Sabtu, 24 Agustus 2019
Indonesia | English

Indahnya Berbagi

08 September 2016 Jurnalis : Suyanti Samad 謝宛萍(慮倓) (He Qi Pusat)
Fotografer : Suyanti Samad 謝宛萍(慮倓) (He Qi Pusat)

Pelatihan Relawan Abu Putih tahun 2016 dilaksanakan pada hari Minggu, 4 September 2016, di kantor  Tzu Chi Pusat Grosir Cililitan (PGC), Jakarta Timur.

Kantor  Tzu Chi Pusat Grosir Cililitan (PGC) lantai 7, Jakarta Timur menjadi saksi sejarah bagi perjalanan para Bodhisatwa melalui Pelatihan Relawan Abu Putih tahun 2016. Pelatihan ini bertujuan untuk merangkul relawan yang ingin memupuk ladang kebajikan dan memperpanjang barisan relawan Tzu Chi Indonesia dengan mengusung tema  “Bersyukur, Menghormati, Cinta Kasih.”

Pelatihan ini diselenggarakan pada hari Minggu, 4 September 2016 yang diikuti oleh 38 relawan abu putih dan relawan kembang bersama 31 insan Tzu Chi lainnya. Para relawan yang hadir berasal dari Jakarta Timur, Bekasi (Jawa Barat), dan Cikarang (Jawa Barat) yang merupakan relawan komunitas dari He Qi Pusat.

Hemming Suryanto (63), koordinator kegiatan menjelaskan melalui pelatihan ini, para relawan bisa tertarik mengikuti kegiatan Tzu Chi. “Setelah relawan Tzu Chi mengikuti pelatihan ini, mereka bisa melihat, mendengar pengalaman yang disampaikan para pembicara, dapat membuat para relawan Tzu Chi mau mengikuti jejak Master Cheng Yen. Mereka mau turut serta bila ada kegiatan-kegiatan Tzu Chi nantinya,” ujar Hemming.


Chia Wen Yu dalam sharingnya tentang ‘Tidak Keburu Lagi’, mengajak insan Tzu Chi mengurangi keinginan dan keserakahan hingga nol, mengurangi penderitaan semua makhluk melalui pola hidup bervegetarian dan mengubah perilaku untuk memperlambat pemanasan global.

Semangat Bodhisatwa Dunia

Misi Tzu Chi berawal dari misi amal, misi kesehatan, misi pendidikan, dan misi budaya humanis. Berkembang menjadi bantuan Internasional, donor sumsum tulang, pelestarian lingkungan, dan relawan komunitas. Misi-misi inilah sering disebut sebagai delapan jejak langkah Tzu Chi. Visi Tzu Chi adalah menjenihan hati manusia, masyarakat yang harmonis, dunia bebas bencana. Misi Tzu Chi merupakan tempat bagi insan Tzu Chi menggarap ladang berkah, juga menggarap akar kebijaksanaan, sehingga dapat mencapai visi yang diinginkan. Melalui misi Tzu Chi inilah insan Tzu Chi terus-menerus bergerak untuk membantu orang lain, membentuk kepribadian yang baik, tangguh dan berbudaya humanis bagi para insan Tzu Chi hingga tercapai visinya, yaitu menjernihkan hati manusia.

 “Harapan Master, para relawan kita bukan cuma hanya bisa atau hanya mau bekerja saja, tetapi mau juga memperdalam dan memahami ajaran-ajaran dari Master.  Karena di dalam ajaran-ajaran itulah yang akan memperkuat batin para relawan sehingga relawan tidak mudah terluka, tidak mudah jenuh, di dalam melakukan kegiatannya sebagai relawan Tzu Chi,” jelas Lo Hok Lay (59), relawan Tzu Chi He Qi Utara 2, membagi pengalaman tentang 4 Misi 8 Jejak Langkah.

Chia Wen Yu dalam sharingnya tentang Tidak Keburu Lagi, mengajak insan Tzu Chi mengurangi keinginan dan keserakahan hingga nol. Mengurangi penderitaan semua makhluk melalui pola hidup bervegetaris dan mengubah perilaku untuk memperlambat pemanasan global.

Dalam pelatihan ini, Chia Wen Yu menjelaskan bagaimana penderitaan hewan yang diternak demi memuaskan nafsu keinginan manusia. Hewan diternak dalam kesakitan dan menderita saat disembelih. Hal ini ditunjukkan dalam sembilan fakta tentang industri peternakan (factory farming) Di antaranya anak ayam dipotong paruhnya untuk menghindari kanibalisme dan banyak daging mengandung antibiotik. Banyak penyakit paru-paru merajalela di peternakan babi, jutaan anak ayam jantan dibunuh setelah menetas, banyak sapi meninggal sebelum berusia lima tahun. Ada juga fakta tentang babi yang hamil dipaksa tinggal di kandang sempit (kecil) dan kotor, betis sapi diikat dengan rantai yang berat, banyak ayam tinggal di kandang yang sempit (kecil) dan 82% perusahaan susu di Amerika mempraktekkan pemotongan ekor sapi.

Dalam ‘Galang Hati Galang Dana’ yang disampaikan oleh Suherman, insan Tzu Chi bukan hanya menggalang dana, tetapi kita mengetuk pintu hati, menyalakan pelita hati, pelita kebahagiaan.

Langkah pertama Tzu Chi diawali dengan misi amal. Merupakan sepuluh tahun pertama Tzu Chi serta akar dari Tzu Chi. Dalam pelatihan ini, Wie Sioeng (46) ingin membagikan pengalaman mempertahankan semangat selama delapan tahun bersumbangsih dalam menjalani Tzu Chi terutama misi amal Tzu Chi. Di Tzu Chi kita akan belajar tentang arti kehidupan, rasa bersyukur, berbagi kebahagiaan serta berkesadaran dalam melatih diri, menjalani makna kehidupan yang lebih berarti.

“Banyak pintu bagi orang masuk ke Tzu Chi, untuk orang mengenal Tzu Chi. Tetapi kadang-kadang orang datang tidak tahu mau ngapain di Tzu Chi. Di Tzu Chi, saya mendapat berkah dalam hidup. Saya menghargai berkah. Saya harus menciptakan berkah itu kembali. Dengan memegang tanggung jawab apa yang bisa kita lakukan sesuai dengan talenta dan kemampuan kita di Tzu Chi, di ladang berkah Tzu Chi,” tutur Wie Sioeng, berbagi cerita tentang ‘Semangat Bodhisatwa Dunia.

Semangat Master Cheng Yen mendirikan Tzu Chi lima puluh tahun silam hingga hari ini untuk membimbing murid-muridnya. Semangat inilah sebagai dasar kekuatan bagi Wie Sioeng Jong bersukacita berkegiatan Tzu Chi. “Master Cheng Yen berharap bahwa dengan teman-teman bergabung di Tzu Chi, rekan-rekan yang baru ini, mereka menjalani misi Tzu Chi, mereka akan mengerti tentang visi sebenarnya sebagai tujuan Master Cheng Yen. Setidaknya mereka bisa menjernihkan hati mereka sendiri, harmonis di keluarga, dan setidaknya tidak akan ada bencana kesulitan dalam kehidupan mereka,” jelas Wie Sioeng Jong, insan Tzu Chi He Qi Timur.

Dalam ‘Galang Hati Galang Dana’ yang disampaikan oleh Suherman (42), relawan Tzu Chi bukan hanya menggalang dana, tetapi kita mengetuk pintu hati, menyalakan pelita hati, pelita kebahagiaan. Dengan memahami makna inilah, Master Cheng Yen berharap jalan Tzu Chi telah membentang luas, para insan Tzu Chi terus bersumbangsih menggalang hati orang banyak, menginspirasi banyak orang untuk terjun ke dunia Tzu Chi sehingga kita turut bersyukur, bersukacita dalam Tzu Chi.

“Inilah saatnya kita berbagi buat orang lain. Master mengatakan bahwa jalinan jodoh yang telah kita miliki ini, kita harus gunakan sebaik-baiknya. Dengan sepenuh hati bisa menggalang dana karena menggalang dana ini tujuannya adalah untuk membagi cinta kasih kepada orang banyak, untuk membantu orang itu bisa bersumbang sekali lagi ke seluruh insan Tzu Chi dan lapisan masyarakat,” kata Suherman, relawan Tzu Chi He Qi Barat.


Ada suatu kepuasan batin yang dirasakan setiap kali Evi melakukan kunjungan kasih ataupun mengantar pasien ke rumah sakit.  

Semangat Bersumbangsih

Berawal dari seringnya menonton ceramah Master Cheng Yen setiap hari, DAAI Inspirasi, Jejak Langkah Cinta Kasih, tayangan DAAI TV mengenai bantuan kemanusiaan serta keinginan menyalurkan jiwa kemanusiaan mendorong Beti Susanti bersama Subur mencari tahu kantor komunitas Tzu Chi hingga mengantar mereka berjodoh dengan Tan Siu Hong di Kantor  Tzu Chi Pusat Grosir Cililitan (PGC) pada akhir tahun 2013 silam. “Kita mengajak teman-teman untuk  berdana dengan celengan bambu, ini tidaklah memberatkan mereka. Dengan uang koin sedikit-sedikit dikumpulkan. Bila banyak orang bersatu hati akan bisa membantu orang lain,” tutur Beti Susanti (41). Ia bersama Subur sering berbagi cerita setiap kali ikut kegiatan Tzu Chi. “Biasanya saya bercerita dulu kepada mereka sebelum mengajak teman-teman berkegiatan. Mereka akan mengerti, merasakan setiap kegiatan Tzu Chi. Bila ada kebakaran, kita bagi bantuan paket kebakaran. Bila ada yang meminta bantuan, kita mengadakan survei kasus,” jelas Beti

Sementara itu pada tahun 2006, M. Hafiaah (Evi) telah bergabung di Tzu Chi. Walaupun sempat vakum tidak aktif selama lima tahun silam untuk mengurus ibunya yang sakit. Setelah ibunya meninggal, ia kembali disibukkan mengurus anaknya menghadapi ujian nasional dua tahun yang silam. Pelatihan ini, baginya, telah menyegarkan ingatannya kembali tentang Tzu Chi. Seperti layaknya mengisi ulang baterai yang kemarin sudah kosong. Ada suatu kepuasan batin yang dirasakan setiap kali ia melakukan kunjungan kasih ataupun mengantar pasien ke rumah sakit.  “Setiap saya kunjungan ke rumah pasien atau pertama kali ketemu kasus mereka, mendengar cerita mereka, mendengar penderitaan mereka, saya kadang-kadang merasa malu kalau saya selalu suka menangis di rumah karena persoalan hidup saya. Saya malu karena orang lain lebih  menderita dari saya, mereka biasa-biasanya saja, enggak secengeng saya,” ucap Evi (48), relawan Tzu Chi PGC.

Sesuai dengan tema pelatihan, Master Cheng Yen selalu berharap insan Tzu Chi serta murid-muridnya selalu bersyukur, memegang teguh tekad, menghormati orang lain dan memiliki cinta kasih universal tanpa pamrih kepada semua orang.

Artikel dibaca sebanyak : 1101 kali


Berita Terkait


Dharma Dalam Tindakan Nyata

16 September 2016


Kirim Komentar


Name
Required
Email
Required, not shown
Comment
Required
Recaptcha
Menyayangi dan melindungi benda di sekitar kita, berarti menghargai berkah dan mengenal rasa puas.

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Tzu Chi Web Stat