Kamis, 12 Desember 2019
Indonesia | English

Doa dan Harapan di Rumah yang Baru

18 November 2019 Jurnalis : Arimami Suryo A
Fotografer : Arimami Suryo A, dok. Tzu Chi Indonesia


Minggu, 17 November 2019, Tzu Chi Indonesia mengadakan kegiatan penyerahan kunci rumah kepada 10 warga Kamal Muara yang mendapatkan bantuan program bebenah kampung yang berlangsung Masjid Jami’ Al-Huda, Kamal Muara.

“Tempat tinggal adalah hal yang mendasar bagi setiap orang. Jadi kita berharap rumah ini akan menjadi tempat tinggal yang nyaman bagi mereka. Walaupun kita di sini membangun 10 rumah, bukan berarti program bedah rumah kita telah selesai, kita juga berharap dapat membantu warga lain yang memerlukan di kampung ini,” ungkap Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Liu Su Mei.

Liu Su Mei meninjau rumah-rumah yang telah Tzu Chi bangun sekaligus melakukan seremoni penyerahan kunci rumah program bebenah kampung di wilayah Kelurahan Kamal Muara, Penjaringan, Jakarta Utara, Minggu, 17 November 2019.

Sebelum melakukan peninjauan rumah, Liu Su Mei beserta rombongan relawan Tzu Chi Jakarta juga mengajak perwakilan dari Kecamatan Penjaringan, ketua RW 01 dan RW 04 Kamal Muara, dan 10 warga penerima bantuan rumah untuk melaksanakan kegiatan penyerahan kunci secara simbolis kepada warga-warga di halaman Masjid Jami’ Al-Huda, Kamal Muara. Hal ini disambut baik dan mendapatkan apresiasi dari perwakilan Kecamatan Penjaringan yang hadir dalam seremoni tersebut.


Teksan luis, Koordinator Program Bebenah Kampung di Kamal Muara memaparkan maksud dan tujuan membantu warga yang memiliki tempat tinggal tidak layak huni.


Apresiasi kepada Tzu Chi juga diberikan Dwi Pandji Forkiantoro, Sekretaris Kecamatan Penjaringan saat memberikan sambutan dalam acara penyerahan kunci rumah kepada 10 warga Kamal Muara.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia yang telah membantu kami, berbagi kepada kami, sehingga program pemerintah dalam menata kampung dapat terbantu. Ini adalah bukti dari kebhinnekaan, wujud dari semangat kegotong-royongan bersama,” ucap Dwi Pandji Forkiantoro, Sekretaris Kecamatan Penjaringan dalam sambutannya mewakili Camat Penjaringan yang kebetulan berhalangan hadir.

Warga menyambut kegiatan sederhana ini dengan penuh suka cita. Liu Su Mei juga memotong tumpeng yang dibawa oleh relawan Tzu Chi sebagai tanda selesainya prosesi bebenah rumah 10 warga yang berada di RW 01 dan RW 04 Kamal Muara. Dalam kegiatan serah terima kunci ini, Teksan Luis, koordinator program bebenah kampung di Kamal Muara juga memaparkan maksud dan tujuan Tzu Chi membantu warga yang kurang layak rumah tinggalnya.

“Kami membangun kembali rumah yang tidak layak tinggal menjadi sebuah rumah yang permanen, kokoh, serta memberikan rasa aman bagi yang tinggal di rumah tersebut. Dengan memiliki hunian yang lebih baik dan lebih sehat, anak-anak juga bisa belajar dengan baik. Kepala keluarga juga bisa mencari nafkah dengan tenang, sehingga kualitas kehidupan pun dapat meningkat,” kata Teksan.


Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Liu Su Mei memotong tumpeng sebagai tanda syukur atas berhasilnya program bebenah kampung yang dilakukan Tzu Chi di Kamal Muara.

Setelah seremoni selesai, Liu Su Mei beserta rombongan melanjutkan kegiatan dengan mengunjungi beberapa rumah penerima bantuan bebenah kampung Tzu Chi di Kamal Muara. Ia juga berharap setelah warga memiliki tempat tinggal yang nyaman, warga juga harus mulai belajar memperhatikan lingkungan dan bersama-sama menciptakan lingkungan yang bersih.

“Saya sangat gan en kepada shixiong dan shijie kita yang bersumbangsih tanpa pamrih dan terus memberi perhatian kepada warga di sini. Dengan penuh cinta kasih memberikan perhatian dan binaan, sehingga warga juga tergerak hatinya. Maka kita berharap nantinya tempat ini akan dipenuhi cinta kasih, sehingga semua warga dapat hidup dengan tenang dan damai,” kata Liu Su Mei disela-sela mengunjungi rumah warga.

Sukacita Memiliki Rumah Baru
Senang tidak terkira bagi Bungadia (60), warga penerima bantuan bebenah rumah Tzu Chi di RT 02 / RW 04, Kelurahan Kamal Muara, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara saat mengikuti acara penyerahan kunci. Matanya berkaca-kaca karena ia sekarang memiliki rumah yang layak tinggal bersama cucu dan anaknya.


Liu Su Mei beserta rombongan relawan Tzu Chi Jakarta juga melihat langsung beberapa rumah yang dibedah Tzu Chi di Kamal Muara.

Tahun 1974, Bungadia yang saat itu berusia 15 tahun mulai menetap di Jakarta dari Sulawesi Selatan karena ikut orang tua yang menjadi nelayan. Saat itu ia tinggal bersama orang tua di dekat pantai sebelah utara pasar pelelangan ikan Kamal Muara. Karena abrasi, ia dan keluarga mau tidak mau harus tinggal di lokasi yang jauh dari bibir pantai.

“Saya dulu tinggal di sana, dekat pantai. Tapi akhirnya pindah tergeser air laut. Trus pindah di sini sampai sekarang,” ungkap Bungadia. Di usia 17 tahun, wanita asli Bugis itu menikah dengan seorang nelayan dan memiliki 7 anak, mereka tinggal di rumah panggung dengan tinggi 1,5 meter dari tanah. Semenjak itu pula, rumahnya tidak pernah direnovasi, jika ada kerusakan hanya ditambal atau diperbaiki seadanya karena keterbatasan biaya.

Setelah suaminya meninggal dunia, Bungadia harus berjuang menafkahi keluarga. Selama 30 tahun lebih, ia bekerja ngitrik (jasa membersihkan kerang) yang diambil dari laut. Sedangkan anak-anaknya ada yang meninggal dunia dan ada yang menjadi nelayan juga ibu rumah tangga.

“Sejak suami saya meninggal, saya mulai kerja ngitrik, dengan upah yang beda-beda. Kalu dulu ya kecil banget dapetnya. Kalau sekarang satu ember kerang yang saya bersihkan dihargai empat sampai lima ribu rupiah,” cerita Bungadia. Dari penghasilan ini ia pakai untuk memenuhi kebutuhan keluarga dengan dibantu sedikit-sedikit oleh anak-anaknya.


Secara simbolis, Liu Su Mei menyerahkan kunci rumah kepada Bungadia, warga RT 02/04 Kelurahan Kamal Muara yang rumahnya dibangun ulang oleh Tzu Chi.

Kondisi rumah Bungadia sebelum dibedah memang sudah tidak layak. Rumah panggung yang ia huni lantainya menggunakan papan kayu yang mulai rapuh. Dinding rumah menggunakan bilik, atap rumah juga bocor. “Kalau hujan ya sudah pasti masuk air dari atap. Tapi mau gimana, saya tidak punya biaya untuk perbaiki rumah,” ungkap nenek yang memiliki 7 cucu tersebut.

Melihat keadaan rumah Bungadia, saat itu pihak RW (Rukun Warga) tempatnya tinggal secara diam-diam mendata rumah Bungadia untuk direnovasi oleh Tzu Chi. “Awalnya saya tidak tahu apa-apa, ada pak RW datang trus bertanya-tanya pekerjaan saya, tetapi saya tidak tahu kalau rumah saya mau dibongkar,” kenang Bungadia.

Mendekati proses pembongkaran, Bungadia dan keluarga baru mendapatkan informasi kalau rumahnya akan direnovasi secara gratis oleh Tzu Chi. “Baru dikasih tahu itu saat mendekati pembongkaran dan pendataan di kelurahan kalau rumah saya mau dibetulin secara gratis. Ya saya kaget dan bersyukur alhamduliilah,” katanya.


Rumah Bungadia sebelum direnovasi oleh Tzu Chi dalam Program bebenah Kampung di Kamal Muara.


Kebahagiaan Bungadi ditemani menantunya di depan rumahnya yang dibangun ulang oleh Tzu Chi.

Setelah selesai direnovasi dan dan akan ditempati, Bungadia sangat terharu akan kondisi rumahnya sekarang. “Pas mau ditempati, baru sampai depan rumah saya sudah menangis. Senang tak terkira kok rumah saya yang begitu bisa jadi bagus seperti sekarang ini,” kenangnya. Sampai saat ini pun, Bungadia masih sering mengingat kondisi rumahnya dulu yang telah ia tempati puluhan tahun bisa berubah drastis. “Kalau menjelang tidur saya juga suka menangis, suka inget rumah dulu. Mana mampu saya membuat rumah seperti ini,” katanya.

Pada saat penyerahan kunci pun, Bungadia terlihat bahagia saat Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Liu Su Mei memberikan kunci serta memberikan selamat kepada dirinya. Karena tidak bisa membaca dan menulis, Bungadia pun diminta untuk membubuhkan tanda di kertas berkas acara serah terima sebagai tanda bahwa rumahnya telah diserahkan kembali setelah direnovasi Tzu Chi. Ia pun juga bersyukur bisa berjodoh dan dibantu Tzu Chi. “Pokoknya saya berterima kasih banyak, saya tidak bisa balas biar nanti Tuhan yang membalas kebaikan ini. Semoga Buddha Tzu Chi diberikan rejeki yang lancar,” tutupnya.

Editor: Metta Wulandari

Artikel dibaca sebanyak : 430 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Bekerja untuk hidup sangatlah menderita; hidup untuk bekerja amatlah menyenangkan.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat