Implant Koklea untuk Habibi

Jurnalis : Metta Wulandari, Fotografer : Metta Wulandari

Rita Malia Widjaja, relawan Tzu Chi He Qi Tangerang yang mendampingi keluarga Habibi senang sekali melihat perkembangan Habibi saat berkunjung ke kontrakannya. Bocah lima tahun itu tak segan melakukan tos dan menyapa Rita dengan sangat baik, sesuai instruksi sang bunda.

Kabar bahagia menghampiri keluarga kecil Rahmat Wahyudi dan Fifi Kartika ketika tes kehamilan Fifi menunjukkan dua garis yang berarti ia sedang hamil, enam tahunan lalu. Tiga minggu usia kehamilannya saat mereka mengecek ke dokter kandungan. Di balik kabar bahagia itu, Fifi sebenarnya tidak sepenuhnya bahagia. Ia menyimpan kecemasan tersendiri karena sesaat sebelum tahu dirinya sedang hamil, ia didiagnosis terinfeksi virus rubella.

Virus rubella terkenal berbahaya bagi ibu hamil. Berbagai studi menunjukkan bahwa virus rubella pada ibu hamil bisa meningkatkan risiko bayi cacat lahir dan komplikasi pada kehamilan. Fifi sepenuhnya tahu itu. Dia rajin mencari informasi dari berbagai situs dan aktif berkonsultasi dengan dokter kandungannya. Dan dari sana, ia yakin mempertahankan kehamilannya.

Menurut sang suami, Rahmat Wahyudi, Fifi adalah tipe orang yang optimis dan selalu berpikiran positif. Ia selalu berdoa semoga berkah kesehatan selalu melimpah pada janin yang dikandungnya, terlebih ini adalah anak pertamanya. “Nggak mau mikir macem-macem juga karena takut stress kandungannya kan,” kata Fifi, “bawa enjoy aja.”

Tapi kenyataan bahwa studi itu benar adanya, akhirnya terbukti. Ketika Habibi Dirgantara Wahyudi, bayi Fifi lahir, ia didiagnosis dengan katarak di mata kirinya. Di jantung Habibi juga terdapat kelainan aliran darah yang membuatnya menjadi sesak. Pendengaran Habibi pun terkena imbasnya.

Berbagai pengobatan telah dilalui oleh Habibi sejak bayi. Di usia 4 bulan, operasi katarak dilakukan. Kemudian di usia 2,5 tahun penanaman lensa juga dilakukan. Untuk kondisi jantung, dokter terus memantau dan menyatakan sudah normal serta tidak ada kebocoran jantung sejak usia Habibi 3 tahun. Sementara itu untuk pendengaranya, keluarga terus mengusahakan bisa terpenuhi.

Rita Malia Widjaja berkunjung ke kontrakan Rahmat Wahyudi dan Fifi Kartika di Ciledug, Tangerang. Ia membawakan bingkisan sebagai dukungan untuk keluarga.

Habibi sempat menggunakan alat bantu dengar yang dua kali mengalami pergantian karena menyesuaikan ambang batas pendengaran Habibi yang semakin tipis. Hingga akhirnya alat bantu dengar tidak bisa menjangkaunya lagi, Februari 2020 lalu. Dokter mengatakan jalan yang paling efektif adalah dengan pemasangan implant koklea mengingat usia Habibi yang saat itu sudah 5 tahun, yang mana rasanya seperti melewati deadline untuk mengejar golden age (batas 3 tahun). Jadi semakin cepat dilakukan, semakin baik hasilnya.

Tapi harga sepasang implant koklea tidak seperti harga mobil-mobilan. Total biayanya bisa mencapai 300 juta rupiah untuk sepasang implant. Harganya lebih mirip seperti harga mobil sungguhan dengan teknologi yang canggih. Dengan harga selangit itu, Rahmat dan Fifi dengan berat hati masih menyimpan mimpi di angan semata, namun mereka tetap terus berikhtiar.

Keluarga kecil ini berdiskusi dengan seluruh keluarga besar untuk mencari jalan keluar. Bergabung dengan grup implant koklea untuk tahu info-info penting. Dan memberanikan diri memesan implant, membayar dengan DP dari hasil kolekan keluarga. Fifi tidak tahu juga kapan bisa melunasi biaya pembayaran implant, karena kondisi keluarganya juga orang biasa saja. Tapi saat itu dia yakin akan ada rezeki.

“Jangan sampai dia menyalahkan ayah bundanya karena dia seperti itu. Kami pengen jadi orang tua yang bertanggung jawab untuk Habibi. Saya tidak mau suatu saat nanti Habibi menyesal punya orang tua seperti kami. Nggak mau dia bilang, ‘Ini gara-gara bundaku yang nggak ngusahain aku, nggak ngupayain aku’. Saya nggak pengen sampai ter-judge di kepala dia seperti itu. Saya maunya Habibi tahu kalau orang tuanya sudah berupaya maksimal,” ungkap Fifi.

Operasi pemasangan implant koklea untuk Habibi dilakukan 10 Agustus 2021 lalu. Dua pekan setelahnya, 28 Agustus 2021, implant tersebut dinyalakan. Hasilnya sangat pesat.

Januari 2021, Fifi mengetahui info tentang Tzu Chi karena teman satu grupnya menanyakan kapan implant Habibi akan dipasang. Fifi saat itu menjawab dengen lemas, ‘karena pembayaran belum lunas, Habibi belum bisa menjalani pemasangan implant’. Tapi ada info tentang Tzu Chi, ia seperti kembali bersemangat.

“Saya merasa apa yang saya impikan buat Habibi, memberikan solusi untuk Habibi, sedikit demi sedikit terwujud,” kata Fifi. “Bismillah, semoga rezeki Habibi ada lewat Tzu Chi,” doa Fifi kala itu. Dan terjawablah doa dan kesabaran kedua orang tua itu. Mendapatkan kabar melalui telepon oleh staf bakti amal Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Fifi langsung sujud syukur di lantai. Ia menangis sembari memeluk anak semata wayangnya.

Anaknya, Habibi Dirgantara Wahyudi, dinyatakan lolos survei dan menerima bantuan untuk pemasangan implant koklea. Tak terhitung kata alhamdulillah yang Fifi ucapkan.

Berkah tak pernah putus asa selama 5 tahun merawat Habibi dengan punuh kasih sayang dan kesabaran memang manis dirasakan Fifi. Ia tidak pernah menyesal memutuskan untuk mengandung Habibi, tidak menyesal pula melahirkan seorang anak spesial. Salah satu prinsip yang ia pegang dalam hidup adalah hidup harus terus berjalan. “Nggak boleh mundur. Sekali maju ya sudah maju terus. Jangan lihat ke belakang lagi. Karena kalau memang mau mudur, kenapa nggak dari awal. Kenapa baru sekarang?”

Operasi pemasangan implant koklea untuk Habibi dilakukan 10 Agustus 2021 lalu. Dua pekan setelahnya, 28 Agustus 2021, implant tersebut dinyalakan. Hasilnya, Habibi tersipu, ia sempat melihat ekspresi sang bunda, dan kemudian menutupi mukanya. Ia bisa mendengar berbagai kebisingan baru di sekitarnya. Sementara itu Fifi menangis terharu, tak kuat menahan kebahagiaan.

“Makasih banyak buat Tzu Chi, buat donatur yang sudah membantu mewujudkan mimpi kami, mimpi keluarga, dan Habibi,” kata Fifi, “sampai sekarang Habibi responnya bagus seperti ini dan lambat laun semoga bisa bicara karena prosesnya terapi. Kami juga senang sekali donatur semuanya welcome sekali. Yang awalnya kami mikir gimana dapat sisa uang kekurangan ini, semuanya tercover. Kami senang sekali.”

Baru dua pekan setelah implant dinyalakan, kini Habibi sudah bisa menoleh saat mendengar suara di belakangnya. Ia juga telah memahami instruksi singkat yang diberikan oleh ibunya. Fokusnya juga bertambah.

Baru dua pekan setelah implant dinyalakan, kini Habibi sudah bisa menoleh saat mendengar suara di belakangnya. Ia juga telah memahami instruksi singkat yang diberikan oleh ibunya. Fokusnya juga bertambah. Selain itu metabolisme tubuh Habibi seperti membaik ditandai dengan berat badan yang terus bertambah sesuai dengan target yang diberikan dari dokter.

Ke depannya, Habibi dan keluarganya masih harus rajin menjalani terapi dengar hingga nanti terapi bicara sehingga nanti bisa menyamai kemampuan mendengar dan berbicara sesuai anak-anak di usianya.

“Semoga Habibi jadi anak yang bisa bermanfaat untuk semua orang. Karena Habibi bisa seperti sekarang ini karena dibantu dari uluran tangan orang-orang baik. Jadi Habibi juga harus baik sama semua orang. Semoga nanti ke depannya habibi sudah dewasa, sudah berhasil, bisa bantu orang juga. Karena dia tahu gimana rasanya dibantu orang,” kata Fifi mendoakan anak pertamanya.

Rita Malia Widjaja, relawan Tzu Chi He Qi Tangerang yang mendampingi keluarga Habibi senang sekali melihat perkembangan Habibi saat berkunjung ke kontrakannya Rabu, 8 September 2021 lalu. Bocah lima tahun itu tak segan-segan melakukan tos dan menyapa Rita dengan sangat baik, sesuai instruksi sang bunda.

“Sekarang dia ceria sekali, dulunya kan hanya diam saja. Senang sekali lihat Habibi perkembangannya sangat pesat,” kata Rita. “Setelah implant ini dia kelihatan senang sekali dengan dunia barunya. Pokoknya ikut happy,” tambahnya.

Rita juga memberikan acungan jempol kepada orang tua dan seluruh keluarga yang saling dukung untuk kesembuhan, perkembangan, dan masa depan Habibi. “Sesuai dengan namanya, Habibi Dirgantara Wahyudi, kami berharap kelak Habibi menjadi anak yang luar biasa, menjadi besar untuk masyarakat,” harap Rita.

Editor: Arimami Suryo A.

Artikel Terkait

Berbagi dalam Semangat Cinta Kasih

Berbagi dalam Semangat Cinta Kasih

03 Juli 2018
Para relawan Tzu Chi Sinar Mas di Xie Li Downstream Lampung berbagi cinta kasih untuk anak-anak yatim di Rumah Yatim Al-Amanah Desa Tarahan, Kecamatan Katibung, Lampung Selatan, Kamis, 31 Mei 2018.
Berbagi Kebahagiaan Bersama Oma dan Opa

Berbagi Kebahagiaan Bersama Oma dan Opa

12 Februari 2020

Sebanyak 75 anak murid Kelas Budi Pekerti Tzu Chi Tebing Tinggi beserta relawan Tzu Chi mengunjungi oma opa di Panti Jompo Yasobas Tebing Tinggi (02/02/2020). Kegiatan ini dalam rangka merayakan Imlek bersama, sekaligus memupuk budaya berbakti dalam diri anak-anak terhadap orang tua mereka.

Menyehatkan Grace dan Keluarga

Menyehatkan Grace dan Keluarga

17 April 2018
Rombongan relawan Tzu Chi beserta dokter dan ahli gizi dari RS Cinta Kasih Tzu Chi (RSCK) mengunjungi satu pasien anak-anak bernama Grace Imanuel pada Selasa, 17 April 2018. Kunjungan ini merupakan kegiatan rutin dam merupakan salah program dari Rumah Sakit Cinta Kasih (RSCK) Tzu Chi Cengkareng untuk menyehatkan masyarakat.
Dengan keyakinan, keuletan, dan keberanian, tidak ada yang tidak berhasil dilakukan di dunia ini.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -