Minggu, 21 April 2019
Indonesia | English

Hari-hari Baru Akila

29 Oktober 2018 Jurnalis : Nopianto, Melisa
Fotografer : Marina, Melisa, Mutiara, Supardi

“Dengan menyaksikan sendiri penderitaan orang, barulah kita tahu menghargai keberkahan diri sendiri.” (Master Cheng Yen)

 


Akila dan Wati, bibinya, saat mengikuti Screening Baksos Kesehatan Tzu Chi di RS Budi Kemuliaan Batam pada tanggal 6 Oktober 2018.

Sepanjang tahun, Tzu Chi International Medical Association (TIMA) Indonesia terus mengadakan bakti sosial kesehatan bagi masyarakat kurang mampu di berbagai daerah di Indonesia. Dalam Baksos Kesehatan Tzu Chi ke-123, Batam menjadi daerah tempat pelaksanaan Baksos Kesehatan Tzu Chi kali ini. TIMA Indonesia bekerja sama Tzu Chi Batam dan Rumah Sakit (RS) Budi Kemuliaan Batam menyelenggarakan baksos kesehatan yang memberikan pelayanan pengobatan bagi para pasien: katarak, benjolan, hernia, dan bibir sumbing.

Diantara 337 orang pasien yang dioperasi, terdapat sebanyak 11 orang pasien yang menjalani operasi bibir sumbing. Bagi para pasien bibir sumbing,operasi bukan hanya memberikan kesembuhan secara fisik (medis), tetapi in adalah suatu titik penentu atau turning point dalam hidup mereka. Dan melalui baksos kesehatan ini, kehidupan 11 orang ini akan menjadi sangat berbeda.

Kehilangan Ibu Karena Menderita Bibir Sumbing

Akila Ikma adalah anak manis yang mengalami kekurangan fisik sejak lahir. Tubuhnya juga lemah akibat komplikasi saat kelahirannya, dimana Ibu Akila Ikma harus menjalani operasi caesar untuk melahirkan putri tercinta. Karen kondisi fisik yang lemah pascamelahirkan dan kesedihan yang terus berlanjut melihat keadaan anaknya, sang ibu pun jatuh sakit dan kemudian meninggal saat Akila baru berusia 2 bulan.

Bertahan hidup melawan berbagai penyakit bawaan yang dideritanya, Akila Ikma sekarang sudah berumur 3 tahun 2 bulan dengan berat badan 12 kg. Dalam kesehariannya, Akila berbicara menggunakan bahasa isyarat, akan tetapi Akila mengerti apabila kita berinteraksi atau berbicara dengannya.


Dalam satu hari, Dr. Yantoko mengoperasi 8 pasien bibir sumbing.


Dr. Yantoko (biru belakang) bersama para pasien yang baru dioperasinya.

Ayah Akila bekerja sebagai seorang nelayan di Kota Tembilahan. Karena kesulitan ekonomi dan ibu kandungnya juga sudah tiada, Akila diantar ke Kota Batam dan dijaga oleh Wati, kakak dari ayah Akila. Hati Wati tersentuh melihat keadaan keponakannya dan akhirnya beliau memutuskan untuk mengadopsi Akila walaupun beliau sudah mempunyai anak, dan bahkan cucu. Kasih sayang Wati dirasakan oleh Akila. Tak heran jika Akila memanggil Wati dengan sebutan “Mamak” (Ibu -red).

Setelah mendapatkan informasi akan adanya Baksos Kesehatan Tzu Chi di Kota Batam, Wati pun segera mendaftarkan Akila ke Rumah Sakit Budi Kemuliaan Batam. Setelah melewati proses screening pada tanggal 6 dan 7 Oktober 2018, Akila dinyatakan lolos dan dijadwalkan menjalani operasi di minggu berikutnya.


Dr. Yantoko menjelaskan perawatan yang perlu dilakukan oleh orang tua atau pendamping pascaoperasi bibir sumbing dan pembuatan langit-langit mulut.

Seminggu kemudian, 13 Oktober 2018, operasi bibir sumbing Akila pun berhasil dilaksanakan. Melihat operasi bibir Akila yang berlangsung dengan lancar, Hati Wati dipenuhi dengan rasa syukur dan kebahagiaan. “Impian saya ialah semoga Akila bisa cepat sembuh dan berbicara seperti anak-anak normal lainnya tanpa harus terlihat dan terdengar berbeda,” ujar Wati.

Bersyukur Bisa Memiliki Kesempatan Bersumbangsih

Dengan berpedoman “Menjadikan Penyakit Sebagai Guru”, baksos kesehatan ini telah memberikan manfaatkan bagi mereka yang terlibat di dalamnya, baik yang dilayani maupun yang melayani. Bagi yang dilayani, bisa memperoleh kembali kesehatan. Dan bagi yang melayani, merasa bersyukur karena mendapatkan kesempatan untuk bersumbangsih.


Wati bersama Akila di ruang perawatan, satu hari setelah operasi bibir sumbing pembuatan langit-langit di mulutnya.

“(Bersukur) adanya kesempatan ini, dimana saya bisa mengoperasi langit-langit pasien (penderita bibir sumbing). Dengan dioperasi langit-langit di mulut pasien, suaranya akan menjadi lebih baik. Semoga ke depan para pasien yang belum dioperasi langit-langitnya bisa ada kesempatan untuk dioperasi langit-langitnya,” ungkap dr. Yantoko, Sp.BP, Tim Medis Tzu Chi sudah berpartisipasi dalam Baksos Tzu Chi di Batam sebanyak tiga kali.

Yang bersumbangsih tidak mengharapkan imbalan, yang dibantu merasa bersyukur dan dipenuhi sukacita. Inilah keindahan humanis dalam kehidupan. Dengan adanya siklus cinta kasih ini, semoga kisah para pasien dan relawan bisa menjadi pelajaran yang bernilai dan menginspirasi kita dalam mengembangkan benih cinta kasih dari masa ke masa.

Editor: Hadi Pranoto

Artikel dibaca sebanyak : 391 kali


Berita Terkait




Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Tak perlu khawatir bila kita belum memperoleh kemajuan, yang perlu dikhawatirkan adalah bila kita tidak pernah melangkah untuk meraihnya.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat