Rabu, 20 November 2019
Indonesia | English

Dharma Bukan Hanya Sekadar Kata-Kata

06 November 2019 Jurnalis : Ami Haryatmi (He Qi Barat 2)
Fotografer : James Yip (He Qi Barat 2)

Sharon, siswi Kelas Budi Pekerti Tzu Chi memijit Opa Ayub yang kurang sehat.

Hari Minggu pertama di bulan November (3/11/2019), relawan Tzu Chi dari komunitas He Qi Barat 2 mengawali bulan ini dengan dengan melakukan kunjungan kasih ke Wisma Sahabat Baru di Jakarta Barat. Wisma Sahabat Baru adalah “rumah tinggal” bagi para lansia (lanjut usia) yang menderita sakit. Para penghuninya umumnya sudah tidak memiliki keluarga lagi, atau jarang mendapatkan perhatian dari keluarganya. Kegiatan kunjungan kasih ini dimotori  Yani Adikarta dan didukung 15 orang relawan lainnya.

Seperti biasa, acara diawali dengan doa. Kali doa dipimpin oleh Opa Budi, penghuni wisma yang telah beberapa tahun menempati wisma tersebut. Yani Adikarta beserta relawan Tzu Chi lainnya memandu acara yang bertemakan Bulan Kesehatan dan Hari Pahlawan.

Para opa dan oma diajak untuk senam bersama agar peredaran darahnya menjadi lancar.

Beberapa oma dan opa masih ingat nama-nama Pahlawan dan mampu menebaknya. Selanjutnya seperti biasa menghibur dengan nyanyian. Tak terduga ketika lagu mandarin diperdengarkan, sontak semua oma opa menyanyi. Bahkan Oma Hilda yang “masih cantik” me-request lagu yang artinya gadis cantik dari Mejen. Tak pelak para relawan langsung menggoda Oma Hilda, bahwa lagu tersebut adalah nostalgia beliau. Oma Hilda senyum bahagia, dibarengi tawa bahagia para relawan.

Kebahagiaan nampak di wajah  Opa Lay Yun Kie, pria berusia 62 tahun dan tengah menderita stroke ini terpaksa tinggal di Wisma.


Lina Burhan mengajarkan Dharma pada putrinya bukan hanya dengan kata-kata tapi tindakan nyata.

Ketika seorang relawan memberikan pisang, Opa Lay megajarinya untuk mengupas pisang dengan caranya. Menurutnya mengupas pisang bukan dari tangkainya. Tapi dari ekornya. Opa Lay bilang, “Ujung ini adalah yang lahir duluan, akan hilang (kita makan) duluan. Seperti halnya kehidupan ini, kami-kami yang tua harus mendahului kalian. Bisa juga dianggap yang tua harus lebih didahulukan atau  dihormati,” kata Opa Lay.

Benar ungkapan Opa Lay, setiap hal yang terjadi di sekitar kita adalah Dharma bila kita mampu memahaminya. Seperti yang dilakukan para relawan, Lina Burhan salah satunya. Kali ini Lina Burhan datang bersama putrinya. Lina Burhan mengatakan, ”Bagi saya, apa yang kita lakukan ini adalah Dharma. Dharma ada dimana-mana, di setiap kejadian yang kita alami dan kita lakukan. Maka sebisa mungkin apa yang kita lakukan bisa menjadi teladan bagi anak-anak kita untuk lingkup keluarga dulu. Selebihnya bisa menjadi teladan bagi orang lain. Dharma itu bukan sekedar kata-kata tapi contoh yang kita praktekkan secara nyata.”

Apa yang dikatakan Lina diamini oleh Sharon,  putrinya. Sharon gadis berusia 14 tahun itu adalah siswi Qin Zi Ban ( sekolah Budi Pekerti Tzu Chi). Gadis muda itu mengatakan, “Karena seringkali melihat mami papi melakukan pelayanan bagi orang lain maka saya juga dengan sukacita menirunya. Saya memilki nai nai & ye ye (oma & opa)  juga maka di sini saya menganggap oma opa seperti keluarga sendiri. Kan kata Master Cheng Yen bahwa 2 hal yang tidak bisa diunda adalah berbakti pada orang tua dan berbuat kebajikan”, imbuhnya dengan tersenyum manis sambil memijit bahu Opa Ayub yang terlihat kurang sehat.

 

para relawan mengibur dengan sepenuh hati para penghuni panti, dan memperlakukannya bagaikan Keluarga Sendiri.


Lina Burhan & Sharon, jalinan manis dalam Dharma Ibu dan anak.

Yang dilakukan Sharon, adalah meneladani dari Lina Burhan sebagai maminya. Apa yang dilakukan Lina Burhan, senada dengan ajaran Master Cheng Yen dalam Sanubari Teduh: “Jangan memanjakan anak Anda, kasihilah mereka dengan kbijaksanaan serta ilhami dan pandu mereka. Lebih lanjut gunakan kasih Anda sebagai orang tua untuk mempedulikan dan melayani orang-orang yang bukan keluarga kita dan semua makhluk. Dengan cara ini anak-anak secara berangsur dapat memahami arti cinta sejati.

Kunjungan kasih ini adalah juga Dharma yang bukan sekedar kata-kata tapi wujud nyata kepedulian dalam melayani orang lain dengan penuh cinta kasih. Kepedulian bahwa oma opa di Wisma ini adalah keluarga para insan Tzu Chi sendiri. Hal ini dilukiskan dalam Shou Yu ( gerak dan lagu isyarat tangan) Satu Keluarga sebagai penutup kunjungan kasih tersebut.

Editor: Hadi Pranoto

Artikel dibaca sebanyak : 425 kali


Berita Terkait


Penghiburan Kepada Oma Opa, Kebahagiaan Bagi Semua

16 Juli 2019


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Dengan kasih sayang kita menghibur batin manusia yang terluka, dengan kasih sayang pula kita memulihkan luka yang dialami bumi.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat