa
Acara dibuka dengan doa dan ceramah Master Cheng Yen tentang makna bulan 7. Kemudian acara dilanjutkan dengan penayangan film animasi yang mengisahkan Yang Ariya Mogalana.

Pada zaman Buddha Gautama, ada seorang murid bernama Yang Ariya Mogalana. Pada saat Meditasi, beliau mengenang dan mengkhawatirkan keberadaan mendiang almarhumah ibunya, ada dialam manakah almarhumah ibunya?


Natalia Lahmudin relawan komunitas He Qi Barat 2, bersama sang mama, Ibu Megawati Susanti, dan adiknya Very Lahmudin usai ikut dalam kegiatan Bulan Tujuh Penuh Berkah.

Dengan kekuatan mata batin yang telah dicapainya, Mogalana bertemu ibunya di alam setan kelaparan. Lalu karena iba, beliau memberi makan ibundanya yang terlahir sebagai hantu kelaparan. Tetapi berulangkali makanan yang disajikan selalu berubah menjadi bara api panas atau hangus pada saat hendak disuap ke mulut ibundanya.

Mogalana bertanya kepada Buddha Gautama, cara apakah untuk membebaskan ibunya dari alam penderitaan tersebut? Karena semasa hidupnya sering membunuh banyak binatang demi memuaskan  hawa nafsu makannya yang sangat besar dan sering berbuat banyak kejahatan seperti ketamakan dan kebencian, menghamburkan materi, tidak punya welas asih terhadap orang lain yang menderita, ibunda Mogalana terlahir kembali menjadi setan kelaparan yang menderita. 

Buddha menganjurkan Mogalana untuk memberi persembahan kepada Buddha dan anggota Sangha sebagai pelimpahan jasa kebajikan atas nama almarhumah Ibundanya. Seketika itu ibundanya terlepas dari alam penderitaan dan terlahir di alam yang lebih berbahagia.

Bulan Bakti
Bulan 7 sejatinya adalah bulan berkah, karena diyakini pada bulan tersebut adalah masa dimana semua diingatkan akan budi baik orang tua yang masih hidup maupun yang telah tiada.

Master mengajarkan bagaimana membalas budi orang tua yang telah berada di alam lain dengan berbuat kebajikan. Bukan sekadar membakar barang-barang namun dengan berbuat kebajikan kepada dunia dan seisinya.

Mengapa tidak membakar barang-barang? Karena dengan tidak membakar barang-barang berarti mengurangi polusi, ini adalah bentuk cinta kasih kita pada dunia. Juga dengan bervegetaris yang merupakan wujud cinta kasih kepada semua makhluk.

Prosesi Basuh Kaki
Acara inti kegiatan Bulan Tujuh Penuh Berkah kali ini adalah membasuh kaki orang tua sebagai lambang bakti anak terhadap orang tua.

Di antara peserta adalah Muliawati dari Tanjung duren. Muliawati yang semula tidak menyangka ada acara membasuh kaki, serta merta bermaksud mengikutkan 5 orang keluarganya untuk membasuh kaki sang Ibu. Niat bakti yang luar biasa ini akhirnya diputuskan 2 putri tertua yang membasuh kaki Ibu A Mau.

Muliawati menyatakan, “Di manapun, keyakinan apapun, mengajarkan tentang kebaikan, tapi di Tzu Chi ini saya menemukan lebih banyak ajaran dan contoh tentang cinta kasih, welas asih, dan kebajikan. Dari acara membasuh kaki orang tua ini membuat saya semakin sadar supaya lebih banyak memberikan waktu untuk  berbakti dan  mendampingi orang tua setiap hari.”

Muliawati  melanjutkan, “Selain itu karena cinta kasih saya terhadap hewan, saya terus belajar berproses, berkelanjutan untuk bervegetaris dan mengurangi kemelekatan terhadap daging.”

Tak berbeda dengan Muliawati, Natalia Lahmudin relawan dari wilayah Jakarta Barat yang nampak begitu terharu itu. seraya memeluk sang mama ia mengatakan, “Acara basuh kaki ini membuat hati saya tersentuh sehingga semakin sayang dan hormat kepada mama di sisa usianya. Saya selalu mengingat bagaimana jasa mama dengan kekuatan, susah payah membesarkan kami anak-anaknya tanpa mengeluh. Sungguh saya ingin lebih banyak orang lain lagi mengikuti acara ini, supaya mereka lebih berbakti pada orang tua.”


Rita Malia (kanan) terinspirasi untuk mengikuti semua petunjuk Master, demikian pula anaknya Nadia (kiri) yang berjanji terus berbakti pada orang tua.

Senada dengan Muliawati dan Natalia, pada akhir acara, seorang peserta bernama Rina Hendra dari Tangerang, mengatakan, “Tayangan dan acara yang saya saksikan tadi sungguh membuat saya menangis terus menerus. Saya baru sadar ternyata tanpa sengaja kadang kita melakukan hal yang salah. Maka dengan acara ini mengingatkan saya untuk terus berbakti dan berbuat kebajikan, serta membalas jasa orang tua. Dan itu adalah kewajiban setiap anak pada orang tuanya.”

Salah satu seorang Komite bernama Rita Malia Widjaja (Ming Hsi) dari Hu Ai Serpong Tangerang, nampak terhanyut dan terharu sejak acara dimulai. Ia datang bersama putrinya Nadia Dharma yang aktif di Tzu Ching Tangerang, karena ingin mengikuti prosesi basuh kaki. “Sebenarnya ingin mengajak papa tapi tidak mungkin karena sudah meninggal, demikian juga dengan mama yang kondisinya tidak memungkinkan ikut serta, sehingga Nadia yang diajak,” katanya. Rita mengaku sedih karena teringat kedua orang tuanya. “Rasanya belum puas berbakti dan memberikan yang terbaik kepada almarhum papa, semoga beliau bahagia di alam sana,” imbuhnya.

Dari semua tayangan yang ditampilkan, Rita terinspirasi untuk mengikuti semua petunjuk Master, demikian pula Nadia. “Berjanji untuk lebih sadar diri, lebih berbakti sama orang tua dengan cara jaga ucapan dan tidak main HP melulu,” ungkap Nadia.

Lenah (40) yang dibasuh kakinya oleh Kania (10), ikut acara ini karena suaminya yang aktif di Tzu Chi Depo Daur Ulang Carang Pulang, Tangerang. Mereka mendapat informasi dari relawan bernama Tjeng Nio untuk ikut acara ini. “Ingin tahu seperti apa acara ini,” kata Lenah. Setelah menonton beragam tayangan ia merasa sedih karena sebenarnya ingin mengajak ibunya yang telah berusia 68 tahun. “Ingin lebih berbakti sama mama yang masih hidup juga ingin mengubah pola hidup dan tradisi sembahyang sesuai pesan Master Cheng Yen yaitu, mengurangi membakar terlalu banyak kertas dan mengurangi persembahan sembahyang hewani, serta memulai pola makan vegetaris,” lanjutnya.

Berbeda dengan peserta lain pada umumnya, Kania malah merasa senang, “Karena bisa menyuapi mama, mijit mama dan menunjukkan rasa bakti kepada mama. Mau belajar lebih baik, tidak bandel dan membanggakan mama dan papa.”


Lenah (kiri) ingin sekali mengajak ibunya yang sudah berumur 68 tahun untuk bisa menunjukkan rasa sayang dan baktinya.

Merry Christine seorang relawan komite dari He Qi Barat 1 yang adalah seorang Zhen San Mei (relawan dokumentasi) bagian foto yang bertugas pada saat prosesi basuh kaki ikut memeluk dan menggosok-gosok tangan seorang ama. “Karena saya lihat ama itu kedinginan saat dicuci kaki oleh anaknya sehingga saya spontan tergerak memeluk dan menggosok tangannya supaya hangat, karena saya teringat almarhum mama saya yang sudah meninggal 5 tahun yang lalu,” jelasnya.

Berbakti Setiap Saat
Seluruh rangkaian kegiatan itu mengingatkan akan jasa dan budi baik orang tua, bahwa cinta kasih orang tua seluas dunia. Selama orang tua masih hidup bersama hingga tiada, mereka masih merasakan kebahagiaan bila putra putrinya melakukan kebajikan.

Johnny Chandrina, PIC kegiatan Bulan Tujuh Penuh Berkah He Qi Barat 2 mengatakan bahwa ide awal acara ini seperti pesan Master bahwa bulan tujuh ini seharusnya penuh berkah. “Kami ingin mengajak semua relawan mendengarkan ceramah Master dan hidup bervegetaris, puncak acaranya adalah bulan bakti dengan membasuh kaki orang tua, karena mungkin ada anak yang cukup merasa berbakti kepada orang tuanya, tetapi alangkah baiknya ditunjukkan rasa bakti tersebut, tentu akan lebih baik,” kata Johnny. “Banyak sekali yang terharu, ada yang hubungan antara anak dan orang tuanya kurang harmonis sehingga meminta maaf. Harapannya semua yang datang menjadi bahagia dan berpola makan vegetaris, juga lebih berbakti kepada orang tua, mumpung mereka masih hidup,” tambah Johnny.

Bagi Johnny, bakti anak terhadap orang tua tidak hanya bisa dilakukan pada momen bulan 7 atau pada saat prosesi basuh kaki, namun setiap hari, setiap saat. Seperti yang selalu diajarkan oleh Master Cheng Yen melalui kata perenungannya bahwa: Setiap hari kita harus berterima kasih pada orang tua dan semua makhluk hidup. Sepanjang hayat kita janganlah sampai mengecewakan mereka. Kalimat tersebut mewakili seluruh momen berharga yang digelar pada acara Bulan Tujuh Penuh Berkah.

Editor: Metta Wulandari

Artikel dibaca sebanyak : 449 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Memberikan sumbangsih tanpa mengenal lelah adalah "welas asih".

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat